
2240
Tembok Pusat Benteng Selatan
Jumlah Populasi 4.044.680
Instruktur Denia melanjutkan dengan serius, "Seperti pertemuan pertama kelas-kelas kalian sebelumnya, saya ingin menjelaskan tujuan dari kelas ini. Kalian semua telah terpilih menjadi prajurit dan tugas kita adalah melindungi dan mempertahankan tanah kita dari ancaman luar, terutama monster morsus yang telah menjadi ancaman utama."
Para prajurit mendengarkan dengan penuh perhatian. Mata mereka terfokus pada Instruktur Denia, siap untuk menyerap setiap kata yang akan diucapkan.
"Kelas ini akan fokus pada pengembangan kemampuan indra kalian," kata Instruktur Denia dengan tegas.
"Indra adalah anugerah yang memungkinkan kita merasakan dunia di sekitar kita dengan lebih dalam. Dalam perang melawan monster morsus, kemampuan indra sangatlah penting. Kalian harus mampu mendeteksi kehadiran mereka, mengidentifikasi ancaman, dan menemukan kelemahan mereka."
Hegi dan Noy saling pandang, merasa semakin tertarik dengan isi kelas ini. Mereka menyadari bahwa pembelajaran tentang indra akan memberi mereka keunggulan dalam pertempuran melawan monster morsus yang kuat.
Instruktur Denia melanjutkan, "Kita akan belajar tentang penggunaan panca indera secara lebih mendalam. Mulai dari mempertajam indera penciuman, mendengar suara yang halus, merasakan getaran tanah, hingga mengenali perubahan cahaya dengan indera penglihatan kita. Ini adalah keterampilan yang akan membuat kalian lebih tanggap terhadap lingkungan sekitar dan mendapatkan keuntungan dalam pertempuran."
Instruktur Denia menutup sesi pembukaan dengan kata-kata yang penuh makna, "Kelas ini bukan tentang mengasah kemampuan fisik, tetapi tentang mengembangkan intuisi dan kepekaan kita sebagai manusia. Dalam pertempuran melawan monster morsus, kehadiran indra bisa menjadi perbedaan antara hidup dan mati."
Dengan penuh ketertarikan, Noy mengangkat tangannya dan meminta izin untuk bertanya.
Instruktur Denia memberikan isyarat kepada Noy, mengizinkannya untuk berbicara.
"Instruktur," kata Noy dengan rasa ingin tahu, "saya Noy, dan saya ingin tahu mengapa kita harus mengandalkan kemampuan indra kita dalam pertempuran, ketika kita memiliki sistem sensor, drone, dan satelit yang dapat memberikan informasi lebih lanjut?"
Instruktur Denia melihat Noy dengan mata yang penuh pengertian, menghormati pertanyaannya.
"Pertanyaanmu sangat baik, Noy," ucapnya dengan tulus. "Pertama-tama, kita mengandalkan kemampuan indra kita karena dalam pertempuran, teknologi bisa menjadi rentan terhadap gangguan musuh atau kegagalan sistem. Kemampuan indra manusia, di sisi lain, lebih sulit untuk dipengaruhi oleh faktor-faktor eksternal."
"Ini juga tentang fleksibilitas dan adaptabilitas," lanjut Instruktur Denia. "Sistem teknologi seringkali memerlukan infrastruktur pendukung seperti stasiun sinyal atau pusat kendali. Satu-satunya informasi yang bisa diperoleh dari satelit, drone, atau sistem sensor adalah informasi yang sudah tersedia dalam jaringan tersebut. Saat kalian berada di medan perang yang mungkin jauh dari fasilitas tersebut, penggunaan teknologi ini bisa terbatas atau bahkan tidak mungkin dilakukan."
"Selain itu," tambahnya, "membawa semua perangkat teknologi ini dalam misi offensif juga bisa menghambat gerakan dan taktik kita. Berat dan kerumitan perangkat-perangkat tersebut dapat menghambat kelincahan dan mobilitas kita di medan perang."
Noy mengangguk mengerti, merenungkan penjelasan tersebut. "Jadi, penggunaan kemampuan indra kita memberikan keunggulan dalam hal ketahanan, fleksibilitas, dan kemampuan beradaptasi di medan pertempuran."
"Benar sekali," balas Instruktur Denia, "dan ingatlah bahwa kita tidak hanya belajar untuk mengandalkan satu hal. Sistem teknologi juga merupakan aset penting dalam pertempuran, dan pengetahuan tentang penggunaan indra kita adalah tambahan nilai yang bisa membuat perbedaan saat teknologi tidak bisa digunakan."
Noy tersenyum puas, merasa lebih memahami pentingnya memanfaatkan kemampuan indra manusia dalam pertempuran.
Dengan semangat yang baru, ia siap mengikuti kelas dan belajar lebih lanjut tentang bagaimana mengoptimalkan indra-indra tersebut dalam perang melawan monster morsus.
Dengan tatapan yang penuh rasa ingin tahu, para kadet memperhatikan Instruktur Denia yang mengambil sebuah alat dari saku bajunya. Alat tersebut terlihat futuristik, dengan desain yang kompak dan modern.
Ia memperlihatkan alat tersebut kepada para kadet dengan penuh semangat. "Ini adalah alat yang akan kalian gunakan dalam misi," ujar Instruktur Denia sambil memegang alat tersebut di depannya.
"Alat ini adalah perangkat pendengaran yang akan membantu kalian dalam berkomunikasi dan koordinasi selama pertempuran. Dengan memasangnya di telinga, kalian bisa terhubung secara langsung dengan rekan-rekan di medan perang."
__ADS_1
Instruktur Denia melanjutkan penjelasannya, "Alat ini akan mengirimkan sinyal suara langsung ke telinga kalian, memungkinkan kalian untuk berkomunikasi tanpa harus bergantung pada panggilan suara terbuka atau pesan teks. Hal ini akan sangat bermanfaat dalam situasi di mana kecepatan dan ketepatan dalam koordinasi sangat penting."
"Ini adalah contoh bagaimana teknologi bisa membantu kita dalam pertempuran," kata Instruktur Denia sambil menyematkan alat tersebut di telinga dan menunjukkan bagaimana cara memasangnya.
"Kalian hanya perlu memastikan bahwa stasiun pendukung kecil ini selalu ada dalam tas medis kalian, sehingga kalian bisa menghubungkan diri kapan pun diperlukan."
"Ini tentu saja memiliki persyaratan," sambungnya, "seperti yang telah kusebutkan sebelumnya, alat ini memerlukan stasiun kecil yang bisa kalian bawa dalam tas medis. Stasiun tersebut akan berfungsi sebagai penerima dan pengirim sinyal yang diperlukan oleh alat ini. Jadi, alat ini hanya akan berfungsi dengan baik dalam jarak yang terbatas dengan stasiun."
Para kadet menyimak dengan penuh perhatian, merasa antusias dengan teknologi baru ini. Mereka melihat nilai penting dari alat ini dalam meningkatkan komunikasi dan koordinasi di medan pertempuran yang sibuk dan dinamis.
"Ini adalah alat yang akan menjadi sahabat setia kalian di medan perang," lanjut Instruktur Denia dengan senyuman. "Ingatlah untuk selalu merawat dan memastikan alat ini dalam kondisi baik. Dengan ini, kalian akan semakin siap dan efisien dalam menghadapi tugas yang menantang."
Setelah menjelaskan tentang alat komunikasi baru yang akan digunakan dalam misi, Instruktur Denia memberikan kesempatan kepada para kadet untuk bertanya jika ada pertanyaan sebelum memulai pembelajaran lebih lanjut.
Namun, setelah beberapa saat menunggu, tidak ada satupun tangan yang terangkat. Meskipun demikian, ia tetap tersenyum ramah, menghormati keputusan para kadet.
"Nampaknya kalian sudah cukup paham dengan penjelasan saya," kata Instruktur Denia dengan senyuman hangat.
Instruktur Denia memberikan senyuman penuh pengertian. Ia mengerti bahwa mungkin para kadet masih memproses informasi yang baru saja mereka terima.
Ketika tidak ada pertanyaan yang diajukan, ia dengan lembut melanjutkan, "Baiklah, jika tidak ada pertanyaan, mari kita lanjutkan dengan materi hari ini. Jika kalian memiliki pertanyaan di kemudian hari, jangan ragu untuk mengajukannya."
Instruktur Denia mengambil setumpuk kertas dan alat tulisnya dari bawah mejanya, menyusun semuanya dengan rapi.
Dengan penuh perhatian, ia melihat ke arah para kadet yang duduk dengan antusias, siap untuk mengikuti langkah selanjutnya dalam pembelajaran. Dengan suara yang tenang namun tegas, ia memberi instruksi kepada mereka.
Para kadet dengan cepat dan tertib berdiri, lalu maju menuju meja instruktur untuk mengambil selembar kertas dan alat tulis.
Mereka merasa semakin bersemangat, karena ini adalah kesempatan untuk menerapkan apa yang baru saja mereka pelajari dari Instruktur Denia.
Setelah para kadet mengambil kertas dan alat tulis, mereka kembali dengan hati-hati ke tempat duduk mereka. Suasana di dalam ruangan penuh dengan antusiasme dan konsentrasi, para kadet siap untuk mengikuti arahan dari Instruktur Denia.
Denia memeriksa sekeliling kelas dengan seksama, memastikan bahwa setiap kadet telah mempersiapkan peralatan yang diperlukan.
Dengan suara lembut yang mengisi seluruh ruangan, Denia memastikan bahwa semua mata tertuju padanya. "Baik, para kadet, sekarang bahwa kalian telah mengambil peralatan yang diberikan, kita akan melanjutkan ke tahap berikutnya dalam pembelajaran kita hari ini."
Para kadet duduk dengan tegap, mata mereka penuh perhatian terhadap instruktur mereka. Mereka tahu bahwa setiap detik dalam kelas ini memiliki nilai penting dan pelajaran berharga untuk diperoleh.
Instruktur Denia melanjutkan dengan penuh semangat, "Sekarang, kadet-kadet, perhatikan baik-baik. Di dalam kelas ini, terpasang dua belas speaker yang tersebar merata. Speaker ini akan mengeluarkan berbagai suara alam, mulai dari suara burung berkicau, gemuruh petir, hingga hembusan angin yang lembut."
Para kadet memandang speaker-speaker tersebut dengan rasa penasaran. Seolah-olah mereka bisa merasakan atmosfer alam yang segera akan diciptakan oleh speaker-speaker itu sendiri.
Mereka merasa bahwa ada sesuatu yang menarik yang akan dipelajari dari perangkat-perangkat tersebut.
Instruktur Denia melanjutkan dengan penuh kecermatan, "Saya akan mematikan lampu ruangan ini, dan kalian akan ditempatkan dalam kegelapan, tentunya masih ada sedikit penerangan. Di tengah kegelapan itu, dua belas speaker akan mengeluarkan suara alam secara bersamaan. Tugas kalian adalah mendengarkan suara tersebut dengan seksama dan menebak dari arah mana suara itu berasal."
Para kadet menatap instruktur Denia dengan antusiasme. Mereka merasa bahwa latihan ini akan menguji ketajaman indra pendengaran dan kemampuan mereka dalam mengidentifikasi sumber suara dalam kondisi yang sulit.
__ADS_1
Denia melanjutkan, "Kalian akan memiliki waktu untuk mencatat setiap suara yang kalian dengar beserta asalnya, sesuai arah jam dari tempat duduk kalian. Jangan khawatir, ini adalah latihan dan kesempatan untuk belajar. Jadi, cobalah untuk tetap tenang dan fokus dalam mendengarkan suara itu."
Para kadet mengangguk paham, siap untuk menghadapi tantangan yang menantang ini. Mereka merasa semangat dan siap untuk melibatkan indra pendengaran mereka sepenuhnya dalam latihan ini.
Denia tersenyum dan melanjutkan, "Mari kita mulai latihan ini. Saya akan mematikan lampu ruangan dan memulai speaker secara bersamaan. Ingat, jangan ragu untuk mencatat apa yang kalian dengar, dan percayalah pada insting kalian."
Lampu ruangan pun perlahan dimatikan, menyelimuti ruangan dalam kegelapan. Para kadet merasa tegang namun penuh semangat. Kemudian, suara-suara alam mulai mengalun dari dua belas speaker, menciptakan suasana yang misterius dan menantang.
Para kadet berfokus pada pendengaran mereka, mencoba mengenali setiap suara dan menebak dari arah mana asal suara itu berasal. Mereka mencatat setiap suara dan berusaha untuk tidak terganggu oleh suara lainnya.
Latihan ini berlangsung dalam suasana yang hening, di mana hanya suara-suara alam dari speaker yang terdengar.
Para kadet berusaha untuk tetap tenang dan fokus, mengandalkan kemampuan indra pendengaran mereka dalam menghadapi situasi yang penuh tantangan ini.
Setelah sepuluh menit yang intens, lampu ruangan akhirnya dinyalakan kembali oleh Instruktur Denia. Cahaya kembali memenuhi ruangan, mengakhiri periode pendengaran mereka yang penuh tantangan.
Meskipun sedikit terkejut oleh perubahan tiba-tiba, para kadet tetap berusaha untuk memusatkan perhatian pada latihan ini.
Speaker-speaker masih mengeluarkan suara alam yang mereka buat sebelumnya, menciptakan suasana yang masih asing bagi para kadet. Denia melangkah ke depan dan menatap wajah-wajah yang penuh semangat.
Instruktur Denia melanjutkan latihan dengan memberikan arahan yang tegas, "Sekarang, saya ingin kalian mencocokkan suara yang kalian dengar dengan apa yang kalian tulis tadi. Ingatlah, dalam latihan ini, kejujuran sangatlah penting."
Para kadet berfokus pada tugas tersebut, membuka catatan mereka dan mencocokkan deskripsi suara dengan suara yang masih terdengar dari speaker-speaker di sekitar ruangan.
Ada ketegangan yang meliputi atmosfer, seolah-olah setiap kata yang tertulis di catatan mereka adalah pertaruhan.
Saat proses pencocokan berlangsung, beberapa kadet mengangguk puas ketika suara yang mereka catat cocok dengan apa yang mereka dengar. Namun, ada juga yang tampak sedikit bingung, mengalami ketidaksesuaian antara apa yang mereka dengar dan apa yang mereka catat.
Denia memantau dengan seksama, mengamati ekspresi wajah para kadet dan mendengarkan interaksi mereka. Ia memahami bahwa latihan ini bukan hanya tentang kemampuan mengenali suara, tetapi juga tentang keterampilan kerjasama dan kejujuran.
Setelah beberapa saat, Denia memberikan isyarat untuk menghentikan pencocokan. Ia mengamati ekspresi wajah para kadet, merasakan perasaan gugup yang tercampur dengan rasa kemenangan bagi beberapa orang.
"Sekarang, siapa yang merasa yakin dengan pencocokan mereka?" tanyanya, memberikan kesempatan pada para kadet untuk berbicara.
Beberapa tangan bangkit di udara dengan percaya diri, sementara beberapa lainnya terlihat ragu-ragu. Denia mendorong mereka untuk membagikan apa yang telah mereka pelajari dan mengapa ada ketidaksesuaian jika ada.
Para kadet dengan terbuka berbicara tentang hasil pencocokan mereka. Beberapa di antara mereka mengenali bahwa kegugupan atau ketidakfamiliaran dengan suara-suara alam tertentu dapat menyebabkan kesalahan dalam pencocokan.
Setelah mendengarkan berbagai cerita dan pengalaman dari para kadet, Denia akhirnya memberi isyarat bahwa kelas hari itu telah selesai.
Dia melihat ke sekeliling ruangan, senyuman hangatnya mencerminkan rasa bangga terhadap usaha para kadet dalam menghadapi latihan.
"Dengan itu, saya ingin mengucapkan terima kasih kepada kalian semua atas partisipasi dan kerja keras kalian hari ini," ucap Denia dengan suara lantang. "Kalian telah menunjukkan semangat belajar dan kerjasama yang luar biasa."
Para kadet memberikan tepuk tangan meriah sebagai ungkapan rasa terima kasih mereka kepada Denia dan juga sebagai bentuk semangat yang mereka tunjukkan satu sama lain.
"Sekarang, saya ingin memberikan pengumuman untuk kelas selanjutnya," lanjut Denia dengan senyum.
__ADS_1
"Kelas berikutnya akan dipimpin oleh Instruktur Zara, ahli senjata, dan akan dilaksanakan di distrik timur laut setelah makan siang, besok."