
2240
Distrik Timur Laut Benteng Selatan
Jumlah Populasi 4.044.680
Setelah semua kadet berkumpul di tengah lapangan, Zara mengangguk puas saat melihat kerjasama dan semangat mereka. Ia memutuskan bahwa sudah waktunya untuk menutup sesi latihan hari itu.
Dia mengambil napas dalam-dalam sejenak sebelum berbicara, membiarkan keheningan sejenak mengisi udara. Dengan senyuman di wajah, Zara menganggukkan kepala kepada semua kadet yang telah berkumpul.
"Terima kasih atas kerja keras kalian hari ini. Sesi latihan kita sudah berakhir untuk hari ini." Suara dia terdengar tegas namun penuh oleh apresiasi.
Para kadet memberikan tepuk tangan meriah sebagai tanda penghargaan kepada instruktur Zara dan untuk diri mereka sendiri atas usaha keras yang telah mereka lakukan.
Beberapa dari mereka saling memberi tepukan bahu dan senyuman, menunjukkan solidaritas yang mereka miliki sebagai tim.
Sebelum benar-benar mengakhiri pertemuan pada hari itu, Zara memberikan satu informasi penting kepada para kadet. Suaranya tetap tenang dan penuh perhatian saat dia berbicara, "Sebelum kita berpisah, ada satu berita yang ingin saya sampaikan. Besok, kalian semua akan mendapat hari libur. Tidak ada kelas yang dijadwalkan, jadi gunakan waktu itu untuk istirahat dan pemulihan."
Sorakan kecil dari para kadet pun terdengar, terlihat betapa senangnya mereka atas berita tersebut. Zara memberikan senyuman ramah sebelum melanjutkan, "Namun, jangan lupa bahwa tantangan dan pelajaran akan kembali besok setelah liburan. Kelas selanjutnya akan diadakan lusa di tempat seperti yang telah kalian jalani minggu lalu. Jadi, tetap jaga semangat dan persiapkan diri kalian."
Setelah memberikan informasi tersebut, Zara meninggalkan tempat itu dengan langkah pasti, ditemani oleh kedua rekannya yang setia. Langit mulai memerah karena matahari terbenam, menciptakan suasana senja yang tenang di lapangan latihan.
Para kadet melihat pergi Zara dengan hormat, merenungkan semua yang telah mereka pelajari pada hari itu. Dengan langkah yang santai, Zara dan rekannya akhirnya menghilang di antara pepohonan, mengakhiri sesi pelatihan yang penuh makna itu.
Hegi dan Noy juga akhirnya meninggalkan tempat latihan setelah melihat Zara dan rekannya menghilang dari pandangan. Mereka berdua berjalan bersama-sama, melintasi hutan yang mulai terasa teduh oleh bayangan senja.
Cahaya senja yang masih menyelinap di antara pepohonan memberi suasana yang tenang dan damai saat mereka melangkah keluar tempat latihan.
"Ahh, akhirnya libur juga," ucap Hegi dengan senyuman, memecah keheningan dalam perjalanan mereka.
"Ah, iya juga. Aku punya rencana untuk libur kali ini. Apa kau ingin dengar?" ucap Noy dengan penuh semangat, menunjukkan bahwa dia memiliki sesuatu yang menarik untuk dibagikan kepada Hegi.
“Tentu, kelihatannya akan menyenangkan” jawab hegi.
"Baiklah, karena kau terlihat tidak sabar, aku ingin berbagi rencana libur besok," jawab Noy sambil tersenyum.
Hegi memandang Noy dengan wajah penuh rasa ingin tahu, sehingga Noy akhirnya memutuskan untuk membagikan rencananya, tidak ingin membuat Hegi semakin penasaran.
"Jadi, rencanaku adalah aku akan pulang ke rumahku. Bagaimana? Apakah kau terkejut?" ujar Noy sambil tersenyum, mencoba membagikan rencananya kepada Hegi.
Hegi terkejut mendengar rencana Noy. "Wow, itu sungguh mengejutkan! Tapi tentu saja aku mengerti, pasti menyenangkan bisa kembali ke rumah. Emm, Noy, bolehkah aku ikut?"
“Tentu saja, lagi pula siapa yang suka di rumah sendirian. Pintu rumahku selalu terbuka lebar untuk siapapun," jawab Noy dengan ramah, memberikan izin kepada Hegi.
Mereka pun melanjutkan perjalanan menuju distrik utara, setelah sebelumnya berada di distrik timur laut. Mereka melewati beragam medan, melintasi hutan lebat, melewati tanah lapang yang luas, dan menyeberangi beberapa aliran sungai kecil yang mengalir di tengah perjalanan mereka.
Setelah perjalanan yang cukup panjang, akhirnya mereka tiba di distrik pelabuhan, yang juga dikenal sebagai distrik utara. Suasana malam di Distrik Utara begitu menyenangkan, dengan langit yang berbintang dan udara yang segar.
Hegi mengikuti langkah Noy saat mereka berjalan melalui jalan-jalan yang akrab bagi mereka berdua. Meskipun Hegi pernah berkunjung ke distrik ini sebelumnya, ia belum tahu persis di mana rumah Noy berada. Hegi merasa beruntung memiliki Noy sebagai panduan yang baik untuk membawanya ke tujuan mereka berdua.
Setelah beberapa saat berjalan, Noy akhirnya berhenti di depan sebuah bangunan dua lantai yang terletak di tepi sungai. Bangunan tersebut menghadap ke arah barat, dengan pemandangan sungai yang menjadi salah satu ikon khas Distrik Utara.
Cahaya bulan menghiasi permukaan air sungai, menciptakan kilauan yang menawan. Bangunan tersebut memiliki tampilan yang ramah dan terasa hangat di malam yang sejuk ini.
__ADS_1
"Selamat datang di rumahku, Hegi," ucap Noy sambil tersenyum.
Hegi mengangguk dengan senyuman dan memandang kagum ke arah bangunan yang mempesona tersebut. Meskipun cahaya di dalam bangunan itu redup karena Noy tinggal sendirian, tetapi keelokan arsitekturnya masih terpancar dengan jelas.
Bangunan dua lantai itu memiliki sentuhan tradisional dan modern yang harmonis, yang dapat menciptakan suasana yang ramah dan menenangkan. Meskipun hanya berdiri di
depannya, Hegi bisa merasakan betapa nyaman dan hangatnya atmosfer rumah tersebut.
Noy pun mengambil kunci dari saku celananya, lalu membuka pintu rumah dengan hati-hati. Setelah kunci berhasil membuka pintu, ia juga mengundang Hegi untuk masuk kedalam rumah.
Begitu mereka melangkah masuk, Noy segera menyalakan lampu dalam rumah, yang secara perlahan menerangi setiap sudut dengan cahaya hangatnya.
Cahaya lampu tersebut semakin menambah keindahan dan kenyamanan atmosfer di dalam rumah itu. Hegi merasa seperti masuk ke dalam dunia yang berbeda, tempat yang penuh dengan kehangatan dan kedamaian.
Tampak di sekeliling, ada sentuhan-sentuhan yang menceritakan tentang kepribadian Noy, dari barang-barang yang diletakkan dengan rapi hingga ornamen-ornamen seni yang dipajang dengan indah. Ini adalah rumah yang penuh kasih dan perhatian, tampak dari detail-detail yang begitu teliti diperhatikan.
"Aku kembali, ayah, ibu. Dan aku juga membawa teman baikku," ucap Noy dengan suara pelan ketika mereka memasuki rumah.
Meskipun ia sadar bahwa ayah dan ibunya telah tiada, tetapi ungkapan tersebut seperti menjadi penghormatan kepada mereka.
Hegi yang mendengar itu merasa terharu. Ia memahami pentingnya penghormatan dan kenangan kepada orang-orang yang telah pergi.
Dengan penuh penghormatan, ia menundukkan kepalanya sejenak, memberikan penghormatan kepada ayah dan ibu Noy dalam doanya. Gestur ini menggambarkan rasa empati dan pengertian Hegi terhadap perasaan Noy.
Di dalam rumah, Noy terlihat sibuk membersihkan debu yang mengendap di berbagai sudut. Sambil melakukannya, ia berbicara, "Nah, Hegi, apa yang ingin kau makan?" tanya Noy dengan ramah.
Suara pelan gemericik air sungai yang mengalir di dekat jendela menambah suasana nyaman dalam rumah tersebut.
Hegi, yang sedang memandangi sudut rumah Noy, merasa sedikit terkejut oleh pertanyaan tersebut. Dia menjawab dengan ragu, "Emm, terserah kau saja deh."
Hegi tertawa kecil dan menjawab, "Baiklah, kalau begitu, aku pesan makanan yang sama seperti yang kau pesan."
Noy mengangguk setuju sambil tersenyum dengan keputusan Hegi, "Bagus, begitu harusnya."
Suasana santai dan keakraban pun terasa begitu nyata di antara mereka, saat mereka berdua berbincang dan menikmati kedamaian rumah Noy yang indah di distrik utara.
Setelah itu, Noy keluar dari rumahnya sejenak, memberi Hegi kesempatan untuk menikmati suasana dalam rumah tersebut sendirian.
Hegi merenung sejenak, mengamati dekorasi dan suasana rumah Noy yang begitu hangat dan penuh kenangan. Ia merasa terhormat telah diajak ke tempat yang begitu pribadi dan berarti bagi Noy.
Setelah beberapa saat, Noy kembali masuk ke dalam rumah dengan senyuman lebar tergambar wajahnya. Di tangannya, ia membawa beberapa kotak makanan berisi hidangan yang beragam.
Hegi merasa terkejut dan tertarik dengan apa yang Noy bawa. Ia melihat makanan-makanan yang menarik dan berbeda dari apa yang biasanya ada di kantin.
“Dari mana kau mendapatkannya? Apa kau membawa uang?” tanya Hegi dengan rasa heran yang jelas terlihat di wajahnya.
Noy tersenyum sambil menggeleng. "Tidak, aku tidak membawa uang. Tetapi, setelah orang tuaku pergi, mereka menitipkan harta warisannya di toko sebelah rumahku, karena aku masih kecil saat itu. Jadi, aku bisa menukarnya dengan makanan di sini."
Hegi mengangguk paham, mengerti situasi temannya. "Ah, mengerti. Terima kasih sudah menyediakan makanan ini, Noy."
Noy kembali tersenyum. "Tidak masalah, Hegi. Mari kita nikmati makanan ini bersama."
Hegi akhirnya mengerti mengapa Noy tetap terlihat baik-baik saja meskipun telah kehilangan keluarganya. Ia merasa terharu dan berempati terhadap perjuangan dan tekad temannya untuk tetap kuat dalam menghadapi segala tantangan.
__ADS_1
Setelah itu, mereka berdua duduk di kursi dan dengan lahap memakan makanan yang telah dibawa oleh Noy. Saat mereka makan, suasana menjadi lebih hangat dengan percakapan ringan dan tawa kecil yang terlempar di antara mereka.
Setelah makanan habis dan perut mereka kenyang, Noy berbicara kepada Hegi, “Hegi, tunggulah di sini sebentar.”
Tanpa menunggu tanggapan, Noy keluar dari rumah dengan langkah cepat, membiarkan Hegi merasa bingung dan penasaran dengan apa yang akan terjadi selanjutnya.
Sambil menunggu Noy yang akan kembali, Hegi memutuskan untuk membersihkan sisa sampah dan makanan yang telah mereka habiskan tadi.
Dengan cermat, ia mengumpulkan piring dan wadah kosong, lalu meletakkannya di tempat yang sesuai. Sesekali, pandangannya terarah keluar jendela, memperhatikan langit yang semakin gelap karena malam merayap perlahan.
Dalam suasana yang tenang di dalam rumah, langkah-langkah Noy semakin mendekat, memberi petunjuk bahwa ia telah selesai dengan urusannya di luar. Ketika Noy masuk kembali ke dalam rumah, ia membawa beberapa makanan ringan seperti sosis, jagung, dan marshmallow.
Noy juga meminta tolong kepada Hegi untuk membawa makanan-makanan tersebut ke lantai atas. Dengan senyum ramah, Hegi mengangguk dan membantu mengatur makanan di atas meja.
Suasana semakin akrab di antara mereka, terbukti dari kerja sama mereka yang begitu lancar dan alami. Setelah Hegi mengambil makanan dari tangan Noy, Noy kembali pergi keluar rumah dengan tujuan yang kali ini sudah diketahui oleh Hegi.
Saat Noy menghilang dari pandangan Hegi, Hegi memutuskan untuk menuju lantai atas atau lantai dua rumah Noy.
Dengan langkah-langkah yang tenang, ia melangkah menuju lantai dua, berharap untuk menemukan sesuatu yang menarik di sana. Saat ia mencapai lantai atas, ia melihat beberapa pintu yang mungkin mengarah ke kamar atau ruangan lain.
Hegi memutuskan untuk menjelajahi lantai atas itu dengan hati-hati, dengan harapan bisa menemukan lebih banyak tentang kehidupan Noy.
Saat Hegi hendak membuka pintu luar, ia dikejutkan oleh kehadiran Noy. Ternyata, dugaannya benar, Noy membawa alat pemanggang elektrik di tangannya.
Hegi tersenyum kecut saat mereka bertemu di lantai atas. "Heh, kau hampir membuatku terkejut," ucap Hegi sambil menghela nafas lega.
Noy tertawa melihat reaksi Hegi. "Maafkan aku, sepertinya aku terlalu cepat kembali. Aku membawakan alat pemanggang untuk marshmallow. Bagaimana, tertarik untuk membuat makanan ringan yang lezat?"
Hegi mengangguk antusias. "Tentu, sepertinya itu akan menjadi hal yang menyenangkan."
Kedua teman itu kemudian menuju balkon yang menghadap ke arah sungai untuk membuat makanan marshmallow. Noy dengan cermat meletakkan alat pemanggang di atas meja dan membuka bungkus marshmallow.
Balkon itu diterangi oleh lampu lembut dan bintang-bintang yang bersinar di langit malam. Disana, mereka merasa seolah tengah memasuki dunia yang tenang dan indah.
"Bagaimana cara melakukannya?" tanya Hegi, mengungkapkan ketidaktahuannya dalam hal ini.
Sambil memasukkan marshmallow ke tusuk sate, Noy dengan sabar menjelaskan caranya kepada Hegi. Ia memberi petunjuk tentang cara memanggang marshmallow hingga kecokelatan dengan merata, tanpa sampai terbakar.
Keduanya tertawa saat mereka merasa akrab dengan proses ini. Begitu semuanya siap, mereka mulai memanggang marshmallow di atas alat pemanggang dengan antusiasme.
Ketika marshmallow mulai berubah warna menjadi kecokelatan yang menggoda, keduanya merasa senang menyaksikan transformasi tersebut. Setiap kali mereka membalik marshmallow di tusuk sate, dilakukan dengan penuh perhatian untuk mendapatkan hasil yang sempurna.
Sambil menunggu matang, mereka beralih ke pembicaraan ringan, menikmati momen berharga di tengah suasana malam yang hangat.
Setelah marshmallow habis dimakan dengan nikmat, mereka melanjutkan dengan mencicipi makanan lain yang dibawa oleh Noy, seperti jagung bakar dan sosis.
Mereka duduk santai di kursi balkon, menikmati hidangan lezat mereka sambil merenungkan pemandangan sungai yang tenang di depan mereka.
Sinar lampu yang redup memberikan kilauan pada air sungai, menciptakan jejak cahaya yang menari-nari di permukaannya. Suasana malam yang hangat membuat mereka merasa rileks dan nyaman, seolah waktu berhenti sejenak untuk memberi mereka kesempatan merasakan kedamaian dan keindahan lingkungan sekitar.
Tak jauh dari sana, mereka bisa melihat orang-orang yang juga menikmati waktu mereka di tepi sungai. Beberapa dari mereka sedang berkumpul di sekitar api unggun, sementara yang lain duduk bersantai sambil berbincang-bincang.
Semua itu menambah warna pada suasana malam yang damai. Hegi dan Noy melanjutkan percakapan mereka, berbicara tentang segala hal yang menghantui pikiran mereka. Mereka tertawa, berdiskusi, dan berbagi cerita dengan tulus.
__ADS_1
Waktu berlalu dengan begitu cepat, namun mereka merasa betah untuk berlama-lama di balkon tersebut, menikmati momen penuh kedamaian dan kebersamaan di malam yang indah.