
2240
Tembok Pusat Benteng Selatan
Jumlah Populasi 4.044.671
Karena mereka tidak diperbolehkan masuk ke dalam markas pusat, Hegi dan Noy akhirnya memutuskan untuk kembali ke asrama militer mereka dengan perasaan kesal yang masih terasa di dalam diri.
"Apa-apaan mereka? Hanya karena kita masih calon prajurit, mereka tidak mengizinkan kita," ucap Noy dengan nada kecewa.
Hegi setuju, "Benar tuh. Rasanya tidak adil bahwa status kami sebagai calon prajurit membuat kami diabaikan begitu saja."
Saat mereka berjalan kembali ke asrama, Hegi melanjutkan, "Tapi kita tidak boleh membiarkan frustrasi ini menghalangi semangat kita. Kita masih memiliki banyak peluang untuk membuktikan kemampuan dan dedikasi kita sebagai calon prajurit yang tangguh."
Noy mengangguk setuju, "Betul, Hegi. Mari kita gunakan kekecewaan ini sebagai motivasi untuk bekerja lebih keras dan membuktikan bahwa kita pantas mendapatkan pengakuan."
Setibanya di asrama, mereka langsung menuju kamar mereka yang dilengkapi dengan kasur yang empuk. Dengan tubuh yang lelah, mereka melemparkan diri mereka ke kasur dan segera terlelap.
Keheningan mengisi ruangan saat mereka berdua membiarkan lelah mereka mereda. Sesekali, desah napas mereka terdengar dalam ketenangan kamar itu. Waktu berlalu dan mereka pun merasa semakin rileks, larut dalam tidur yang pulas. Mimpi-mimpi mereka membawa mereka ke dunia yang jauh dari keramaian dan hiruk-pikuk yang baru saja mereka tinggalkan.
...****************...
Suara alarm pagi yang berbunyi dengan keras membangunkan Hegi dari tidurnya. Ia segera sadar bahwa hari ini mereka akan menghadapi tes militer pertama mereka.
Dengan cepat, Hegi mengguncangkan tubuh Noy yang masih terlalap, berusaha membangunkannya dari tidur yang nyenyak.
"Noy, bangunlah! Matahari telah muncul. Kita tidak ingin terlambat untuk tes ini, kan?" ucap Hegi dengan nada tergesa-gesa, berusaha mempercepat gerakan mengguncang-guncangkan tubuh Noy.
Noy menggeliat dan akhirnya membuka matanya. "Oh, Hegi. Selamat pagi," ucapnya dengan suara yang masih terdengar sedikit terbata-bata. Namun, Hegi tidak terlalu memperdulikan salam pagi dari Noy dan bergegas menuju kamar mandi untuk membersihkan diri.
Sambil berjalan menuju kamar mandi, Hegi menoleh ke belakang. "Noy, cepatlah! Kita harus siap dalam waktu singkat. Setelah ini, kita tidak boleh kehilangan waktu lagi," ucapnya dengan nada terburu-buru.
Noy tersadar akan keadaan dan segera bangkit dari tempat tidurnya. Dia menyadari bahwa tidak ada waktu untuk mengulur-ulur waktu lagi. Dengan cepat, dia mengikuti langkah Hegi dan berjalan menuju kamar mandi untuk segera bersiap.
Dalam waktu singkat, keduanya selesai mandi dan bersiap-siap dengan penuh konsentrasi. Mereka tahu betapa pentingnya tes militer pertama ini, dan mereka berdua bertekad untuk memberikan yang terbaik.
Hegi dan Noy merapikan pakaian mereka dengan cermat, memastikan setiap lipatan dan aksesori sesuai dengan standar yang ditetapkan.
Dengan semangat yang membara, mereka meninggalkan kamar mereka dan berjalan dengan mantap menuju aula tempat tes akan dilaksanakan. Perjalanan mereka menuju aula dipenuhi dengan tatapan tegang dan percakapan singkat, saling memberikan dorongan dan dukungan dalam setiap langkah.
Saat memasuki aula, Hegi dan Noy disambut oleh suasana yang ramai dengan banyak orang yang berkumpul di sana. Para peserta tes berkumpul dalam kegelisahan yang terasa di udara, menunggu pembagian kelompok tes mereka.
Mereka berdua dengan sabar menunggu kehadiran para penguji yang akan membagi kelompok tes mereka. Dalam antrean yang panjang, Hegi dan Noy menggunakan waktu tersebut untuk memperbaiki posisi baju dan rambut mereka.
__ADS_1
Tidak butuh waktu lama, enam orang penguji berdiri di hadapan mereka, memperhatikan dengan tajam setiap peserta yang hadir. Ekspresi serius dan tatapan tajam dari penguji menambah suasana yang semakin tegang di aula.
Hegi dan Noy merasakan tekanan yang melingkupi ruangan tersebut, namun mereka berusaha untuk tetap tenang dan menjaga ketenangan pikiran.
Salah seorang penguji mengangkat suaranya, memecah keheningan aula, "Baiklah, mari kita mulai proses pembagian kelompok tes. Kami akan membagi kalian menjadi tiga kelompok besar, sesuai dengan kelas tes yang akan kalian ikuti. Harap perhatikan dengan seksama, nama-nama kelompok akan dipanggil satu per satu, dan segera berkumpul sesuai jenis tes kalian."
Dengan jantung berdebar, Hegi dan Noy menanti giliran mereka dipanggil. Nama-nama peserta satu per satu dipanggil, dan mereka berdua merasakan ketegangan semakin memuncak di dalam diri mereka.
"Peserta Hegi, kamu akan menjadi bagian dari Kelompok Tes Fisik, segera bergabung ke barisan paling kiri," kata penguji tersebut dengan tegas.
Hegi merasa perasaannya campur aduk antara gugup dan semangat. Dia segera bergerak dengan mantap menuju barisan kiri, bergabung dengan rekan-rekan yang juga akan menghadapi tes fisik. Dia melihat wajah-wajah yang penuh determinasi di sekitarnya, menunjukkan bahwa setiap peserta siap memberikan yang terbaik dalam tes ini.
Hegi melangkah maju dengan hati yang berdebar-debar, meninggalkan Noy di belakang. Ia merasakan sedikit kehilangan tanpa kehadiran Noy di sisinya, tetapi dia juga tahu bahwa mereka harus menghadapi tantangan yang berbeda dalam ujian ini.
Sementara itu, Noy menahan napas saat penguji memanggil namanya. "Peserta Noy, kamu akan menjadi bagian dari Kelompok Tes Kognitif, bergabung ke barisan tengah sebelah kanan," ucap penguji tersebut dengan jelas.
Setelah para penguji memanggil nama mereka satu per satu, Hegi dan peserta lainnya segera bergabung sesuai dengan sub tes yang telah mereka dapatkan. Dengan hati yang berdebar, mereka dipandu oleh penguji ke tempat tes masing-masing.
...****************...
Hegi dan peserta lainnya, yang berjumlah sekitar empat puluh orang, mengikuti penguji dengan langkah mantap. Mereka berjalan dengan hati yang penuh semangat menuju lapangan parkir helikopter. Di sana, helikopter-helikopter yang telah disediakan menunggu dengan posisi mereka yang tegak dan kokoh.
Penguji memberikan instruksi dengan tegas, "Silakan kalian menaiki helikopter yang telah disediakan. Setiap helikopter akan diisi oleh lima orang. Helikopter ini akan mengantarkan kalian ke tempat tes. Paham?"
"Kami paham, Pak," jawab para peserta dengan tegas dan penuh semangat. Mereka merasakan adrenalin memuncak dalam diri mereka saat mereka memasuki helikopter yang telah disiapkan dengan hati yang berdebar-debar.
Helikopter-helikopter tersebut mulai lepas landas, membawa para peserta menuju tempat tes mereka. Terdapat sepuluh helikopter yang diterbangkan secara bersamaan, membentuk formasi yang mengagumkan di langit. Delapan helikopter disediakan khusus untuk para peserta, sementara dua helikopter lainnya ditujukan bagi penguji dan tim medis.
Dalam perjalanan menuju tempat tes, Hegi merasa hatinya berdebar-debar. Dia merasakan getaran helikopter yang kuat dan menikmati pandangan luas dari ketinggian tersebut.
Pemandangan yang memukau ini membuatnya semakin fokus dan siap menghadapi apa pun yang akan datang. Ia melihat sekelilingnya, melihat rekannya yang juga penuh semangat dalam perjalanan ini. Tatapan saling memberikan dukungan dan keyakinan antara peserta membuat Hegi semakin termotivasi.
Helikopter akhirnya tiba di pos di bagian barat tembok terluar dari benteng selatan. Di atas ketinggian dua puluh lima meter itu, helikopter mulai mendarat dengan hati-hati dan tepat di tempat yang telah ditentukan, menurunkan satu persatu para peserta dengan penuh kehati-hatian.
Hegi merasakan sensasi penurunan helikopter yang stabil dan terkontrol. Dia melihat tembok-tembok kokoh dari benteng selatan yang menjulang di bawahnya. Hatinya berdebar-debar karena mereka telah mencapai tempat tes yang sesungguhnya, di tengah-tengah lingkungan yang mengesankan dan memacu semangat juangnya.
Satu persatu, peserta lain juga turun dari helikopter dengan penuh konsentrasi. Mereka melangkah dengan hati-hati ke tempat yang telah ditentukan, menjaga ketertiban dan keamanan dalam proses ini.
Setelah semua peserta turun, helikopter meninggalkan tempat tersebut, meninggalkan mereka untuk menghadapi tes di depan mereka. Setelah seluruh peserta turun dari helikopter, penguji memulai menjelaskan mekanisme tes yang akan dilakukan.
Dengan tegas dan jelas, mereka memberikan instruksi kepada peserta tentang tahapan dan aturan tes yang akan mereka lakukan.
"Peserta, perhatikan baik-baik," ucap Endri, seorang penguji dengan suara lantang. "Nama saya Endri, dan saya akan menjadi penguji untuk tes ini. Tes akan terdiri dari beberapa tahap yang akan menguji kekuatan fisik, ketangkasan, dan kecepatan membuat keputusan. Kalian akan dihadapkan pada tantangan yang membutuhkan kecepatan dan otak kalian."
__ADS_1
Endri melanjutkan penjelasannya dengan tegas. Hegi dan peserta lainnya memberikan perhatian penuh pada kata-kata yang diucapkan olehnya, menyadari betapa pentingnya petunjuk dan arahan dari seorang penguji.
"Dalam tes ini, kalian akan diberikan tugas untuk berlari sejauh delapan puluh kilometer," ucap Endri sambil memperlihatkan sebuah alat berbentuk persegi panjang kepada para peserta. "Alat ini akan digunakan untuk mengukur jarak yang kalian tempuh selama tes. Jika kalian telah berhasil mencapai jarak delapan puluh kilometer, alat ini akan menunjukkan waktu yang kalian capai. Namun, ada juga twist menarik dalam tes ini."
Peserta memperhatikan alat tersebut dengan rasa penasaran yang semakin memuncak. Mereka saling bertatapan, penuh dengan antisipasi terhadap apa yang akan diungkapkan oleh Endri.
"Pada saat-saat tertentu, alat ini akan berbunyi dan membacakan sebuah soal yang membutuhkan keputusan dari kalian," lanjut Endri dengan serius. "Kalian hanya perlu menjawab pertanyaan tersebut dengan suara kalian. Jika kalian tidak menjawab, jarak yang kalian tempuh tidak akan bertambah, tetapi waktu akan terus berjalan. Paham?"
Para peserta mengangguk, menunjukkan pemahaman mereka terhadap instruksi yang diberikan oleh Endri. Mereka menyadari bahwa tes ini tidak hanya menguji kekuatan fisik, tetapi juga kemampuan ketepatan dalam mengambil keputusan di tengah aktivitas yang menguras tenaga.
Mereka merasakan ketegangan semakin memuncak, mengetahui bahwa setiap soal yang dihadapi dapat mempengaruhi hasil tes mereka. Keterampilan multitasking dan konsentrasi yang baik menjadi kunci penting untuk menghadapi twist menarik dalam tes ini.
Endri melanjutkan dengan memberikan penjelasan lebih lanjut mengenai alat tersebut, termasuk mekanisme pemberian soal dan respons yang diharapkan dari para peserta.
Dia menggambarkan dengan detail bagaimana alat tersebut akan berbunyi dan mengeluarkan pertanyaan di saat-saat tertentu selama perjalanan.
"Ketika alat ini berbunyi, segera hentikan langkah kalian dan perhatikan pertanyaan yang diajukan," jelas Endri dengan tegas. "Setiap pertanyaan akan membutuhkan respons cepat dan tepat dari kalian. Bicaralah dengan jelas dan terdengar oleh alat ini agar dapat merekam jawaban kalian dengan akurat."
Endri melanjutkan dengan membagikan alat tersebut kepada setiap peserta. Satu per satu, ia mendekati mereka dengan hati-hati dan penuh perhatian. Setiap peserta menerima alat tersebut dengan tangan gemetar, merasa tanggung jawab yang besar untuk menjaga alat tersebut dalam kondisi baik selama tes berlangsung.
"Dalam tes ini, kalian akan menggunakan alat ini sebagai panduan dan pengukur jarak yang kalian tempuh," ucap Endri sambil memberikan alat kepada Hegi. Hegi menerima alat dengan hati-hati, menyadari betapa pentingnya menjaga keutuhan alat tersebut selama tes berlangsung.
"Pastikan kalian membawa alat ini dengan aman dan menjaga agar tidak rusak selama tes berlangsung. Alat ini akan menjadi teman setia kalian selama perjalanan delapan puluh kilometer yang akan kalian lalui."
Hegi menerima alat tersebut, merasakan bobotnya di tangannya. Ia merasa semakin terfokus dan siap menghadapi tantangan ini dengan baik.
Hegi memperhatikan dengan seksama ketika Endri melanjutkan pembagian alat kepada peserta lainnya, memberikan penjelasan yang sama untuk setiap peserta tentang pentingnya menjaga alat tersebut selama tes berlangsung.
"Jika kalian mengalami kesulitan atau merasa tidak mampu melanjutkan, cukup bicaralah dengan alat ini," ucap Endri dengan tegas kepada peserta. Suara Endri memenuhi ruangan di pos barat, memastikan bahwa peserta memahami instruksi yang diberikan dengan jelas.
"Helikopter medis akan segera dikirim ke tempat kalian untuk memberikan bantuan dan evakuasi jika diperlukan."
Peserta mengangguk, menyadari betapa pentingnya untuk mengutamakan keselamatan dan kesehatan mereka dalam tes yang menantang ini. Mereka melihat alat yang mereka pegang sebagai saluran komunikasi vital dengan tim medis, memberikan jaminan bahwa bantuan akan segera tiba jika diperlukan.
Setelah Endri selesai menyampaikan mekanisme tes, ia langsung memberikan perintah kepada para peserta untuk bersiap-siap berlari. "Peserta, bersiaplah untuk berlari!" ucap Endri.
Para peserta yang mendengar instruksi tersebut segera berbaris dan mempersiapkan diri mereka untuk berlari, begitu juga dengan Hegi. Ia dengan cepat menyusul peserta lainnya dan berbaris dengan sikap yang tegap.
Mereka membentuk delapan barisan yang sangat rapi, menunjukkan disiplin dan keteraturan dalam pelaksanaan tes ini.
"Ketika saya memberikan aba-aba, kalian akan memulai perjalanan kalian menuju jarak delapan puluh kilometer. Bersiaplah!" ucap Endri, suaranya terdengar melengking di udara.
Kemudian, dengan gerakan tangan yang tegas, Endri memberikan aba-aba memulai lari. Para peserta merasakan adrenalin yang mengalir dalam diri mereka saat kaki mereka melangkah maju.
__ADS_1
Dalam sekejap, mereka memulai perjalanan yang akan menempuh jarak delapan puluh kilometer ini dengan semangat yang membara. Hegi merasakan langkahnya yang kuat saat ia berlari.
Dia merasakan kekuatan dalam setiap gerakan tubuhnya, memompa semangatnya untuk terus maju. Langit biru yang terbentang di atas mereka memberikan energi dan memotivasi mereka untuk menghadapi tantangan yang ada di depan.