Guardian Of The Last Bastion

Guardian Of The Last Bastion
Chapter 42: Ke Tempat Wili


__ADS_3

2240


Tembok Pusat Benteng Selatan


Jumlah Populasi 4.044.677


Sinar matahari pagi merayap lembut melalui celah-celah jendela asrama, merangkul wajah Hegi dan Noy yang masih terlelap. Hangatnya sentuhan itu membawa seulas senyum di sudut bibir mereka, sejenak mengusir dinginnya udara pagi.


Namun, kesenangan itu berlangsung singkat, terputus oleh suara alarm berdentang dengan keras. Suara itu seolah menggoyahkan kedamaian pagi, mengingatkan mereka bahwa tugas dan tanggung jawab mereka sebagai prajurit menanti.


Dengan gerakan lamban dan kerepotan, Hegi dan Noy meraih alarm yang berada di atas meja dekat tempat tidur mereka. Bunyi alarm itu melengking dengan intensitas tinggi, seperti sebuah pukulan tegas yang meruntuhkan kedamaian pagi mereka.


Hegi, dengan tangkas, menghentikan alarm dengan gerakan yang sangat cepat, membawa keheningan kembali ke dalam ruangan. Di sisi lain, Noy masih berjuang dengan sisa-sisa kantuk yang menutup matanya, wajahnya tampak terlipat karena usaha untuk bangun sepenuhnya.


Hegi, yang kini sudah lebih waspada, duduk di tepi tempat tidur dengan punggung tegak. Dia menggosok-gosok matanya yang masih lelah, mencoba mengusir sisa kantuk yang menyerangnya.


Pandangannya berpindah ke Noy, yang kini duduk dengan bantal di belakang punggungnya, masih berusaha untuk bangun sepenuhnya.


"Kamu baik-baik saja, Noy?" tanya Hegi dengan nada khawatir.


Noy mengangguk perlahan, bibirnya membentuk senyuman lemah. "Ya, hanya butuh sedikit waktu lebih untuk benar-benar sadar."


Hegi tertawa singkat, mengerti betul perjuangan yang dirasakan Noy. "Rasanya seperti kita selalu terjebak dalam pertempuran pagi dengan alarm ini, bukan?"


Noy mengangguk setuju, menyingkirkan rambut yang masih acak-acakan dari wajahnya.


"Sepertinya alarm ini memiliki tekad yang kuat untuk mengingatkan kita akan kewajiban kita sebagai prajurit."


Mereka berdua membebaskan diri dari selimut dan duduk di pinggir tempat tidur, merasakan sedikit kesejukan akibat udara pagi yang masih segar.


Dengan perlahan, mereka meregangkan tubuh mereka, memulai hari dengan gerakan-gerakan yang pelan dan lentur. Setelah merasa otot-otot mereka lebih lentur, mereka akhirnya berdiri dan memulai tugas rutin pagi mereka.


Dengan hati-hati, mereka merapikan tempat tidur, melipat selimut dengan rapi dan menata bantal-bantal agar segalanya kembali rapi. Cahaya pagi yang lembut masih terus memancar melalui jendela, menciptakan atmosfer yang tenang dan damai di dalam asrama mereka.


Hegi dan Noy saling bertatapan sejenak, seolah merasakan kedamaian yang sama dari keindahan pagi ini.


"Mari kita nikmati sejenak keheningan ini sebelum kita memulai hari yang sibuk," kata Hegi dengan suara lembut.


Noy setuju, mengangguk dengan senyum di bibirnya. Mereka duduk di dekat jendela, menikmati hangatnya sinar matahari yang perlahan-lahan menghangatkan ruangan.


Suara burung-burung kecil yang berkicau di luar menambahkan nuansa alami ke dalam ketenangan pagi mereka.


"Terkadang, aku merasa seperti kita terlalu terjebak dalam rutinitas dan tugas-tugas kita sebagai prajurit," ucap Noy setelah beberapa saat, suaranya dipenuhi dengan renungan.


Hegi mengangguk, berbagi pemikirannya. "Benar juga. Tapi kita juga tahu bahwa rutinitas ini membangun disiplin dan keterampilan kita. Dengan melalui semua ini, kita dapat tumbuh dan berkembang menjadi prajurit yang lebih baik."


Noy tersenyum, merasa diinspirasi oleh kata-kata temannya. "Kau benar. Setiap tugas, setiap latihan, semuanya adalah langkah menuju perkembangan dan kemajuan kita."


Mereka berdua tetap duduk di dekat jendela, merenung dalam kedamaian pagi yang masih terasa begitu segar. Waktu pun berlalu dengan tenang, mengingatkan mereka akan pentingnya mengambil momen untuk merenung dan menghargai perjalanan yang telah mereka tempuh.


Setelah menghabiskan beberapa saat dalam refleksi diam, mereka memutuskan untuk beralih ke urusan pagi. Dengan langkah perlahan, mereka menuju kamar mandi untuk memulai rutinitas harian mereka.


Air hangat dari shower mengalir dan dengan lembut mengalirkan rasa kantuk yang masih tersisa, memberi sentuhan penyegaran yang sangat dibutuhkan.


Hegi dan Noy menghiasi cermin kamar mandi dengan wajah-wajah yang penuh semangat, wajah-wajah itu perlahan mulai kembali hidup. Air yang jatuh dengan lembut membangunkan indra mereka, dan setiap tetes air seperti pesan kecil bahwa hari baru telah tiba, penuh potensi dan peluang.


Ketika mereka keluar dari kamar mandi, sinar matahari pagi telah berubah menjadi cahaya yang lebih terang. Mereka berdua memilih pakaian mereka dengan teliti. Mengenakan pakaian terbaik mereka, mereka merasa siap menghadapi apapun yang akan datang.


"Dunia di luar sana menunggu," ujar Hegi dengan suara mantap.

__ADS_1


Noy mengangguk setuju, senyumnya penuh semangat. "Kita siap menghadapinya."


Setelah merampungkan mandi pagi yang menyegarkan, Hegi dan Noy merasakan betapa lapar mereka setelah mandi pagi dan jalan-jalan kemarin.


Dengan perasaan perut yang kosong dan berbunyi-bunyi, mereka memahami bahwa penting bagi mereka untuk mengisi energi sebelum menghadapi aktivitas berikutnya. Tanpa ragu, mereka setuju untuk segera melangkah ke kantin untuk sarapan.


Ketika Hegi dan Noy memasuki kantin, suasana sudah mulai hidup dengan kegiatan para prajurit yang juga mencari sarapan.


Antrian sudah mulai terbentuk di depan berbagai hidangan pagi yang menggoda, menambah rasa lapar mereka yang sebelumnya sudah mulai terasa.


Bergabung dengan antrian, mereka menyaksikan prajurit lain yang juga bersemangat untuk mengisi energi pagi mereka.


Berbagai aroma yang lezat merembes keluar dari hidangan yang tersedia, menambah keinginan mereka untuk segera menyantap sarapan.


Mata mereka berpindah dari satu hidangan ke hidangan lain, mempertimbangkan pilihan yang paling menggugah selera.


Setelah antrian bergerak maju dan giliran mereka tiba, Hegi dan Noy dengan cermat memilih makanan dan minuman yang mereka inginkan.


Dengan piring dan gelas di tangan, mereka mulai mencari tempat duduk yang nyaman di dalam kantin yang semakin ramai. Setiap meja penuh dengan cerita dan gelak tawa prajurit lain yang menikmati waktu bersama.


Hegi dan Noy akhirnya menemukan tempat kosong dan duduk, piring-piring mereka berisi hidangan yang menjanjikan.


Duduk di meja yang dipenuhi dengan semangat pagi, mereka merasa bersyukur atas momen ini. Setelah mengambil gigitan pertama dari makanan mereka, rasa lapar yang sebelumnya mereka rasakan segera reda. Dalam setiap suapan, energi dan semangat tampaknya mengalir kembali ke dalam tubuh mereka.


"Kelas medis kemarin cukup menarik," ucap Hegi, mengingat pertemuan mereka dengan Instruktur Celi.


"Benar, aku merasa lebih percaya diri dalam hal pertolongan pertama sekarang," sahut Noy.


Sambil menyeruput minuman mereka, mereka berdua merencanakan apa yang mungkin akan mereka pelajari dalam kelas bertahan hidup hari ini.


Mereka membayangkan tantangan-tantangan yang mungkin dihadapi dan bagaimana pengetahuan tersebut dapat menjadi tambahan yang berharga dalam skill mereka sebagai prajurit.


Noy tersenyum, mengangguk setuju. "Atau mungkin kita akan diajarkan bagaimana mencari makanan dan sumber air di alam liar."


Percakapan mereka dipenuhi dengan kegembiraan dan spekulasi tentang apa yang mungkin akan mereka pelajari dalam kelas bertahan hidup hari ini.


Mereka berdua memiliki pandangan yang penuh antusiasme tentang pelajaran tersebut, merasa siap untuk merespons dengan tekad dan semangat.


Setelah melahap makanan dengan penuh semangat, mereka berdua dengan cermat membersihkan meja mereka. Dengan perut yang kenyang dan perasaan puas, mereka berdiri dan bersiap-siap untuk meninggalkan kantin.


Meskipun masih ada udara semangat yang terasa di sekitar mereka, kesadaran akan latihan dan pembelajaran yang akan datang membuat mereka bergegas untuk keluar.


Dalam langkah-langkah mantap, Hegi dan Noy keluar dari kantin dan beralih ke suasana yang lebih serius. Mereka merasa siap menghadapi tantangan yang menanti, dengan fokus dan tekad yang tak tergoyahkan.


Langkah mereka penuh dengan keyakinan dan antusiasme, menandakan bahwa mereka siap untuk mengambil pelajaran baru dan tumbuh dalam peran mereka sebagai prajurit yang berbakat.


Langkah mereka kini membawa Hegi dan Noy keluar dari pelataran di tengah tembok pusat menuju ke arah distrik timur laut.


Matahari pagi masih tergantung rendah di langit, memberikan sentuhan sinar emas yang lembut pada pemandangan yang memanjakan mata.


Dalam perjalanan ini, langkah mereka tidak hanya sebatas berjalan, melainkan juga merupakan perenungan tentang apa yang mungkin akan dihadapi dalam latihan hari ini.


Setapak demi setapak, mereka berjalan melewati jalan-jalan yang dikelilingi oleh bangunan militer. Udara segar pagi dan suara langkah mereka yang teratur menciptakan suasana yang tenang, memungkinkan mereka untuk merenung dan memusatkan pikiran.


Hegi dan Noy saling melirik, saling berbagi antisipasi dan tekad mereka menghadapi tantangan hari ini.


"Kelas bertahan hidup mungkin akan membawa kita pada petualangan yang menantang," ujar Hegi sambil mengangguk.


Noy tertawa singkat, setuju dengan kata-kata temannya. "Iya, tetapi itulah yang membuatnya begitu menarik. Kita bisa belajar dari pengalaman yang praktis dan belajar menangani situasi tak terduga."

__ADS_1


Mereka melanjutkan perjalanan dengan bercakap-cakap tentang latihan-latihan sebelumnya, berbagi cerita tentang bagaimana mereka berhasil mengatasi situasi yang sulit dan belajar dari kesalahan mereka. Setiap kisah menjadi pelajaran berharga yang membentuk mereka menjadi prajurit yang lebih baik.


Setelah melangkah selama beberapa saat, langkah kaki mereka membawa Hegi dan Noy ke distrik timur laut. Tempat ini masih dikelilingi oleh hutan yang rimbun, dengan sedikit sekali tanda-tanda perumahan penduduk.


Mereka melanjutkan perjalanan melalui jalan setapak yang terbentang di tengah pepohonan, merasa seperti menjelajahi wilayah baru.


Perjalanan mereka akhirnya berakhir ketika mereka tiba di sebuah lapangan yang luas, tempat latihan hari ini akan berlangsung.


Saat mereka memasuki lapangan, mereka melihat beberapa teman sekelas mereka yang sudah tiba lebih dulu, saling berbicara dan berbagi tawa.


Namun, mereka tidak melihat Instruktur Wili yang biasanya sudah siap menunggu.


"Mereka sepertinya juga merasa penasaran," kata Noy sambil menunjuk teman-teman sekelas yang tengah berkumpul.


Hegi mengangguk setuju. "Tampaknya kita akan segera menemukan tahu apa yang akan terjadi."


Mereka berdua bergabung dengan teman-teman sekelas yang berkumpul di lapangan. Sambil menunggu instruktur, mereka berbicara tentang apa yang mungkin akan dipelajari hari ini.


Tidak ada yang tahu persis, tetapi setiap orang memiliki tebakannya sendiri.


Di tengah penantian mereka, Hegi dan Noy memanfaatkan waktu untuk berbincang dengan teman-teman sejawat. Mereka berbicara tentang kelas medis bersama Celi hari kemarin dan membahas apa yang mungkin akan dipelajari


hari ini.


Percakapan yang hangat dan ceria membantu mengurangi ketegangan akibat ketidakpastian situasi.


Saat sinar matahari semakin meninggi di langit, suasana di lapangan semakin hangat dan cerah.


Para prajurit, termasuk Hegi dan Noy, telah berkumpul di lapangan yang luas, siap untuk memulai latihan bertahan hidup di alam liar.


Mereka berbicara dengan teman sejawat dan berbagi antusiasme, menunggu dengan sabar instruksi dari Instruktur Wili.


Namun, tiba-tiba, mata semua orang tertuju ke atas saat sebuah suara berdering dari atas pohon beringin di sekitar lapangan. Semua mata terbelalak kaget ketika Instruktur Wili muncul dari atas pohon tersebut dengan langkah pasti dan penuh kepercayaan diri.


Mereka semua tercengang oleh kemampuan instruktur mereka yang luar biasa untuk mengendalikan dan menguasai lingkungan sekitar.


Instruktur Wili meloncat dengan lincah dari atas pohon, menghadirkan kejutan bagi semua prajurit yang telah berkumpul. Meskipun suara terkejut dan kaget terdengar, segera berubah menjadi senyuman saat mereka menyadari kehadiran instruktur mereka.


Instruktur Wili tersenyum penuh semangat kepada para prajurit yang telah berkumpul, mengirimkan rasa semangat yang menular dan membangkitkan semangat mereka.


"Selamat pagi, prajurit-prajurit!" seru Instruktur Wili dengan suara yang lantang dan penuh semangat.


"Saatnya menguji keterampilan dan keberanian kita dalam menghadapi alam liar," tambahnya dengan nada yang penuh semangat.


Prajurit-prajurit itu menjawab dengan seruan yang penuh semangat, menciptakan atmosfir yang penuh energi di lapangan. Meskipun mereka awalnya terkejut oleh kemunculan tiba-tiba instruktur mereka, namun semangat dan keberanian Instruktur Wili segera mempengaruhi mereka.


Dalam cahaya matahari pagi yang terang dan cerah, suasana lapangan semakin hidup. Para prajurit telah berkumpul, siap untuk mendengarkan instruksi dari Instruktur Wili dalam latihan bertahan hidup hari itu.


Dengan sikap yang penuh perhatian, mereka mendengarkan kata-kata yang diucapkan oleh instruktur mereka.


"Saya akan memberikan instruksi kepada kalian tentang latihan bertahan hidup hari ini," ujar Instruktur Wili dengan suara lantang, memancing perhatian dari para prajurit yang hadir.


Semua mata tertuju pada instruktur mereka, perasaan antisipasi dan kesiapan penuh di antara mereka. Instruktur Wili melanjutkan dengan menjelaskan tujuan dari latihan tersebut, mengingatkan mereka tentang tujuan awal mereka dalam menghadapi tantangan ini.


"Ini akan mirip dengan pertemuan pertama kalian di kelas sebelumnya," ujar Instruktur Wili dengan suara yang tegas, mengingatkan tentang awal perjalanan mereka dalam kelas bertahan hidup.


Dalam langkah yang mantap dan bahasa tubuh yang tegas, Instruktur Wili melanjutkan, "Tujuan dari latihan ini adalah agar kalian memiliki kemampuan untuk bertahan hidup dalam kondisi apapun. Kalian akan belajar bagaimana mencari sumber makanan, mengatasi medan yang sulit, dan kemampuan berkendara."


Tentang ketegangan dan antusiasme yang terasa di udara, Instruktur Wili menambahkan, "Tujuan sebenarnya sederhana: agar kalian bisa bertahan hidup selama mungkin. Kalian akan dilatih mengembangkan keterampilan, kecerdasan, dan ketangguhan kalian di alam liar. Itu adalah hal yang sangat berharga bagi setiap prajurit."

__ADS_1


__ADS_2