Guardian Of The Last Bastion

Guardian Of The Last Bastion
Chapter 31: Hari Pertama


__ADS_3

2240


Tembok Pusat Benteng Selatan


Jumlah Populasi 4.044.675


Suara alarm pagi selalu membangunkan Hegi dari tidurnya, tapi kali ini berbeda. Hegi yang biasanya bangun terlebih dahulu daripada sahabatnya Noy, yang tidur di ranjang di sebelahnya, kini mereka terbangun hampir bersamaan.


Cahaya matahari pagi yang menyelinap melewati celah tirai telah mengubah keadaan kamar mereka yang biasanya gelap menjadi terang benderang. Sinar pagi itu mengusik tidur nyenyak mereka dan memaksa mata mereka terbuka secara perlahan.


Hegi mengucek-ngucek matanya, mencoba melawan kantuk yang masih menyergapnya. Biasanya, Hegi akan langsung membangunkan Noy dengan lembut karena sahabatnya itu memang bukan tipe orang yang mudah bangun di pagi hari.


Namun, kali ini Noy telah membuka matanya sendiri, dan ekspresi wajahnya yang mengantuk berubah menjadi kaget ketika menyadari bahwa Hegi juga sudah terjaga. Kedua mata mereka terbuka secara serentak, dan ekspresi terkejut menghiasi wajah mereka saat mereka saling pandang.


Dengan wajah masih terasa kantuk, Hegi meraih alarm di meja samping tempat tidurnya dan mencoba mematikannya. Namun, tangannya yang masih mengantuk dan gemetar membuatnya kesulitan untuk menemukan tombol mati.


Alarm terus berdering dengan keras, menyambut pagi dengan riuh dan semakin membuat Hegi dan Noy menjadi lebih sadar akan keberadaannya. Noy yang biasanya butuh waktu ekstra untuk bangun sepenuhnya, tiba-tiba merasa lebih bersemangat melihat Hegi berusaha mematikan alarm itu.


"Izinkan aku," ucap Noy sambil tersenyum, lalu dengan sigap, ia meraih alarm dari tangan Hegi dan dengan cepat menekan tombol mati.


"Aku pikir aku akan kesulitan mematikannya," ujar Hegi sambil menguap pelan.


"Kau terlihat lucu saat berusaha," kata Noy sambil tertawa.


Hegi menyeringai, "Rasanya seperti alarm ini tahu betul kapan harus berbunyi dengan keras, hingga membuatku begitu terkejut."


Noy mengangguk setuju, "Iya, mungkin alarmnya punya rencana tersendiri untuk menyambut pagi dengan gemuruh."


Di dalam kamar asrama militer, suasana biasanya dibangunkan oleh Hegi yang bersemangat. Setiap pagi, ia selalu menjadi sumber semangat bagi Noy, sahabatnya, yang cenderung lebih santai dalam menghadapi rutinitas pagi mereka.


"Tumben sekali kau, Noy. Biasanya aku yang membangunkan mu," tanya Hegi dengan heran, mencoba memahami apa yang sedang terjadi.


"Oh, tentu saja, kali ini terasa berbeda karena kita ada kelas pelatihan militer hari ini, dan aku sangat bersemangat untuk hari ini," jawab Noy sambil tersenyum lebar.


Hegi mengangguk mengerti. Ia bisa merasakan getaran semangat dari Noy, yang memang selalu ceria di setiap keadaan dan merasakan antusias ketika akan menghadapi sesi pelatihan militer.


Bagi Noy, pelatihan ini adalah kesempatan untuk mengasah keterampilan dan membuktikan diri, dan semangatnya yang tak pernah pudar itu selalu menulari Hegi.


Namun, pagi ini, seolah ada aura yang berbeda di udara. Mereka berdua merasa aneh dan seperti ada sesuatu yang sedang menanti. Hegi merasa ada semacam gugup yang tidak biasa menggelitik dadanya, dan Noy juga merasa getaran misterius yang sulit dijelaskan.


Mereka berdua memutuskan duduk di tepi tempat tidur, merenungkan perasaan yang tidak biasa ini. Suasana hening dan tegang, seolah-olah alam juga merasakan kehadiran misterius yang memenuhi ruangan. Keduanya saling pandang dengan ekspresi bingung.


"Apakah kau merasakannya juga?" tanya Noy dengan suara berbisik.


Hegi mengangguk, "Ya, pagi ini terasa aneh. Seperti ada peristiwa penting yang akan terjadi."


Tiba-tiba, suara angin yang berdesir lembut menyapu jendela kamar mereka, dan cahaya matahari pagi mulai merambat masuk. Momen itu seakan menjadi jawaban atas perasaan aneh yang mereka rasakan. Suasana menjadi lebih cerah, dan kegelisahan tadi perlahan menghilang.


Setelah itu, mereka berdua menuju dua kamar mandi yang berada di kamar mereka. Meskipun mereka berdua terbangun hampir bersamaan, mereka tetap menjaga keteraturan dan efisiensi dalam melakukan rutinitas pagi mereka.

__ADS_1


Sambil berkumpul di depan kamar mandi, mereka berdua tersenyum satu sama lain seolah saling memberikan semangat untuk menghadapi pagi yang penuh aktivitas. Dalam beberapa menit, kamar mandi pun menjadi tempat bagi mereka untuk mencuci muka, menyikat gigi, dan mandi dengan suasana yang riang.


Setelah selesai mandi, mereka berdua berkumpul kembali di kamar untuk merapikan seragam dan perlengkapan mereka. Hegi dengan lincah menata rambutnya dengan simpul khas yang rapi, sementara itu Noy dengan sigap mengenakan pakaian kasual.


Meskipun mereka berdua memiliki gaya dan kepribadian yang berbeda, namun saat bersama-sama, mereka saling melengkapi. Dengan pakaian rapi, mereka berdua kemudian melangkah keluar menuju kantin untuk sarapan.


Pagi itu, suasana di kantin begitu hidup dengan riuh rendah percakapan dan gelak tawa para prajurit militer. Meskipun dalam suasana santai, Hegi dan Noy tidak kehilangan semangat dan kedisiplinan mereka.


Mereka tahu bahwa walaupun mereka berada di lingkungan yang santai seperti kantin, sikap disiplin tetap harus dijunjung tinggi sebagai seorang prajurit. Saat berada di kantin, Hegi dan Noy tetap berbicara dengan tenang dan tidak terlalu bising.


Mereka memberikan contoh yang baik bagi rekan-rekan mereka dengan tetap menjaga sikap tenteram dan sopan. Saat memesan makanan, mereka berdua berbicara dengan sopan kepada petugas kantin, mengucapkan terima kasih padanya dengan ramah.


"Sarapan apa yang kau pesan, Hegi?" tanya Noy dengan antusias.


Hegi melihat daftar menu hari ini dengan cermat, "Aku akan mencoba bubur oatmeal dan sepotong roti panggang dengan selai kacang."


Noy mengangguk setuju, "Bagus! Aku juga ingin mencoba pancake dengan saus maple dan secangkir susu cokelat."


Setelah mengantri dan mendapatkan makanan favorit mereka sendiri-sendiri, Hegi dan Noy berkumpul di meja kantin yang biasa mereka pilih.


Di sana, mereka duduk bersebelahan, menikmati hidangan pagi mereka sambil berbincang-bincang tentang persiapan mereka untuk sesi pelatihan militer hari itu. Terlihat jelas bahwa semangat yang sama dari pagi tadi masih terus berkobar di dalam diri mereka.


Hegi menggigit roti panggangnya dengan begitu antusias, "Aku sangat bersemangat menghadapi sesi pelatihan militer hari ini. Tadi pagi, ketika kita bangun dengan aura yang berbeda, aku merasa ada sesuatu yang spesial."


Noy menyipitkan mata, mengangguk setuju, "Aku juga merasakannya, Hegi. Sepertinya pagi ini membawa keberuntungan bagi kita. Kita harus memberikan yang terbaik hari ini!"


Mereka makan dengan lahap, sambil sesekali tertawa dan berbagi cerita lucu yang membuat suasana semakin ceria. Di tengah riuhnya suasana kantin, mereka tetap berkomitmen untuk tetap menjaga sikap tenteram dan sopan seperti prajurit militer sejati.


"Yuk, waktunya kita menuju ruang kelas dan tunjukkan siapa yang terbaik!" ajak Noy dengan semangat.


"Benar, mari kita tunjukkan semangat juang kita dan menjadi tim yang tak terkalahkan!" sambut Hegi dengan antusias.


Mereka berdua kemudian berjalan keluar dari kantin dan menuju ruang kelas mereka yang berada di lantai dua markas pusat. Semangat dan kesiapan mereka menulari beberapa rekan sejawat yang melihat mereka berdua berlalu, dan suasana di sekitar semakin terasa penuh semangat.


Hegi dan Noy berdua sampai di depan bangunan dengan sepuluh lantai itu, yang mereka sebut markas pusat. Saat mereka akan masuk, mereka dihadang oleh seorang prajurit yang berjaga di depan pintu. Prajurit tersebut menatap mereka dengan penuh ketegasan dan bertanya dengan tegas, "Ada apa tujuan kalian kesini?"


Hegi dan Noy menyadari bahwa prajurit tersebut menjalankan tugasnya dengan serius untuk menjaga keamanan markas pusat. Dengan sopan, Hegi menjawab, "Kami adalah prajurit baru yang akan mengikuti kelas pelatihan di lantai dua, Pak."


Noy mengangguk setuju, "Ya, benar sekali. Kami telah mendapatkan jadwal dari instruktur pelatihan."


Prajurit yang berjaga melihat mereka dengan tajam, memastikan keabsahan alasan mereka. Dia kemudian mengecek daftar hadir dan jadwal yang dia pegang, memverifikasi bahwa nama Hegi dan Noy memang terdaftar untuk sesi pelatihan di lantai dua.


Setelah yakin bahwa semuanya beres, prajurit itu memberi isyarat agar mereka berdua bisa masuk, "Baiklah, silahkan masuk. Semoga sukses dalam sesi pelatihan hari ini."


"Makasih, Pak! Kami akan memberikan yang terbaik," ucap Hegi dengan penuh hormat.


Noy menyambung, "Iya, semoga kami berdua bisa berkontribusi dengan baik."


Mereka berdua memberikan salam hormat dan berterima kasih pada prajurit tersebut sebelum melanjutkan perjalanan menuju ruang kelas mereka yang berada di lantai dua.

__ADS_1


Mereka tetap berusaha menjaga sikap sopan dan hormat pada rekan-rekan sejawat dan prajurit yang mereka temui di sepanjang jalan.


Mereka berdua melangkah dengan mantap ke dalam markas pusat. Saat memasuki bangunan tersebut, suasana berubah menjadi lebih tenang dan teratur.


Saat mereka memasuki ruangan lantai satu, mereka langsung terpesona oleh pemandangan yang ada di hadapan mereka. Hegi dan Noy tiba di lantai pertama yang ternyata adalah gudang senjata.


Hegi dan Noy kagum melihat berbagai jenis senjata yang tersusun rapi di rak-rak dan dinding gudang. Senjata-senjata canggih dan beragam, dari lightblade hingga lightgun, dipajang dengan teratur. Semuanya terlihat bersih dan terawat dengan baik, menunjukkan kejelasan dalam tata kelola persenjataan di markas pusat.


"Ini benar-benar mengesankan," ucap Hegi dengan nada takjub.


Noy setuju, "Betul, pengaturan dan pemeliharaan senjata ini sungguh menakjubkan."


Mereka berdua mengamati dengan seksama, menyadari pentingnya peran senjata-senjata tersebut dalam menjalankan tugas sebagai prajurit militer.


Tidak hanya mempesona, melihat gudang senjata ini juga mengingatkan mereka tentang tanggung jawab besar yang mereka emban sebagai anggota militer.


"Semua ini sungguh mengesankan, Hegi," ucap Noy dengan rasa hormat.


"Hmm, betul. Tapi ingat, Noy, senjata ini adalah alat yang sangat berbahaya. Penggunaannya harus dilakukan dengan penuh tanggung jawab dan kehati-hatian," sela Hegi dengan serius.


Noy mengangguk, mengerti betul akan pentingnya etika dan disiplin dalam menggunakan senjata. Mereka berdua sama-sama menyadari bahwa kecanggihan senjata tersebut membawa konsekuensi besar, dan mereka harus selalu memprioritaskan keselamatan dan keamanan dalam setiap tindakan.


"Benar sekali, Hegi. Kita harus selalu mengingat bahwa senjata ini adalah alat untuk melindungi, bukan untuk menyakiti secara sembarangan," tambah Noy dengan tekad.


Hegi mengangguk setuju, "Tepat. Ketika kita menghadapi situasi yang memerlukan penggunaan senjata, kita harus tetap tenang dan berpikir dengan jernih. Itu adalah bagian dari profesionalisme dan kewaspadaan sebagai prajurit."


Mereka berdua berbicara dengan penuh kesadaran tentang tanggung jawab mereka sebagai anggota militer. Mereka menyadari bahwa dengan memiliki senjata, mereka memiliki kekuatan besar yang juga membawa beban besar tanggung jawab.


Setelah puas melihat gudang senjata, mereka segera menuju kelas pelatihan mereka di lantai dua menggunakan lift. Hegi dan Noy dengan semangat memasuki lift, dan begitu pintu lift terbuka, mereka disambut oleh suasana yang hangat dan ramah di kelas tersebut.


Di dalam kelas, meja-meja dan kursi-kursi disusun dengan rapi, mencerminkan suasana yang kondusif untuk belajar. Dindingnya dihiasi dengan poster dan diagram yang menarik terkait teknik dan strategi militer.


Poster-poster tersebut menjadi sumber inspirasi dan referensi visual yang membantu para prajurit dalam memahami pelajaran dengan lebih baik.


Hegi dan Noy merasa nyaman di lingkungan kelas tersebut. Kehangatan suasana dan tatanan yang rapi memberikan kesan profesionalisme dan serius dalam proses pembelajaran. Mereka yakin bahwa kelas ini akan menjadi tempat yang tepat untuk meningkatkan pengetahuan dan keterampilan mereka sebagai prajurit.


Hegi dan Noy merasa senang melihat kelas mereka yang nyaman dan siap untuk memulai petualangan baru dalam belajar menjadi prajurit yang tangguh.


Dinding-dinding kelas dihiasi dengan berbagai poster yang menginspirasi tentang keberanian, kerja sama tim, dan semangat juang. Meja-meja yang tersusun rapi dan kursi-kursi yang nyaman menambah suasana yang kondusif untuk belajar.


Mereka duduk di tempat yang mereka pilih, siap untuk mencerna ilmu-ilmu militer yang akan diajarkan. Antusiasme terpancar dari wajah mereka, dan semangat juang mereka semakin terpatri dalam hati.


Hari itu adalah kesempatan bagi mereka untuk mengembangkan keterampilan dan pengetahuan sebagai prajurit, dan mereka berdua bersiap untuk menghadapi setiap tantangan dengan semangat yang berkobar-kobar.


Tidak lama kemudian, Sely yang menjadi instruktur militer yang berpengalaman memasuki kelas dengan tegas dan penuh semangat. Dia memberikan salam kepada para prajurit yang berada di kelasnya, menunjukkan rasa hormatnya kepada para calon pemimpin masa depan. Hegi dan Noy merasa terhormat dapat belajar dari seorang profesional yang telah berdedikasi dalam bidang militer.


"Selamat pagi, para kadet! Hari ini kita akan memulai pelatihan intens untuk meningkatkan ketangguhan dan keterampilan kalian sebagai prajurit yang berkualitas!" sambutnya dengan penuh semangat.


Para kadet, termasuk Hegi dan Noy, menyambut kata sambutan itu dengan semangat yang sama. Mereka tahu bahwa sesi pelatihan hari ini akan memberikan pengalaman berharga dan membantu mereka tumbuh menjadi prajurit yang lebih unggul.

__ADS_1


Hegi dan Noy merasa beruntung dapat belajar dari instruktur sehebat Sely. Semangat juang mereka semakin berkobar-kobar, dan mereka yakin bahwa pelatihan hari ini akan membawa mereka ke tingkat berikutnya dalam kemampuan militer.


"Sebelum menuju materi yang akan saya sampaikan, kita akan berkenalan terlebih dahulu, karena kalian sudah mengenal saya, tetapi saya belum mengenal kalian, jadi kalian yang akan memperkenalkan diri," ucap Sely memulai kelas pagi itu dengan ramah.


__ADS_2