Guardian Of The Last Bastion

Guardian Of The Last Bastion
Chapter 50: Kelas Senjata


__ADS_3

2240


Distrik Timur Laut Benteng Selatan


Jumlah Populasi 4.044.680


Instruktur Zara melanjutkan dengan serius, "Baiklah, kadet. Di dalam kotak ini terdapat senjata-senjata kalian, yaitu lightblade dan lightgun. Saya ingin kalian maju satu per satu dan mengambil masing-masing senjata ini."


Para kadet saling memandang dengan antusias dan penasaran. Senjata-senjata tersebut adalah alat penting dalam pertempuran melawan morsus, dan pelatihan dengan senjata ini akan menjadi langkah penting dalam mempersiapkan mereka sebagai prajurit.


Dengan hati yang berdebar, mereka bersiap-siap untuk mengambil senjata-senjata tersebut dan memulai perjalanan baru dalam pelatihan mereka.


Dengan hati yang penuh semangat, para kadet berjalan maju satu per satu menuju kotak itu. Mereka merasakan getaran kegembiraan dan harap-harap cemas saat tangan mereka meraih lightblade dan lightgun yang tersusun rapi di dalam kotak.


Setiap sentuhan pada senjata tersebut terasa seperti langkah lebih dekat menuju peran mereka sebagai prajurit yang siap melindungi dunia dari ancaman monster morsus.


Hegi merasakan permukaan halus dan ringan dari lightblade di tangannya. Dia merenung sejenak, membiarkan berat tanggung jawab dan harapan mengisi pikirannya.


Noy, di sisi lain, merasa getaran tenang dari lightgun di tangannya, dan dia tidak sabar untuk mempelajari cara menggunakannya dengan efektif.


Instruktur Zara mengamati dengan seksama, senyumnya menunjukkan kepuasannya melihat prajurit muda ini dengan penuh semangat mengambil senjata baru mereka. Setelah semua kadet mengambil senjata mereka, mereka kembali berbaris di hadapan Instruktur Zara.


Dengan tatapan penuh pengalaman, Zara mengamati setiap wajah kadet di hadapannya, merasakan kepercayaan dan tekad dalam diri para kadet.


"Baik, kalian semua telah mengambil senjata kalian. Selanjutnya, kita akan memulai pelatihan dasar dengan senjata-senjata ini. Tetap fokus dan siap untuk belajar dengan sungguh-sungguh."


Para kadet mengangguk penuh semangat, siap untuk menghadapi pelatihan yang menantang dan mempersiapkan diri mereka dengan baik untuk masa depan yang tidak pasti.


Dengan lightblade dan lightgun di tangan, mereka siap melangkah menuju petualangan baru dalam peran mereka sebagai prajurit Benteng Selatan.


Mata para kadet seketika terpaku pada instruktur Zara saat ia mengeluarkan pedang dari balik jubahnya. Cahaya senjata tersebut memantulkan sinar matahari, menciptakan kilauan yang mengesankan di antara para prajurit muda.


Dengan gagah berani, Zara memegang gagang pedang dengan penuh keyakinan, menghadap ke arah para kadet yang antusias.


"Dalam pertempuran melawan monster morsus, kemampuan bermain pedang sangatlah penting," ujar Zara dengan nada penuh kewibawaan.


"Senjata ini bukan hanya alat untuk melawan, tetapi juga memerlukan kelincahan, ketepatan, dan konsentrasi yang tinggi. Mari kita mulai pelajaran dasar bermain pedang."


Zara kemudian memulai demonstrasi dengan gerakan yang cepat, dia mengayunkan pedang dengan keahlian yang memukau. Mata para kadet terus memantau setiap gerakan, mencoba menangkap setiap detail teknik yang diajarkan.


Mata para kadet tak berkedip saat mereka menyaksikan Instruktur Zara beraksi. Setiap gerakan pedangnya terasa begitu terkoordinasi dan sempurna, seolah-olah dia telah menyatu dengan senjatanya.


Cahaya dari pedangnya memantulkan percikan yang tajam dalam setiap ayunan, menciptakan gambaran yang memukau di mata para kadet.


Instruktur Zara menghentikan demonstrasi pedangnya dan mengarahkan perhatian para kadet ke gagang pedang yang mereka pegang.


Dengan suara tenangnya, ia memberikan instruksi lebih lanjut, "Sekarang, coba kalian aktifkan gagang pedangnya dengan memberikan tekanan. Rasakan energi yang mengalir di dalamnya."


Para kadet mengikuti instruksi Zara dengan serius. Mereka menggenggam gagang pedang mereka dan memberikan tekanan seakan mengaktifkannya.


Cahaya yang berwarna-warni, sesuai dengan warna mata mereka, memancar dari gagang pedang dan memenuhi lapangan latihan. Setiap cahaya membawa nuansa unik, mencerminkan identitas dan kekuatan setiap kadet.


Zara melihat dengan puas, mengamati bagaimana para kadet dengan cepat menyesuaikan diri dengan senjata baru mereka. "Cahaya pedang adalah refleksi dari energi dan kemampuan kalian. Ini adalah senjata khusus yang hanya bisa diaktifkan oleh pemiliknya."


Para kadet memperhatikan cahaya pedang mereka dengan kagum. Mereka merasakan semangat dan kekuatan dalam cahaya tersebut, menjadi lebih dekat dengan senjata yang mereka pegang.

__ADS_1


Zara kemudian melanjutkan dengan penjelasan tentang teknik-teknik dasar penggunaan pedang dan perpaduan antara gerakan tubuh dan energi pedang.


"Sekarang, karena kalian sudah memiliki senjata yang memiliki makna mendalam, saya akan mengajarkan kalian dasar-dasar penggunaannya terlebih dahulu," ujar Zara dengan nada tegas.


"Kita akan mulai dari hal-hal dasar seperti cara memegang, posisi tubuh yang benar, cara mengayunkan, dan lain-lain. Latihan ini akan berjalan secara bertahap, dengan harapan kalian akan mampu menguasai setiap aspeknya dan akhirnya mengembangkan gaya bertarung kalian sendiri."


Para kadet mendengarkan penuh perhatian, menghangatkan pedang masing-masing di tangan mereka. Cahaya berwarna-warni kembali bersinar, mencerminkan konsentrasi mereka dan tekad untuk belajar.


Mata mereka terfokus pada instruktur Zara, siap untuk menyerap setiap kata dan gerakan yang akan diajarkan.


"Dalam pertempuran, keseimbangan adalah kunci. Saat kamu memegang pedang, pastikan berat badan terbagi merata di kedua kaki, dan pastikan posisi tanganmu juga seimbang di gagang pedang," terang Zara sambil mendemonstrasikan gerakan dengan gagang pedang miliknya.


Para kadet dengan penuh konsentrasi mencoba meniru setiap gerakan yang ditunjukkan oleh Zara. Mereka berusaha dengan tekun, merasakan setiap nuansa dan keseimbangan yang diajarkan oleh instruktur mereka.


Setelah beberapa sesi latihan, Zara melanjutkan dengan memperkenalkan gerakan dasar yang lebih kompleks. Dengan penuh semangat, Zara menerangkan bagaimana mengayunkan pedang dengan tepat dan efisien.


Ia menekankan pentingnya mengontrol gerakan dan memanfaatkan pergerakan tubuh untuk meningkatkan kekuatan dan presisi serangan.


Para kadet berusaha menggabungkan setiap elemen yang diajarkan, mengulangi gerakan berkali-kali sampai mereka merasa mulai menguasainya.


Instruktur Zara juga memberikan penjelasan tentang taktik pertempuran yang efektif menggunakan pedang. Ia membagikan pandangan mengenai bagaimana membaca gerakan lawan dan mengeksploitasi celah untuk melancarkan serangan.


Para kadet mendengarkan dengan seksama, mencoba memahami dan menginternalisasi setiap nasihat yang diberikan.


Latihan berlanjut dengan semangat yang membara. Para kadet terus berlatih, merasakan keringat mengalir di tubuh mereka dan otot-otot mereka bekerja keras.


Meskipun lelah, mereka tetap gigih, karena mereka tahu bahwa setiap usaha yang mereka lakukan akan membawa mereka lebih dekat pada penguasaan senjata ini.


Setelah merasa puas dengan sesi latihan pedang hari itu, Zara menganggarkan waktunya untuk memberikan instruksi mengenai senjata berikutnya: pistol cahaya.


Instruktur Zara dengan hati-hati menonaktifkan pedangnya dan memasukkannya kembali ke dalam jubahnya. Pandangan para kadet tertuju pada pistol cahaya yang dipegang oleh Zara.


Senjata itu terlihat modern dan futuristik, namun juga membawa kekuatan yang tak terhingga. Ketika senjata pedangnya telah aman, Zara melanjutkan dengan berbicara kepada para kadet.


"Baiklah, sekarang kita akan beralih ke latihan dengan senjata pistol. Tentu saja, penggunaan senjata pistol memerlukan keterampilan dan kedisiplinan yang sama pentingnya dengan pedang. Mari kita belajar bersama bagaimana mengendalikan senjata ini dengan baik."


Para kadet mendengarkan dengan penuh perhatian, siap untuk mengambil langkah berikutnya dalam proses pelatihan mereka.


Dengan pengalaman dan pengetahuan yang telah mereka peroleh dari latihan sebelumnya, mereka siap untuk menghadapi tantangan baru dalam menguasai senjata pistol ini.


Dengan isyarat yang halus, Zara memanggil rekannya yang sedang bersandar di bawah pohon. Rekan tersebut segera bergerak menuju Zara dengan langkah-halakh yang tenang dan gesit.


Dengan ekspresi serius, Zara memberikan instruksi kepada rekannya itu dengan suara berbisik, berbicara tentang persiapan yang perlu dilakukan untuk latihan menembak.


"Kita perlu memastikan semua target telah diatur dengan baik, jaraknya konsisten, dan cahaya lingkungan cukup untuk memberikan visual yang jelas," bisik Zara.


Rekannya mengangguk paham, lalu bergegas pergi untuk mempersiapkan target-target yang akan digunakan dalam latihan.


Sementara itu, Zara kembali berfokus pada para kadet yang sudah siap menantikan petunjuk selanjutnya. Dia mengambil nafas dalam-dalam, menyesuaikan diri dengan suasana dan energi di sekitarnya, sebelum akhirnya melanjutkan dengan suara yang jelas.


"Baik, sekarang kita akan beralih ke sesi latihan menembak," ujarnya dengan tegas, tatapan tajamnya melingkupi seluruh kelompok kadet.


"Namun, ingatlah bahwa keselamatan kalian adalah prioritas utama dalam setiap latihan ini. Kami akan memastikan proses ini berjalan dengan aman dan terkendali."


Para kadet mengangguk penuh pengertian, mengerti betapa pentingnya menjaga keselamatan saat berlatih dengan senjata. Wajah mereka penuh perhatian, siap untuk menerima petunjuk selanjutnya dari instruktur Zara.

__ADS_1


Zara menjelaskan dengan rinci cara mengaktifkan dan menggunakan pistol cahaya. Suara tenang dan penuh wibawa mengisi ruangan saat dia menjelaskan, "Lightgun ini dilengkapi dengan teknologi laser yang memberikan akurasi yang sangat tinggi. Meskipun lebih mudah digunakan daripada Lightblade, dalam menghadapi morsus yang bergerak, menguasai senjata ini tetap memerlukan latihan yang tekun, sebagaimana menguasai pedang."


Para kadet dengan cepat mengaktifkan senjata mereka, dan begitu senjata-senjata itu bercahaya, sinar laser berwarna yang sesuai dengan warna mata masing-masing kadet keluar dari moncong pistol. Cahaya ini menciptakan lapisan visual yang unik, mencerminkan koneksi antara prajurit dan senjatanya.


Cahaya laser berkilauan keluar dari moncong pistol, membentuk garis tajam yang beriringan dengan warna pupil mata para kadet.


Senjata-senjata ini mengandung kekuatan yang berasal dari indra mereka, mencerminkan ikatan antara prajurit dan alam sekitarnya. Para kadet merasa getaran energi di tangan mereka saat mereka memegang senjata cahaya, memberikan mereka rasa persatuan dengan alam semesta.


Zara melanjutkan dengan semangat, "Generasi terbaru dari senjata ini memungkinkan variasi warna yang berbeda, baik untuk cahaya laser maupun tembakan yang dihasilkan. Ini merupakan perkembangan signifikan dibandingkan dengan generasi sebelumnya yang hanya memiliki warna laser putih."


Sambil berbicara, Zara mengaktifkan senjata miliknya. Cahaya berwarna putih memancar dari moncong pistolnya, menciptakan garis berkilauan di udara.


Tatapan para kadet terpaku pada cahaya tersebut, dan mereka mulai membayangkan bagaimana senjata mereka nanti dapat mengeluarkan berbagai warna yang berbeda.


"Ini adalah salah satu aspek yang akan kita eksplorasi dalam latihan ini," kata Zara dengan nada antusias.


"Ketepatan dalam menembak dan mengarahkan warna laser juga akan menjadi bagian dari keterampilan kalian sebagai prajurit. Mari kita mulai latihan, tetapi ingat, keselamatan tetap menjadi prioritas utama."


Saat Zara tengah menjelaskan, rekannya mendekatinya. Rekan itu memberikan informasi bahwa persiapan yang dimaksud telah selesai.


Setelah kata-kata itu terucap, rekannya pergi dengan langkah mantap, meninggalkan Zara untuk melanjutkan instruksinya kepada para kadet. Zara melanjutkan dengan penuh semangat, merasa siap untuk membimbing para kadet dalam latihan menembak ini.


Zara memberikan instruksi dengan jelas kepada para kadet yang diperhatikan dengan seksama.


"Kami telah menyiapkan sejumlah papan target di seluruh hutan ini. Tugas kalian adalah menemukan dan menembak target tersebut secara akurat. Kalian memiliki waktu satu jam untuk melakukannya. Sekarang, segera bubar dan mulai mencari target masing-masing."


Suara Zara terdengar tegas namun penuh dengan


semangat, memotivasi para kadet untuk segera beraksi dalam latihan ini.


Langit menjelang senja memberikan cahaya jingga yang lembut saat para kadet berlari memasuki hutan.


Hegi dan Noy bergerak bersama, menyusuri rimbunnya pepohonan dengan hati-hati. Mereka mengamati sekitar dengan teliti, mencari tanda keberadaan papan target yang dimaksud.


Cahaya senja memberikan suasana yang tenang namun juga penuh tantangan, karena tugas mencari dan menembak target tidak akan mudah dilakukan di tengah lingkungan yang alami dan tak terduga seperti hutan ini.


Sementara para kadet bergegas mencari target di dalam hutan, Zara duduk dengan tenang di bawah pohon. Dia memantau dengan seksama setiap pergerakan mereka, memperhatikan bagaimana mereka bergerak, berkomunikasi, dan beradaptasi dengan lingkungan sekitar.


Dalam diam, Zara memperhatikan kemampuan mereka dalam beradaptasi dengan tantangan yang diberikan. Ia juga memperhatikan kemampuan mereka dalam memanfaatkan senjata dan teknik yang telah diajarkan sebelumnya.


Matanya yang tajam dan pengalaman panjangnya sebagai prajurit membuatnya mampu melihat aspek yang mungkin tidak terlihat oleh para kadet.


Para kadet mulai kembali ke lapangan setelah satu jam berlalu. Matahari sudah merunduk di barat, menciptakan cahaya senja yang hangat saat mereka melangkah keluar dari hutan.


Langkah mereka terlihat lelah namun penuh semangat setelah menjalani latihan menembak di dalam hutan yang penuh tantangan.


Zara melihat mereka datang dengan senyuman puas. Ia tahu bahwa latihan ini bukan hanya soal menemukan dan menembak target, tetapi juga tentang bagaimana mereka bekerja sebagai tim, berkomunikasi, dan mengambil keputusan dalam situasi yang berubah-ubah.


Sepertinya banyak hal yang dapat dipelajari dari pengalaman hari ini. Zara bangkit dari tempat duduknya di bawah pohon, memberi sinyal bahwa latihan telah berakhir.


Dia melihat para kadet dengan tatapan tajam, mengamati bagaimana mereka kembali setelah menjalani tugas yang diberikan.


Beberapa dari mereka tampak sedikit lelah, namun ada juga yang memancarkan semangat dan kepuasan dari pencapaian mereka.


Hegi dan Noy juga kembali ke lapangan, terlihat sedikit berkeringat tetapi memiliki senyuman di wajah mereka. Mereka bergabung dengan barisan para kadet lainnya, menunggu instruksi selanjutnya dari Zara.

__ADS_1


Matahari terus merosot di cakrawala, memberikan sentuhan akhir pada latihan yang telah dilakukan.


__ADS_2