Guardian Of The Last Bastion

Guardian Of The Last Bastion
Chapter 32: Mimpi dan Tujuan


__ADS_3

2240


Tembok Pusat Benteng Selatan


Jumlah Populasi 4.044.675


Para kadet, termasuk Hegi dan Noy, merasa antusias untuk memperkenalkan diri kepada instruktur. Mereka yakin bahwa momen ini adalah kesempatan baik untuk saling mengenal dan mempererat ikatan di antara mereka sebagai rekan sekelas.


"Kalian dapat memperkenalkan diri kalian, asal kalian, dan tujuan kalian mengikuti militer. Saya tidak akan menunjuk kalian, kalian yang berani langsung berdiri dan memperkenalkan diri kalian dari tempat duduk kalian," ucap Sely dengan tegas namun ramah.


Para kadet duduk dengan tegang, mata mereka fokus pada Sely yang berdiri di depan mereka. Instruksi tegas dan ramah dari Sely membuat mereka merasa dihargai dan diakui sebagai individu yang unik.


Meskipun sedikit gugup, rasa antusiasme dan semangat untuk memperkenalkan diri kepada instruktur dan rekan-rekan sekelas tidak dapat mereka tahan.


Axel, seorang kadet berjiwa ksatria, berdiri dengan mantap di hadapan instruktur dan rekan-rekannya. "Nama saya Axel, saya berasal dari Distrik Barat," ucapnya dengan suara lugas yang penuh ketegasan.


Sorot matanya mencerminkan tekad yang menggebu-gebu, menunjukkan bahwa ia telah memikirkan dengan matang alasan di balik pilihannya untuk bergabung dengan militer.


Dengan penuh keyakinan, Axel melanjutkan, "Saya masuk militer karena ingin melindungi orang yang saya cintai." Suaranya terdengar mantap, seolah ia telah menemukan panggilan dan tujuan hidupnya dalam keputusan tersebut.


Dia mengungkapkan tekadnya untuk berkorban demi keamanan dan kesejahteraan orang-orang yang berarti banyak baginya.


Suara tepat dan lugas Axel, yang dipenuhi dengan semangat tulus untuk melindungi orang-orang terdekatnya, menyentuh hati para kadet lainnya.


Seakan-akan momen itu menjadi peluang untuk mereka semua mengungkapkan alasan yang sama-sama mendalam mengapa mereka memilih menjadi bagian dari militer.


Para kadet mendengarkan perkenalan Axel dengan penuh perhatian dan rasa kagum yang jelas terpancar dari wajah-wajah mereka.


Keberanian Axel dalam berbicara dari hati, tanpa ragu menyampaikan tujuan dan motivasinya, sungguh menginspirasi setiap orang yang hadir di ruangan itu.


Rina, seorang kadet dengan wibawa, berdiri dengan tegar di samping Axel. "Saya Rina, berasal dari Distrik Timur," ucapnya dengan suara yang mantap dan penuh keyakinan.


Sorot matanya mencerminkan semangat yang membara, menunjukkan bahwa keputusannya untuk bergabung dengan militer adalah panggilan hati yang tulus.


"Dari lubuk hati yang dalam, bergabung dengan militer adalah panggilan hati saya," sambung Rina dengan penuh tekad. "Saya ingin berkontribusi untuk menciptakan perdamaian dan keamanan bagi umat manusia ini."


Suaranya mengalun dengan ketegasan dan komitmen, mencerminkan keinginan kuatnya untuk berbuat baik dan menjadi bagian dari solusi dalam menjaga keharmonisan dunia.


Sely tersenyum bangga, merasa senang dan terkesan melihat semangat serta tekad yang ditunjukkan oleh Axel dan Rina dalam perkenalannya. "Terima kasih atas perkenalannya, Axel dan Rina," ucapnya dengan penuh apresiasi.


"Semangat dan motivasi kalian untuk melindungi orang-orang yang kalian cintai, serta berkontribusi untuk keamanan Benteng, sangat mengagumkan."


"Kalian telah menunjukkan dedikasi yang luar biasa untuk menjadi pelindung bagi orang-orang terdekat dan untuk menciptakan keamanan bagi masyarakat," lanjut Sely dengan penuh hormat.


"Percayalah bahwa perjalanan kalian di militer akan membawa banyak tantangan, tetapi semangat seperti ini akan menjadi tiang penopang yang kokoh dalam menghadapinya."


Satu per satu, dengan penuh keyakinan, para kadet berdiri dan dengan lugas memperkenalkan diri mereka. Mereka dengan bangga menyampaikan latar belakang pribadi, asal mereka dari berbagai wilayah, serta alasan yang mendalam di balik keputusan mereka untuk memilih karier militer.


Sorot mata mereka penuh semangat dan rasa percaya diri, menunjukkan dedikasi mereka untuk menjadi bagian dari tim militer yang berkualitas dan berdedikasi tinggi.

__ADS_1


Saling mengenal satu sama lain dalam momen seperti ini membentuk ikatan emosional yang kuat di antara mereka, menciptakan fondasi yang kokoh untuk kerjasama dan dukungan tim. Setiap perkenalan menjadi momen yang luar biasa karena setiap kadet mengungkapkan cerita dan dorongan unik dari hati mereka.


Beberapa menceritakan bagaimana keluarga militer telah menginspirasi mereka untuk mengikuti jejak mulia tersebut, sementara yang lain bercerita tentang rasa kepedulian mendalam terhadap wilayah dan keinginan kuat untuk berbuat baik dalam masyarakat.


Dengan langkah mantap, Hegi berdiri di depan seluruh kelas dan dengan tegas memperkenalkan diri. "Nama saya Hegi Russel, saya berasal dari Benteng Timur, tetapi saat ini saya tinggal di Distrik Tenggara," ucapnya dengan suara yang jelas dan penuh keyakinan.


Semangatnya yang berkobar dan sikapnya yang tegas mengisyaratkan bahwa ia siap mengungkapkan alasan yang mendalam di balik pilihannya untuk bergabung dengan militer.


"Masa kecil saya penuh dengan pengalaman yang menyakitkan saat Benteng Timur diserang oleh morsus," sambung Hegi dengan suara terdengar sedikit bergetar namun tetap penuh keberanian.


"Trauma itu telah membawa saya untuk memasuki militer, karena saya ingin memastikan bahwa generasi setelah saya akan dapat mendengar suara burung saat mereka terbangun, bukan alarm peringatan ataupun helikopter perang."


Kehadiran Hegi yang berbicara dengan tulus tentang pengalaman pribadinya membuat suasana di kelas semakin hening. Para kadet merasa tergerak oleh kata Hegi dan menyadari betapa pentingnya peran militer dalam menjaga keamanan dan kedamaian bagi masyarakat.


Ketulusan Hegi dalam berbagi pengalaman traumatis masa kecilnya saat Benteng Timur diserang oleh morsus telah menyentuh hati setiap orang di ruangan itu.


Melihat semangatnya yang berkobar, mereka merasa terinspirasi untuk juga berbicara dengan jujur tentang alasan mereka bergabung dengan militer. Hegi telah membuka pintu untuk kejujuran dan saling pengertian di antara sesama kadet.


Sely memberikan senyuman penuh penghargaan untuk Hegi, menunjukkan apresiasi yang tulus atas keberanian kadet tersebut untuk berbicara dengan jujur.


"Terima kasih, Hegi," ucap Sely dengan penuh rasa. "Pengalamanmu menjadi sumber inspirasi bagi kita, dan sumpahmu untuk menciptakan masa depan yang lebih damai dan aman sungguh luar biasa."


Senyuman dan pujian dari instruktur tersebut memberikan dukungan tambahan bagi Hegi dan seluruh kelas. Hegi merasa diakui dan dihargai sebagai individu yang memiliki peran penting dalam menciptakan dunia yang lebih baik.


Para kadet lainnya juga merasa semakin termotivasi oleh semangat Hegi, menyadari bahwa setiap dari mereka memiliki peran krusial dalam menjaga keamanan dan perdamaian bagi masyarakat.


Tanggapan positif dari instruktur dan rekannya membuat Hegi merasa didukung sepenuhnya. Senyuman tulus dan kata-kata apresiasi dari mereka memberikan keyakinan pada Hegi bahwa keputusannya untuk memilih karier militer adalah langkah yang tepat.


Dukungan tersebut menjadi dorongan kuat bagi Hegi untuk menjalani perjalanan sebagai prajurit dengan semangat dan tekad yang tak tergoyahkan.


Dengan setiap kata pujian dan dukungan yang dia terima, Hegi semakin yakin bahwa kehadirannya di militer akan memberikan kontribusi positif bagi masyarakat. Ia merasa bersemangat untuk berbagi peran dalam membawa perubahan yang lebih baik bagi dunia.


Keyakinannya tumbuh kuat, karena dia tahu bahwa tidak hanya instruktur dan rekan sekelasnya yang mendukungnya, tetapi juga misi mulia yang diemban oleh militer untuk menjaga perdamaian dan keamanan.


Dengan penuh keberanian, Noy berdiri di samping Hegi dan dengan tegas memperkenalkan diri. "Nama saya Noy, saya berasal dari Distrik Utara," ucapnya dengan suara yang jelas dan penuh kejujuran.


Sorot matanya mencerminkan tekad yang kuat, menunjukkan bahwa dia telah memikirkan matang tujuan yang mendalam di balik keputusannya untuk bergabung dengan militer.


Noy dengan lugas melanjutkan, "Karena orang tua saya sudah tidak ada dan tujuan saya membahagiakan mereka telah usai, dan juga saya tidak memiliki saudara, kini tujuan saya masuk militer adalah untuk membahagiakan semua orang, termasuk teman saya Hegi, serta memastikan bahwa Hegi dapat mencapai tujuannya."


Suaranya mengalun dengan kejujuran yang tulus, mengungkapkan keinginannya yang mulia untuk berkontribusi dan melayani masyarakat dengan penuh dedikasi.


Mendengar perkenalan Noy, suasana di kelas kembali hening, seperti semua orang meresapi setiap kata yang diucapkan dengan penuh perhatian.


Perkenalan Noy menyentuh hati mereka, karena mengungkapkan motivasi yang tulus dan keinginan untuk memberikan kebahagiaan bagi orang-orang di sekitarnya.


Sikap Noy yang mendukung Hegi juga menjadi contoh nyata tentang persatuan dan semangat kebersamaan di antara para kadet.


Perkataan Noy mengejutkan dan menyentuh hati semua orang di dalam kelas. Semangatnya yang tulus untuk membahagiakan orang lain dan mengabdikan diri untuk temannya sungguh luar biasa.

__ADS_1


Sorot matanya yang bercahaya penuh kegigihan menggambarkan tekadnya untuk memberikan kebahagiaan kepada orang-orang di sekitarnya, meskipun ia telah mengalami kehilangan yang mendalam dalam hidupnya.


Hegi tersenyum dengan haru, merasa sangat beruntung memiliki sahabat seperti Noy yang begitu peduli dan setia. Ia merasa bahwa beban dan tanggung jawab yang diemban Hegi terbagi menjadi dua karena Noy bersama dengannya dalam mencapai tujuan tersebut.


Setiap langkah yang akan diambil Hegi dalam perjalanan militernya, ia tahu bahwa Noy akan selalu berada di sisinya, memberikan dukungan tanpa ragu dan menghadapi tantangan bersama.


Sely memberikan pujian tulus untuk Noy, "Noy, tujuanmu sangat mulia. Memiliki sahabat seperti kamu adalah keberuntungan yang luar biasa bagi Hegi. Semangatmu untuk membahagiakan semua orang dan mendukung teman-temanmu adalah sifat yang perlu dicontoh oleh seluruh kadet."


Sorot mata Sely penuh penghargaan saat ia berbicara. Ia merasa terinspirasi oleh semangat dan dedikasi Noy untuk memberikan kebahagiaan bagi orang lain, terutama sahabatnya, Hegi.


Sikap tulus Noy untuk selalu mendukung dan membawa kebahagiaan bagi orang-orang di sekitarnya adalah sikap yang dihargai dan diapresiasi oleh instruktur.


Perkenalan diri Noy menambah rasa kebersamaan dan persaudaraan di antara para kadet. Dalam momen di mana Noy dengan tulus berbagi tujuannya untuk membahagiakan semua orang dan mendukung sahabatnya, Hegi, suasana kelas semakin hangat dan erat.


Para kadet merasa semakin dekat satu sama lain, merasakan ikatan persaudaraan yang kuat karena mereka saling berbagi dan mendukung satu sama lain dalam perjalanan ini.


Noy kembali duduk di kursinya, dan saat Hegi duduk di sebelahnya, Hegi penasaran dengan pernyataan Noy sebelumnya. "Oi, kenapa kau tidak bilang kalau keluargamu tidak ada? Jadinya kita berdua memiliki kesamaan," tanya Hegi dengan penuh keingintahuan.


Noy mengangkat bahu dengan santai, "Habisnya kau tidak tanya tentangku sih," jawabnya dengan senyum singkat.


Hegi tertawa kecil mendengar jawaban sahabatnya, namun rasa ingin tahu tetap ada. Dia merasa senang akhirnya menemukan kesamaan dengan Noy, dan itu membuat persahabatan mereka semakin erat.


Mereka berdua telah mengalami kesulitan dan kehilangan dalam hidup mereka, dan dari situlah mereka menemukan dukungan dan kekuatan dalam persahabatan yang saling menguatkan.


Akhirnya, setelah dua puluh lima kadet memperkenalkan diri dengan penuh semangat dan keberanian, Sely mengambil alih untuk menyimpulkan sesi perkenalan. Dengan senyuman lebar, dia melihat satu per satu wajah para kadet yang duduk di depannya.


"Terima kasih kepada semua kadet yang telah berbagi cerita dan tujuan mereka dengan jujur," ucap Sely dengan tulus, senyuman lembut terukir di wajahnya.


"Perkenalan diri ini telah menunjukkan betapa beragam dan inspiratifnya kalian sebagai individu. Setiap pengalaman dan motivasi kalian membawa keunikan dan kekuatan tersendiri."


Para kadet merasa dihargai dan diakui atas ketulusan mereka dalam perkenalan diri. Momen ini telah membawa kehangatan dan kedekatan di antara mereka, memperkuat ikatan persaudaraan yang tak ternilai.


Mereka menyadari bahwa meskipun memiliki latar belakang yang berbeda-beda, tujuan mereka untuk berkontribusi bagi masyarakat dan wilayah adalah hal yang sama-sama mulia.


"Sebagai instruktur, saya sangat bangga melihat semangat dan tekad kalian untuk belajar menjadi prajurit yang tangguh," lanjutnya dengan penuh semangat, senyuman menghiasi wajahnya.


"Di dalam kelas ini, kita akan belajar bersama, bekerja sama, dan tumbuh bersama sebagai satu tim yang solid. Semangat dan persaudaraan di antara kalian adalah kunci keberhasilan dalam mencapai tujuan-tujuan besar yang kita emban di militer ini."


Sely melanjutkan, "Dalam perjalanan ini, kalian akan mengalami pelatihan intensif dan menghadapi berbagai ujian yang menantang. Namun, ingatlah bahwa kalian tidak sendirian. Di sini, kalian memiliki teman-teman dan rekan sekelas yang siap untuk saling mendukung dan menjadi sokongan dalam menghadapi segala rintangan."


"Sesi pelatihan hari ini akan menjadi awal petualangan yang menantang dan berharga bagi kalian semua," tutur Sely dengan keyakinan, senyuman penuh semangat melengkapi kata-katanya.


"Saya yakin, dengan semangat juang dan dedikasi kalian, kita akan tumbuh menjadi prajurit yang berkualitas dan berintegritas."


Sely melanjutkan, "Mari berjuang bersama, saling mendukung, dan menjadi yang terbaik dalam setiap langkah perjalanan kita. Bersama, kita akan mengatasi segala rintangan dan menjadi prajurit yang unggul untuk melindungi wilayah dan masyarakat yang kita cintai."


Para kadet memberikan tepuk tangan meriah sebagai respon atas kata-kata inspiratif Sely. Senyum-senyum bahagia terpancar dari wajah mereka, dan semangat juang yang berkobar-kobar terlihat jelas di mata mereka.


Tepuk tangan meriah ini bukan hanya sekadar bentuk penghargaan untuk instruktur mereka, tetapi juga merupakan ungkapan kebersamaan dan dukungan antar sesama kadet.

__ADS_1


__ADS_2