
2240
Benteng Selatan
Jumlah Populasi 4.044.675
Pagi itu, Hegi terbangun dengan perasaan yang masih sedikit terkejut oleh suara alarmnya. Dia merenggangkan tubuhnya dan menghela nafas dalam-dalam saat udara pagi yang segar menyapa wajahnya.
Meskipun agak sulit untuk meninggalkan kenyamanan tempat tidur, dia menyadari bahwa ada banyak hal yang harus dia lakukan hari ini.
Hegi bangun dari tempat tidurnya dan berjalan menuju jendela, mengintip keluar untuk melihat sinar matahari pagi yang perlahan-lahan menyinari langit. Dia merasa semangat menyala di dalam dirinya, dan itu memberinya dorongan untuk memulai hari dengan semangat yang positif.
Dengan penuh kebaikan, Hegi berjalan mendekati tempat tidur Noy yang masih dalam pelukan mimpi. Dia tersenyum melihat temannya yang terlihat begitu damai saat tidur.
Hegi tahu bahwa hari ini adalah hari penting bagi mereka, dan mereka perlu saling mendukung untuk menghadapi pelatihan fisik dan tantangan di Benteng Selatan.
Dengan penuh kehati-hatian, Hegi menghampiri tempat tidur Noy dan menyentuh bahunya. Dia tahu betul bahwa membangunkan teman yang masih terlelap memerlukan kelembutan dan kesabaran agar tidak terlalu mengejutkan.
"Noy, sudah waktunya untuk bangun," bisik Hegi dengan suara lembut, memberi isyarat bahwa pagi telah tiba. "Kita punya banyak hal yang harus kita lakukan hari ini."
Noy menggeliat pelan dan akhirnya membuka mata dengan perlahan. Senyumnya terlihat saat melihat Hegi berdiri di sampingnya, siap untuk memulai hari bersama.
"Hegi, pagi apa ini?" tanyanya dengan suara lirih, masih merasakan kantuk.
"Ini adalah pagi yang penuh dengan potensi dan peluang, Noy," jawab Hegi dengan lembut sambil menyentuh pundak temannya.
"Kita memiliki banyak hal yang harus dihadapi, dan aku tahu kita akan melakukannya dengan baik bersama-sama."
Setelah Hegi dan Noy bangun dari tidur mereka, mereka merasa sepenuhnya menyadari bahwa mandi di pagi hari adalah salah satu cara terbaik untuk memulai harinya dengan semangat.
Keduanya menyadari bahwa mandi pagi bukan hanya sekadar rutinitas kebersihan, tetapi juga membantu membersihkan pikiran dan merilekskan tubuh setelah tidur semalaman.
Setelah mandi, Hegi dan Noy mengenakan pakaian mereka yang biasa mereka gunakan. Di Benteng Selatan, para prajurit dibebaskan untuk memilih pakaian sesuai dengan kenyamanan dan kesukaan masing-masing.
Mereka memiliki kebebasan dalam hal berpakaian, selama tetap berada dalam batas aturan yang berlaku.
Setelah berganti pakaian dan sembari menunggu gerbang tembok pusat dibuka, Hegi dan Noy bersama para prajurit lainnya menuju kantin.
Di pagi hari yang cerah, suasana di Tembok Pusat begitu hidup dengan aktivitas para prajurit yang bersemangat menjalani rutinitas mereka.
Ketika tiba di kantin, aroma makanan yang lezat menyambut Hegi dan Noy. Bau harum dari hidangan yang sedang dimasak membuat perut mereka berkeroncongan, menggugah selera untuk segera menyantap makanan pagi.
Dengan senyum puas di wajah mereka, mereka mengambil tempat di antara para prajurit lainnya yang juga menikmati sarapan pagi.
Hegi memilih makanan yang sehat dan bergizi untuk sarapannya, yaitu bubur oatmeal dengan taburan buah-buahan segar seperti potongan pisang, stroberi, dan blueberry.
Dia juga menambahkan potongan kacang almond untuk menambah tekstur dan nutrisi pada bubur oatmealnya. Sebagai tambahan, Hegi menyantap sepotong roti panggang dengan selai kacang yang lezat, memberikan tambahan protein dan rasa yang menyenangkan.
Sementara itu, Noy memilih hidangan yang manis dan menggugah selera, yaitu pancake lembut dengan saus maple yang kaya rasa. Di atas pancake, dia menambahkan beberapa potongan pisang dan cokelat chip untuk menambah cita rasa manis dan sedikit tekstur pada setiap gigitannya.
Noy juga menikmati segelas susu cokelat hangat sebagai minuman, memberi tambahan kalsium dan memuaskan keinginannya akan rasa manis.
__ADS_1
Setelah memesan hidangan mereka, Hegi dan Noy mencari meja yang nyaman di sudut kantin yang tenang. Mereka sengaja memilih tempat yang jauh dari keramaian agar bisa berbicara lebih santai.
Di sudut kantin yang sepi ini, mereka dapat lebih fokus berbicara tentang rencana mereka untuk menghadapi latihan fisik hari ini dan memotivasi satu sama lain.
Setelah sarapan selesai, Hegi dan Noy bersama para kadet lainnya mulai bersiap-siap untuk menuju kelas latihan fisik yang menantang.
Mereka dengan hati-hati mengecek peralatan dan pakaian, memastikan semuanya siap untuk digunakan. Setiap prajurit mengecek tali sepatu mereka, memeriksa alat pelindung, dan memastikan semua persiapan telah dilakukan dengan teliti.
Mereka berjalan menuju gerbang tembok pusat yang sudah dibuka, melihat suasana pagi yang cerah dan segar di sekitar Benteng Selatan.
Udara sejuk dan semilir angin pagi menyambut langkah mereka, memberikan kesegaran bagi tubuh dan pikiran. Cahaya matahari pagi yang hangat menyinari jalan mereka, menciptakan atmosfer yang menyenangkan dan penuh semangat.
Karena gerbang tembok pusat berada di wilayah timur sedangkan tempat latihan fisik mereka berada di tembok luar distrik barat laut, Hegi memutuskan untuk berjalan kaki melewati distrik utara.
Dia menyadari bahwa ini adalah kesempatan yang baik untuk menjelajahi dan mengenal lebih banyak bagian dari Benteng Selatan yang belum pernah dia kunjungi sebelumnya.
Hegi dengan antusias mengajak Noy untuk bergabung dengannya dalam petualangan kali ini. Dia tahu bahwa Noy selalu tertarik untuk mengeksplorasi dan menemukan hal baru di sekitar mereka. Permintaan Hegi disambut dengan senyum lebar dari Noy, yang dengan senang hati menerimanya.
Mereka berjalan melewati distrik timur laut, yang masih dipenuhi dengan keindahan hutan dan padang rumput hijau yang alami. Langkah mereka terasa ringan, karena suasana di sekitar distrik ini begitu menenangkan dan damai.
Hegi dan Noy saling tersenyum, menikmati keindahan alam yang mengelilingi mereka. Sesekali, terlihat beberapa rumah warga penduduk yang berdiri di antara hijauan, menambah warna kehidupan di distrik ini.
Beberapa warga mengangguk ramah saat melihat mereka berjalan melewati, menunjukkan keramahan dan sambutan hangat yang diberikan oleh masyarakat di Benteng Selatan.
Distrik timur laut memang memiliki daya tariknya sendiri, dengan lingkungan yang tenang dan damai yang menarik bagi banyak orang. Hegi dan Noy merasa seperti menemukan sebuah surga tersembunyi di tengah-tengah kehidupan militer yang sibuk.
Keindahan alam dan atmosfer yang damai di distrik ini memberikan kesempatan bagi mereka untuk bersantai dan merenung.
Mereka menyaksikan bagaimana masyarakat hidup dalam kebersamaan dan sederhana, mengandalkan hasil bumi dan lingkungan sekitar untuk memenuhi kebutuhan hidup mereka.
Setelah melewati beberapa hutan, mereka akhirnya tiba di distrik utara yang sibuk dengan aktivitas perdagangan. Distrik ini menawarkan pemandangan yang sangat berbeda dengan distrik timur laut yang tenang.
Di distrik utara, mereka disambut oleh suasana yang ramai dan dinamis. Hegi terkesima saat melihat pelabuhan yang ramai dengan kapal besar dan kecil bersandar di tepi sungai.
Kapal-kapal dagang membawa berbagai muatan dari berbagai tempat, menandakan betapa pentingnya distrik ini dalam menjalankan aktivitas perdagangan di Benteng Selatan.
Hegi tertarik dengan suasana dinamis di distrik utara dan bertanya pada Noy, “Kamu dari distrik utara kan? Dimana rumahmu?”
Noy mengangguk, “Ya, aku memang berasal dari distrik utara. Rumahku tidak terlalu jauh dari sini, dekat dengan pelabuhan utama.”
Hegi bersemangat, “Menarik! Aku belum pernah berkunjung ke distrik utara sebelumnya. Nanti kamu bisa menunjukkan padaku tempat-tempat menarik di sekitar sini.”
Noy tersenyum, “Tentu saja, aku sangat senang mengajakmu mengelilingi distrik utara. Ada banyak hal yang bisa kita jelajahi dan nikmati di sini.”
Sambil berjalan menyusuri distrik utara, Noy memperlihatkan tempat-tempat menarik dan memberikan informasi tentang kehidupan sehari-hari di sana.
Mereka melihat beragam barang dagangan yang diperdagangkan, mulai dari hasil pertanian seperti sayur-sayuran segar dan buah-buahan hingga barang-barang kerajinan tangan yang indah dan bernilai seni.
Hegi merasa kagum dengan kegiatan perdagangan yang begitu hidup dan beraneka ragam di distrik ini.
Hegi melihat betapa sibuknya pelabuhan utama di distrik utara. Kapal besar dan kecil berlabuh di tepi sungai, dan para pedagang sibuk melakukan transaksi dan pertukaran barang. Suara riuh dan kegembiraan mengisi udara, mencerminkan semangat kehidupan yang dinamis di distrik ini.
__ADS_1
Saat sedang berjalan, Hegi merasa terkesima melihat kompleks bangunan yang mencolok di kejauhan. Bangunan itu tampak begitu besar dan menjulang tinggi di wilayah tembok luar wilayah distrik utara.
Tanpa ragu, ia bertanya pada Noy yang tampaknya lebih familiar dengan wilayah tersebut, "Bangunan apa itu?"
Noy memandang ke arah yang ditunjuk Hegi dan menjawab dengan serius, "Oh, itu adalah reaktor nuklir."
Mendengar jawaban Noy, Hegi merasa penasaran dan sedikit cemas. Reaktor nuklir adalah sesuatu yang sangat serius dan berbahaya jika tidak dioperasikan dengan benar.
Dia ingin tahu lebih lanjut tentang bagaimana reaktor tersebut dijalankan dan apa peran dan kegunaannya di Benteng Selatan.
Noy melihat ekspresi keprihatinan di wajah Hegi dan mengerti rasa penasarannya. Dia kemudian menjelaskan bahwa reaktor nuklir adalah sumber energi utama bagi Benteng Selatan.
Reaktor ini menghasilkan energi listrik yang mendukung berbagai fasilitas dan operasi militer di markas. Selain itu, energi yang dihasilkan juga digunakan untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari para prajurit dan warga di dalam Benteng Selatan.
Dia juga menekankan bahwa reaktor nuklir dioperasikan dengan sangat hati-hati dan ketat sesuai dengan protokol keamanan yang ketat.
Semua personel yang terlibat dalam operasionalnya menjalani pelatihan khusus dan tunduk pada aturan dan regulasi yang ketat untuk memastikan keamanan dan keberlanjutan operasionalnya.
Hegi merasa lega mendengar penjelasan Noy, dan dia menghargai pentingnya reaktor nuklir dalam menjaga kestabilan dan keamanan di Benteng Selatan. Dia menyadari betapa pentingnya peran yang dimainkan oleh teknologi modern dan inovasi dalam mendukung kehidupan dan operasi militer di wilayah tersebut.
Hegi melanjutkan perjalanannya dengan perasaan penasaran. Ketika dia tiba di jembatan yang menghubungkan wilayah di seberang sungai, dia melihat bahwa jembatan ini memiliki mekanisme yang menarik.
Jembatan tersebut bisa dibuka dan ditutup untuk memberi jalur lalu lintas bagi kapal-kapal yang melewati sungai. Saat jembatan ditutup, kendaraan dan pejalan kaki dapat melintasi dengan aman. Namun, ketika ada kapal besar yang akan melewati sungai, mekanisme jembatan diaktifkan untuk mengangkat bagian tengahnya.
Proses angkat jembatan ini memungkinkan kapal-kapal besar dengan ukuran tertentu untuk melewati sungai tanpa hambatan.
Saat itu, jembatan dalam keadaan tertutup karena tidak ada kapal yang sedang melewati sungai. Hegi melihat beberapa prajurit berjaga di dekat jembatan untuk memastikan keamanan dan kelayakan jembatan tersebut. Mereka dengan cermat memantau kondisi jembatan dan siap mengambil tindakan jika ada situasi darurat.
"Jembatan ini pasti menjadi salah satu infrastruktur yang vital di Benteng Selatan," gumam Hegi dalam hati. "Dengan jembatan ini, wilayah di seberang sungai bisa terhubung dengan lancar, mempermudah mobilitas dan komunikasi antar distrik."
Pikiran Hegi terus menerus melayang pada pentingnya konektivitas yang dibawa oleh jembatan ini. Dia menyadari bahwa akses yang mudah dan cepat antara distrik-distrik di Benteng Selatan sangat penting untuk menjaga kelancaran dan koordinasi dalam operasi militer dan kehidupan sehari-hari di Benteng Selatan.
Hegi berjalan melewati jembatan dan setelah menyeberangi jembatan, dia tiba di wilayah seberang sungai. Di sana, dia melanjutkan perjalanannya dengan semangat yang membara, merasa beruntung bisa berada di tengah-tengah lingkungan yang penuh dengan keajaiban teknologi dan ketangguhan prajurit.
Setelah berjalan cukup lama dan melewati distrik yang berbeda-beda, Hegi dan Noy akhirnya sampai di distrik barat laut. Sama seperti distrik timur laut, distrik ini juga dikelilingi oleh hutan yang rimbun. Namun, setelah berjalan beberapa saat lagi, Hegi akhirnya tiba di wilayah yang berbeda, yaitu padang rumput yang luas.
Padang rumput yang luas ini menawarkan pemandangan yang menakjubkan bagi Hegi. Langit yang biru cerah, dengan awan-awan putih yang terlihat jelas, membentang luas di atas padang rumput yang hijau dan luas. Angin sepoi-sepoi berhembus lembut, membawa harum bunga liar dan aroma segar dari rumput hijau yang bergoyang-goyang.
Di sana, Hegi dan Noy melihat Instruktur Endri sedang berbaring di rerumputan, sambil memejamkan matanya, dan beberapa kadet lainnya yang juga sudah tiba di wilayah latihan.
Mereka bisa melihat bahwa Instruktur Endri sedang beristirahat sejenak sebelum latihan dimulai, karena persiapan dan pelatihan yang mereka berikan juga memerlukan tenaga dan konsentrasi.
Hegi dan Noy menghampiri Instruktur Endri dengan hati-hati, berusaha untuk tidak mengganggu waktu istirahatnya. Merasa ada kadet yang datang, Instruktur Endri berbicara tanpa membuka matanya, "Diam dan nikmati suasana pagi dahulu."
Suasana pagi di wilayah latihan memang begitu menenangkan, dengan cahaya matahari yang perlahan menerangi padang rumput dan hutan di sekitar mereka.
Angin sejuk pagi membuat mereka merasa segar dan tenang, seperti menghadirkan ketenangan sebelum latihan fisik yang menantang.
Mereka menuruti instruksi Instruktur Endri dengan senang hati, duduk di dekatnya dan menikmati momen itu dengan hening. Suara angin berbisik lembut, dan burung-burung berkicau riang mengiringi pagi mereka.
Hegi dan Noy merasakan betapa beruntungnya mereka bisa berada di tempat ini, berlatih fisik di lingkungan alam yang begitu indah dan mendukung.
__ADS_1