
2240
Distrik Tenggara Benteng Selatan
Jumlah Populasi 4.044.671
Dengan hati yang campur aduk, Hegi menyimpan surat itu dengan penuh kehormatan dan mengucapkan terima kasih kepada Sera. Dia berjanji untuk membacanya di waktu yang tepat, saat hati dan pikirannya siap untuk menerima pesan dari sang ayah yang telah meninggalkannya.
Sebelum Hegi dan Noy benar-benar pergi, Sera mengusap lembut rambut Hegi, karena ia melihat air mata menggenang di mata adiknya. Hatinya ikut terenyuh melihat Hegi yang merasa sedih karena harus berpisah dengannya.
"Diam-diam menangis ya, Nak?" ucap Sera dengan lembut, mencoba menghibur Hegi.
Hegi tersenyum getir, mencoba menyembunyikan perasaannya, "Aku baik-baik saja, Kak Sera. Hanya saja rasanya berat meninggalkan desa dan Kak Sera."
Sera mendekap Hegi dalam pelukan hangat. "Aku tahu, sayang. Meninggalkan tempat yang kita cintai dan orang-orang yang kita sayangi memang sulit. Tapi percayalah, persaudaraan kita tidak akan pudar meskipun jarak memisahkan. Kita akan selalu saling mengingat dan berada di hati satu sama lain, tak peduli seberapa jauh pun kita berpisah."
Hegi merasa nyaman dalam pelukan Sera dan merasa senang memiliki kakak yang begitu perhatian seperti Kak Sera.
Sera melanjutkan, "Dan jangan lupa tentang surat dari ayahmu. Ketika kamu merasa siap, bacalah dengan hati terbuka. Aku yakin pesan dari ayahmu akan memberikan kekuatan dan inspirasi untuk perjalanan hidupmu di ibukota."
Hegi mengangguk, merasa haru atas hadiah berharga dari Sera. "Terima kasih, Kak Sera. Aku sangat beruntung memiliki kakak seperti kamu."
Sera tersenyum lembut dan mengusap lembut rambut adiknya, "Aku juga sangat beruntung memiliki adik sepertimu, Hegi."
Noy yang melihat Sera mengusap rambut Hegi dengan penuh kasih sayang, merasa sedikit iri. Dia juga ingin mendapatkan perhatian seperti itu.
Namun, Sera dengan kepekaannya segera menyadari perasaan Noy. Dia tersenyum lembut dan penuh cinta mengusap rambut Noy juga.
"Tidak perlu iri, sayang," ucap Sera dengan lembut. "Aku mencintai kalian berdua dengan cara yang sama. Kalian adalah sahabat-sahabat yang sangat berarti bagiku."
"Maafkan aku, Kak Sera," ucap Noy dengan malu. "Aku hanya ingin merasa istimewa seperti Hegi."
Sera mengelus kepala Noy dengan lembut, "Kamu istimewa bagiku, Noy. Kalian berdua memiliki tempat spesial dalam hatiku, dan tak ada yang bisa menggantikan persahabatan kita."
Mendengar itu, Hegi tertawa, "Tingkah Noy memang selalu menggemaskan, ya?"
Noy bergabung dengan tawa mereka dan menyadari bahwa irinya adalah hal yang tidak perlu. Dia merasa bersyukur memiliki sahabat-sahabat seperti Sera dan Hegi, yang selalu menerima dia apa adanya.
Hegi dan Noy berjalan meninggalkan Sera, dengan hati yang penuh cinta dan terima kasih atas kenangan indah yang telah mereka lewati bersama. Mereka mengenang momen-momen tak terlupakan di desa, dan merasa senang telah menghabiskan waktu bersama dengan sahabat terbaik mereka.
Mereka bersiap-siap untuk perjalanan kaki menuju ibukota yang berjarak kurang lebih sepuluh kilometer. Meskipun perjalanan ini akan memakan waktu dan melelahkan, mereka merasa yakin bahwa dengan kebersamaan dan semangat yang mereka miliki, mereka akan mampu menghadapinya dengan baik.
Sera berdiri di depan pintu rumahnya, melambaikan tangan kepada Hegi dan Noy sambil tersenyum. "Jaga diri kalian berdua di perjalanan. Aku yakin kalian akan sampai di ibukota dengan selamat."
Hegi dan Noy mengangguk dan tersenyum balik. "Kami akan baik-baik saja, Kak Sera. Terima kasih atas segalanya," ucap Hegi dengan penuh rasa terima kasih.
"Mari kita tetap menjaga komunikasi dan berbagi cerita tentang petualangan kita di ibukota," tambah Noy dengan semangat.
__ADS_1
Sera mengangguk setuju, "Tentu saja! Aku akan selalu menantikan kabar dari kalian."
Setelah berpamitan, Hegi dan Noy memulai perjalanan mereka dengan langkah pasti dan semangat yang menggebu. Mereka berjalan di samping-samping, saling memberikan dukungan dan semangat di setiap langkah.
...****************...
Sera, di rumah, duduk dalam keheningan sambil memejamkan mata. Dalam doanya, ia mendoakan keselamatan perjalanan dan keberhasilan bagi adiknya, Hegi, dan sahabatnya, Noy. Dia merasa begitu berarti memiliki mereka berdua dalam hidupnya, dan tidak ada yang lebih dia inginkan selain melihat mereka bahagia dan berhasil meraih impian mereka.
"Tuhan, jika boleh aku meminta kepada-Mu," ucap Sera dengan suara lembut dalam doanya, "aku ingin melihat mereka selalu diberi perlindungan-Mu dalam setiap langkah perjalanan mereka. Lindungilah mereka dari bahaya dan berikanlah petunjuk dalam setiap keputusan yang mereka ambil."
"Dengan setulus hati, aku juga berdoa agar impian mereka tercapai," lanjut Sera dengan perasaan ikhlas. "Berikanlah mereka keberanian dan keteguhan hati untuk menghadapi segala tantangan di hadapan mereka. Semoga mereka selalu diberi keberkahan dan kesuksesan dalam usaha mereka mencapai impiannya."
Sera membayangkan Hegi dan Noy dengan senyum di wajah, membayangkan momen kebahagiaan dan keberhasilan yang akan mereka alami di masa depan. Ia ingin melihat mereka tumbuh dan berkembang, mencapai impian mereka dengan penuh semangat.
"Tolong jaga persahabatan kami tetap abadi," tambah Sera dengan tulus. "Semoga ikatan kami selalu kuat dan saling mendukung, di setiap langkah perjalanan hidup kami."
Dalam doanya yang penuh harap, Sera merasa perasaan cinta dan kepeduliannya untuk Hegi dan Noy mengalir dengan tulus. Setelah doa selesai, Sera membuka matanya dan merasa penuh keyakinan. Dia percaya bahwa Tuhan akan mendengarkan doanya dan memberikan yang terbaik bagi Hegi dan Noy.
...****************...
Hegi dan Noy melanjutkan perjalanan mereka menuju ibukota dengan semangat dan keceriaan. Di sepanjang jalan, mereka tertawa-tawa dan berlari saling mengejar satu sama lain, menciptakan momen canda ria dan penuh tawa. Tak ada beban atau kekhawatiran, hanya kegembiraan dan kebahagiaan dalam setiap langkah perjalanan mereka.
Mereka berdua menikmati keindahan alam di sekitar mereka. Tanaman hijau dan padang rumput yang luas membuat perjalanan mereka semakin menyenangkan. Angin segar yang berhembus membuat mereka merasa segar dan bersemangat.
"Kamu tidak bisa menangkapku!" teriak Noy dengan riang, berusaha menggoda Hegi.
Hegi tertawa sambil berlari cepat mengejar Noy. "Kau lihat saja, aku akan menangkapmu!"
Setelah berlarian dan bermain dengan semangat, Hegi dan Noy mulai terlihat lelah. Sesekali, mereka berjalan pelan untuk mengistirahatkan kaki mereka yang lelah. Mereka tahu perjalanan menuju ibukota masih memerlukan usaha lebih, tetapi semangat dan kegembiraan tetap mengiringi langkah mereka.
Saat istirahat sejenak di bawah pohon, Hegi menarik dari tasnya sebuah botol air minum yang mereka bawa.
"Noy, minumlah ini dulu. Kita perlu tetap terhidrasi," ucap Hegi sambil memberikan botol air kepada Noy.
Noy mengambil botol air dan mengucapkan terima kasih. "Terima kasih, Hegi. Kamu selalu memikirkan detail-detail kecil seperti ini."
Hegi tersenyum, "Tentu saja! Kesehatan kita penting, dan aku juga ingin memastikan kita semua baik-baik saja."
Setelah cukup istirahat, mereka melanjutkan perjalanan menuju ibukota. Di tengah perjalanan, Noy merasa penasaran dan ingin tahu lebih banyak tentang latar belakang Hegi.
Dia merasa akrab dengan Hegi, tetapi ada banyak hal yang belum dia ketahui tentang temannya ini. "Hegi, kalau aku boleh tahu, ibumu berada di mana?" tanya Noy dengan penuh kehati-hatian.
Pertanyaan itu seolah menusuk hati Hegi, namun dia merasa bahwa sebagai sahabat, Noy berhak tahu. Hegi kemudian menjawab dengan suara terdengar sedikit bergetar, "Ibu ku telah meninggal, dan ayahku yang bertanggung jawab atas itu. Saat itu aku berumur sepuluh tahun, aku tidak bisa melakukan apapun saat itu, hanya diam."
Noy merasa tidak enak setelah mendengar jawaban tersebut, dia tahu bahwa dia menyentuh luka masa lalu Hegi. Namun, dia juga merasa bahwa ini adalah momen di mana Hegi mempercayainya untuk berbagi cerita yang mungkin sulit baginya.
Hegi melanjutkan, "Ayahku adalah seorang yang memiliki masalah dengan dirinya sendiri. Ia telah menyakiti ibuku secara fisik, dan dua kali melakukan hal yang mengerikan itu, tepat di jantungnya. Tetapi, yang membuatku bingung adalah wajah ibu terlihat tersenyum saat itu."
__ADS_1
Mendengar ungkapan Hegi, Noy merasa terguncang oleh kisah yang mengerikan dan memilukan ini. Dia tidak tahu bagaimana merespons, tapi dia berusaha untuk tetap mendengarkan dengan penuh perhatian.
Hegi melanjutkan, "Aku tidak bisa memahami bagaimana ibu bisa tersenyum dalam momen yang begitu mengerikan. Namun, sejak saat itu, aku mengerti bahwa ibuku adalah sosok yang penuh dengan kebaikan dan cinta, bahkan dalam kesulitan dan penderitaan."
"Dia selalu mencoba untuk melindungi dan mencintai aku, sebisa mungkin," lanjut Hegi dengan suara gemetar. "Meskipun hidup kami berada dalam penderitaan, ibuku tetap berusaha memberikan kebahagiaan dan ketenangan bagi kami berdua."
Noy merasa hatinya terenyuh mendengar pengorbanan dan kekuatan ibu Hegi. Ia memahami betapa berharganya sosok seorang ibu dalam hidup seseorang, bahkan dalam situasi sulit sekalipun.
Hegi melanjutkan, "Ketika akhirnya ibu pergi, aku merasa kehilangan yang sangat besar. Namun, dia telah meninggalkan pesan kuat dalam hatiku. Pesan untuk tetap tegar dan menghadapi kehidupan dengan keberanian, serta tidak pernah menyerah pada kesulitan."
Noy menggenggam tangan Hegi dengan penuh kepedulian, menunjukkan dukungan dan kehadirannya sebagai sahabat sejatinya. "Kamu adalah sosok yang luar biasa, Hegi. Aku bangga bisa menjadi sahabatmu dan bersama-sama melewati segala halangan dalam hidup."
Hegi tersenyum mengenang kata-kata ibu dan merasa beruntung memiliki Noy yang selalu ada untuknya. Mereka saling menguatkan satu sama lain, siap menghadapi masa depan yang penuh dengan tantangan dan kebahagiaan, sambil membawa cerita masa lalu yang mempengaruhi siapa mereka saat ini.
Ditengah percakapan mereka, tibalah mereka di "Tembok Dalam," sebuah pembatas yang memisahkan Tembok Dalam dan Tembok Luar.
Meskipun namanya adalah tembok, sebenarnya tidak ada dinding fisik yang memisahkan wilayah-wilayah ini. Yang membedakan keduanya hanya jalan raya yang besar, yang konon katanya cukup kokoh untuk berdiri dan berfungsi sebagai tembok baja.
Hegi dan Noy bisa merasakan perbedaan suasana begitu mereka memasuki wilayah Tembok Dalam. Kehidupan di sana tampak lebih padat dan seringkali lebih sibuk dibandingkan dengan wilayah Tembok Luar.
Bangunan-bangunan tinggi dan modern bertebaran, mencerminkan kemajuan dan perkembangan wilayah tersebut.
Sementara itu, di Tembok Luar, suasana tampak lebih tenang dan alami. Penduduknya lebih sedikit, dan banyak area terbuka yang masih dipenuhi oleh alam dan hijauan. Wilayah ini mempertahankan pesona desa yang asri, menawarkan kehidupan yang lebih sederhana dan dekat dengan alam.
Pembagian wilayah ini disebabkan oleh kebijakan lima tahun yang lalu yang diterapkan oleh Tembok Pusat untuk mengatur pembagian wilayah dalam Benteng Selatan.
Meskipun wilayah tersebut berbeda, tidak ada diskriminasi antara Tembok Dalam dan Tembok Luar. Penduduk kedua wilayah ini bebas keluar masuk ke wilayah yang lain dan memiliki hak tinggal di kedua wilayah tersebut, sesuai dengan pilihan mereka.
Beberapa penduduk memilih untuk tinggal di Tembok Dalam karena alasan aksesibilitas dan kemudahan fasilitas modern. Sedangkan yang lain memilih Tembok Luar karena keheningan dan kedamaian yang ditawarkannya.
Hegi dan Noy menghargai keunikan dan keindahan masing-masing wilayah ini. Mereka merasa bahwa pembagian wilayah ini telah menciptakan keragaman dan memperkaya kehidupan di Benteng Selatan. Meskipun berbeda, mereka semua merasa sebagai bagian dari satu kesatuan yang saling melengkapi.
Di Tembok Dalam, Hegi dan Noy memutuskan untuk menggunakan kereta listrik antar distrik untuk mencapai ibukota. Kereta ini merupakan layanan transportasi yang hanya beroperasi di wilayah Tembok Dalam dan disediakan secara gratis bagi seluruh warga Benteng Selatan.
Mereka naik kereta dari Distrik Tenggara menuju Distrik Timur, karena gerbang yang menghubungkan mereka dengan ibukota hanya terbuka di Distrik Timur. Perjalanan dengan kereta tersebut memungkinkan mereka untuk dengan cepat mencapai gerbang ibukota.
Dalam perjalan mereka, mereka melihat lima helikopter militer terbang di atas langit, dan dengan cepat mereka menyadari tugas apa yang helikopter-helikopter itu lakukan. Suara mesin berdentum dan formasi yang teratur mengisyaratkan bahwa helikopter-helikopter itu sedang melaksanakan misi penting tanpa diketahui penduduk.
Dalam perjalanan juga, mereka menikmati pemandangan yang berbeda-beda dari setiap distrik yang mereka lewati. Distrik Tenggara memiliki bangunan-bangunan bergaya modern dan pusat bisnis yang ramai, sementara Distrik Timur menawarkan pesona arsitektur klasik dan keindahan alam yang masih terjaga.
Ketika kereta melintasi wilayah-wilayah tersebut, Hegi dan Noy berbincang-bincang tentang rencana mereka di ibukota dan berbagi kegembiraan akan momen berharga yang menanti di depan.
"Hegi, aku penasaran surat apa yang diberikan oleh ayahmu, maukah kau membukanya sekarang?" tanya Noy.
"Tentu," jawab Hegi.
Hegi yang juga sudah penasaran mulai mengambil surat itu dari sakunya. Dia merasa sedikit gemetar saat membuka amplop tersebut. Surat tersebut tampak tua, dan sedikit terlipat karena sudah lama disimpan. Dengan hati yang berdebar, Hegi membuka satu halaman surat itu dan mulai membacanya.
__ADS_1
"Dari Benteng Timur, aku menunggumu."
Sebuah pesan yang sangat singkat, tetapi maknanya begitu misterius bagi Hegi. Mereka berdua merasa semakin penasaran dengan pesan misterius itu. Namun, saat ini mereka masih dalam perjalanan menuju ibukota, dan tidak banyak yang bisa dilakukan sekarang.