Guardian Of The Last Bastion

Guardian Of The Last Bastion
Chapter 22: Menuju tenggara


__ADS_3

2240


Tembok Pusat Benteng Selatan


Jumlah Populasi 4.044.674


Setelah mendengar pengumuman itu, Hegi dan Noy memutuskan untuk keluar dari aula militer. Namun, sebelum benar-benar keluar, Hegi dan Noy memutuskan untuk menunggu seseorang di depan pintu keluar.


"Siapa yang kau tunggu, Hegi?" tanya Noy dengan rasa penasaran.


"Sofya, teman ku," jawab Hegi sambil tersenyum.


"Oh, gadis yang kau cari dulu saat kita jalan-jalan?" tanya Noy, mengingat peristiwa yang telah mereka alami bersama.


"Iya," jawab Hegi. "Aku ingin memberikan dukungan dan semangat padanya, karena aku tahu betapa sulitnya perjalanan seleksi ini baginya."


Saat mereka sedang mengobrol, tiba-tiba orang yang mereka bicarakan muncul, Sofya. Wajahnya terlihat bersedih karena tidak berhasil lolos dalam seleksi. Mereka bisa melihat betapa sedih dan kecewa wajah teman mereka.


Tanpa banyak bicara, Hegi langsung mendekati Sofya dengan penuh simpati. Hegi mendekati Sofya dengan hangat, "Sofya, aku mendengar tentang hasilnya. Aku tahu betapa beratnya ini bagimu, tetapi jangan putus asa."


Noy juga ikut mendekat dan memberikan senyuman penyemangat. "Ya, jangan menyerah. Kamu adalah seorang pejuang, dan perjalanan ini adalah bagian dari proses belajar dan tumbuh. Kami masih ada di sini untukmu, sebagai teman dan dukungan."


Sofya mengangguk, mengenali dukungan tulus dari Hegi dan Noy. "Terima kasih, kalian berdua. Aku benar-benar berjuang dengan keras, tetapi sepertinya belum cukup. Aku merasa sedih dan kecewa."


Tiba-tiba, Sofya terlihat sedikit bingung. "Tunggu sebentar, kau siapa?" tanya Sofya sambil menunjuk Noy.


"Aku Noy, temannya Hegi. Salam kenal," jawab Noy dengan senyum ramah.


Sofya tersenyum, menyadari bahwa Noy adalah teman dekat Hegi. "Oh, Noy. Senang bertemu denganmu, Noy."


Hegi tersenyum melihat interaksi antara Sofya dan Noy. Ia merasa bahagia bahwa dua orang teman yang sangat berarti baginya bisa saling bertemu dan menyambungkan ikatan persahabatan mereka.


Sofya kemudian melanjutkan, "Kamu tahu, rasanya seperti tak ada harapan lagi setelah tidak lolos seleksi ini. Tapi mendengarkan kata-kata kalian berdua membuatku merasa lebih percaya diri."


Hegi meletakkan tangannya di bahu Sofya dengan lembut, "Itu wajar merasa seperti itu. Namun, ingatlah bahwa hasil ini bukanlah penentu kemampuanmu. Kamu masih punya banyak peluang di depan, dan kami percaya kamu bisa mencapai impianmu."


Noy menambahkan, "Jika kamu memilih untuk bergabung dengan R&D, kami akan tetap mendukungmu sepenuhnya. Pertemanan kita tidak akan berubah karena hasil tes ini."


Sofya tersenyum lembut, merasakan kehangatan persahabatan yang menguatkan hatinya. "Terima kasih, kalian berdua. Aku sangat beruntung punya teman seperti kalian. Aku akan memilih R&D, untuk kalian."


Hegi dan Noy tersenyum bahagia mendengar keputusan Sofya. Mereka tahu bahwa keputusan tersebut tidak mudah baginya, tetapi mereka menghargai kepercayaan dan dukungan yang diberikan oleh Sofya.


Setelah percakapan singkat itu, mereka berpisah dan kembali ke asrama masing-masing. Di dalam hati, Hegi merasa lega karena berhasil melampaui tahap seleksi tersebut, tetapi dia juga merasa bahagia karena bisa memberikan dukungan dan semangat pada teman-temannya.


Setibanya di asrama militer, Hegi segera mempersiapkan diri dengan antusiasme yang tak terbendung. Hari ini, ia akan pulang ke Distrik Tenggara, ke rumahnya yang telah lama ia rindukan. Rasa bahagia dan haru menyelimuti hatinya ketika membayangkan momen-momen hangat bersama kakaknya.


Ia telah melewati serangkaian tes yang melelahkan dan penuh tantangan selama berada di asrama, namun semua itu terbayar lunas dengan kesempatan untuk kembali ke pelukan orang-orang tercinta.


Hegi juga tidak lupa untuk mengajak Noy karena pada waktu yang lalu mereka berdua bermain taruhan, dan Noy kalah sehingga harus menepati satu keinginan Hegi.


Meskipun taruhan itu diucapkan dengan ringan dan penuh candaan, tetapi Noy tahu betapa pentingnya momen pulang ke rumah bagi Hegi setelah melewati berbagai ujian di asrama militer. Ia dengan senang hati menyetujui untuk mengikuti keinginan sahabatnya, bahkan tanpa berpikir dua kali.


"Mengunjungi rumahmu di Distrik Tenggara sepertinya akan menjadi petualangan yang menyenangkan," ucap Noy dengan senyum, menggembirakan hati Hegi.

__ADS_1


Hegi mengangguk antusias, "Aku senang kau mau datang. Aku yakin keluargaku juga akan senang bertemu denganmu."


Setelah memastikan semuanya siap, Hegi dan Noy berangkat menuju distrik tenggara dengan semangat yang tinggi. Mereka berdua siap menghadapi petualangan baru, tak hanya dalam perjalanan ke rumah Hegi, tetapi juga dalam menjalani persahabatan mereka yang tak ternilai harganya.


Hegi mengunci kamar asramanya, memastikan bahwa itu aman, dan Noy yang berada di sisinya bertanya, "Sebentar, kita kesana menggunakan apa?"


"Mobil," jawab Hegi dengan enteng.


Noy terkejut, "Memangnya kau bisa menyetir?"


Hegi tersenyum, "Tidak, tapi kita akan menggunakan fasilitas militer yang ada. Aku pernah bertanya pada seorang prajurit di sini bahwa semua fasilitas disini gratis, termasuk transportasi."


Noy mengangguk paham, "Itu bagus, jadi kita tidak perlu khawatir tentang transportasi. Ayo, kita pergi menuju garasi mobil."


Keduanya berjalan menuju garasi mobil yang ada di dalam kompleks militer. Di garasi militer, Hegi dan Noy melihat berbagai jenis kendaraan yang siap digunakan. Mereka mengikuti petunjuk yang diberikan oleh seorang petugas militer dan mendapatkan akses ke mobil dinas yang tersedia bagi personel.


Hegi merasa beruntung karena fasilitas militer ini memberi kemudahan bagi mereka untuk sampai ke Distrik Tenggara dengan nyaman dan tanpa perlu biaya tambahan. Di sana, Hegi bertanya kepada salah satu sopir yang bertugas untuk pergi ke Distrik Tenggara, dan sopir itu dengan senang hati menyetujuinya.


Mereka menaiki mobil dan memulai perjalanan menuju rumah Hegi di Distrik Tenggara. Dalam perjalanan, Hegi dan Noy terus berbincang dan bercanda, menciptakan suasana yang menyenangkan. Mereka menikmati momen bersama, saling berbagi cerita dan pengalaman selama perjalanan mereka di tes militer.


Perjalanan mereka membawa mereka melintasi tembok dalam kota yang padat namun tertata rapi. Mereka terpesona melihat mobil listrik yang berjalan tanpa suara dan tanaman hijau yang menyejukkan sepanjang jalan. Benteng Selatan memang terlihat modern dan ramah lingkungan, memberikan perasaan nyaman dan damai.


Setelah melewati tembok dalam, mereka tiba di tembok luar. Pemandangan berubah menjadi luasnya padang hijau dengan beberapa rumah yang tersebar di sekitarnya.


Meskipun jauh dari hiruk-pikuk perkotaan, tempat ini tidak kalah modern dan terawat dengan bagian tembok dalam. Keberadaan padang hijau dan lingkungan yang asri membuat Hegi merasa betah kembali ke rumah.


Setelah beberapa saat perjalanan yang penuh kegembiraan menuju Distrik Tenggara, akhirnya mereka tiba di rumah Hegi yang berada di tepi kebun hijau yang rimbun.


Saat melihat rumah itu, Noy langsung merasa terkesan dengan keramahan dan kehangatan yang terpancar dari tempat tersebut. Walaupun sederhana, rumah Hegi begitu memikat dan terasa seperti tempat yang nyaman untuk kembali setelah melewati perjalanan yang melelahkan.


"Rumahmu indah sekali, Hegi," ucap Noy kagum.


Hegi tersenyum bangga, "Terima kasih, Noy. Kami selalu berusaha menjaga dan merawat rumah ini dengan baik. Ini adalah tempat yang sangat berarti bagi kami."


Mereka berdua masuk ke dalam rumah, dan Hegi dengan penuh kegembiraan berteriak, "Lihat siapa yang datang, Kakak!" Suara teriakannya dipenuhi dengan kebahagiaan saat ia memasuki tempat yang ia panggil rumah.


Mata birunya bersinar cerah, menunjukkan kegembiraannya melihat tempat yang selama ini menjadi tempat berlindung dan kehangatan bagi dirinya dan kakaknya.


Sera, yang sedang sibuk memetik sayuran di belakang rumah, segera berlari mendekati sumber suara. Wajahnya berbinar saat melihat saudara kandungnya. Dia dengan cepat merangkul Hegi dengan hangat, menyambutnya dengan tulus.


"Wah, Hegi, kau kembali! Dan siapa yang kau bawa?" tanya Sera dengan senyum ramah, sambil memandang ke arah Noy yang berdiri di samping Hegi.


Noy, yang tahu bahwa ia sedang dibicarakan, dengan sopan memperkenalkan diri, "Halo, Kakaknya Hegi. Aku Noy, teman baiknya Hegi."


Sera mengangguk sambil tersenyum, "Oh, teman Hegi ya?Aku Sera, kakaknya. Maafkan tingkah laku manja adikku ya, pasti dia membuatmu kerepotan."


Hegi, setelah mendengar komentar usil dari Sera, mukanya langsung dipenuhi rona malu. Meskipun dia tahu bahwa saudara kandungnya hanya bercanda, namun rasa tidak nyaman itu sulit untuk dihindari. Dengan suara lembut yang hampir terdengar lirih, dia bergumam, "Kakak, tolong jangan begitu ya." Wajah Hegi semakin memerah, dan dia berusaha menahan perasaan campur aduk di hatinya.


Namun, Sera adalah sosok yang sangat peka terhadap perasaan adiknya. Hatinya tersentuh melihat ekspresi Hegi yang begitu menggemaskan. Tanpa ragu, dengan kelembutan yang mengalir dari dalam hatinya, Sera mendekat dan dengan lembut mengusap rambut adiknya sambil mencubit pipi Hegi dengan penuh kasih sayang.


"Aku hanya tidak bisa menahan diri untuk menggoda sedikit. Sebab bagaimanapun, kamu terlihat begitu menggemaskan saat marah." Sera berbicara dengan suara lembut, sambil mempercepat gerakan tangannya yang lembut mengusap kepala Hegi.


Hegi menatap kakaknya dengan tatapan yang masih penuh canggung, namun perasaan malu perlahan berubah menjadi hangat.

__ADS_1


"Ih, apa sih, kak? Aku malu tau," ucapnya dengan senyuman malu-malu.


Noy, yang melihat kejadian itu, juga ikut tertawa geli melihat betapa menggemaskannya interaksi di antara mereka berdua. Hegi pun akhirnya tersenyum ikut-ikutan, merasa lebih lega setelah merasakan kehangatan dari kakaknya.


Sera menepuk lembut bahu Hegi, "Tidak perlu malu, Hegi. Kamu sangat manis dan menggemaskan, entah dalam suasana senang atau marah. Aku selalu bahagia melihatmu."


Hegi merasa terharu oleh ungkapan kasih sayang dari kakaknya. Saat Sera


mengucapkan kata-kata itu, Hegi merasa dirinya diterima apa adanya dan bahwa dia


tidak perlu menyembunyikan emosinya di depan orang-orang yang menyayanginya.


Noy dengan hangat menambahkan, "Iya, Hegi. Sama seperti yang Kak Sera bilang,


kamu selalu menjadi orang yang menyenangkan untuk ditemani. Tidak peduli sedang


senang, marah, atau sedih, kamu tetap istimewa bagi kami."


Setelah sambutan hangat dari Sera, Hegi mengajak Noy pergi ke kebun di belakang rumah Hegi, sementara itu, Sera pergi ke dapur dan berniat untuk memasak makanan istimewa untuk mereka.


Ia tahu betapa istimewanya momen ini, di mana Hegi kembali ke rumah dan membawa temannya untuk berkumpul bersama. Sera ingin memberikan mereka pengalaman yang tak terlupakan selama di rumah.


Hegi dan Noy berjalan dengan riang, menikmati udara segar dan keindahan alam di sekitar kebun. Hegi senang bisa memperlihatkan kebunnya pada Noy, karena kebun itu adalah tempat di mana dia sering menghabiskan waktu bersama kakaknya.


"Sini, Noy, aku akan memperlihatkan sayuran-sayuran yang kami tanam di sini," ucap Hegi sambil berjalan menuju tanaman-tanaman yang tumbuh subur.


Noy tertarik dan bersemangat, "Wow, kebunmu sangat bagus, Hegi! Kau benar-benar pandai dalam berkebun."


Hegi tersenyum bangga, "Terima kasih, Noy. Aku dan Kak Sera selalu berusaha merawat kebun ini dengan baik. Kami menanam berbagai sayuran dan buah-buahan, dan hasilnya kami gunakan untuk keperluan sehari-hari."


Sambil berjalan-jalan di antara tanaman, Hegi dan Noy berbincang tentang berbagai hal. Mereka saling berbagi cerita dan pengalaman, membuat momen di kebun menjadi semakin menyenangkan. Hegi merasa senang bisa berbagi kebahagiaan dari rumahnya dengan temannya.


Sementara itu, Sera dengan penuh semangat mempersiapkan makanan istimewa untuk mereka. Dia ingin menyajikan hidangan spesial sebagai bentuk kasih sayang dan rasa syukur atas kehadiran Hegi dan Noy di rumahnya. Sera berusaha membuat momen ini menjadi kenangan yang indah bagi mereka berdua.


Ketika Hegi dan Noy kembali dari kebun, mereka disambut oleh aroma harum makanan yang sedang dimasak oleh Sera. Mata mereka berbinar-binar, dan Hegi merasa begitu bersyukur karena memiliki kakak yang begitu perhatian dan mencintai.


"Mmm... harum sekali, Kak Sera! Aku sudah tidak sabar untuk mencicipinya," ucap Hegi dengan gembira.


Sera tersenyum dan mengangguk, "Semoga kalian suka dengan masakan ini. Aku ingin momen kita di rumah menjadi kenangan yang manis bagi kalian berdua."


Setelah Sera selesai memasak, mereka semua berkumpul di meja makan untuk menikmati hidangan istimewa tersebut. Hegi dan Noy duduk bersebelahan, saling berbagi tawa dan cerita-cerita lucu yang mereka alami selama di asrama militer.


"Makanannya enak sekali, Kak Sera! Terima kasih sudah memasak untuk kami," ucap Noy dengan senyum.


Sera tersenyum bahagia, "Sama-sama, Noy. Aku senang kalian menyukainya."


Hegi menambahkan, "Iya, ini benar-benar hidangan istimewa. Rasanya seperti kembali ke rumah dan menikmati makanan keluarga."


Mereka melanjutkan makan sambil berbicara tentang berbagai hal. Hegi dengan penuh semangat bercerita tentang perjalanan dan pengalaman yang dia alami selama di asrama militer. Dia menceritakan tentang serangkaian tes yang melelahkan yang telah dia lalui.


"Saat di asrama militer, aku seringkali yang membangunkan Noy setiap pagi, karena dia terkadang sulit untuk bangun," kata Hegi dengan senyum. "Namun, aku bangga melihat bagaimana Noy mengatasi segala tantangan dan rintangan selama latihan dan tes militer. Dan pada akhirnya, Aku berhasil mendapatkan posisi pertama dalam tes militer tersebut!"


Noy merasa sedikit malu namun bangga dengan pencapaiannya. "Ya, terima kasih atas dukungannya, Hegi. Aku memang menghadapi beberapa kesulitan, tapi berkat bantuanmu, aku bisa melewati semuanya."

__ADS_1


__ADS_2