Guardian Of The Last Bastion

Guardian Of The Last Bastion
Chapter 17: Tes Fisik


__ADS_3

2240


Tembok luar Benteng Selatan


Jumlah Populasi 4.044.671


Dengan semangat yang masih membara, Hegi melangkah maju dengan langkah yang mantap. Meskipun para peserta lain berlari dengan sangat cepat, ia dengan secara sengaja memilih untuk mengontrol kecepatan larinya.


Hegi menyadari bahwa menjaga kecepatan yang konsisten dan mengatur energi dengan bijak adalah kunci untuk mempertahankan daya tahan tubuh dan fokus yang tinggi sepanjang perjalanan yang panjang ini.


Ia berusaha untuk mengatur ritme larinya dengan bijaksana, mempertahankan kecepatan larinya yang konsisten dan menghemat energi yang dikeluarkan sedikit mungkin.


Hegi menyadari bahwa ini adalah perjalanan yang sangat panjang dan melelahkan, dan strategi ini akan sangat membantunya dalam mencapai jarak delapan puluh kilometer yang ditetapkan. Ia tau bahwa tes ini bukan hanya soal kecepatan, tetapi juga ketahanan dan ketepatan dalam mengambil keputusan.


Hegi di dalam dirinya yakin bahwa ada suatu alasan khusus kenapa penguji memilih lokasi di atas ketinggian dua puluh lima meter ini. Oleh sebab itu, ia memiliki rencana untuk mengelilingi tembok luar benteng selatan.


Selama perjalanannya, Hegi berusaha untuk menjaga kekuatan dan ketahanannya dengan bijaksana. Ia memanfaatkan setiap momen untuk mengatur nafasnya, serta menjaga keseimbangan energi agar tidak terlalu cepat habis.


Meski dirinya beberapa kali tergoda untuk berlari cepat, Hegi tetap fokus pada strateginya dan menyesuaikan kecepatannya dengan bijaksana. Hegi pada akhirnya berhasil melalui satu kilometer pertama dengan lancar tanpa mengalami suatu hambatan sedikit pun.


Sementara berlari, ia tidak bisa menyembunyikan rasa penasaran yang tumbuh dalam dirinya terhadap alat yang ia pegang erat di tangan kanannya. Menurut penjelasan dari penguji, alat itu akan berbunyi dan mengeluarkan sebuah pertanyaan yang harus dijawabnya dengan cepat.


Namun, saat ini alat yang ia pegang tersebut di tangan masih diam dan belum memberikan satu sinyal apapun. Hegi mulai bertanya-tanya apakah alatnya bermasalah atau mungkin dirinya belum mencapai titik di mana pertanyaan akan muncul.


Meskipun ada keinginan untuk segera menjawab pertanyaan yang muncul dari alat tersebut dan membuktikan kemampuannya, ia tetap tenang dan berfokus pada langkah-langkahnya.


Sementara waktu terus berlalu dan kilometer demi kilometer ditempuh, Hegi tetap bersabar dan tidak terburu-buru. Ia menyadari bahwa setiap tahapan tes memiliki tujuannya masing-masing, dan alat tersebut akan memberikan pertanyaan pada saat yang tepat.


Hegi terus melanjutkan larinya dengan tempo yang tetap pelan dan konsisten. Setiap beberapa saat, ia memeriksa jarak yang telah ditempuhnya. "Hmm, sudah lima kilometer. Masih tersisa tujuh puluh lima kilometer lagi," ucapnya sambil melihat alat yang tetap diam di tangannya.


Meskipun Hegi telah melewati lima kilometer pertama dengan begitu mudah, alat yang ia pegang belum memberikan tanda-tanda akan kehidupan.


Pertanyaan pun mulai muncul di benaknya, "Apakah mungkin alat ini rusak?" Hegi merasa sedikit cemas karena alatnya tidak berbunyi sesuai dengan yang dijelaskan oleh penguji.


Dalam pikiran Hegi, berbagai kemungkinan mulai muncul. Mungkin alatnya mengalami kerusakan teknis, atau mungkin saja alat ini memiliki mekanisme khusus yang mengharuskan pertanyaan muncul di tahap berikutnya. Namun, ia memutuskan untuk tetap tenang dan melanjutkan larinya dengan fokus yang tinggi.


Setelah melalui sembilan kilometer, alat yang Hegi pegang akhirnya berbunyi, mengagetkannya dari fokus berlarinya. Hegi memperhatikan alat tersebut dan mendengarkan pertanyaan yang keluar dari alat itu. "Apa yang akan kamu lakukan ketika merasa lapar?" suara alat tersebut mengisi keheningan sejenak.


Hegi tersenyum lega karena alatnya berfungsi dengan baik. Tanpa ragu, ia segera menjawab, "Makan!" dengan cepat dan tegas. Ia merasa senang bahwa alatnya tidak rusak dan responsnya terhadap pertanyaan tersebut tepat.


Pada saat menjawab pertanyaan itu, seorang peserta di samping Hegi juga memberikan jawaban yang sama. Hegi tersenyum dan menganggukkan kepala, mengakui kesamaan jawaban mereka.


"Oh, pertanyaan dan jarak saat mendapatkan soalnya sama," ucap Hegi dengan antusias. Dia merasa senang menemukan kesamaan dengan peserta lain, menyadari bahwa mereka berdua menghadapi tantangan yang serupa.

__ADS_1


Namun, jawabannya tidak hanya terasa sebagai jawaban semata. Seolah-olah pertanyaan tersebut menjadi sinyal bagi tubuhnya, Hegi tiba-tiba merasa lapar yang menghampirinya. Ia menyadari bahwa ia belum sempat sarapan pagi sebelum tes dimulai.


Dalam perjalanannya, Hegi memiliki keberuntungan tersendiri ketika melihat sebuah pos di bagian depan yang sedang membagikan makanan dan minuman kepada para peserta.


Ketika alat yang ia pegang menunjukkan jarak sepuluh kilometer, Hegi melihat bahwa pos tersebut merupakan titik berhenti yang tepat. Ia menyadari bahwa saat itu adalah kesempatan baginya untuk mendapatkan asupan makanan dan minuman yang sangat dibutuhkan.


Hegi melangkah menuju pos dengan perasaan lega. Disana, seorang prajurit dengan penuh keramahan memberikan sebuah roti yang cukup besar dan sebotol minuman kepada Hegi.


Tanpa ragu dan pikir panjang, Hegi langsung memulai menyantap makanannya bersama dengan peserta lainnya di tempat tersebut.


"Sangat menghargai makanan ini setelah perjalanan yang panjang," ucap Hegi sambil tersenyum pada petugas. "Terima kasih banyak atas perhatian dan keramahannya."


Petugas itu tersenyum balik. "Senang bisa membantu. Semoga makanan ini memberikanmu energi dan kesegaran untuk melanjutkan perjalananmu, Hegi. Jaga kesehatanmu dan tetap semangat!"


Hegi mengangguk sambil menjawab, "Akan kulakukan, terima kasih sekali lagi."


Saat menggigit roti yang lezat dan meneguk minuman yang menyegarkan, Hegi merasakan kepuasan dan energi pulih dalam tubuhnya. Ia merasa bersyukur karena telah mendapatkan kesempatan untuk mengisi kembali tenaga dan memenuhi kebutuhan nutrisi yang telah terkuras selama perjalanan.


Dengan perut kenyang dan semangat yang membara, Hegi merasa siap untuk melanjutkan perjalanan. Ia berterima kasih kepada petugas yang telah memberikan dukungan dan makanan yang diperlukan.


Dalam hatinya, Hegi berjanji untuk memberikan yang terbaik dan tidak mengecewakan dalam tes ini, mengingat bantuan dan semangat yang telah diberikan oleh orang-orang di sekitarnya.


Setelah merasa puas dengan makanannya, Hegi melanjutkan larinya dengan semangat yang tinggi. Kali ini, ia memutuskan untuk bergerak ke arah selatan. Saat berlari, ia melihat beberapa peserta lain yang berbalik arah dan menuju kembali ke pos pertama.


"Hmm, banyak peserta yang memilih untuk kembali ke pos pertama," gumam Hegi dalam hati. "Setiap orang memiliki pilihan sendiri dalam perjalanan ini. Aku ingin melanjutkan ke selatan dan melihat apa yang ada di sana."


Hegi merasa tertarik untuk menjelajahi seluruh benteng selatan dan menikmati pemandangan yang ada di sekitarnya, oleh karena itu ia tidak berbalik. Ia ingin melihat setiap sudut benteng, menyerap keindahan alam dan sejarah yang terkandung di dalamnya.


Bagi Hegi, tes ini bukan hanya tentang menyelesaikan jarak yang ditentukan, tetapi juga tentang pengalaman dan pengetahuan yang dapat ia peroleh selama perjalanan ini.


"Aku ingin melihat lebih banyak dari benteng ini," pikir Hegi dengan semangat. "Ada begitu banyak cerita yang tersembunyi di setiap sudutnya. Aku ingin menikmati pemandangan yang luar biasa dan mempelajari sejarah yang terkait dengan tempat ini."


Setelah empat jam berlalu sejak Hegi mencapai pos pertama, sinar matahari semakin terik dan panas yang menyengat dapat dirasakan olehnya. Hegi mengelap keringat dari dahinya, sambil berpikir, "Masih sekitar setengah perjalanan ini." Meskipun terasa melelahkan, ia tidak kehilangan semangat.


Hegi merasakan kelelahan yang mulai menyelinap ke dalam tubuhnya. Langkahnya mungkin tidak segesit seperti di awal perjalanan, tetapi tekadnya tidak pernah luntur.


Ia memfokuskan pikirannya pada tujuan akhirnya dan berusaha mengatasi setiap rintangan yang ada di depannya.


Meskipun panas menyengat dan melelahkan, Hegi mencari cara untuk menjaga semangatnya tetap berkobar. Ia mengambil napas dalam-dalam, mengingat tujuannya yang kuat, dan menggugah motivasi dalam dirinya.


"Mungkin setengah perjalanan ini memang melelahkan, tetapi aku sudah melewati setengah jarak," Hegi berbicara pada dirinya sendiri dengan penuh semangat. "Setiap langkahku membawa aku lebih dekat dengan tujuan. Aku tidak akan menyerah!"


Selama perjalanan, Hegi juga melihat peserta lain yang mungkin juga merasakan kelelahan. Namun, mereka terus bergerak maju dengan semangat yang sama. Hegi merasakan solidaritas dan kebersamaan di antara mereka, memperkuat determinasinya untuk tidak menyerah.

__ADS_1


Selama perjalanan ini, Hegi telah menjawab beberapa pertanyaan yang muncul dari alat yang ia bawa. Ia merasa puas dengan kemampuannya dalam mengambil keputusan secara cepat dan tepat. Setidaknya, sudah empat pertanyaan yang berhasil ia jawab dengan keyakinan.


Saat ini, Hegi telah mencapai distrik timur dari benteng selatan. Meskipun terik matahari yang semakin memuncak, Hegi tetap teguh dan terus berlari.


Ia berusaha untuk menjaga dirinya tetap terhidrasi dengan minuman yang dibawanya. Keringat mengalir di wajahnya, namun ia tidak membiarkan itu menghambat langkah-langkahnya.


Saat mencapai jarak empat puluh sembilan kilometer, alat yang Hegi pegang kembali berbunyi. Suara alat itu memecah keheningan sekitarnya, menarik perhatian Hegi yang sedang fokus berlari. Ia mendengarkan dengan hati-hati pertanyaan yang diajukan, "Bagaimana sikap Anda ketika menghadapi dua morsus sementara kedua rekan Anda terluka parah?"


Hegi merasa terkejut dan sedikit terpukul oleh pertanyaan yang berbeda dengan pertanyaan sebelumnya. Ini merupakan situasi yang membutuhkan keputusan yang kritis dan menguji kemampuan Hegi dalam situasi darurat. Ia menyadari bahwa jawabannya akan memperlihatkan sikap dan nilai-nilai kepemimpinannya.


Hegi memusatkan pikirannya sejenak, mempertimbangkan skenario yang dihadapinya. Ia merasa adrenalin mengalir di dalam tubuhnya, tetapi tetap tenang dan fokus pada pertanyaan tersebut.


Dalam keadaan seperti ini, Hegi menyadari pentingnya mengambil langkah-langkah yang cepat dan tepat. Ia berpikir tentang kemungkinan tindakan yang dapat dilakukan untuk menghadapi dua morsus dan kondisi kritis kedua rekannya.


Setelah beberapa saat berpikir, Hegi memberikan jawaban dengan mantap, "Ketika menghadapi situasi seperti itu, prioritas utama saya adalah menyelamatkan kedua rekan saya. Saya akan berusaha memastikan keselamatan mereka dengan memberikan perawatan pertama yang diperlukan dan segera meminta bantuan medis. Selanjutnya, saya akan melakukan tindakan yang diperlukan untuk menjaga keamanan diri dan kedua rekan saya, termasuk menggunakan alat-alat yang tersedia untuk melindungi diri dan mengusir morsus tersebut. Kehidupan dan keselamatan rekan saya menjadi prioritas utama dalam situasi tersebut."


Setelah memberikan jawaban, Hegi melanjutkan perjalanannya dengan rasa lega dan semangat yang kembali membara. Ia menyadari bahwa tes ini tidak hanya menguji kemampuan fisik, tetapi juga kemampuan kepemimpinan dan pengambilan keputusan dalam situasi yang sulit.


Jarak enam puluh kilometer telah Hegi lalui, Hegi memperhatikan beberapa peserta mulai merasa kelelahan dan tidak mampu melanjutkan perjalanan.


Mereka memutuskan untuk beristirahat di pos-pos yang disediakan setiap sepuluh kilometer. Hegi menghormati keputusan mereka dan melihat pentingnya menghormati batas kemampuan tubuh masing-masing.


Sejak pertanyaan di empat puluh kilometer, Hegi memperhatikan bahwa pertanyaan-pertanyaan serupa terus muncul. Pertanyaan tersebut membutuhkan pengambilan keputusan dan menguji kemampuan peserta dalam situasi yang membutuhkan kebijaksanaan dan ketepatan.


Hegi menyadari bahwa ini adalah bagian penting dari tes ini, yang bertujuan untuk melihat bagaimana peserta menghadapi tantangan dan menjaga kejernihan pikiran mereka di tengah kelelahan.


Setelah berlari selama delapan jam, Hegi melihat angka tujuh puluh kilometer terpampang di alat yang ia pegang. Ia merasa bahwa hanya tersisa satu pertanyaan lagi sebelum mencapai tujuan mereka, yaitu delapan puluh kilometer.


Namun, ketika alat tersebut menunjukkan angka tujuh puluh sembilan kilometer, tiba-tiba alat itu berbunyi dengan suara yang menghentak, "Misalkan, benteng selatan telah berhasil ditembus oleh morsus. Banyak korban prajurit dan warga sipil yang berjatuhan. Bagaimana sikap Anda?"


Pertanyaan itu berhasil menghentikan langkah Hegi, memenuhinya dengan kenangan yang pahit. Dalam sekejap, ingatannya melayang ke masa lalu, ketika morsus menyerang dan melanda tanah kelahirannya di Benteng Timur.


Pertanyaan itu menyoroti situasi yang serius dan penuh tantangan. Hegi merasakan gelombang emosi dan perasaan yang meluap dalam dirinya. Ia teringat dengan kepedihan yang dialami oleh tanah kelahirannya dan segenap orang yang terkena dampaknya.


Tetapi, ia juga menyadari bahwa dalam ujian ini, keputusan yang diambilnya harus berdasarkan pikiran yang jernih dan objektif.


Hegi mengambil nafas dalam-dalam, mencoba untuk menenangkan diri dan fokus pada pertanyaan yang diajukan. Ia menyadari bahwa pertanyaan ini tidak hanya menguji kemampuannya dalam mengambil keputusan, tetapi juga dalam menghadapi situasi darurat yang memerlukan kepemimpinan yang kuat.


Dengan pikiran yang tenang, Hegi memberikan jawaban dengan mantap, "Ketika dihadapkan dengan situasi seperti itu, prioritas utama saya adalah melindungi dan menyelamatkan nyawa prajurit dan warga sipil yang terancam. Saya akan berkoordinasi dengan rekan-rekan saya dan membangun strategi untuk melawan dan mempertahankan benteng dengan cara yang paling efektif. Saya akan berusaha keras untuk meminimalisir korban dan menjaga keamanan semua yang berada di dalam benteng. Saya akan bekerja sama dengan tim dan memanfaatkan sumber daya yang ada untuk menghadapi serangan tersebut dengan sekuat tenaga."


Setelah memberikan jawaban yang tulus, Hegi melanjutkan perjalanannya dengan semangat yang tak tergoyahkan. Ia yakin bahwa perjalanan ini bukan hanya tentang menyelesaikan tes, tetapi juga tentang membuktikan tekad dan keteguhan hati sebagai seorang prajurit.


Dalam hatinya, ia bertekad untuk menjaga semangat perjuangan hidup dan mempertahankan keberanian hingga mencapai tujuan akhir di delapan puluh kilometer.

__ADS_1


__ADS_2