Guardian Of The Last Bastion

Guardian Of The Last Bastion
Chapter 12: Penyambutan Ibukota Benteng Selatan


__ADS_3

2240


Tembok Pusat Benteng Selatan


Jumlah Populasi 4.044.673


Setelah melewati perjalanan yang begitu panjang, Hegi dan Sofya akhirnya tiba di area luar Ibukota Benteng Selatan. Mereka merasa gembira dan semangat, siap untuk memulai babak baru dalam hidup mereka.


Segera setelah mobil berhenti, mereka turun dengan penuh semangat, mengambil semua barang yang diperlukan untuk memasuki ibukota yang menakjubkan di depan mereka tersebut.


Namun, ketika mereka mendekati jembatan yang menghubungkan jalan raya dengan tembok baja Ibukota Benteng Selatan, mereka menyadari fakta bahwa jembatan itu masih terlihat tertutup.


Hegi dan Sofya menatap jembatan dengan penuh kekecewaan, menyadari bahwa mereka berdua belum bisa melintasinya untuk memasuki ibukota yang sangat mereka impikan.


Tembok baja yang melindungi Ibukota Benteng Selatan merupakan bagian dari pertahanan yang kokoh dan strategis. Parit yang berisi air dengan lebar tiga ratus meter mengelilingi tembok baja ibukota, memberikan perlindungan tambahan. Jembatan ini menjadi satu-satunya akses untuk menuju ibukota yang menakjubkan tersebut.


Sementara itu, Hegi dan Sofya melihat dengan takjub bagaimana parit yang mengelilingi Ibukota Benteng Selatan mempertegas pertahanannya. Air yang mengisi parit tersebut memberikan lapisan perlindungan tambahan kepadanya, menjadikan jembatan sebagai satu-satunya pintu masuk ke ibukota yang terletak di sisi timur.


Hegi mengangguk mengagumi pertahanan yang sangat kuat tersebut, dirinya mengungkapkan rasa kagumnya terhadap sistem pertahanan kota yang terencana dengan baik.


"Keren, inilah jantung pertahanan kota ini," ucap Hegi dengan penuh kekaguman di dalam hatinya.


Ia menyadari betapa pentingnya keberadaan parit dan jembatan ini dalam menjaga keamanan di Ibukota Benteng Selatan dari setiap kemungkinan ancaman luar.


Air yang mengalir di parit tersebut memberikan efek visual yang menakjubkan, seolah-olah melambangkan kekuatan dan kemandirian yang dimiliki oleh kota ini.


Dalam keterbatasan waktu menunggu pembukaan jembatan itu, Hegi dan Sofya memanfaatkannya untuk menghayati keindahan dan keunikan Ibukota Benteng Selatan yang berada di hadapan mereka.


Mereka melihat bangunan-bangunan megah yang menjulang tinggi dengan desain arsitektur yang unik. Setiap detail bangunan di Ibukota Benteng Selatan tampak begitu dipikirkan, membuatnya menampilkan keindahan dan keunikan yang khas.


Di luar sana, terlihat kerumunan orang yang ingin mendaftar militer seperti Hegi dan Sofya. Sekitar ratusan orang berkumpul, dan semuanya sedang menunggu dengan sabar pembukaan jembatan.


Mereka semua saling berbincang-bincang, terlihat semangat dan antusiasme di wajah mereka, seakan-akan saling memberikan dukungan dan semangat satu sama lain.


Hegi memandang kerumunan tersebut dengan kagum, merasakan energi dan semangat yang terpancar dari setiap individu yang hadir. Dia menyadari bahwa di tengah kerumunan ini, ada banyak impian, harapan, dan tekad yang sama seperti dirinya dan Sofya.


"Banyak juga ya," ucapnya kepada Sofya yang berdiri di samping dirinya. Hegi mencoba untuk mengukur jumlah orang di sekitarnya. Dia merasa sangat terinspirasi oleh semangat dan keberanian mereka yang siap untuk mengikuti seleksi militer dan berjuang demi impian mereka.


Sofya tersenyum kecil pada Hegi dan menjawab ucapannya dengan antusias, "Benar, coba tebak jumlahnya berapa?"


Hegi berpikir sejenak, ia mengamati kerumunan orang yang bergerak dengan semangat di sekitar. "Hmm, ada sekitar 200 orang?" tebak Hegi dengan ragu-ragu.

__ADS_1


Sofya terkejut, tetapi senang karena menemukan kesamaan dalam perkiraan mereka. "Wow, kamu berpikiran sama sepertiku. Haha! Sepertinya kita tidak sendiri dalam perjalanan ini," ucapnya sambil tersenyum.


Mereka berdua tertawa bersama, senang menemukan kesamaan dalam perkiraan mereka. Momen ini menguatkan hubungan persahabatan mereka dan memberikan semangat baru untuk menghadapi seleksi militer yang menantang di depan.


Tak lama kemudian, terdengar suara berat gemuruh saat jembatan benteng mulai diturunkan perlahan. Logam bergesekan dan mesin bekerja dengan tekun untuk memberikan akses kepada para penunggu yang menunggu dengan sabar.


Suara gemuruh tersebut memenuhi udara, menciptakan atmosfer tegang yang diiringi dengan suara mesin beroperasi. Hegi dan Sofya melihat dengan penuh antusiasme saat jembatan perlahan-lahan terbuka, menghubungkan mereka dengan Ibukota Benteng Selatan yang megah.


Bersamaan dengan penurunan jembatan, terdengar suara berdentingan saat gerbang tembok baja mulai terbuka. Engsel-engsel bergerak dengan halus dan berat, mengungkapkan jalur masuk ke dalam Ibukota Benteng Selatan. Suara berdentingan tersebut memberikan kesan tangguh dan kokohnya struktur gerbang tersebut, menunjukkan betapa seriusnya pertahanan dan perlindungan yang ada di Ibukota Benteng Selatan.


Hegi dan Sofya merasa terkesima oleh pemandangan yang ada di hadapan mereka. Jembatan dan gerbang yang megah tersebut menjadi simbol awal perjalanan mereka ke dalam dunia yang baru, menandai tahap awal perubahan dalam hidup mereka. Suara gemuruh dan berdentingan tersebut juga memberikan kesan bahwa tak ada yang mudah atau instan dalam mencapai impian mereka. Tapi mereka siap menghadapi tantangan dan perubahan yang akan datang.


Di depan sana, Hegi dan Sofya melihat dua orang petugas yang merupakan tentara. Terdapat seorang tentara wanita yang tegap dengan seragam yang rapi dan serius memegang kendali di samping gerbang, sementara seorang tentara pria berdiri di sebelahnya dengan sikap waspada. Kehadiran mereka memberikan kesan keamanan dan profesionalisme yang kuat.


Dua orang tentara tersebut berjalan ke ujung jembatan di luar benteng, menunjukkan batas terdepan dari Ibukota Benteng Selatan. Setelah mereka mencapai ujung jembatan, dua tentara tersebut berhenti di posisi yang ditentukan, menjaga pintu gerbang dengan tegas.


Prajurit wanita, dengan sikap yang tegap dan penuh semangat, berdiri di hadapan calon prajurit yang berani, memberikan sambutan yang hangat dan membara. Suara lantangnya memenuhi udara, memberikan semangat dan harapan kepada mereka yang siap memasuki tahap berikutnya dalam perjalanan mereka.


"Selamat datang, para calon prajurit yang berani!" ucap prajurit wanita dengan suara yang terdengar kuat dan jelas. Suaranya menggema di antara para calon prajurit, memberikan semangat dan keyakinan kepada mereka.


"Ibukota Benteng Selatan menyambut kedatangan mu dengan tulus hati. Semoga perjalananmu membawa kesuksesan dan kemuliaan dalam menjalankan tugasmu."


Prajurit pria yang berdiri di samping prajurit wanita memberikan petunjuk dengan tegas dan jelas kepada calon prajurit mengenai pembagian kelompok berdasarkan jenis kelamin. Instruksinya bertujuan untuk memastikan kelancaran proses pendaftaran dan organisasi yang efisien.


Para calon prajurit dengan penuh kedisiplinan menjawab serempak, "Paham, Pak!" Suara mereka terdengar dengan suara yang kompak dan bersemangat, menunjukkan kesiapan mereka untuk mengikuti petunjuk dan memulai perjalanan mereka sebagai prajurit.


"Sepertinya kita akan berpisah," ucap Hegi dengan nada sedikit melankolis, menyadari bahwa saat ini mereka akan menjalani proses pendaftaran secara terpisah.


Sofya mengangguk sambil menatap Hegi dengan tatapan penuh kepercayaan. "Benar, sampai jumpa, Hegi. Aku yakin kau akan melaluinya dengan baik. Semoga kau lolos dan berhasil mencapai tujuanmu."


Hegi tersenyum, merasakan dukungan dan kepercayaan dari Sofya yang menghangatkan hatinya. "Sampai jumpa juga, Sofya. Aku percaya padamu juga. Kita akan saling mendoakan kesuksesan satu sama lain dalam perjalanan ini."


Pandangan mereka bertemu sejenak, mencerminkan kebersamaan mereka dalam petualangan ini. Mereka memahami bahwa saat ini tiba saatnya bagi mereka untuk memisahkan diri dan menjalani tahap pendaftaran sebagai individu yang berbeda. Namun, mereka juga tahu bahwa persahabatan dan dukungan mereka tetap kokoh dan akan melekat dalam hati mereka.


Hegi dan Sofya mengikuti perintah dengan cermat. Hegi bergabung dengan barisan laki-laki yang dipimpin oleh prajurit pria yang akan membimbing mereka dalam proses pendaftaran. Sementara itu, Sofya bergabung dengan barisan perempuan yang dipimpin oleh prajurit wanita yang akan memberikan arahan dan pengarahan kepada mereka.


...****************...


Sementara itu, Kapten Rachel dan Profesor Aster berada di atas bangunan markas pusat, mengamati pemandangan sekitar yang memperlihatkan kerumunan calon prajurit yang ingin mendaftar.


Dalam keheningan sejenak, Profesor Aster memulai percakapan untuk menyampaikan observasinya. "Sepertinya tahun ini banyak yang mendaftar," ucapnya dengan suara berpikir, mencermati jumlah calon prajurit yang hadir.

__ADS_1


Kapten Rachel mengangguk setuju, menyimak dengan seksama. "Benar, tapi kita hanya membuka pintu untuk sebagian dari mereka. Seleksi ketat diperlukan untuk memilih yang terbaik."


Profesor Aster mengangguk, menunjukkan pemahamannya terhadap keputusan tersebut. "Tentu saja, karena sebagian dari mereka yang terpilih akan ditempatkan di R&D untuk pengembangan teknologi baru. Mereka akan menjadi bagian penting dalam memajukan kemampuan militer dan menciptakan inovasi yang memperkuat Benteng Selatan."


Kapten Rachel menambahkan, "Kualitas dan kemampuan calon prajurit sangat penting untuk menjaga keunggulan dan keamanan negara kita. Kita harus memastikan bahwa mereka yang terpilih adalah yang terbaik dalam hal dedikasi, keberanian, dan kecerdasan."


Di tengah perbincangan mereka, tiba-tiba suasana di markas pusat berubah menjadi tegang dan penuh kekhawatiran saat suara menggelegar memenuhi seluruh sudut markas. Alarm peringatan yang berdentang mengiringi suara tersebut, memberi tahu akan adanya situasi darurat.


"Pengumuman, ini markas pusat Benteng Selatan. Ada serangan dari lima ekor Morsus yang mendekat ke Distrik Timur. Jarak mereka sekitar tiga kilometer. Guardian dimohon segera menuju lokasi," terdengar suara Lily, petugas di ruang kontrol Benteng Selatan, memberikan laporan tentang serangan yang mendadak.


Suara Lily terdengar kembali, kali ini dengan penekanan yang lebih kuat, "Ada serangan dari lima ekor Morsus yang mendekat ke Distrik Timur. Jarak mereka sekitar tiga kilometer. Guardian dimohon segera menuju lokasi." Pengumuman tersebut diulang sekali lagi untuk memastikan bahwa pesan tersebut sampai ke seluruh personel markas pusat.


Kapten Rachel dan Profesor Aster saling bertatapan, menyadari bahwa situasi mendesak membutuhkan tindakan segera. Mereka memahami pentingnya koordinasi dan kerjasama antara pasukan militer dan tim penelitian untuk menghadapi ancaman yang semakin meningkat dari Morsus.


"Akhir-akhir ini, intensitas serangan mereka semakin meningkat," ucap Profesor Aster sambil mengamati dengan serius kerumunan calon prajurit yang terus berdatangan. Ia menyadari bahwa melalui upaya bersama, mereka harus memperkuat pertahanan dan mengembangkan strategi yang lebih efektif untuk menghadapi Morsus.


Kapten Rachel mengangguk, "Benar, kita akan selalu menang. Tugas kita adalah melindungi Benteng Selatan dan warganya dari ancaman apapun. Maaf, saya harus pergi sekarang. Ada panggilan tugas yang harus saya hadapi." Dengan tekad yang kuat, ia meninggalkan Profesor Aster untuk menuju ruang kontrol dan memimpin pasukannya.


Profesor Aster menjawab dengan penuh semangat, "Baiklah, semoga kalian semua sukses dalam tugas kalian. Saya akan terus mendukung upaya kalian dari sini."


Kapten Rachel bergegas meninggalkan Profesor Aster dan menuju ruang kontrol. Tugasnya sebagai seorang kapten adalah memimpin pasukan dan merespons situasi darurat seperti serangan Morsus yang baru saja dilaporkan. Dengan langkah cepat dan hati yang penuh tekad, ia siap mengambil kendali situasi dan memimpin pasukan dalam melindungi Benteng Selatan.


...****************...


Hegi dan teman-temannya memasuki lingkungan dalam Ibukota Benteng Selatan dengan perasaan campur aduk antara gugup dan antusias. Mereka melangkah di antara bangunan-bangunan megah dan ruang terbuka yang dirancang dengan baik, mencerminkan kekuatan dan kecanggihan militer yang ada di dalam benteng.


Saat mereka melewati Markas Pusat, mereka dapat melihat aktivitas yang sibuk dan serius. Prajurit dengan seragam rapi bergerak dengan cepat, menjalankan tugas dan koordinasi yang diperlukan untuk menjaga keamanan dan kelancaran operasional benteng. Hegi dan teman-temannya tidak bisa menyembunyikan rasa kagum mereka saat melihat keprofesionalan dan dedikasi yang terpancar dari setiap individu di dalam markas.


Tidak jauh dari Markas Pusat, mereka juga melihat Laboratorium R&D, tempat penelitian dan pengembangan teknologi terkini dilakukan. Gedung tersebut dipenuhi dengan peralatan canggih dan para ilmuwan yang tengah mengerjakan proyek-proyek inovatif.


Saat mereka berada di dalam benteng pusat, tiba-tiba terdengar suara alarm yang berdenting-denting, menggetarkan udara di seluruh area. Calon prajurit seketika berhenti dan memandang satu sama lain dengan kebingungan yang jelas terpancar dari wajah mereka.


Ketegangan terasa di udara, namun segera diikuti oleh pengumuman dengan suara keras yang mencapai telinga semua calon prajurit di sekitar.


"Apa itu tadi?" tanya seorang calon prajurit dengan kebingungan, suaranya dengan cepat terdengar oleh prajurit pria yang ada di sekitar.


Prajurit pria itu menjawab dengan santai, "Itu tadi pengumuman bahaya. Kalian nanti akan sering mendengarnya di seluruh benteng. Jangan khawatir, itu adalah bagian dari kehidupan di sini."


Calon prajurit yang lain mengangguk memahami, tetapi masih merasakan kebingungan. "Tapi apa yang terjadi Mengapa ada pengumuman bahaya?"


Prajurit pria menjelaskan dengan penuh perhatian, "Biasanya, pengumuman bahaya akan dikeluarkan ketika ada ancaman dari luar atau situasi darurat di sekitar Benteng Selatan. Ini adalah tanda bahwa kita harus siap siaga dan mengambil tindakan yang diperlukan. Namun, jangan khawatir, ada sistem keamanan dan pertahanan yang kuat di sini. Kalian akan mendapatkan pelatihan yang memadai untuk menghadapi situasi semacam itu."

__ADS_1


Saat mereka berbincang, lima helikopter terlihat melintasi langit. Helikopter-helikopter tersebut dikerahkan dalam tugas yang belum diketahui oleh calon prajurit. Pemandangan ini memberikan kesan betapa aktifnya kehidupan di dalam Ibukota Benteng Selatan, dengan misi dan operasi yang berlangsung di setiap sudutnya.


Hegi dan teman-temannya mengamati dengan rasa kagum dan harap-harap cemas, siap menghadapi tantangan dan tugas apa pun yang mungkin menanti mereka di dalam benteng ini.


__ADS_2