Guardian Of The Last Bastion

Guardian Of The Last Bastion
Chapter 07: Kehilangan dan Basilica


__ADS_3

2235


Benteng Selatan


Jumlah Populasi 3.536.726


Tak lama setelah ia mengucapkan kata-kata tersebut, tubuh Ethan terjatuh dengan keras. Ia tersungkur di tanah, memeluknya dengan erat, sedangkan darah mengalir deras dari tubuhnya. Dalam pertempuran itu, Ethan ternyata telah menderita luka yang sangat parah. Cahaya pedang Lighblade yang ia genggam mulai memudar, menandakan bahwa energi yang dimilikinya telah habis.


Amelia, yang berada di dekat Ethan, tidak bisa menahan rasa khawatir dan kesedihan yang meluap dalam hatinya. Dia berteriak histeris, "ETHANNN!" Teriakan itu membuyarkan keheningan fajar yang baru saja menyapa dunia. Semua guardian yang berada di sekitarnya merasakan kepedihan mendalam atas kehilangan komandan dan teman-teman mereka.


Para guardian segera berkerumun di sekitar Ethan, memeriksa luka-lukanya dengan cemas. Amelia, sambil menahan air mata, berlutut di sampingnya, memegang tangannya dengan lembut. "Ethan, bertahanlah! Kami akan segera memanggil bantuan medis," ucapnya dengan suara gemetar.


Dalam keadaan yang lemah, Ethan mencoba tersenyum dan berbicara dengan napas yang terengah-engah, "Jaga... Benteng Selatan... dan para pengungsi... Lindungi mereka... Aku percaya pada kalian..." Kata-kata terakhirnya terucap dengan susah payah sebelum kelelahan menyergapnya dan ia kehilangan kesadaran.


Amelia menangis tersedu-sedu, sambil mengepalkan tangannya. "Kami tidak akan pernah melupakanmu, Ethan. Kami akan menjaga apa yang telah kau mulai dan memastikan pertempuran ini tidak sia-sia," ucapnya dengan penuh keberanian.


...****************...


Beberapa saat sebelum ini terjadi


Di dalam ruang kontrol yang terletak di markas pusat, Kapten Rachel dan para prajurit teknisi sibuk memberikan arahan dan perintah kepada para guardian. Wajah-wajah mereka penuh konsentrasi saat mereka berusaha mengatasi pertempuran yang semakin berat dan situasi yang condong ke arah musuh. Tiba-tiba, pintu ruang kontrol terbuka, dan seseorang memasuki ruangan itu - Profesor Aster, seorang pemimpin di departemen penelitian dan pengembangan.


"Profesor Aster, apa yang Anda lakukan di sini?" tanya Kapten Rachel dengan keheranan, mencoba memahami kehadiran yang tak terduga ini.


"Kapten, izinkan saya menguji senjata yang baru saja kami ciptakan. Momen ini sangat tepat untuk melakukannya," jawab Profesor Aster dengan penuh semangat.


Kapten Rachel menatap profesor dengan rasa ingin tahu yang besar. "Senjata? Apa yang Anda maksud?"

__ADS_1


Profesor Aster berjalan dengan mantap menuju sisi kanan ruang kontrol, di mana Lily duduk, sibuk memantau situasi pertempuran.


"Kapten, ikuti saya," kata Profesor Aster, mengarahkan Kapten Rachel ke arah itu. "Tim R&D baru saja menyelesaikan pengembangan senjata baru yang revolusioner ini. Senjata ini merupakan versi terbaru dari Lightblade yang kita miliki. Jika berhasil, senjata ini akan menjadi senjata portable yang dapat digunakan oleh setiap guardian."


Kapten Rachel mengangguk, terkesan dengan potensi senjata baru ini. "Baiklah, lakukan apa pun yang perlu untuk kebaikan kita semua."


Profesor Aster memandang Lily dengan penuh harap. "Lily, tekan tombol yang berada di sebelah kirimu, yang berwarna biru." Lily menganggukkan kepala, menunjukkan keterampilan dan kepercayaan dirinya. "Baik, Profesor. Saya akan segera melakukannya."


Dengan keahlian yang terampil, Lily menekan tombol tersebut. Seketika, lampu-lampu di ruangan berkedip-kedip dalam serangkaian pola yang menarik. Dengan sigap, Lily juga menekan tombol lain untuk mengaktifkan senjata baru ini.


Di luar markas, delapan objek berbentuk oktahedron muncul secara simultan dari sudut-sudut tembok terluar benteng. Objek-objek itu teratur tersusun dalam formasi yang kuat dan siap. "Apa yang harus dilakukan selanjutnya, Profesor?" tanya Lily dengan antusiasme, memperhatikan objek-objek tersebut dengan ketertarikan. Profesor Aster dengan senyum bangga melihat hasil karyanya. "Tekan saja tombol itu," ujarnya, menunjuk tombol lain pada panel kontrol yang berdekatan.


Dengan hati berdebar, Lily memencet tombol yang ditunjukkan oleh Profesor Aster. Dan pada saat itu, salah satu dari delapan objek tersebut mengeluarkan cahaya yang kuat. Cahaya tersebut dengan cepat meluncur menuju medan pertempuran, menyisakan kegelapan yang tak terbayangkan sebelumnya. Lampu-lampu di sekitar kota padam, dan hanya cahaya dari objek tersebut yang menerangi area tersebut.


"Profesor, apa yang terjadi?" tanya Kapten Rachel dengan penuh keingintahuan, terpesona oleh efek dramatis yang dihasilkan oleh senjata baru ini.


Kapten Rachel mendengarkan dengan penuh perhatian. Tatapannya terfokus pada Profesor Aster yang menjelaskan tentang senjata baru ini.


"Namun, perlu Anda ketahui, Kapten," sambung Profesor Aster dengan serius, "senjata Basilica memerlukan energi yang sangat besar. Itulah sebabnya listrik di seluruh kota menjadi padam dan hanya satu yang dapat digunakan. Simpelnya, senjata ini hanya dapat digunakan pada saat-saat tertentu saja."


Kapten Rachel mengernyitkan dahi, menyadari betapa krusialnya penggunaan senjata ini. "Jadi, energi yang dibutuhkan untuk mengaktifkan Basilica sangat besar sehingga harus mematikan pasokan listrik di kota. Ini adalah langkah yang berisiko, tetapi jika senjata ini dapat memberikan keunggulan strategis bagi kita, kita harus berani mengambil risiko."


Profesor Aster mengangguk setuju. "Anda benar, Kapten. Kita harus menggunakan Basilica dengan bijaksana dan hanya dalam situasi yang paling penting. Setiap penggunaan senjata ini harus dipertimbangkan dengan matang."


Kapten Rachel menatap ke arah medan pertempuran, yang kini hanya disinari oleh cahaya yang dipancarkan oleh Basilica. Dia merenung sejenak, menilai kemungkinan penggunaan senjata ini.


"Kami harus membuat keputusan dengan hati-hati," ucap Kapten Rachel dengan tekad yang bulat. "Kita akan mengatur jadwal penggunaan Basilica sesuai dengan kebutuhan kita. Saat-saat di mana kita benar-benar membutuhkan keunggulan cahaya ini."

__ADS_1


Para prajurit teknisi di ruang kontrol memberikan pengakuan dengan anggukan setuju. Mereka menyadari pentingnya strategi dan kesiapan dalam menggunakan senjata yang begitu kuat ini.


"Profesor, kita perlu mengembangkan rencana penggunaan Basilica yang efektif. Kita akan melibatkan para komandan dan guardian lainnya dalam pembahasan ini," tambah Kapten Rachel dengan serius.


Profesor Aster mengangguk, setuju dengan pendekatan ini. "Tentu, Kapten. Saya akan membantu dalam merencanakan penggunaan senjata ini secara strategis. Kita harus memastikan bahwa setiap penggunaan Basilica memberikan dampak yang maksimal dalam pertempuran."


Profesor Aster mengangguk kepada Kapten Rachel dengan rasa terima kasih yang tulus. "Terima kasih, Kapten Rachel, atas kepercayaan Anda dalam menguji senjata ini. Saya akan bekerja keras untuk mengembangkan versi portabel dari senjata Basilica ini."


Kapten Rachel mengulurkan tangan untuk berjabat dengan profesor. "Terima kasih, Profesor Aster. Upaya Anda dalam mengembangkan teknologi yang dapat membantu kita melawan musuh sangat dihargai. Versi portabel dari Basilica ini akan menjadi aset berharga bagi pasukan kita."


Profesor Aster tersenyum dan mengangguk. "Saya akan melibatkan Tim R&D untuk bekerja sama dalam pengembangan versi portabel ini. Tujuan kami adalah membuat senjata yang dapat dengan mudah digunakan oleh setiap guardian. Kami akan memastikan kekuatan dan efektivitasnya tetap optimal dalam ukuran yang lebih praktis."


Kapten Rachel merasa lega mendengar komitmen dari Profesor Aster. "Kami menaruh harapan besar pada Anda dan tim Anda, Profesor. Versi portabel dari Basilica ini dapat menjadi perangkat yang sangat berharga dalam pertempuran kita melawan musuh yang gelap dan ganas."


Profesor Aster mengangguk sekali lagi, menunjukkan tekadnya. "Anda dapat mengandalkan kami, Kapten. Kami akan bekerja keras untuk mencapai tujuan ini."


Setelah berterima kasih sekali lagi, Profesor Aster meninggalkan ruang kontrol dengan semangat yang tinggi, Dia siap memulai langkah berikutnya dalam pengembangan senjata Basilica. Kapten Rachel melihat kepergian Profesor Aster dengan harapan yang tumbuh dalam hatinya. Dia yakin bahwa dengan pengembangan versi portabel Basilica, kekuatan dan perlindungan pasukan akan semakin meningkat.


Kapten Rachel kembali fokus pada situasi pertempuran yang sedang berlangsung. Dia merasa yakin bahwa meskipun tantangan semakin besar, pasukannya memiliki alat yang akan membantu mereka menghadapinya. Dengan semangat yang berkobar, Kapten Rachel bersiap untuk memimpin para guardian dalam pertempuran yang akan datang, dengan keyakinan bahwa masa depan yang lebih terang menanti mereka.


...****************...


Kembali ke masa sekarang


Pertempuran di sungai utara akhirnya berakhir, dengan kemenangan yang diraih oleh para guardian. Namun, kemenangan ini tidak datang tanpa pengorbanan. Komandan Ethan dan beberapa guardian lainnya menjadi korban dalam pertempuran ini, meninggalkan kesedihan mendalam di antara rekan-rekan mereka.


Setelah pertempuran usai, tim evakuasi segera dikerahkan. Helikopter dari markas pusat dikirim untuk membantu dalam proses evakuasi. Mereka bergerak dengan cepat, siap untuk menyelamatkan dan memberikan perawatan kepada para guardian yang terluka dan membutuhkan bantuan.

__ADS_1


Para prajurit medis yang ahli segera melakukan tindakan darurat. Mereka dengan penuh perhatian merawat dan mengobati para guardian yang terluka, memberikan perawatan yang diperlukan untuk memulihkan kondisi mereka.


__ADS_2