
2235
Benteng Selatan
Jumlah Populasi 3.536.756
Dalam kegelapan malam yang mencekam, para guardian yang berada di outpost yang terletak lima ratus meter di luar benteng. Mereka menunggu instruksi dari Kapten Rachel yang berada di markas pusat. Ethan, salah seorang komandan, tidak sabar untuk mengetahui rencana selanjutnya.
"Ethan, sabarlah. Kapten pasti memiliki rencana yang matang," kata seorang guardian dengan penuh keyakinan. Namun, kekhawatiran Ethan terus tumbuh. Dia menghela nafas dalam-dalam sebelum akhirnya tidak bisa menahan diri dan bertanya menggunakan alat komunikasi di telinganya, "Kapten, bagaimana rencananya?"
Kapten Rachel menjawab dengan suara yang tegas dan penuh kepercayaan diri, ia menjelaskan langsung kepada seluruh pasukan, "Baiklah, saya akan menjelaskan
rencananya. Dari tiga puluh lima tim ini, kita akan membentuk tiga kelompok besar. Setiap kelompok akan menghadapi sekitar enam belas musuh. Kalian akan terbagi menjadi tim utara, barat laut, dan timur laut. Hal ini dilakukan untuk menghindari pemusatan musuh di satu titik yang bisa mengancam kelompok kita."
Ethan mengangguk, mencoba meredakan ketegangan dalam dirinya. "Baik, kami siap melaksanakan rencana itu, Kapten."
Namun, tepat saat Kapten Rachel akan melanjutkan penjelasannya, suara Lily, seorang teknisi cerdas yang terampil, memotong pembicaraan mereka. "Kapten, sepertinya musuh mulai menjauhi benteng."
Kapten Rachel terkejut mendengarnya. "Apa? Bagaimana bisa mereka menjauh? Apakah mereka mengetahui rencana kita?"
Lily dengan cepat menjelaskan, "Saya tidak begitu yakin mereka mengetahui rencana kita. Tetapi, menurut pemantauan saya, mereka semakin menjauh dan tampaknya bergerak menuju arah sungai di sebelah utara."
Kapten Rachel merenung sejenak, mencoba memahami situasi yang tak terduga ini. "Lily, kirimkan drone pengintai ke arah musuh segera. Saya ingin melihat apa yang membuat mereka menjauhi benteng, ini merupakan hal yang tidak wajar."
Dengan sigap, Lily mengoperasikan drone dan mengirimkannya ke arah musuh. Saat drone mendekati sungai, gambaran kapal-kapal pengungsi muncul di layar monitor.
Kapten Rachel menggigit bibirnya dengan kekhawatiran yang mendalam. "Gawat, Kapten! Sepertinya musuh akan menyerang kapal pengungsi yang sedang mendekat," ucap Lily dengan nada cemas.
"Ini tidak sesuai perhitungan. Seharusnya mereka tiba di pagi hari, kenapa mereka bisa tiba sekarang?" kata Kapten Rachel, berusaha memahami perubahan rencana musuh.
__ADS_1
Tanpa ragu, Kapten Rachel mengambil keputusan cepat dan mengumumkan dengan suara tegas, "Para Guardian, apakah kalian mendengar? Segera menuju utara ke arah kapal pengungsi. Prioritas utama kalian adalah menyelamatkan mereka. Mereka adalah manusia seperti kita, dan kita harus melindungi mereka."
Para guardian dengan cepat merespons perintah Kapten Rachel. Mereka bergerak maju dalam kegelapan malam dengan kecepatan yang tinggi, meninggalkan outpost mereka dengan hati penuh harapan dan tekad yang kuat.
Dalam langkah-langkah mereka yang cepat, ketiga puluh lima tim guardian bergerak tergesa-gesa. Mereka melintasi tanah lapang, melompati rintangan, melintasi sungai yang deras, dan melewati medan yang sulit tanpa ragu sedikit pun. Setiap langkah mereka adalah langkah menuju keselamatan dan perlindungan bagi kapal-kapal pengungsi yang terancam.
Saat mereka semakin mendekati kapal-kapal pengungsi, suara jeritan dan erangan yang mengerikan mulai terdengar di kejauhan. Para pengungsi yang terjebak dalam ketakutan membutuhkan bantuan dengan segera.
Para guardian menyadari bahwa waktu adalah faktor yang krusial dalam misi penyelamatan ini. Tanpa ragu, mereka mengintensifkan langkah mereka, meningkatkan kecepatan untuk mencapai kapal-kapal tersebut dengan lebih cepat.
Kapten Rachel menyadari bahwa perlindungan para pengungsi harus segera diberikan. Dia memberikan perintah dengan suara tegas melalui alat komunikasi, "Guardian, aktifkan senjata kalian sekarang!"
"Baik, Kapten!" serentak terdengar jawaban dari para guardian.
Dalam sekejap, para guardian mengaktifkan senjata mereka yang disebut Lightblade. Gagang pedang di tangan mereka mulai menyala dengan cahaya yang terang,
Setiap guardian mempunyai pedang cahaya mereka dengan warna yang berbeda-beda. Senjata ini memancarkan energi yang tinggi, mampu melawan dan melindungi mereka dari ancaman monster ganas.
"Para Guardian, dengarkan dengan baik," ucap Kapten Rachel dengan suara yang tegas dan penuh kepercayaan diri. "Kita akan membagi pasukan menjadi dua kelompok. Dua puluh lima tim akan melawan monster Morsus yang mengancam benteng ini, sementara sepuluh tim lainnya akan bertugas melindungi kapal pengungsi. Misi utama kita adalah menghancurkan ancaman monster Morsus dan menyelamatkan pengungsi yang terjebak dalam bahaya. Setiap pasukan memiliki tugas penting dalam misi ini. Siapkan diri kalian dan bertindak dengan keberanian. Bersatu kita kuat!"
"Siap, Kapten!" terdengar seruan tegas dari para guardian. Suara-suara itu penuh keyakinan dan determinasi.
Para guardian dengan cepat merespons perintah Kapten Rachel. Dalam gelapnya malam, mereka bergerak menuju tujuan mereka masing-masing. Dua puluh lima tim yang dipimpin oleh Ethan dan beberapa komandan lainnya mempersiapkan diri untuk melawan monster Morsus yang ganas.
Sementara itu, sepuluh tim lainnya dipimpin oleh seorang komandan yang berpengalaman, Amelia. Mereka bergerak menuju kapal-kapal pengungsi yang berada dalam ancaman. Tujuan mereka adalah melindungi pengungsi dan menyediakan perlindungan bagi mereka.
Ethan dan kelompoknya tiba di tempat pertempuran terlebih dahulu. Mereka membentuk formasi yang solid dan siap menghadapi serangan monster. Lightblade mereka berkedip-kedip dengan sinar yang memancarkan kepercayaan dan kekuatan.
Ethan melompat maju, pedang cahayanya berkilauan saat dia memotong monster pertama. "Jaga formasi! Serang dengan koordinasi yang baik!" teriak Ethan kepada timnya.
__ADS_1
Sementara itu, di front yang lain, Amelia dan timnya berhadapan dengan beberapa monster Morsus yang besar dan kuat. Mereka membentuk formasi melingkar di sekitar kapal-kapal pengungsi, siap menghadapi serangan yang datang dari segala arah.
Amelia memandang ke sekeliling dengan serius. "Jaga barisan! Jangan biarkan mereka mendekat! Lindungi para pengungsi dengan segala yang kita punya!"
Para anggota tim mengangguk dan memposisikan diri mereka dengan hati-hati. Mereka menyerang para monster Morsus dengan serangan bertubi-tubi, saling melindungi satu sama lain.
Amelia memimpin serangan dengan penuh keberanian. Dia menggunakan pedang cahayanya dengan keahlian yang luar biasa, membelah monster-monster itu dengan gerakan yang cepat dan presisi. Timnya bergerak dengan kekompakan yang luar biasa, saling melindungi satu sama lain dan menyerang dengan serangan yang terkoordinasi.
Pertempuran berlangsung sengit di kedua pihak selama berjam-jam. Suara benturan senjata, sorakan, dan jeritan pertempuran memenuhi udara, menciptakan suasana tegang yang mencekam. Namun, meski keberanian dan upaya yang tak kenal lelah, para guardian mulai merasa terdesak. Monster-monster Morsus terus menerjang, melancarkan serangan bertubi-tubi. Luka-luka mulai terasa, kelelahan mulai menghantui, dan pasukan guardian semakin terpencar.
Ethan, yang masih tegar, memandang sekelilingnya dengan hati yang berat. Dia melihat rekan-rekannya jatuh satu per satu di medan pertempuran. Kehilangan itu memenuhi hatinya dengan duka yang mendalam, tetapi dia tahu bahwa mereka telah memberikan segalanya untuk melindungi yang lemah.
Namun, ketika semuanya tampak putus asa, terdengar suara gemuruh yang menggema dari kejauhan. Tiba-tiba, sebuah bola cahaya yang terang dan memukau muncul dari arah Benteng Selatan dengan kecepatan yang luar biasa. Bola cahaya itu memancarkan energi yang membara, menghancurkan beberapa monster Morsus dengan ledakan yang dahsyat. Serpihan-serpihan kegelapan terpental ke segala arah, dan medan pertempuran dipenuhi dengan sinar yang menyilaukan.
Sinar cahaya yang membara memenuhi medan pertempuran, mengusir kegelapan dan mengejutkan para monster Morsus. Terbakar oleh kekuatan bola cahaya itu, beberapa monster terkapar dan lenyap dalam kilatan cahaya yang melingkupi mereka.
Ethan dan pasukannya melihat peluang ini sebagai momen emas. Dengan semangat yang membara, mereka meluncur maju ke arah monster-monster Morsus yang terpukul. Lightblade mereka bersinar terang, menghujam kegelapan dan melawan kekuatan jahat yang mengancam.
"Ethan, inilah saatnya kita mengakhiri mereka!" seru salah satu anggota tim dengan penuh semangat.
Ethan mengangguk, "Kita tidak boleh memberi mereka kesempatan!"
Para guardian merasa semangat yang membara menyala di dalam diri mereka. Mereka tahu bahwa saat ini adalah momen penentuan, saat mereka harus menyelesaikan pertempuran ini dengan keberanian dan kekuatan penuh.
Dalam sekejap, medan pertempuran berubah menjadi kemenangan bagi para guardian. Monster-monster Morsus yang tersisa terkapar dan terluka di tanah yang berlumuran darah. Kemenangan ini adalah bukti nyata akan kekuatan, keberanian, dan kerjasama para guardian di Benteng Selatan.
Amelia dan timnya bergabung dengan Ethan, wajah mereka berseri-seri. Sorak-sorai kegembiraan terdengar di antara mereka. "Kalian luar biasa! Cahaya itu benar-benar mengubah jalannya pertempuran," ucap Amelia dengan penuh pengagungan.
Ethan tersenyum rendah hati sambil tertawa. "Kami memang beruntung mendapatkan perlindungan tak terduga ini. Tetapi jangan lupa bahwa kekuatan sejati ada di dalam diri kita sendiri. Sebenarnya, kita adalah monster yang sesungguhnya!"
__ADS_1