Guardian Of The Last Bastion

Guardian Of The Last Bastion
Chapter 52: Liburan Di Distrik Utara


__ADS_3

2240


Distrik Utara Benteng Selatan


Jumlah Populasi 4.044.680


Saat mereka tengah berbincang-bincang di bawah langit malam yang penuh bintang, suara gemerisik air sungai yang tenang menjadi latar belakang alami bagi percakapan mereka.


Namun, tiba-tiba Noy menghentikan pembicaraan dan beranjak masuk ke dalam rumahnya dengan cepat, meninggalkan Hegi yang merasa sedikit bingung dengan situasi tersebut.


Hegi duduk sendirian di balkon, menatap pintu rumah yang tertutup. Ia merasa heran dengan tindakan Noy yang begitu mendadak. Mungkin ada sesuatu yang perlu diurus oleh Noy, pikir Hegi.


Sambil menunggu Noy kembali, Hegi kembali memandangi malam yang indah dan bersahabat. Dalam kesunyian malam, ia mendengarkan suara riak-riak air sungai yang tetap memanjakan telinganya.


Tak lama kemudian, Noy muncul kembali dari dalam rumah dengan wajah ceria. Ia membawa sebuah kotak besar yang terbungkus rapi.


"Maaf, tadi ada hal yang harus kutangani sebentar. Ayo, aku punya sesuatu untukmu," ucap Noy sambil tersenyum lebar, lalu ia duduk kembali di samping Hegi.


Hegi tersenyum keheranan dan bertanya, "Ada apa dengan kotak itu?"


Noy hanya tersenyum misterius sambil memberi kotak besar tersebut kepada Hegi. "Bukalah," ujarnya dengan penuh semangat.


Hegi memandangi kotak besar itu dengan rasa keheranan dan penasaran. Setelah membuka tutupnya, matanya memancarkan kegembiraan saat melihat isi kotak itu: teleskop. Hatinya berdesir dengan kebahagiaan karena Noy begitu memperhatikan minatnya terhadap bintang.


"Aku... Aku tidak tahu harus berkata apa," ucap Hegi dengan suara lirih, matanya masih terpaku pada teleskop yang terletak di tangannya.


Noy tersenyum puas melihat reaksi Hegi. "Aku tahu betapa kau menyukai bintang-bintang dan langit malam. Jadi, aku pikir teleskop ini mungkin bisa membuatmu semakin dekat dengan apa yang kau cintai."


Hegi akhirnya menoleh ke arah Noy dengan wajah berbinar. "Ini adalah salah satu hadiah terbaik yang pernah kuterima, Noy. Terima kasih banyak."


Noy hanya mengangguk dan tersenyum. "Tidak perlu berterima kasih. Aku senang kau suka."


Kedua sahabat itu melanjutkan waktu mereka di balkon, kali ini dengan teleskop di samping mereka. Hegi dengan antusias menggunakan teleskop tersebut untuk melihat bintang dan planet di langit malam yang gelap. Noy duduk di sampingnya, ikut menikmati momen yang tenang dan istimewa itu.


Tidak terasa, waktu pun berlalu. Keduanya masih duduk di balkon, mengamati langit malam yang terus berubah. Sesaat, Hegi berbalik dan menatap Noy dengan senyuman. "Terima kasih, Noy. Hari ini adalah hari yang luar biasa."


Noy membalas senyuman Hegi. "Sama-sama, Hegi. Aku senang bisa berbagi momen ini denganmu."


Malam itu, di bawah langit berbintang, mereka menemukan kebahagiaan dalam kesederhanaan momen bersama, di antara keajaiban alam yang menghiasi langit malam.


Saat tubuh mereka mulai menunjukkan tanda kelelahan, Hegi beberapa kali menguap, dan Noy juga terlihat mengantuk. Saat itulah Noy akhirnya mengatakan, “Mau tidur di luar atau di dalam, Hegi?”


Hegi tersentak kaget, masih memandangi langit malam. Ia merenung sejenak sebelum akhirnya menjawab, “Emm, pilihan yang sulit. Tapi mungkin lebih nyaman jika kita tidur di dalam. Suhu malam bisa jadi cukup dingin.”


Noy mengangguk setuju. “Baik, ayo kita masuk.”


Mereka berdua beranjak dari tempat duduk mereka di balkon dan memasuki rumah. Di dalam, suasana rumah yang tenang memberikan kenyamanan. Mereka pun bersiap-siap untuk tidur, mengikuti tanda-tanda kelelahan yang sudah mereka rasakan sebelumnya.


Saat sedang berjalan di dalam rumah, Noy mengatakan dengan lembut, “Kau tidur di kamar ku, dan aku akan tidur di kamar orang tuaku.”


Hegi hanya mengangguk mengerti, rasa kantuk semakin memengaruhi pikirannya. Dengan langkah lelah, ia mengikuti Noy menuju kamar yang dimaksud.


Di dalam kamar itu, suasana yang tenang dan nyaman seolah memanggilnya untuk segera terlelap. Tanpa banyak kata, Hegi segera melepas alas kaki dan merangkak masuk ke tempat tidur. Dalam sekejap, matanya terpejam dan perlahan ia terlelap dalam tidur yang nyenyak.

__ADS_1


Noy pun berjalan ke kamar lainnya, kamar yang kini sudah ditinggalkan oleh orang tuanya. Ia merasa campuran antara kesedihan dan rasa nostalgia. Melihat tempat-tempat di rumah ini, mengingatkannya pada kenangan masa lalu bersama keluarganya.


Namun, ia juga merasa bahagia karena sekarang dia memiliki teman seperti Hegi yang bisa berbagi momen-momen indah di rumah ini.


Tidak lama setelah masuk ke dalam kamar, Noy merasa kelelahan menghampirinya. Ia melepas pakaian sehari-harinya dan mengenakan pakaian tidur.


Tanpa banyak pikir, ia merentangkan tubuhnya di atas tempat tidur. Matanya terpejam, dan dalam sekejap, ia pun tenggelam dalam alam mimpi yang membawanya menjelajahi dunia imajinasi.


...****************...


Suara aktivitas di Distrik Utara membangunkan Hegi dari tidurnya. Kali ini, bukan suara alarm seperti yang biasa terdengar di asrama mereka.


Ia menggosok-gosok matanya dan melangkah menuju balkon, tempat di mana mereka berdua menghabiskan malam kemarin. Kamar Noy berada di lantai atas rumah, sementara Noy tidur di kamar bawah.


Ketika Hegi tiba di balkon, cahaya matahari mulai menyinari langit di timur. Udara segar dan sejuk menyapa wajahnya. Ia menghela nafas dalam-dalam, merasakan keindahan pagi yang bersemayam di Distrik Utara. Suara orang-orang yang sibuk dengan aktivitas sehari-hari mengisi udara, menciptakan suasana hidup di kawasan tersebut.


Hegi memandang sekeliling, mengingat kembali momen-momen yang mereka lewati bersama semalam. Hati dan pikirannya berbunga-bunga. Meskipun masih mengantuk, ia merasa segar dan penuh semangat.


Setelah menghirup udara pagi yang menyegarkan, ia pun memutuskan akan kembali ke dalam rumah untuk bersiap menghadapi hari yang baru.


Sambil mengamati kegiatan yang semarak di Distrik Utara, tiba-tiba perhatian Hegi tertuju pada sesuatu yang menarik. Di tengah aliran sungai, muncul sebuah kapal besar yang jelas terlihat sebagai kapal militer. Bentuk dan ukurannya menegaskan identitasnya.


Hegi menatap kapal tersebut, merasa tertarik dengan kehadirannya. Tak hanya dirinya, orang di sekitarnya juga merasakan perubahan suasana.


Aktivitas di pinggir sungai tampak berhenti sejenak, sebagai tanda penghormatan terhadap kapal militer yang melintas. Hegi merasa kagum melihat bagaimana kapal itu melaju dengan gagah dan kokoh di atas sungai yang tenang.


Suasana hening mengiringi kepergian kapal tersebut. Matahari pagi memberikan kilauan khusus pada permukaan air, menciptakan pemandangan yang dramatis.


Setelah kapal itu melewati area tempat Hegi berada, suasana pun kembali normal. Orang-orang melanjutkan aktivitas mereka, tapi kali ini dengan aura penghormatan yang masih terasa.


Hegi masih tetap memandangi kapal yang semakin menjauh, merenungkan makna dari peristiwa tadi dan mengagumi semangat yang tercermin dari setiap sudut kapal militer yang gagah.


Sambil terpaku pada jejak kapal yang semakin menjauh, Hegi tiba-tiba merasa sentuhan hangat di pundaknya. Ia terkejut dan segera memalingkan pandangannya, hanya untuk menemukan Noy yang berdiri di sampingnya. Senyum lembut Noy menyambut Hegi.


"Selamat pagi, Hegi. Apa yang sedang kau lihat?" tanya Noy dengan rasa ingin tahu yang jelas terpancar dari wajahnya.


Hegi merasa sedikit malu karena terpergok dalam momen lamunannya. Hegi menghela nafas pelan, lalu mengalihkan pandangannya kembali ke sungai yang kini sudah tidak ada jejak kapal.


"Tadi ada kapal militer besar yang lewat di sungai," jawabnya, masih terkesan oleh pemandangan yang baru saja dia saksikan.


Keduanya melanjutkan bincang-bincang di bawah langit pagi yang cerah. Suasana damai dan penuh semangat terasa begitu nyata di antara mereka, seperti udara segar pagi yang mengisi paru-paru mereka. Mereka saling mengobrol, merasakan kedekatan dalam percakapan mereka.


Sementara itu, sungai terus mengalir dengan ketenangan, mengingatkan mereka tentang perjuangan yang tak pernah berhenti. Suara gemericik air sungai seperti musik alami yang menemani obrolan mereka.


Hegi dan Noy merasa seperti mereka berdua adalah bagian dari alam ini, terhubung dengan aliran waktu yang tak terelakkan.


Berteman dengan langit yang cerah dan sungai yang tenang, mereka merasa begitu hidup di saat itu. Mereka merasa bersyukur atas momen seperti ini, yang mengingatkan mereka akan arti penting persahabatan, petualangan, dan keseimbangan dalam hidup.


Saat sinar matahari membuat bayangan rumah Noy menjadi lebih pendek, Noy mengajak Hegi untuk keluar dan pergi memancing. Karena perut mereka belum terisi sarapan, Hegi dengan antusias setuju dengan ajakan tersebut.


Dengan semangat yang membara, mereka mulai bersiap-siap untuk memulai petualangan baru di tepi sungai yang tenang.


Mengenakan pakaian nyaman dan membawa peralatan memancing, mereka berjalan bersama menuju tepi sungai. Kaki mereka terasa ringan, diiringi dengan harapan untuk mendapatkan hasil yang baik.

__ADS_1


Seiring mereka mendekati sungai, suara gemericik air semakin terdengar jelas, seakan mengundang mereka untuk merasakan kedamaian aliran sungai yang mengalir dengan lembut.


Tiba di tepi sungai, mereka menemukan tempat yang nyaman untuk duduk. Noy mengeluarkan peralatan memancing dari tasnya sambil menjelaskan beberapa trik dan teknik kepada Hegi.


Meskipun Hegi belum terlalu terampil dalam hal memancing, ia mendengarkan dengan seksama dan mencoba memahami setiap instruksi yang diberikan oleh Noy.


Mereka melemparkan umpan ke air, menunggu dengan penuh kesabaran. Waktu terasa berjalan lebih lambat saat mereka fokus pada mata kail yang terapung di permukaan sungai.


Sambil menunggu, mereka terus berbincang tentang berbagai hal, mulai dari pengalaman di Benteng Selatan hingga harapan mereka untuk masa depan.


Saat matahari semakin tinggi di langit, Hegi tiba-tiba merasakan getaran pada tali pancingnya. Ia dengan cepat mengangkat pancingannya dengan penuh konsentrasi, dan betapa terkejutnya ia ketika melihat ikan yang berhasil ditangkapnya.


Noy tidak kalah antusias, mereka berdua sangat bergembira dengan tangkapan pertama Hegi. Petualangan memancing mereka berlanjut dengan keceriaan dan tawa.


Meskipun mereka hanya berhasil menangkap beberapa ikan, namun pengalaman itu sangat berharga bagi keduanya. Mereka merasa lebih dekat satu sama lain, menguatkan ikatan persahabatan mereka dalam momen-momen sederhana seperti ini.


Ketika matahari sudah agak tinggi di langit, mereka memutuskan untuk beristirahat sejenak. Mereka duduk di tepi sungai, menikmati keindahan alam di sekitar mereka.


Cahaya matahari yang lembut memantulkan warna-warni air sungai, sebuah pemandangan yang menakjubkan. Dalam keheningan yang nyaman, mereka merasakan kedamaian dan ketenangan dari alam yang mengelilingi mereka.


Setelah beberapa saat beristirahat dan mengobrol ringan, mereka merasa lapar dan memutuskan untuk kembali ke rumah Noy. Dengan hati penuh kebahagiaan, mereka berdua berjalan kembali dengan tangkapan ikan yang telah mereka dapat sebagai hasil petualangan mereka di sungai.


Tiba di rumah Noy, mereka mempersiapkan segala hal untuk memasak ikan-ikan tersebut. Noy mengambil beberapa bumbu dari dapur dan menyiapkan alat-alat yang diperlukan, sementara Hegi membantu dengan membersihkan ikan-ikan tersebut dengan hati-hati.


Meskipun bukan seorang ahli memasak, mereka berdua dengan penuh semangat untuk mencoba memasak ikan hasil tangkapan mereka sendiri.


Mereka memilih cara sederhana untuk memasak ikan, hanya sedikit bumbu dan menggorengnya di atas kompor. Sambil menunggu ikan matang, mereka kembali berbincang tentang berbagai hal.


Tidak ada perasaan terburu-buru, hanya ada kebahagiaan berada di tengah-tengah momen yang berarti.


Saat aroma ikan yang dimasak mulai tercium, kegembiraan mereka semakin bertambah. Mereka berdua mengamati dengan cermat proses memasak, bergantian membalik ikan di atas api untuk memastikan matang secara merata.


Dalam suasana yang hangat dan akrab, mereka membagi tugas dengan penuh kegembiraan, menjadi koki amatir dalam momen yang berharga ini.


Akhirnya, ikan-ikan tersebut selesai dimasak dan dihidangkan dengan penuh kebanggaan. Meski penampilannya mungkin tidak sempurna seperti di restoran, bagi mereka ikan tersebut adalah hasil jerih payah dan petualangan yang tak terlupakan.


Mereka duduk bersama di meja, menikmati hidangan sederhana itu dengan rasa syukur dan kebahagiaan yang mendalam.


Saat mereka makan, cerita dan tawa pun mengisi ruangan. Mereka berbagi pengalaman mereka selama petualangan memancing, serta bercerita tentang berbagai hal lainnya. Di antara suara canda dan cerita, keakraban mereka semakin tumbuh dan ikatan persahabatan semakin kuat.


Ketika matahari tepat di atas kepala mereka dan makan siang telah selesai, Hegi dan Noy merasa waktunya untuk mengakhiri momen liburan ini.


Dengan hati berat, mereka membersihkan bekas makanan mereka dengan cermat, memastikan bahwa rumah Noy kembali rapi seperti sebelumnya.


Meskipun mereka tidak sabar untuk melanjutkan petualangan berikutnya di Tembok Pusat, mereka juga merasa sedikit terpaut dari keramaian dan ketenangan tempat ini.


Setelah selesai membersihkan, mereka berdua mengambil barang bawaan mereka dan berdiri di depan pintu rumah Noy.


Saat langit terus memancarkan kehangatan matahari, mereka merasa terharu dengan momen indah yang telah mereka bagikan selama liburan ini. Mereka saling berpandangan dengan senyuman, sebagai ungkapan syukur dan penghargaan atas persahabatan mereka.


Dalam kesunyian, mereka meninggalkan rumah Noy dan berjalan kembali ke arah asrama mereka di Tembok Pusat. Langkah-langkah mereka mengikuti jejak yang sama seperti saat pergi, tetapi hati mereka telah dipenuhi dengan kenangan-kenangan yang baru.


Meskipun liburan telah berakhir, pengalaman ini akan tetap bersinar dalam ingatan mereka sebagai satu dari banyak cerita yang membentuk hubungan mereka yang istimewa.

__ADS_1


__ADS_2