
2241
Area Luar Benteng Selatan
Jumlah Populasi 4.044.867
"Noy, Noy, Noy, bangunlah! Apa kamu baik-baik saja? Kamu terjatuh tadi dari atas pohon," seru Hegi dengan nada khawatir. Dia mengguncang tubuh Noy dengan keras, mencoba untuk membangunkan dari tidurnya.
Noy membuka matanya dengan perlahan, merasa pusing dan terkejut melihat Hegi dan Canbe yang berdiri di sampingnya. Dia merasakan rasa sakit di beberapa bagian tubuhnya, tetapi segera menyadari bahwa dia masih hidup.
"Aku masih hidup," kata Noy dengan suara lemah, masih mencoba untuk mencerna kenyataan. Dia merasa rasa syukur yang mendalam mengalir dalam dirinya karena berhasil selamat dari jatuh dari pohon tersebut.
Hegi dan Canbe tersenyum lega mendengar kata-kata itu. Mereka tahu bahwa kecelakaan tadi bisa saja berakhir lebih buruk, dan mereka sangat bersyukur atas keselamatan Noy.
"Apa yang kau maksud, Noy? Kau terbangun dari tidurmu dengan wajah yang pucat," kata Canbe heran.
Noy menggosok-gosok mata dan mencoba untuk mengumpulkan pikirannya. Dia merasa seakan baru saja mengalami mimpi yang sangat nyata yang mengganggunya.
"Aku tidak yakin, Canbe. Aku bermimpi tentang sesuatu yang sangat aneh dan menakutkan. Seperti aku sedang berada dalam situasi yang sangat berbahaya," jawab Noy, mencoba menjelaskan perasaan yang masih terguncang.
Hegi yang juga telah terbangun mendengarkan dengan perhatian. "Mungkin itu hanya mimpi, Noy. Tapi terkadang, mimpi bisa memiliki makna atau pesan tersirat. Apakah kamu bisa menceritakan lebih detail apa yang terjadi dalam mimpimu?"
Noy berusaha untuk mengingat detail mimpinya yang membingungkan. "Aku ingat aku sedang melarikan diri dari sesuatu, dan ada monster morsus yang mengejar. Aku merasa sangat takut dan penuh ketegangan."
Canbe mengangguk setuju. "Mimpi bisa menjadi cerminan perasaan atau ketegangan yang kita rasakan dalam kehidupan sehari-hari kita, Noy. Mungkin ini adalah cara pikiranmu mengatasi stres atau kecemasan."
Noy menghela nafas lega mendengar saran dari teman-temannya. "Kalian berdua mungkin benar. Aku akan mencoba untuk tidak terlalu terpengaruh oleh mimpi dan fokus pada kenyataan sekarang."
Ternyata, semua itu hanyalah mimpi buruk yang menghantui dirinya, sebuah pengalaman yang terasa sangat nyata baginya. Mimpi itu mungkin adalah manifestasi dari kegelisahan dan semua persiapan mereka untuk ujian komprehensif yang begitu menantang.
Saat ia merenungkan kembali mimpi itu, dirinya merasa lega bahwa itu hanya fiksi yang ada dalam tidur panjangnya, dan ia masih berada dalam dunia nyata bersama dengan teman-temannya.
Noy duduk di samping tenda yang mereka pasang, matanya masih mencermati sekitarnya. Di depan, api unggun memberikan sedikit cahaya serta kehangatan dalam malam yang dingin, sementara bayang-bayang pohon hutan bergoyang-goyang dengan angin malam yang sejuk.
Saat dia duduk di sana, Noy merasa koneksi yang mendalam dengan alam. Suara riuh pepohonan dan hewan-hewan malam yang berbicara dalam bahasa alam semesta memberikan rasa tenang dan kedamaian. Ini adalah momen yang begitu sempurna untuk merenung dan merenungkan semua petualangan yang mereka alami bersama.
Hegi dan Canbe juga duduk di sebelahnya, dikelilingi oleh keheningan hutan. Mereka tahu bahwa ujian komprehensif mereka belum selesai dan banyak hal menantang yang akan mereka hadapi di masa depan, tetapi di malam itu, mereka memutuskan untuk menikmati ketenangan dan kebersamaan mereka.
Hegi memberikan Noy segelas air minum, senyum hangatnya menyirami wajah Noy yang masih terpikirkan. "Minumlah," ucap Hegi sambil menyerahkan gelas itu kepada Noy.
Noy menerima gelas air dengan penuh terima kasih. Dia merasa sangat beruntung memiliki teman seperti Hegi yang selalu peduli dengan kesejahteraannya, bahkan dalam momen-momen kecil seperti ini. Dia mengangkat gelas itu dan meneguk air dengan perasaan syukur yang dalam.
"Terima kasih, Hegi," kata Noy dengan suara yang tulus. "Kalian selalu ada untukku, bahkan ketika aku mungkin terlalu sibuk memikirkan hal-hal lain."
Sementara Noy menikmati air minumnya, Canbe menambahkan beberapa batang kayu ke api unggun, meningkatkan kehangatan di sekitar mereka. Mereka berdua tahu bahwa malam ini adalah waktu yang tepat untuk beristirahat dan mengisi ulang energi mereka untuk petualangan yang akan datang.
__ADS_1
Setelah meminum air yang diberikan oleh Hegi, Noy mulai menceritakan mimpinya kepada Hegi dan Canbe secara detail. Mereka duduk melingkar di sekitar api unggun yang berkilauan. Noy memulai ceritanya dengan penuh rincian tentang pengalamannya dalam mimpi tersebut.
"Malam tadi, dalam mimpiku, aku merasa seperti berada dalam petualangan yang sangat nyata," ujar Noy dengan penuh kagum. "Aku melawan monster Morsus, dan ada ketegangan yang begitu besar. Aku berhasil membunuh salah satu dari mereka, tapi yang lainnya kemudian menyerangku. Itu adalah momen yang sangat menakutkan."
Hegi dan Canbe mendengarkan dengan penuh perhatian, mata mereka terfokus pada Noy ketika dia menceritakan detail-detail mimpinya. Mereka bisa merasakan ketegangan dan kecemasan yang dialami Noy selama mimpi itu.
Hegi bertanya, "Apakah kamu merasa seperti ada pesan tertentu dalam mimpi itu, Noy. Terkadang, mimpi bisa menjadi cara pikiran kita untuk menyampaikan sesuatu."
Noy merenung sejenak sebelum akhirnya bicara, "Mungkin benar, Hegi. Aku merasa seperti mimpi itu mencerminkan ketegangan dan kecemasan yang kita semua rasakan saat ujian komprehensif ini. Tapi sekaligus, itu juga menunjukkan betapa kita sangat bergantung satu sama lain dalam menghadapi semua rintangan dan bahaya."
Mereka bertiga melanjutkan percakapan mereka, memerinci mimpi Noy dengan lebih jelas dan mencoba mengekstrak pesan positif darinya. Di bawah bintang yang bersinar terang di malam itu, api unggun mereka tetap berkobar, menciptakan semangat dan kebersamaan yang kuat.
Noy kemudian melanjutkan, "Maafkan aku, Hegi, Canbe. Aku malah ketiduran saat melakukan patroli, aku sangat ceroboh," ucap Noy dengan suara yang penuh penyesalan.
Hegi dan Canbe memandang Noy dengan penuh pengertian. Mereka tahu bahwa setiap orang bisa merasa lelah dan terkadang melakukan beberapa kesalahan. Persahabatan mereka didasarkan pada saling pengertian dan dukungan, bukan saling menyalahkan.
Hegi menjawab dengan lembut, "Tidak perlu minta maaf, Noy. Kita semua manusia dan kita semua bisa merasa lelah. Yang penting, kita belajar dari kesalahan dan berusaha tidak mengulanginya."
Canbe menambahkan, "Kita adalah tim, dan tim selalu mendukung satu sama lain, bahkan ketika kita membuat kesalahan. Yang penting sekarang adalah kita terus menjaga kebersamaan kita dan berusaha bersama untuk mencapai tujuan kita."
Noy merasa lega mendengar tanggapan positif dari teman-temannya. Dia berjanji pada dirinya sendiri bahwa dia akan lebih berhati-hati dan memastikan bahwa mereka semua tetap aman selama petualangan mereka.
Dalam perjalanan mereka yang penuh dengan rintangan dan tantangan, kepercayaan dan dukungan mereka satu sama lain akan selalu menjadi kekuatan yang membawa mereka melalui segala situasi sulit.
Noy dan Canbe mengangguk setuju, menyadari bahwa istirahat diperlukan untuk menjaga energi dan kewaspadaan mereka. Mereka segera masuk ke dalam tenda, meninggalkan Hegi yang akan menjaga kamp sementara mereka beristirahat.
Dalam keheningan malam yang semakin larut, Hegi memeriksa perlengkapan mereka dan menjaga api unggun agar tetap berkobar. Dia merenungkan rencana patroli mereka dan berusaha untuk tetap waspada terhadap segala kemungkinan risiko atau bahaya yang mungkin muncul.
Meskipun sendirian di bawah langit berbintang, Hegi merasa yakin bahwa mereka memiliki tim yang kuat dan saling mendukung. Dalam pikirnya, dia berkomitmen untuk menjaga keamanan dan keberhasilan mereka selama ujian komprehensif ini.
Di dalam tenda, Noy dan Canbe merasa lelah setelah hari yang panjang dan petualangan yang menantang. Mereka tahu bahwa Hegi adalah pemimpin yang tangguh dan dapat diandalkan, dan mereka merasa tenang ketika dia mengambil alih patroli.
Saat malam berlanjut, keduanya tertidur dengan damai, sambil bermimpi tentang kesuksesan dan petualangan yang masih menunggu mereka. Hegi akan tetap waspada dan siap untuk menghadapi apapun yang mungkin terjadi, menjaga api unggun keberanian dan tekad mereka terus berkobar di dalam hutan yang misterius ini.
Hegi memulai patroli dengan menaiki pohon yang berada tepat di dekat tenda mereka. Pohon itu cukup besar dan kuat, dengan ranting-ranting yang menjulang tinggi dan kuat di bagian atasnya.
Dengan hati-hati, Hegi memanjat pohon tersebut, mengandalkan kecakapannya yang luar biasa dalam mendaki. Setelah beberapa saat, Hegi berhasil mencapai puncak pohon tersebut. Dari sana, dia memiliki pandangan yang luas dan jelas ke sekitar perkemahan mereka.
Cahaya bulan yang bersinar terang dimalam itu membantu Hegi untuk melihat dengan jelas tanpa terlalu bergantung pada api unggun yang jauh di bawahnya.
Dengan cermat, Hegi memeriksa keadaan sekitar, memastikan tidak ada tanda bahaya di sekeliling perkemahan mereka. Dia juga melihat dengan seksama untuk memastikan bahwa semua peralatan dan perlengkapan mereka tetap aman dan tidak terganggu oleh hewan-hewan liar atau makhluk lain.
Saat dia berada di atas pohon, Hegi merasakan dirinya seperti penjaga yang kuat, siap mengambil tindakan jika ada yang mencurigakan. Dia kembali merenungkan tanggung jawab sebagai pemimpin tim dan bersiap untuk melakukan patroli dengan penuh tekad dan kewaspadaan, menjaga teman yang sedang istirahat dengan aman di bawahnya.
Dibawah langit malam yang indah dengan ditemani suara hewan-hewan malam, Hegi terus berjaga. Dia merasa koneksi yang mendalam dengan alam yang mengelilinginya, dan suara hewan-hewan tersebut memberinya perasaan kenyamanan.
__ADS_1
Namun, dia tidak pernah lupa untuk tetap waspada, siap bertindak jika ada tanda-tanda bahaya yang mendekati tenda mereka. Dalam gelap yang menyelimuti hutan, Hegi tetap tenang dan fokus.
Dia tahu bahwa peran penjaga perkemahan adalah hal yang sangat penting, terutama dalam kondisi seperti ini. Matanya yang tajam dan pendengaran yang terlatih siap untuk mendeteksi segala tanda-tanda yang mencurigakan.
Hegi memeriksa perlengkapan mereka sekali lagi, memastikan segala sesuatu dalam keadaan yang baik dan aman. Dia memantau api unggun di bawahnya, memastikan itu tetap berkobar dan memberikan cahaya yang cukup untuk memantau sekitar.
Meskipun dia berada di atas pohon yang tinggi dan sendirian dalam patroli malam ini, Hegi merasa seperti bagian dari tim yang kuat yang akan selalu melindungi satu sama lain.
Dia tetap fokus pada tugasnya dan siap bertindak jika ada ancaman, sementara di bawahnya, Noy dan Canbe tertidur dengan nyenyak, merasakan ketenangan dan keamanan yang diberikan oleh keberadaan Hegi yang waspada.
Ketika sedang memerhatikan sekitarnya, Hegi melihat sesuatu yang mencurigakan dari arah jam dua, yang membuat semak-semak bergoyang.
Meskipun jaraknya masih sekitar satu kilometer, Hegi merasa perlu untuk menyelidiki lebih lanjut. Kemampuan deteksinya yang tajam adalah hasil dari pelatihan yang panjang dan pengalaman yang luas dalam menjaga keamanan tim mereka.
Hegi turun dengan hati-hati dari pohon tempat dia berpatroli, menghindari membuat suara berisik yang bisa memperingatkan makhluk atau orang yang mungkin berada di dekat semak-semak tersebut.
Dia bergerak dengan cermat menuju arah yang mencurigakan itu, senantiasa waspada terhadap setiap kemungkinan bahaya.
Saat dia semakin mendekat, Hegi mencoba untuk tetap tidak terlihat, berusaha menghindari penampakan yang mencurigakan.
Dia tahu bahwa keberhasilan misinya bergantung pada kemampuannya untuk mendekati dengan diam-diam dan mengidentifikasi ancaman potensial.
Ketika dia akhirnya mencapai jarak yang sangat dekat dengan semak-semak yang bergoyang, Hegi merasa detak jantungnya semakin cepat. Dia siap menghadapi apa pun yang mungkin ada di sana, tetapi juga berharap bahwa ini hanya kesalahan persepsi.
Dengan cermat, dia merapatkan dirinya dengan semak-semak di depannya dan bersiap untuk mengungkap misteri di balik gerakan mencurigakan ini.
Hegi melihat apa yang berada di depannya dan betapa terkejutnya dia ketika melihat seekor Morsus yang berdiri di hadapannya.
Dari matanya yang tajam, dia dapat melihat bahwa Morsus itu memiliki tinggi sekitar enam belas meter, jauh lebih kecil dari yang pernah dia tau sebelumnya.
Tubuh raksasa Morsus itu tampak kuat dan perkasa, dengan cakar-cakar yang tajam dan gigi-gigi yang mengancam. Ini adalah makhluk yang sangat berbahaya dan mengesankan.
Hegi mencubit tangannya dengan keras, memastikan bahwa ini adalah kenyataan dan bukan hanya mimpi seperti yang dialami Noy.
Hatinya berdebar kencang saat dia menyadari bahwa dia berada dalam situasi yang sangat berbahaya. Namun, dia juga tahu bahwa dia harus tetap tenang dan berpikir dengan cepat. Ini adalah saat yang menguji semua pelatihan dan kemampuan yang pernah dia pelajari.
Dengan hati-hati, dia mencoba menghindari mata Morsus yang tajam, bergerak perlahan ke belakang tanpa membuat suara berisik yang bisa memprovokasi makhluk itu.
Dia perlahan-lahan menjauh dari Morsus raksasa itu, berharap bisa kembali ke perkemahan dan memberi tahu Noy dan Canbe tentang bahaya ini.
Hegi tahu bahwa mereka harus mengambil tindakan berani dan cerdik jika mereka ingin keluar dari situasi ini dengan selamat.
Saat Hegi berjalan mundur dengan hati-hati, kakinya tak sengaja memijak sebuah ranting kering. Suara retakan dari ranting itu berhasil membuat dia dan Morsus itu bertatapan mata.
Kedua mata yang tajam itu, satu milik manusia dan yang lain milik makhluk raksasa itu, saling memandang dengan intensitas yang mendalam.
__ADS_1