
2240
Tembok Pusat Benteng Selatan
Jumlah Populasi 4.044.671
Dalam mimpi Hegi.
Dor... dor...
Dua suara tembakan pistol menggema di sekitar Hegi saat ia tiba di rumah setelah perjalanannya. Dengan hati yang berdebar-debar, dan penuh oleh kecemasan, serta rasa ingin tahu, ia segera berlari menuju pintu rumahnya.
Langkah-langkahnya terasa berat dikarenakan tas ranselnya yang masih melekat erat di punggung, menyimpan kenangan perjalanan yang baru saja ia jalani.
Tanpa ragu, ia membuka pintu depan rumah dan langsung disambut dengan pemandangan yang sangat mengerikan baginya. Ayahnya memegang pistol yang diarahkan ke ibunya, dan dua buah lubang peluru terlihat menghantam bagian jantung ibunya.
"Kenapa? Kenapa ayah melakukan ini?!" ucap Hegi kecil, suaranya terdengar bergetar, dan ia cuma bisa mematung di sana, menghadapi kengerian yang tak pernah terbayangkan olehnya.
Air mata tanpa sengaja mengalir deras dari kedua matanya, kehilangan kata-kata untuk menjelaskan apa yang baru saja ia saksikan di depan matanya.
Hegi langsung terbangun karena mimpi itu, keringat deras mengucur di seluruh tubuhnya. Ia duduk dengan tatapan kosong, membiarkan bunyi alarm di asrama kamarnya terus berbunyi tanpa ia matikan.
"Ah…mimpi itu lagi," ucapnya dengan suara bergetar, mencoba mengusir perasaan takut yang masih membayangi pikirannya. Ia mengusap wajahnya dengan kedua telapak tangan, berusaha menenangkan diri setelah pengalaman mimpi yang sangat mengganggu.
Ia meraih segelas air dari meja samping tempat tidurnya dan meminumnya dengan gemetar. Hegi mencoba menghela napas panjang untuk menenangkan diri, menyadari bahwa kenyataan di depannya berbeda dari mimpi buruk yang baru saja ia alami.
Pandangan Hegi kosong, terfokus jauh ke dalam ingatannya tentang mimpi mengerikan yang baru saja dialaminya. Ia merasa seperti terjebak dalam pusaran emosi yang tak dapat ia pahami sepenuhnya.
Meskipun sadar bahwa itu hanya mimpi, sensasi yang ia rasakan dalam tidurnya begitu nyata sehingga mempengaruhi perasaannya ketika terbangun.
Sensasi dingin dari air menyentuh bibirnya membantu Hegi untuk menyadari bahwa ia telah bangun dari tidur yang mencekam. Kehadiran meja dan segelas air mengingatkannya pada fakta bahwa ia kembali ke dunia nyata, jauh dari mimpi mengerikan yang masih menghantuinya.
...****************...
Noy terbangun karena suara alarm yang belum Hegi matikan, ia kebingungan karena biasanya ia yang dibangunkan oleh Hegi. Segera saja ia melirik Hegi yang berada di ranjang sebelahnya.
"Hegi, kau kenapa?" tanya Noy yang melihat Hegi hanya duduk dengan tatapan kosong. Ia langsung menuju ranjang Hegi, khawatir melihat reaksi temannya.
"HEGI!!" seru Noy dengan keras sambil menepuk bahunya. Merasa dipanggil dan ditepuk, Hegi langsung tersadar dari lamunannya.
"Oh..Noy. Selamat pagi," ucapnya dengan suara bergetar, mencoba tersenyum untuk menenangkan Noy.
"Kau kenapa, kawan? Ada masalah apa?" tanya Noy dengan rasa prihatin.
"Tidak apa-apa," ucap Hegi dengan suara lirih, namun pandangannya tetap gelisah. "Hanya mimpi buruk yang mengganggu tidurku, Noy."
Noy menarik kursi dan duduk di samping Hegi. Ia bisa melihat kekhawatiran yang terpancar dari wajah sahabatnya tersebut. "Kamu tahu, Hegi, kamu bisa bercerita padaku. Kita selalu saling mendukung, kan?"
Hegi menghela napas panjang, merenungi kata-kata Noy. "Aku tahu, Noy, tapi rasanya begitu menakutkan. Aku takut mengungkapkannya dan membuatmu khawatir."
__ADS_1
Noy meletakkan tangannya di pundak Hegi dengan lembut. "Tidak apa-apa untuk merasa takut atau bingung, kawan. Kita adalah teman, dan kita berjuang bersama. Aku di sini untukmu, kapan pun kamu butuhkan."
Terharu oleh dukungan temannya, Hegi merasa sedikit lega. "Terima kasih, Noy. Aku benar-benar menghargainya."
"Kau bisa bercerita kapan pun kau mau, dan sekarang kita harus mandi untuk menghadiri acara pengumuman seleksi," ucap Noy dengan senyuman hangat.
Hegi merasa beruntung memiliki Noy sebagai teman yang selalu mendukungnya. Ia tersenyum, merasakan kehangatan persahabatan di antara mereka. "Iya, kamu benar. Aku bersyukur punya teman sepertimu di sini, Noy," ucap Hegi tulus, sambil menggenggam erat tangan Noy.
Noy tersenyum balas, matanya penuh kebaikan. "Aku juga bersyukur memiliki teman sebaik kamu, Hegi. Persahabatan kita adalah saling memberikan dukungan, dan kita akan selalu saling berada di samping dalam suka dan duka."
Kehangatan pernyataan tersebut membuat hati Hegi semakin lega. Dia merasa seperti beban emosionalnya berkurang, seiring dengan kehadiran sahabatnya. Dalam momen ini, Hegi merasakan bahwa persahabatan mereka adalah sesuatu yang istimewa, memberikan kedamaian dan ketenangan dalam kehidupannya.
Setelah percakapan yang singkat itu, Hegi dan Noy pergi ke kamar mandi. Mereka menggunakan dua kamar mandi yang terpisah di dalam kamarnya. Air mengalir membasahi tubuh mereka berdua, memberikan kesegaran di pagi yang cerah ini.
Hegi menyanyi kecil-kecilan di kamar mandinya, melantunkan lagu kesukaannya yang biasa mengusir rasa gugupnya. Sementara itu, dari kamar mandi sebelah, terdengar suara Noy yang sedang berbicara sendiri. Mungkin ia sedang merenungkan tentang apa yang akan terjadi di acara pengumuman seleksi.
Ia mencoba membangun keyakinan dalam dirinya, mengingat berbagai usaha dan persiapan yang telah dilakukan. "Aku pasti bisa. Aku sudah berusaha keras untuk ini," gumam Noy, berbicara pada dirinya sendiri. "Dan aku memiliki dukungan temanku Hegi, yang luar biasa."
Ketika air mandi berhenti mengalir, Hegi dan Noy keluar dari kamar mandi hampir bersamaan. Wajah mereka terpancar semangat dan percaya diri. "Kau siap untuk acara ini, Noy?" tanya Hegi, menatap sahabatnya dengan penuh semangat.
Noy mengangguk dengan mantap. "Ya, aku siap. Aku sudah mempersiapkan yang terbaik, dan sekarang tinggal menunggu hasilnya. Bersama teman seperti mu, aku merasa lebih kuat menghadapinya."
Hegi tersenyum, merasa bangga dengan sahabatnya yang telah mengatasi ketakutan dan gugupnya. Mereka berdua berpakaian dan bersiap untuk menghadiri acara pengumuman seleksi dengan penuh semangat dan harapan.
Setelah mandi dan menganti pakaian mereka bergegas ke aula militer untuk acara pengumuman seleksi. Keduanya berjalan berdampingan, mengobrol tentang perasaan campuran yang mereka rasakan menghadapi momen penting ini.
"Rasanya hatiku berdegup kencang, Hegi," ucap Noy sambil menarik nafas dalam-dalam. "Aku sangat berharap kita berdua berhasil lolos seleksi."
Noy tersenyum, "Aku pun merasa sama, Hegi. Kita selalu menjadi teman yang hebat, bukan?"
Di tengah perjalanan menuju aula militer, mereka berbincang dengan penuh semangat dan terlihat senyum di wajah mereka. Kedua teman ini telah menghadapi banyak hal bersama-sama, dan perasaan mereka saling terhubung begitu kuat.
"Oi Hegi, ayo kita bertaruh siapa di antara kita yang mendapat peringkat lebih tinggi," ucap Noy berusaha membuka percakapan dengan semangat.
"Tentu saja, untuk yang kalah harus menuruti keinginan yang menang, setuju?" jawab Hegi dengan senyum, antusias mengikuti taruhan yang seru ini.
"Ayo siapa takut, aku yakin aku yang lebih tinggi," jawab Noy dengan tawa percaya diri.
"Lihat saja nanti," balas Hegi, merespons tantangan Noy dengan keyakinan.
Mereka berdua berjalan dengan semangat dan persaingan yang sehat, menambah kegembiraan dalam perjalanan mereka menuju acara pengumuman seleksi.
Mereka akhirnya tiba di aula militer, keadaan disana sangat ramai. Hegi dan Noy mencari tempat duduk di bagian depan, berusaha mendapatkan posisi yang terbaik untuk melihat dan mendengar pengumuman dengan jelas.
Sementara suasana di sekitar mereka penuh dengan gelombang kegugupan dan antusiasme, mereka berdua tetap berusaha menjaga ketenangan dan keyakinan.
Setelah menemukan tempat yang cocok, mereka duduk berdampingan, menatap ke depan dengan wajah penuh harap. Mereka saling memberikan senyuman, memberikan dukungan tanpa kata-kata, karena mereka tahu persahabatan mereka adalah kekuatan yang membangun di setiap langkah kehidupan.
Setelah menjalani tiga tes yang melelahkan selama tiga hari berturut-turut, saatnya pengumuman akhirnya tiba. Hegi dan para peserta lainnya berkumpul di aula dengan harapan dan ketegangan yang tak terelakkan. Mereka menantikan hasil tes mereka dengan antusias.
__ADS_1
Dalam momen pengumuman, suasana aula militer menjadi hening. Semua mata tertuju pada panggung utama, tempat hasil tes akan diumumkan. Hegi dan Noy saling pandang, menahan napas mereka, jantung berdegup kencang.
Keenam penguji yang bertanggung jawab akhirnya memasuki aula dengan langkah tegap, membawa proyektor yang siap menampilkan hasil peringkat peserta.
Keberadaan mereka memberikan aura misterius dan pentingnya momen ini. Wajah-wajah penguji mencerminkan profesionalisme dan ketegasan, memastikan bahwa pengumuman akan dilakukan dengan objektivitas dan keadilan.
Dalam suasana yang hening, lampu di aula mulai dipadamkan, meninggalkan layar putih proyektor yang menjadi pusat perhatian. Hegi merasa detak jantungnya semakin cepat, perasaan gugup dan harapannya tercampur menjadi satu. Ia menyilangkan jari-jemarinya dengan tegang, menunggu dengan penuh antisipasi.
Kegelisahan terasa dalam udara, namun juga ada kebersamaan di antara mereka yang telah melewati perjalanan panjang ini bersama. Mereka saling bertatap muka, memberikan senyuman dan dukungan satu sama lain, menyadari bahwa hasil ini akan menjadi cerminan dari kerja keras dan dedikasi mereka selama proses tes.
Meskipun ada kompetisi di antara peserta, tetapi mereka juga merasakan ikatan yang kuat sebagai sekelompok calon prajurit yang berbagi perjalanan serupa.
Di layar proyektor, nama-nama peserta ditampilkan dengan peringkat mereka. Mata Hegi tidak bisa lepas dari layar tersebut saat melihat namanya terpampang di posisi paling atas. Ia merasakan kelegaan dan kebanggaan, merasakan hasil dari usaha dan dedikasi yang telah ia berikan selama tes.
Namun, pandangannya juga mengarah pada Noy, teman sekamarnya selama ini, ternyata berada di urutan sepuluh, mungkin tidak sebaik yang diharapkan. Hegi merasa campur aduk, di satu sisi senang dengan hasilnya sendiri, tetapi juga merasa simpati dan berempati terhadap Noy.
Perasaan kemenangan Hegi dicampur dengan kekhawatiran dan kepedulian untuk Noy. Meskipun ia merasa bangga dengan prestasinya sendiri, ia tahu betapa sulitnya proses seleksi ini dan betapa banyak usaha yang Noy juga telah lakukan.
Hegi memutuskan untuk tidak merayakan kemenangannya sendiri terlalu lama. Alih-alih, ia mendekati Noy dengan senyuman hangat. "Noy, kamu sudah berjuang dengan gigih, jangan khawatir dengan hasilnya. Aku tahu betapa hebatnya usaha yang kamu lakukan," ucap Hegi dengan tulus.
Noy tersenyum terima kasih, tetapi terlihat sedikit terpukul dengan hasilnya. "Terima kasih, Hegi. Aku tahu aku telah berusaha keras, tapi rasanya tetap menyakitkan melihat hasil ini, dan juga selamat untukmu," ucapnya dengan jujur.
Hegi tersenyum lebar melihat Noy yang pura-pura lupa tentang taruhan mereka. "Tampaknya aku adalah pemenang taruhan ini, ya?" ucap Hegi dengan senyum usil.
Noy mengangkat alisnya dan memainkan peran pura-pura terkejut. "Oh, ya! Kamu benar, aku harus menepati keinginanmu karena kalah," ucapnya dengan ekspresi lucu.
Hegi tertawa gembira, "Tenang saja, aku tidak akan meminta sesuatu yang aneh-aneh. Mungkin nanti kau bisa pergi mengikuti ku ke rumahku di tenggara."
Noy mengangguk setuju, "Deal! Aku akan menepati taruhan ini."
Mereka berdua saling berjabat tangan sebagai tanda kesepakatan. Meskipun kalah dalam taruhan, Noy tetap merasa senang dan bahagia karena persahabatan mereka yang lebih berharga daripada apa pun.
Suara penguji memotong kegiatan Hegi dan Noy. "Sekali lagi, terima kasih kepada kalian yang telah menyelesaikan tes ini dengan dedikasi dan usaha maksimal," ucap Sely dengan penuh apresiasi. "Namun, sesuai dengan peraturan yang telah disampaikan pada hari pertama, peserta yang berada di lima puluh terbawah akan mengalami eliminasi."
Hegi mendengarkan dengan hati berdebar, sesekali melihat ke daftar nama di lima puluh terbawah. Ia merasa terkejut saat melihat nama Sofya, seseorang yang telah dia kenal ternyata berkumpul dengan lima puluh terbawah.
Perasaan campur aduk memenuhi dirinya, karena di satu sisi ia bersyukur berhasil lolos, namun di sisi lain ia merasa sedih melihat teman dekatnya harus menghadapi eliminasi.
"Tetapi jangan khawatir," lanjut Seli dengan nada yang menenangkan. "Meskipun kalian tereliminasi dari tahap ini, kalian masih memiliki kesempatan untuk bergabung dengan R&D (Penelitian dan Pengembangan), itu adalah pilihan kalian. Saya akan menunggu keputusan kalian hingga sore ini. Dan untuk yang lolos, kalian punya waktu dua hari untuk persiapan menetap di sini."
Setelah menyampaikan informasi tersebut, para penguji meninggalkan ruangan dengan tata tertib dan penuh profesionalisme.
Suara sorak kegembiraan, letupan tepuk tangan, dan bahkan tangisan kebahagiaan terdengar di seluruh aula. Reaksi yang bercampur antara kegembiraan dan kelegaan terpancar dari wajah para peserta.
Hegi merasakan gelombang emosi yang melanda ruangan tersebut. Ada yang tertawa bahagia, ada yang menangis tersedu-sedu, dan ada yang mengangkat tangan dalam ungkapan syukur. Semua perasaan dan pengalaman yang telah mereka jalani selama tes ini, baik suka maupun duka, akhirnya mencapai puncak pada momen ini.
Setiap detik, setiap upaya, dan setiap tantangan yang mereka hadapi menjadi berarti dan bernilai dalam momen kemenangan ini. Mereka menyadari bahwa tidak hanya hasil yang penting, tetapi juga perjalanan dan perjuangan yang membentuk mereka menjadi pribadi yang lebih kuat dan tangguh.
Hegi dan Noy melihat sekeliling, merasakan ikatan yang semakin erat di antara teman-teman mereka. Mereka bisa merasakan kehangatan persahabatan dan dukungan yang saling berbagi di antara semua peserta.
__ADS_1
Tidak ada persaingan yang memisahkan mereka, tetapi ada semangat untuk merayakan kesuksesan dan menerima kegagalan dengan rasa rendah hati.