
2240
Tembok Pusat Benteng Selatan
Jumlah Populasi 4.044.672
Hegi melangkah dengan hati penuh kegembiraan menuju asrama militer, setiap langkahnya dipenuhi dengan semangat dan antusiasme. Di sepanjang jalan, dia tak bisa melepaskan pandangan dari para prajurit yang sedang berlatih dengan lightblade dan lightgun mereka. Hegi merasa terpesona oleh keahlian dan keanggunan gerakan mereka saat berlatih.
Ia menyaksikan bagaimana para prajurit dengan penuh konsentrasi menguasai teknik dan strategi penggunaan senjata-senjata tersebut. Cahaya yang memancar dari lightblade, dengan warna-warna yang berbeda-beda, memberikan keindahan visual yang memukau bagi Hegi.
Setiap gerakan dan pukulan mereka terlihat begitu lincah dan kuat, menggambarkan keterampilan yang luar biasa dan dedikasi yang tinggi dalam melatih diri sebagai seorang prajurit.
"Lightblade, tunggu aku. Aku akan segera mendapatkan mu," gumam Hegi di tengah perjalanan. Dia merasakan adrenalin yang memompa dalam dirinya, siap untuk menghadapi tantangan dan menggapai mimpinya menjadi seorang prajurit yang handal.
Setelah melalui perjalanan yang melelahkan, Hegi akhirnya tiba di asrama militer yang akan menjadi tempat tinggalnya selama masa tes masuk. Namun, dia merasa heran ketika melihat pintu kamarnya terbuka lebar. Hatinya berdebar dan pikirannya dipenuhi dengan berbagai kemungkinan.
Hegi memastikan bahwa itu benar-benar kamar yang ia tempati dengan memeriksa nomor yang tertulis di depan pintu. Dia berharap agar tidak salah lihat atau ada kesalahan pengalihan kamar. "Benar kan ini kamarku, tapi kok terbuka?" ucap Hegi dengan nada keheranan yang jelas terdengar dalam suaranya.
Rasa penasaran mulai menguasai tubuh Hegi. Ia memutuskan untuk memeriksa lebih lanjut apa yang terjadi di dalam kamar. Dengan hati-hati, Hegi melangkahkan kakinya ke dalam kamar yang tidak terkunci, menyingkap misteri yang tersembunyi di balik pintu yang terbuka lebar.
Saat memasuki kamar, Hegi langsung terkejut melihat keadaan yang berantakan. Tempat tidur terguling ke samping, lemari terbuka, dan barang-barang berserakan di lantai. Hegi merasa campuran antara keheranan dan kekhawatiran yang melanda dirinya. Ada tanda-tanda yang jelas bahwa seseorang telah masuk ke kamarnya tanpa izin.
Hegi berjalan melintasi kamar dengan hati-hati, memeriksa setiap sudut dan detail yang mungkin memberikan petunjuk tentang siapa pelaku yang telah melakukan perbuatan ini. Ia merasakan rasa takut dan kekhawatiran dalam dirinya, karena privasinya telah terganggu.
"Oh, jadi kamu teman sekamarku. Salam kenal, aku Noy," ucap Noy sambil mengulurkan tangannya dengan ramah.
Hegi terkejut sejenak saat melihat seseorang tiba-tiba muncul di kamarnya dari luar pintu. Namun, ia segera mengatasi rasa kagetnya dan dengan senyum menerima uluran tangan orang itu. "Hegi, salam kenal juga, Noy," jawab Hegi dengan sikap ramah.
Hegi merasa sedikit lega mengetahui bahwa kehadiran Noy adalah penyebab di balik keadaan berantakan di kamar. Awalnya terkejut dengan kejadian tersebut, Hegi segera memahami bahwa kehadiran seorang teman sekamar bisa menjadi hal yang menyenangkan dan menghibur.
Dengan adanya Noy, Hegi merasa lebih tenang dan memiliki seseorang yang bisa diajak berbagi pengalaman dan kesulitan selama proses seleksi militer. Mereka bisa saling mendukung dan memberikan motivasi satu sama lain dalam menghadapi tantangan yang ada.
Hegi dan Noy berbincang sejenak untuk mengakrabkan diri. "Hegi, kalau boleh tahu, kamu berasal dari distrik mana?" tanya Noy dengan rasa ingin tahu yang jelas terlihat di matanya.
Hegi sedikit terdiam sejenak, mempertimbangkan bagaimana ia akan menjawab pertanyaan tersebut. "Aku sendiri berasal dari distrik tenggara," jawab Hegi dengan singkat, memberikan petunjuk asal daerah tanpa memberikan terlalu banyak rincian.
Noy mengangguk mengerti, tetapi keingintahuannya masih terlihat di wajahnya. "Kalau kamu sendiri, dari distrik mana?" tanya Hegi balik, ingin membalas rasa penasaran Noy.
Noy menjawab dengan cepat, "Tenggara ya, berarti kamu pengungsi dong. Kamu dari Benteng Timur kan. Oh iya, kalau aku berasal dari Utara." Ekspresi Noy tampak penuh perhatian saat dia menunggu tanggapan Hegi.
__ADS_1
Hegi mengangguk dengan penuh kejujuran, mengisyaratkan kebenaran perkiraan Noy. "Betul, aku berasal dari Timur. Kota kami diserang, dan, yah...sekarang aku di sini," jawab Hegi dengan nada yang sedih. Dia merasa hatinya teriris oleh kenangan akan apa yang terjadi pada kotanya.
Noy yang melihat perubahan ekspresi Hegi segera merasa menyesal karena pertanyaannya telah membuka luka lama di hati Hegi. Dengan rasa penyesalan, Noy menyampaikan permintaan maafnya, "Maaf, aku tidak tahu. Aku tidak bermaksud menyakiti perasaanmu."
Hegi memandang Noy dengan bijaksana, menyadari bahwa Noy tidak memiliki niat jahat dalam pertanyaannya. Dengan sikap tegar, Hegi menjawab, "Tidak apa-apa, lagian kejadian itu sudah lima tahun yang lalu." Meskipun luka itu masih ada, Hegi menunjukkan kekuatan dan ketegaran dalam menghadapinya.
Tiba-tiba, alarm peringatan berdering keras di seluruh penjuru Markas Pusat, mengguncang kedamaian yang ada. Hegi dan Noy segera saling menatap dengan kebingungan yang jelas terpancar dari wajah mereka saat alarm terus berdenting di sekitar mereka.
Dengan suara yang tegas dan meyakinkan, Lily, salah satu petugas yang bertanggung jawab atas keamanan markas, menyampaikan pesannya melalui pengeras suara yang ada, memecah keheningan yang terjadi di asrama.
"Perhatian semua prajurit! Dua ekor morsus telah terdeteksi di wilayah timur. Jaraknya telah dikonfirmasi sekitar tiga kilometer. Guardian dimohon bergerak."
Tidak lama setelah pengumuman, dua helikopter terbang melintasi langit menuju arah timur sesuai dengan instruksi yang diberikan. Dalam gelombang suara mesin helikopter yang bising, Hegi dan Noy merasakan adrenalin memompa dengan lebih kuat lagi. Mereka mengetahui bahwa kehadiran helikopter tersebut merupakan pertanda serius akan urgensi dan tingkat ancaman yang sedang terjadi.
"Hmm, aku sudah mendengar dua pengumuman seperti ini sejak aku datang ke sini. Apakah serangan Morsus semakin banyak ya?" tanya Hegi kepada Noy, mempertimbangkan kekhawatiran yang melintas di pikirannya. Hegi teringat perkataan prajurit pria yang memandunya, yang menyebutkan bahwa mereka akan terbiasa dengan peringatan semacam ini.
Noy mengangguk, memahami kekhawatiran Hegi. "Kau benar, aktivitas di pusat ini memang sangat padat. Mereka secara diam-diam telah melindungi kita dari ancaman- ancaman tersebut. Aku harap aku yang akan ditugaskan untuk terlibat dalam tindakan tanggap darurat ini," jawab Noy dengan rasa semangat dan keinginan untuk berkontribusi.
Hegi tersenyum dan membalas, "Haha, aku juga berharap demikian. Namun, kita harus melewati tes militer terlebih dahulu untuk ditugaskan seperti tadi."
Setelah saling mengenal dan berbincang sejenak, Hegi dan Noy memulai proses membersihkan kamar yang berantakan. Mereka saling berbagi tugas dan bekerja dengan kerjasama yang baik. Hegi mengumpulkan sampah yang berserakan, sementara Noy merapihkan barang-barang di meja dan lemari. Dalam waktu singkat, mereka berhasil mengatur kembali kamar menjadi lebih nyaman dan rapi.
Tempat tidur yang tertata kembali, barang-barang yang teratur di tempatnya, dan suasana yang lebih harmonis membuat mereka merasa lebih nyaman dan santai di dalam kamar itu.
Setelah mereka selesai membersihkan kamar, Hegi merasa perlu untuk merawat dirinya sendiri. Dia memasuki kamar mandi dengan hati gembira, siap untuk mandi dan
melepaskan penat setelah perjalanan yang melelahkan.
Merasakan air yang mengalir di tubuhnya, Hegi merasa segar dan terasa menyegarkan. Setetes demi tetes air yang jatuh ke kulitnya memberikan rasa relaksasi dan ketenangan. Dia membiarkan air mengalir melalui tubuhnya, menghilangkan lelah dan tegang yang terasa setelah perjalanan panjang.
Setelah mandi, Hegi mengeringkan tubuhnya dengan handuk lembut dan mengganti pakaian yang bersih dan nyaman. Dia merasa perubahan fisik dan mental yang terjadi, seolah memulai lembaran baru.
Hegi mengambil waktu sejenak untuk merapikan dirinya sebelum beristirahat. Dia menyisir rambutnya dengan rapi, memastikan bahwa penampilannya terlihat keren. Hegi merasa percaya diri dan siap menghadapi apa pun yang akan datang, terlepas dari tantangan atau ujian yang menantinya.
Setelah membersihkan diri, Hegi merasa sangat kelelahan setelah hari yang panjang. Dia menyadari bahwa istirahat yang cukup penting untuk memulihkan energi dan kesiapan fisiknya untuk tugas-tugas yang akan datang.
Hegi memutuskan untuk beristirahat sejenak, mengetahui bahwa tidur yang nyaman dan menyegarkan akan membantu mengembalikan kebugarannya.
Dalam ketenangan kamarnya yang sekarang lebih rapi, Hegi membaringkan dirinya di tempat tidur dengan perasaan nyaman. Dia menutup mata, membiarkan pikirannya tenang dan relaksasi mengalir ke seluruh tubuhnya. Hegi merasakan pelan-pelan tubuhnya rileks dan otot-ototnya mulai melepaskan ketegangan yang tersisa.
__ADS_1
Di dalam keheningan kamar yang nyaman, Hegi merasakan dirinya tenggelam dalam tidur yang dalam. Napasnya yang tenang dan teratur menunjukkan bahwa dia telah memasuki fase istirahat yang mendalam. Dia merasa damai dan sepenuhnya melepaskan diri dari kelelahan dan tekanan yang dia rasakan sebelumnya.
Setelah dua jam tertidur, Hegi tiba-tiba terbangun oleh Noy yang dengan lembut membangunkannya. Dalam keadaan setengah sadar, Noy memberitahukan bahwa mereka harus berkumpul di aula untuk serangkaian tes yang akan dilakukan besok.
"Sudah waktunya bangun, Hegi. Kita harus berkumpul di aula sekarang," kata Noy sambil mengguncangkan bahu Hegi.
Mendengar itu, Hegi langsung membuka matanya dan segera bangkit dari tempat tidur. Meskipun kepalanya sedikit pusing karena ia bangun di sore hari, dia segera mengumpulkan nyawa dan meninggalkan tempat tidur.
Tanpa pikir panjang, dia bergegas menuju aula, diikuti oleh Noy yang berjalan di sampingnya. Dalam perjalanan menuju aula, Hegi berusaha untuk meraih kesadaran penuh dan menghilangkan kebingungan setelah tidur. Dia mengingat betapa pentingnya tes besok dan bagaimana persiapannya akan mempengaruhi hasilnya.
Hegi memaksa dirinya untuk fokus dan mengumpulkan pikiran-pikirannya. Ia mengulang-ulang dalam benaknya tujuan akhirnya sebagai seorang prajurit dan keinginannya untuk berhasil melewati setiap tahap tes dengan baik.
Dengan langkah tergesa-gesa, Hegi dan Noy tiba di aula dan bergabung dengan para calon prajurit lainnya yang telah berkumpul. Suasana di dalam aula penuh dengan kegugupan dan antusiasme. Mereka semua siap menghadapi serangkaian tes yang akan menentukan kemampuan mereka sebagai calon prajurit.
Di sekeliling mereka, terdapat beragam wajah yang mencerminkan campuran perasaan gugup, semangat, dan harap. Beberapa calon prajurit tampak berbisik-bisik untuk memberi semangat satu sama lain, sementara yang lain mengamati sekitarnya dengan serius, mempersiapkan diri mental dan fisik untuk tantangan yang akan datang.
Di tengah aula, enam prajurit berdiri dengan tegap, menandakan bahwa mereka adalah penilai dalam tes ini. Mereka kemudian mulai memberikan penjelasan kepada para calon prajurit.
"Selamat sore para calon prajurit, saya di sini mewakili rekan-rekan saya," ucap seorang prajurit wanita sambil menunjuk ke arah rekan-rekannya yang lain. "Kami di sini akan menguji kalian melalui serangkaian tes yang akan dilaksanakan besok," lanjutnya.
"Sebelumnya, perkenalkan nama saya Sely. Saya akan menjelaskan mekanisme tes yang akan dilakukan. Tes ini sendiri terdiri dari tiga bagian, yaitu tes fisik, tes kognitif, dan tes bertahan hidup," jelas prajurit wanita tersebut, memberikan gambaran mengenai tahapan tes yang akan dihadapi.
"Dalam setiap tes ini, tidak ada sistem eliminasi. Kalian akan mendapatkan poin dari semua tes yang kalian lakukan. Namun, lima puluh peringkat terbawah akan tereliminasi dari seleksi ini," sambung prajurit tersebut, memberikan pemahaman mengenai peringkat dan hasil tes yang akan menjadi penentu kelanjutan seleksi.
Para calon prajurit mendengarkan penjelasan Sely dengan serius, mencerna setiap kata yang diucapkannya. Mereka menyadari bahwa ini adalah momen penting yang dapat membuka pintu menuju perjalanan mereka sebagai prajurit.
Mekanisme tes yang dijelaskan oleh Sely memberikan gambaran yang jelas tentang apa yang diharapkan dari mereka dan bagaimana hasil tes akan mempengaruhi proses seleksi.
Sely melanjutkan, "Kalian akan dibagi menjadi tiga kelompok besar untuk setiap tes, guna menghemat waktu pelaksanaan. Kami juga akan memisahkan antara laki-laki dan perempuan. Itu adalah pengumuman dari saya. Apakah kalian semua paham?"
Dalam aula yang sunyi, suara "Paham!" dengan tegas terdengar dari para calon prajurit. Mereka menunjukkan kesediaan dan kesiapan untuk mengikuti semua petunjuk dan prosedur yang telah dijelaskan oleh Sely. Setiap kata dan instruksi yang diberikan oleh penilai menjadi acuan bagi mereka untuk mencapai hasil terbaik.
Sely memberikan senyuman kecil sebagai tanda bahwa penjelasannya telah diterima dengan baik. "Baiklah, kami harap kalian siap menghadapi tantangan besok. Gunakan waktu yang ada untuk beristirahat dan mempersiapkan diri dengan baik. Kesempatan ini adalah milik kalian untuk membuktikan kemampuan dan tekad kalian. Jangan sia-siakan kesempatan ini."
Setelah pengumuman selesai, para penguji meninggalkan aula dengan sikap yang tegas dan fokus. Suasana di aula menjadi lebih sunyi setelah kepergian mereka, meninggalkan calon prajurit dalam keheningan yang tegang.
Masing-masing calon prajurit membawa perasaan campuran antara kegugupan dan determinasi untuk menghadapi serangkaian tes yang menentukan.
Para calon prajurit, yang masih memikirkan serangkaian tes yang akan mereka hadapi besok, mengikuti jejak penguji dan bergerak menuju pintu keluar aula. Mereka merasakan getaran energi di udara, menandakan tingginya semangat dan motivasi dalam diri mereka untuk menghadapi tantangan yang menanti.
__ADS_1
Seiring dengan keluarnya penguji dari aula, para calon prajurit memisahkan diri dan menuju ke asrama masing- masing.