
2240
Tembok Pusat Benteng Selatan
Jumlah Populasi 4.044.677
Setelah tidur siang selama tiga jam, Hegi akhirnya terbangun di tengah suasana senja yang hangat dan mempesona. Cahaya matahari telah turun rendah di langit, menyebarkan warna jingga dan emas yang lembut ke seluruh penjuru.
Hegi merasakan kehangatan cahaya tersebut membelai wajahnya, memberikan perasaan nyaman dan damai.
Dengan gerakan perlahan, Hegi meraih kepalanya dan merenggangkannya, merasakan setiap otot dalam tubuhnya merespons dengan nyaman. Dia duduk di atas tempat tidurnya, merenung dalam keheningan yang ada di sekitarnya.
Cahaya senja yang lembut memasuki kamar melalui jendela, menciptakan atmosfer yang tenang dan mendalam.
Hegi memandangi sekeliling asrama, matahari terbenam menciptakan nuansa cahaya senja yang menyebar ke dalam ruangan melalui jendela.
Suasana damai dan hening yang melingkupi asrama membawa perasaan kesejukan dan ketenangan yang mengalir dalam dirinya.
Meskipun tidur siangnya hanya singkat, dia merasa energinya telah pulih dan dia siap menghadapi apa pun yang mungkin akan datang.
Dia merenung sejenak, mengenang semua peristiwa yang telah terjadi selama hari ini. Dia memutar kembali setiap momen latihan, percakapan dengan Noy, dan tugas yang harus mereka lakukan.
Perasaan puas mengalir dalam hatinya, karena dia tahu bahwa dia telah melewati semua tantangan dengan baik dan memberikan yang terbaik dalam usahanya.
Setelah beberapa saat merenung dalam keheningan, Hegi akhirnya berdiri dari tempat tidurnya dan melangkah menuju jendela. Dengan tangan lembut, ia membuka jendela yang memberi akses pada udara senja yang sejuk masuk ke dalam asrama.
Udara segar dan menyegarkan mengalir masuk, mengisi ruangan dengan aroma alam yang khas. Hegi memandangi luar, melihat langit senja yang memancarkan warna-warna indah yang mengalir dari jingga ke ungu gelap.
Siluet pohon-pohon di kejauhan memberikan siluet yang menenangkan, menghadirkan rasa kedekatan dengan alam yang selalu ada di sekitarnya. Dia merasakan ikatan dengan dunia luar yang jauh dari kesibukan latihan dan kelas.
Setelah beberapa saat merenung dan memandangi senja, Hegi merasa bahwa saatnya untuk membersihkan diri setelah tidur siang yang menyegarkan.
Dia bergerak dengan langkah mantap menuju kamar mandi, merasa antisipasi akan sensasi menyegarkan yang akan datang. Bagi Hegi, mandi bukan hanya sekadar rutinitas fisik, tetapi juga cara untuk memulai kembali dan mengembalikan semangatnya.
Tiba di kamar mandi, Hegi mengalihkan keran air dengan hati-hati. Air hangat mulai mengalir dengan lembut, menciptakan suara yang menenangkan dan memberikan sensasi yang menghangatkan.
Hegi merasa bagai diterpa oleh kelembutan air yang menyentuh kulitnya, meresap ke dalam setiap pori-pori tubuhnya.
Saat air hangat mengalir, Hegi merasakan sentuhan lembut dan hangat yang meresap ke dalam kulitnya. Ia membiarkan air mengalir di atas kepalanya, merasakan setiap tetes air yang jatuh dengan lembut dan menyegarkan.
Sensasi air yang mengalir menghapuskan segala lelah dan keringat yang menempel pada tubuhnya, memberikan perasaan relaksasi yang mendalam.
Hegi mengambil sabun dan memulai proses membersihkan tubuhnya dengan lembut. Ia merasakan sensasi sabun yang berbusa, menggosok setiap bagian tubuhnya dengan hati-hati.
Setiap gerakan yang ia lakukan membawa perasaan kesegaran dan kesejukan, seolah-olah membersihkan dirinya dari semua beban dan stres yang mungkin telah ia rasakan sepanjang hari.
Setelah proses pembersihan diri selesai, Hegi merasa segar dan penuh energi, siap untuk menghadapi sisa hari ini dengan semangat yang baru. Ia memutuskan untuk mematikan keran air dengan hati-hati, membiarkan kamar mandi kembali dalam keheningan.
Kemudian, dengan gerakan lembut, ia mengambil handuk yang tersedia dan mulai mengelap tubuhnya dengan penuh perhatian. Sensasi handuk yang lembut menyentuh kulitnya memberikan rasa nyaman dan hangat.
Hegi dengan hati-hati mengelap setiap bagian tubuhnya, memberikan waktu ekstra untuk merasakan setiap gerakan dan sentuhan.
Ia merasakan bahwa setiap gerakan pengelapan adalah bentuk perawatan yang ia berikan pada dirinya sendiri, menghargai tubuh yang telah bekerja keras untuknya.
Setelah tubuhnya kering, Hegi memandangi dirinya di cermin yang tergantung di dinding. Wajahnya yang rupawan dan mata yang penuh semangat tercermin dengan jelas. Ia merasa bangga atas usaha dan dedikasinya selama latihan dan aktivitas hari ini.
Perasaan semangat dan kepuasan yang ia rasakan tampak tercermin dengan jelas dalam sorot mata yang berkilau.
Saat langkah Hegi melangkah keluar dari kamar mandi, ekspresi kaget muncul di wajahnya ketika ia melihat Noy yang sudah bangun.
Mata mereka bertemu dalam kejutan yang tak terduga, seolah-olah keduanya sama-sama terkejut oleh kehadiran satu sama lain di saat yang sama.
__ADS_1
"Hey, Noy! Kau juga sudah bangun?" tanya Hegi sambil tersenyum, mencoba mengatasi rasa kagetnya.
Noy mengangguk dengan senyuman lebar. "Iya, sepertinya suara air keran dari kamar mandi cukup efektif membangunkanku. Aku pikir ini adalah tanda untuk aku bangun dari tidur siangku."
Hegi tertawa ringan. "Tampaknya kita berdua memiliki ide yang sama tentang kapan waktunya untuk bangun."
Keduanya tertawa sejenak, merasakan kebersamaan dan kehangatan dalam momen tersebut. Dalam perjalanan mereka sebagai rekan tim, mereka telah melewati berbagai perjuangan dan belajar bersama.
Bahkan dalam momen-momen kecil seperti ini, ketika mereka bangun dari tidur dan bersiap-siap menghadapi sisa hari, mereka tetap merasa saling mendukung dan memahami satu sama lain.
"Dengar, apa rencanamu setelah ini?" tanya Noy, sambil merapikan rambutnya yang acak-acakan.
Hegi berpikir sejenak, menjawab dengan ekspresi berpikir. "Aku akan pergi menuju observatorium sebentar, sekedar ingin melihat langit malam dari sana."
Noy mengangguk mengerti. "Bagus, apakah mengajakku juga menjadi bagian dari rencanamu saat ini?"
Hegi tersenyum lembut. "Tentu saja, itupun kalau temanku ini sudah mandi."
Noy tersenyum balas. "Sepertinya aku akan cepat-cepat mandi dan siap untuk melihat langit malam itu bersamamu."
Keduanya tertawa ringan, merasa bahwa momen tersebut adalah kesempatan untuk menghabiskan waktu bersama dalam suasana santai.
Dalam senyuman mereka, tergambar hubungan yang saling menghargai dan saling mengerti, di mana setiap keputusan dan rencana mereka bisa dijalani bersama sebagai tim yang solid.
Noy pun mandi setelah itu, tak butuh waktu lama baginya untuk kembali dengan wajah yang segar. Dalam beberapa saat, ia muncul dengan rambut yang kering dan senyum yang cerah di wajahnya.
Pakaian segar yang ia kenakan menunjukkan bahwa ia benar-benar telah bersiap untuk menghabiskan waktu bersama Hegi.
"Siap untuk pergi?" tanya Noy sambil tersenyum.
Hegi mengangguk senang. "Tentu saja, sebelum itu ayo ke kantin, kita belum makan semenjak tidur tadi."
Noy mengangguk setuju. "Benar juga, perutku sudah mulai berbicara. Ayo, mari kita isi energi kita terlebih dahulu sebelum pergi menuju observatorium."
Mereka tiba di kantin dan dengan lapar memilih makanan favorit mereka. Setelah memilih, mereka duduk di tempat favorit mereka, sebuah sudut yang nyaman di kantin.
Sambil menikmati makanan mereka, mereka berbincang-bincang tentang berbagai hal, dari latihan hari itu hingga rencana masa depan mereka sebagai prajurit. Suasana santai dan akrab mengiringi percakapan mereka.
Setelah perut mereka terisi dengan santapan lezat, Hegi dan Noy bersiap untuk melanjutkan perjalanan ke observatorium.
Mereka berjalan dengan langkah mantap, menuju tempat yang menawarkan pandangan spektakuler langit malam. Cahaya bulan mulai menerangi langkah mereka, menciptakan aura magis di sekeliling.
Ketika mereka tiba di observatorium, mereka duduk di luar, di bawah langit yang dipenuhi bintang-bintang. Udara sejuk malam menyentuh kulit mereka, tetapi mereka merasa hangat dalam kebersamaan.
Dalam kedamaian malam, mereka merenung dan menikmati pemandangan langit yang indah. Noy menunjuk ke arah konstelasi tertentu, dan Hegi mengikuti pandangannya, membiarkan dirinya terpesona oleh keajaiban alam semesta.
"Sungguh indah, bukan?" ucap Hegi dengan suara pelan, tetapi penuh kekaguman.
Noy setuju sambil tersenyum. "Iya, begitu mengagumkan. Rasanya seperti kita hanya sebagian kecil dari sesuatu yang lebih besar dan luar biasa."
Mereka menikmati malam itu dengan penuh kebahagiaan, sambil terus meresapi keindahan langit malam yang membentang di atas mereka.
Tidak terasa waktu berlalu dengan cepat, dan ketika mereka melihat jam yang ada disana, mereka menyadari bahwa sudah larut malam.
Meskipun mereka merasa enggan meninggalkan pemandangan yang menakjubkan, mereka tahu bahwa kelas besok pagi menanti mereka, dan istirahat yang cukup sangat penting.
Dengan langkah pelan, Hegi dan Noy kembali ke asrama mereka. Meskipun tubuh mereka mulai terasa lelah, hati mereka penuh dengan kenangan indah dari malam itu.
Kedekatan yang mereka rasakan semakin diperkuat oleh momen-momen seperti ini, di mana mereka bisa bersama-sama mengalami keajaiban alam dan berbagi cerita dalam kesederhanaan dan kedamaian.
Ketika mereka tiba di asrama, mereka merasa lega dan siap untuk beristirahat. Dengan senyuman di wajah mereka, mereka berjalan menuju tempat tidur masing-masing, dengan pikiran yang penuh dengan kegembiraan dan harapan untuk hari yang akan datang.
__ADS_1
Dalam kegelapan malam, mereka tertidur dengan perasaan yang hangat dan rasa persahabatan yang tak tergoyahkan.
...****************...
Suasana pagi selalu berhasil membangunkan Hegi dari tidurnya. Ia mengulurkan tangan untuk mematikan alarm yang terus berbunyi di meja sebelah tempat tidurnya.
Setelah mendiamkan kebisingan tersebut, Hegi duduk di tepi tempat tidur sejenak, meregangkan tubuhnya sambil merasa segar setelah tidur semalam. Ia merasakan panggilan alam ketika sinar matahari pagi mulai menyusup masuk melalui jendela.
Dengan langkah yang ringan, Hegi berjalan menuju jendela dan membukanya perlahan. Udara pagi yang segar masuk ke dalam asrama, membawa harum bunga dan suara burung-burung yang merdu. Hegi merasa segera dan hidup, siap untuk memulai hari baru yang penuh dengan potensi dan peluang.
Setelah membuka jendela dan merasakan semilir udara pagi yang menyegarkan, Hegi berjalan menghampiri ranjang Noy dengan langkah hati-hati.
Dengan lembut, ia menepuk bahu Noy sambil berkata, "Noy, sudah waktunya bangun. Matahari pagi sudah terang."
Noy merintih pelan, masih dalam keadaan setengah terjaga. Ia meraih selimutnya dan menutup wajahnya. "Sudah pagi?"
Hegi tersenyum lembut. "Iya, sudah. Ayo, bangun. Kita punya kelas pagi hari ini."
Dengan sedikit berat hati, Noy akhirnya mengangkat dirinya dari tempat tidur dan duduk. Ia merapatkan selimut di sekitar tubuhnya sambil menguap.
"Rasanya seperti baru saja tidur sebentar."
Hegi tertawa ringan. "Aku tahu perasaan itu. Tapi mari, kita harus siap untuk kelas."
Noy mengangguk dan mengusap-ngusap mata dengan lembut. "Baiklah, aku akan segera mandi dan bersiap."
Dalam suasana pagi yang masih segar, Hegi dan Noy berjalan menuju kamar mandi dengan langkah penuh semangat. Mereka masuk ke dalam kamar mandi yang terasa hangat, dan air dari shower mulai mengalir dengan lembut.
Hegi mengambil alih kontrol keran air dan menyesuaikan suhu agar nyaman.
Mereka berdiri di bawah pancuran air hangat, merasakan sentuhan lembutnya pada kulit mereka. Sensasi air mengalir di atas tubuh mereka membawa perasaan penyegaran dan kesejukan.
Hegi merasakan beban lelah dari tidur terangkat perlahan, dan ia membiarkan air mengalir di atas kepalanya, menenangkan pikirannya.
Noy juga merasakan kelezatan sensasi air hangat, membiarkannya meresapi setiap pori-pori tubuhnya. Ia merasakan energi baru mengalir ke dalam dirinya, dan ia mulai membasahi rambut dan tubuhnya dengan sabun.
Setiap gerakan tangannya seperti memberikan kehidupan baru pada tubuhnya yang masih mengantuk.
Saat mereka merasa puas dengan mandi pagi mereka, mereka mematikan keran air dan keluar dari kamar mandi. Dengan wajah segar dan tubuh yang rileks, mereka siap untuk menghadapi kelas pagi dan semua tugas yang menanti.
Mandi pagi telah memberikan semangat dan keceriaan yang dibutuhkan untuk memulai hari mereka dengan baik.
Dengan pakaian segar dan semangat yang menggebu, Hegi dan Noy selesai berpakaian dan bergegas meninggalkan asrama menuju kelas pagi mereka.
Mereka melangkah melalui koridor-koridor markas pusat dengan langkah mantap, merasa familiar dengan setiap jalan dan sudut dari tempat itu.
Meskipun pagi ini terasa agak tergesa-gesa, mereka tetap mempertahankan suasana ceria dan semangat.
Sesampainya di lantai dua, mereka melihat pintu kelas sudah terbuka dan beberapa rekan prajurit telah tiba. Mereka mengambil tempat duduk di barisan belakang, bersiap untuk memulai kelas bersama Instruktur Denia.
Ruangan kelas dipenuhi dengan energi yang bersemangat, dan Hegi serta Noy merasa antusias untuk menyerap ilmu dan keterampilan baru yang akan mereka pelajari.
Setelah beberapa saat yang penuh antisipasi, pintu kelas akhirnya terbuka dan Instruktur Denia muncul dengan langkah mantap. Seluruh perhatian prajurit terfokus padanya saat ia memasuki ruangan.
Wajahnya yang tegas dan penuh dedikasi memberikan kesan bahwa hari ini akan menjadi sesi pembelajaran yang penting.
Dengan sikap yang lugas, Instruktur Denia berdiri di depan kelas dan menyapa dengan suara lantang, "Selamat pagi, kadet."
Suasana di ruangan menjadi tenteram, dan para prajurit memberikan sambutan dengan menganggukkan kepala dan senyuman hormat.
Pada pagi itu, ketika matahari perlahan naik di langit, Hegi dan Noy memulai perjalanan baru dalam pembelajaran dan pertumbuhan mereka sebagai prajurit.
__ADS_1
Dengan semangat yang membara, mereka menatap masa depan dengan keyakinan dan tekad untuk menghadapi setiap tantangan yang mungkin datang.