
2240
Tembok Pusat Benteng Selatan
Jumlah Populasi 4.044.680
Mereka memutuskan untuk melanjutkan perjalanan dengan berjalan kaki, memilih untuk merasakan setiap langkah dan hembusan angin yang menyegarkan.
Kapal atau kereta antar distrik memang lebih cepat, tetapi mereka ingin menikmati pemandangan sepanjang perjalanan menuju Tembok Pusat, tempat asrama mereka berada.
Dengan langkah pasti dan semangat yang tinggi, Hegi dan Noy berjalan melintasi jalan-jalan yang dikenal dengan baik di Benteng Selatan.
Perjalanan berjalan lancar,mereka membiarkan diri mereka tenggelam dalam keindahan sekitar. Taman hijau yang disusun rapi, jalan yang penuh dengan jejak sejarah, dan bangunan megah yang menunjukkan keagungan Benteng Selatan.
Mereka tidak terburu-buru, mengambil waktu untuk berbicara dan tertawa saat melewati sudut yang telah mereka kenal selama ini.
Ketika akhirnya mereka tiba di depan gerbang Tembok Pusat, matahari sudah menjorok ke arah barat, menerangi pemandangan dengan cahaya kuning keemasan.
Gerbang megah dan kokoh tampak menjulang di hadapan mereka, diapit oleh tembok baja yang kokoh dan dikelilingi oleh parit yang menjaga keamanannya.
Hegi dan Noy berhenti sejenak untuk mengagumi pemandangan yang berdiri di depan mereka. Gerbang tersebut bukan hanya sebuah struktur fisik, tetapi juga simbol kekuatan dan ketahanan Benteng Selatan.
Setiap pilar, tiang, dan detail arsitektur pada gerbang tersebut menceritakan kisah perjalanan panjang Benteng Selatan dan orang-orangnya.
"Melihat gerbang ini selalu membuatku teringat akan tanggung jawab dan arti penting kita sebagai prajurit," kata Hegi dengan suara terengah-engah.
Noy mengangguk setuju, mata mereka penuh dengan semangat dan tekad untuk terus melindungi dan mengabdi kepada kampung halaman mereka.
Dengan perasaan yang penuh haru dan rasa bangga, mereka melangkah melalui gerbang dan memasuki Tembok Pusat. Langit senja yang memancarkan nuansa kemerahan yang indah, menyinari lorong-lorong di dalam tembok.
Suasana itu memancarkan semangat persatuan dan keberanian, mengingatkan mereka tentang perjuangan yang harus mereka hadapi dan berjuang untuk umat manusia.
Mereka berjalan dengan mantap melewati lorong yang akrab, melewati sudut-sudut yang telah mereka kenal sejak awal. Setiap langkah mengingatkan mereka pada latihan-latihan yang telah mereka lalui, pelajaran yang telah mereka terima, dan pengalaman yang telah mereka alami bersama.
Tiap sudut ini memberi mereka kekuatan dan kepercayaan diri untuk melanjutkan perjalanan mereka.
Saat mereka mendekati asrama, langit sudah mulai berubah warna, menciptakan palet yang indah dari oranye, merah, dan ungu. Mereka tahu bahwa hari ini akan segera berakhir, dan mereka akan memasuki malam yang tenang.
Tetapi semangat mereka tetap terbakar, siap untuk menyambut setiap hari yang akan datang, karena di dalam Benteng Selatan, petualangan mereka akan terus menambahkan kisah baru.
Setelah membuka pintu kamar mereka, Hegi dan Noy memasuki ruangan dengan langkah lelah. Mereka ingin merasakan kenyamanan ranjang mereka yang begitu familiar, dan tanpa ragu, mereka merebahkan tubuh mereka di ranjang sejenak, merasakan relaksasi merebak di setiap urat dan otot.
Dengan perlahan, mereka melepaskan sepatu mereka, menghirup napas dalam-dalam. Mereka saling berpandangan dengan senyum kecil, merasakan rasa kepuasan setelah hari yang panjang dan penuh petualangan.
Tanpa banyak bicara, mereka tahu bahwa saat ini adalah waktu yang tepat untuk merilekskan diri sebelum melanjutkan aktivitas selanjutnya. Dalam keheningan yang nyaman, mereka memutuskan untuk mandi untuk menghilangkan penat dan debu yang menempel setelah beraktivitas di luar.
Di dalam kamar mandi, mereka membiarkan air hangat mengalir di tubuh mereka. Setiap tetes air terasa menyegarkan, meredakan keletihan dan tegang di otot-otot mereka.
__ADS_1
Hegi menggosok lembut sabun di tubuhnya, sementara Noy membiarkan air mengalir di atas kepalanya, membiarkan sensasi menyegarkan meresap ke dalam pikirannya.
Mandi adalah momen yang penuh kedamaian, di mana mereka dapat merenung dan merasakan koneksi antara tubuh dan pikiran mereka.
Di bawah pancaran air yang menenangkan, mereka membiarkan pikiran mereka mengembara, mengingat kembali pengalaman hari ini, mengobrol dengan orang-orang yang mereka temui, dan menghargai kebersamaan mereka sebagai teman.
Setelah mereka puas dengan mandi yang menyegarkan, mereka mengeringkan tubuh mereka dengan handuk dan mengenakan pakaian tidur yang nyaman. Kemudian mereka kembali ke tempat tidur, berbaring dengan perasaan yang lega.
Meskipun masih banyak hal yang harus mereka lakukan dan hadapi di masa depan, saat ini adalah saat untuk istirahat dan mengisi kembali energi.
Setelah berbaring sejenak, keduanya merasakan getaran ringan di perut mereka yang memberi tanda lapar. Dengan hati-hati, mereka bangkit dari tempat tidur dan memutuskan untuk pergi ke kantin untuk makan malam. Langkah mereka terisi semangat, terutama setelah istirahat yang merevitalisasi tubuh mereka.
Tiba di kantin, suasana tampak berbeda dari biasanya. Biasanya, kantin penuh dengan para kadet yang sedang menikmati makan malam dan berbincang-bincang. Namun, kali ini terasa agak sepi, hanya ada beberapa prajurit senior dan beberapa kadet yang mereka kenali yang duduk di sana.
Hegi dan Noy menuju bagian antrian dan memilih makanan favorit mereka, lalu mereka mencari tempat duduk yang nyaman. Meskipun suasana agak berbeda, mereka tidak memperdulikannya. Mereka duduk, meletakkan makanan di depan mereka, dan mulai makan dengan lahap.
Terlepas dari keadaan kantin yang sepi, aroma dan rasa makanan tetaplah menggoda, dan perut mereka terasa bersyukur mendapatkan energi setelah seharian beraktivitas.
Sambil makan, mereka melanjutkan percakapan ringan. Mereka berbicara tentang latihan senjata kemarin, liburan mereka di distrik utara, serta rencana-rencana mereka di hari mendatang.
Meskipun kantin tidak sepenuhnya penuh dengan suara tawa dan obrolan seperti biasanya, tetapi momen ini masih berarti bagi mereka berdua.
Kebersamaan dan persahabatan mereka tetap menghangatkan suasana, bahkan dalam momen yang tenang seperti ini.
Setelah selesai makan, mereka bersama-sama membereskan tempat duduk mereka dan mengucapkan terima kasih kepada penjaga kantin. Saat mereka keluar dari kantin, suasana malam yang nyaman menyambut mereka.
Dengan langkah lelah, mereka tiba di asrama dan memasuki kamar mereka. Meskipun hari ini penuh dengan aktivitas dan petualangan, rasa lelah mulai merasuki tubuh mereka. Mereka duduk sejenak di sisi ranjang, memandangi luar jendela yang masih menyimpan cahaya malam.
Hegi dan Noy merasa kenyamanan dari rutinitas ini. Duduk bersama di dalam kamar mereka, dengan perasaan puas atas apa yang telah mereka lakukan selama hari ini. Mereka bisa merasakan kehangatan persahabatan mereka, seperti sebuah tempat yang selalu bisa mereka panggil pulang.
Sambil duduk, mereka melanjutkan percakapan ringan. Mereka berbicara tentang pengalaman hari ini, latihan senjata, dan petualangan mereka ke distrik utara.
Meskipun mata mereka sudah mulai terasa berat, mereka masih terus berbicara dengan antusias. Namun, semakin lama, rasa kantuk tak terelakkan menghampiri.
Saat malam semakin dalam, rasa kantuk semakin sulit ditahan. Mata mereka mulai terasa berat, dan akhirnya, mereka merasakan panggilan tidur yang tak terbendung.
Dengan perlahan, mereka merebahkan tubuh mereka di atas ranjang, merasakan kenyamanan matras yang familiar. Dalam keheningan malam, suasana asrama yang nyaman dan akrab, mereka merasa seolah dunia luar telah tertinggal jauh.
Dengan perlahan, mata mereka terasa semakin berat dan pikiran mereka mulai meredup. Tanpa sadar, mereka tertidur di tempat duduk, tenggelam dalam tidur yang mendalam.
Malam yang tenang dan penuh damai melingkupi mereka, menyatukan mimpi-mimpi mereka dalam satu alam semesta yang tak terbatas. Dalam tidur mereka, mungkin ada mimpi petualangan, pertemanan, atau bahkan impian masa depan mereka sebagai prajurit kuat dan berdedikasi.
Tidak ada perasaan khawatir, hanya ketenangan yang memeluk mereka. Dalam dekapan malam, mereka berdua merasa aman dan dilindungi, siap untuk menghadapi esok yang baru. Dan dalam tidur mereka, perjalanan mereka di dunia nyata berlanjut dalam alam mimpi yang penuh harapan dan keajaiban.
...****************...
Sementara itu, beberapa saat sebelumnya.
__ADS_1
Sebuah kapal militer melaju tenang melalui perairan sungai di distrik utara. Kapal itu memiliki tampilan yang mengesankan, dilengkapi dengan landasan helikopter, berbagai kendaraan, dan beberapa helikopter yang terparkir dibagian atasnya.
Meskipun ukurannya lebih kecil daripada kapal induk yang megah, kapal ini tetap menghadirkan aura kekuatan dan efisiensi. Namun, yang membuat kapal ini benar-benar mencolok adalah fakta bahwa kapal tersebut bertenaga nuklir.
Tanda-tanda teknologi canggih terlihat jelas, menandakan bahwa kapal ini adalah sebuah karya teknologi paling mutakhir yang dimiliki Benteng Selatan. Keberadaan tenaga nuklir menambah dimensi baru pada kehandalan dan daya tahan kapal ini dalam menjalankan berbagai misi dan tugas berat.
Kendaraan militer dan personel terlihat bergerak dengan teratur di atas kapal, mengindikasikan persiapan untuk tugas atau latihan yang serius.
Banyak mata tertuju pada kapal ini saat melintasi sungai, dan sekelompok orang yang sedang beraktivitas di tepi sungai terhenti sejenak, memberikan penghormatan yang diam kepada kapal dan semangat yang diwakilinya.
Pada bagian atas kapal, seorang komandan tampak berdiri dengan tegak, memantau lingkungan sekitar dengan mata tajam. Ekspresi seriusnya mencerminkan tanggung jawab yang besar yang ia emban. Ia adalah bagian dari kru kapal ini yang bertanggung jawab atas tugas yang kompleks dan penting.
Pemandangan kapal militer itu melambangkan kedisiplinan, kekuatan, dan dedikasi dalam menjaga keamanan dan ketertiban wilayah. Seperti bayangan besar yang melintas di tengah perairan, kapal itu meninggalkan kesan yang mendalam dan mengingatkan semua orang akan tanggung jawab mereka dalam menjaga kedamaian dan keamanan.
Kapal megah tersebut terus melaju dengan mantap melalui perairan distrik utara, mengarah ke depan tembok terluar dari Benteng Selatan di distrik tersebut. Di sana, sebuah gerbang besar dengan jeruji besi yang kuat terpasang, menutup jalan masuk sungai.
Namun, gerbang itu mulai diturunkan perlahan, membuka jalan bagi kapal raksasa itu untuk melanjutkan perjalanannya. Dengan kecermatan dan koordinasi yang luar biasa, kapal itu melintasi gerbang tersebut dengan lancar.
Beberapa personel yang berada di atas kapal bekerja sama dalam mengawasi dan mengontrol gerakan kapal, memastikan bahwa semuanya berjalan sesuai rencana. Kapal itu tampak begitu presisi dalam setiap gerakannya, mengungkapkan kualitas dan pelatihan tinggi yang dimiliki awaknya.
Saat kapal itu melewati gerbang besi dan akan melanjutkan perjalanannya di dalam tembok terluar, pemandangan di sekitarnya berubah. Kini, dinding kokoh dan megah dari Benteng Selatan menjulang di kedua sisi sungai, menciptakan koridor perairan yang terlindungi dan aman.
Kapal melanjutkan perjalanan dengan perasaan kebanggaan, menjadi bagian dari sistem pertahanan yang menjaga integritas dan keamanan distrik utara.
Kapal itu berlayar menjauh dari gerbang tembok, meninggalkan tempat yang aman di distrik utara. Di atas kapal, seorang komandan yang bernama Richard mengambil kendali penuh atas misi ini.
Dia adalah sosok berpengalaman yang telah banyak terlibat dalam operasi-operasi khusus, dan dia bertanggung jawab atas pasukan siap tempur serta beberapa personel medis dan pendukung lainnya yang berada di kapal ini.
Di pusat kendali, komandan Richard memantau semua aspek perjalanan dengan seksama. Peta dan data informasi bergantian muncul di layar di depannya, membantunya mengambil keputusan yang tepat untuk menghadapi berbagai situasi. Dia berkomunikasi dengan tim di berbagai bagian kapal melalui komunikator, memastikan koordinasi dan komunikasi yang lancar.
Richard adalah seorang pemimpin yang tegas dan cerdas, dengan pengetahuan yang mendalam tentang taktik militer dan strategi. Dia dikenal karena kemampuannya dalam mengatasi situasi sulit dan mengambil keputusan cepat di medan perang. Saat kapal berlayar menuju tujuan misi mereka, dia berada di pusat kendali, memantau setiap aspek operasi dengan teliti.
Pada dek kapal, pasukan siap tempur tetap dalam posisi siap tempur. Mata mereka tetap fokus, sementara tangan mereka beristirahat di dekat senjata. Kecerdasan dan kekuatan mereka terpancar dari setiap gerakan dan ekspresi wajah mereka. Mereka tahu betul bahwa di dunia militer, kesiapan adalah kunci untuk bertahan dan berhasil dalam setiap misi.
Mereka adalah prajurit yang terlatih dengan baik, memiliki keahlian dalam berbagai bidang pertempuran. Senjata dan perlengkapan mereka diperiksa dan dipersiapkan dengan cermat, dan semangat juang mereka terpancar dari mata dan postur mereka yang tegap.
Sementara itu, personel medis dan pendukung juga menjalankan tugas masing-masing, memastikan bahwa kapal ini siap menghadapi segala situasi yang mungkin muncul.
Semua anggota kapal ini memiliki peran penting dalam kesuksesan misi ini, dan mereka bekerja sebagai tim yang terkoordinasi dengan baik di bawah kepemimpinan komandan Richard.
Di tengah lautan yang tenang, kapal terus bergerak maju dengan mantap, menuju tujuan rahasia mereka yang dijaga dengan ketat. Angin sepoi-sepoi menerpa permukaan air, dan langit biru yang cerah tampak melingkupi kapal tersebut.
Meskipun cuaca tampak damai, para anggota kapal tetap berada dalam keadaan siaga dan waspada, mempersiapkan diri untuk menghadapi segala kemungkinan yang mungkin muncul dalam perjalanan yang penuh tantangan ini.
Ketika kapal terus berlayar, rasa tegang dan antisipasi semakin terasa. Meskipun tujuan sebenarnya masih menjadi misteri, para anggota kapal tahu bahwa mereka telah dilatih dengan baik untuk menghadapi apapun yang mungkin terjadi.
Dan di dalam gelombang yang tenang ini, semangat juang mereka terus membara, siap menghadapi segala tantangan yang ada di depan.
__ADS_1