Guardian Of The Last Bastion

Guardian Of The Last Bastion
Chapter 34: Orion


__ADS_3

2240


Tembok Pusat Benteng Selatan


Jumlah Populasi 4.044.675


Setelah menyampaikan materi dasar, Sely pergi meninggalkan ruang kelas dengan senyum puas yang tampak dari wajahnya.


Para kadet melihat dengan rasa kagum saat instruktur mereka bergerak dengan percaya diri dan semangat yang menginspirasi. Sebagian dari mereka merasa terdorong untuk mengikuti jejak Sely dalam menjadi prajurit yang berkualitas.


Tidak lama setelah Sely keluar, para kadet mengikuti jejaknya dan meninggalkan kelas dengan semangat yang tinggi. Mereka merasa termotivasi dan bersemangat untuk menghadapi pelatihan fisik besok di distrik barat laut yang telah diumumkan oleh Sely.


Hegi, salah satu dari para kadet, ikut keluar dari kelas dengan senyuman cerah. Ia merasa senang dan bangga menjadi bagian dari kelas yang penuh semangat dan saling mendukung seperti ini. Dia berbicara dengan beberapa rekan sekelasnya dan berjanji untuk bersiap dengan baik untuk kelas latihan fisik di distrik barat laut besok.


Seiring berjalannya waktu, ruangan kelas semakin kosong. Para kadet berjalan menuju ke tempat mereka masing-masing untuk bersiap-siap pulang atau melanjutkan kegiatan lainnya. Namun, semangat dan antusiasme dari sesi pelatihan hari ini masih terasa kental di udara.


Besok adalah hari yang ditunggu-tunggu oleh para kadet. Mereka telah menantikan kelas latihan fisik di distrik barat laut dengan penuh semangat dan kesiapan. Mereka tahu bahwa latihan tersebut akan menjadi ujian fisik yang menantang, tetapi mereka siap menghadapinya dengan tekad dan dedikasi.


Hegi menghampiri Noy yang ternyata sudah menunggunya di luar kelas dengan senyuman ramah. Mereka berdua sudah menjalin persahabatan yang erat sejak awal masuk militer, dan selalu saling mendukung satu sama lain.


"Mau ke kantin atau langsung ke asrama?" tanya Noy, menunjukkan kepedulian terhadap keinginan Hegi.


"Kantin, aku merasa sangat lapar karena kelas tadi," jawab Hegi dengan jujur sambil mengusap perutnya yang berbunyi lapar.


Noy tertawa ringan, "Baiklah, ayo kita ke kantin. Kita bisa berbicara lebih santai sambil makan."


Keduanya berjalan meninggalkan kelas di lantai dan sengaja memilih tangga daripada lift untuk latihan fisik besok. Mereka menyadari betapa pentingnya menjaga kebugaran fisik, bahkan dalam kegiatan sehari-hari seperti naik tangga.


"Menggunakan tangga adalah cara bagus untuk melatih kekuatan kaki kita," kata Noy dengan senyum di wajahnya. "Latihan kecil ini akan membantu kita mempersiapkan diri untuk latihan fisik besok."


Hegi mengangguk setuju, "Benar, setiap ada kesempatan untuk berlatih adalah kesempatan untuk memperbaiki kemampuan kita."


Dengan semangat, mereka mulai menuruni tangga satu per satu, berbicara dengan riang tentang persiapan untuk kelas latihan fisik besok. Walau perjalanan menaiki tangga cukup melelahkan, tetapi Hegi dan Noy menikmatinya karena mereka menyadari bahwa setiap usaha kecil ini akan membawa manfaat besar untuk kesiapan fisik mereka di masa depan.


Setelah sampai di lantai satu, mereka langsung keluar dari markas pusat dan menuju ke kantin. Saat perjalanan menuju kantin, mereka melihat helikopter yang sepertinya telah menyelesaikan misi, terbang rendah di langit menuju landasan helikopter.


"Mungkin mereka kembali dari misi patroli di wilayah luar," kata Hegi dengan penuh antusiasme, menyimak dengan seksama helikopter yang lewat di atas mereka.


Noy mengangguk, "Ya, mereka pasti melakukan patroli dan pengawasan di wilayah-wilayah yang rawan seperti 'Neraka' tadi."


Melihat helikopter kembali dari misi semakin memotivasi mereka untuk menjadi prajurit yang tangguh dan siap menghadapi setiap tugas yang diemban.


Mereka berdua melanjutkan perjalanan dengan penuh semangat, menyadari betapa pentingnya tugas dan tanggung jawab sebagai prajurit dalam menjaga keamanan wilayah Benteng Selatan.


Akhirnya, mereka telah sampai di kantin, disana mereka langsung mengantri untuk memesan makanan. Noy bertanya pada Hegi apa yang akan dia makan sambil menatap daftar menu dengan penuh minat.


Hegi dengan senyum mengatakan, "Aku akan memesan nasi goreng, sepertinya cocok untuk mengisi perut setelah kelas tadi."


Noy mengangguk setuju, "Ide bagus! Aku juga akan memesan nasi goreng."


Ketika tiba giliran mereka, Noy dan Hegi memesan nasi goreng dan minuman kesukaan mereka. Setelah memesan, mereka berdua mencari tempat duduk favorit mereka di sudut kantin yang nyaman dan tenang.

__ADS_1


Mereka berbincang dan tertawa ringan sambil menikmati makanan mereka. Noy memberi tahu Hegi tentang beberapa rencana dan ide yang telah terlintas di benaknya untuk menghadapi kelas latihan fisik besok.


"Kita bisa latihan bersama dan saling membantu, Hegi. Aku yakin dengan kerja tim kita akan mencapai hasil yang luar biasa," ujar Noy dengan semangat.


Hegi mengangguk, merasa sangat bersyukur karena memiliki sahabat sebaik Noy yang selalu memberinya semangat dan mendukungnya.


Mereka merasa bahagia dan berterima kasih atas persahabatan yang mereka miliki, karena memiliki sahabat sejati seperti Noy adalah suatu anugerah yang tak ternilai dalam perjalanan mereka sebagai prajurit di Benteng Selatan.


Setelah makan selesai, mereka berdua berjalan kembali menuju asrama dengan langkah ringan, sambil membicarakan rencana dan harapan mereka untuk kelas latihan fisik besok.


Saat diperjalanan menuju asrama, mereka tiba-tiba melihat helikopter meninggalkan markas dengan cepat. Mereka merasa bahwa helikopter itu mungkin sedang dalam misi ofensif, karena tidak ada alarm atau pengumuman bahaya yang terdengar di markas.


"Sepertinya mereka benar-benar serius dengan misi ofensif hari ini," ujar Hegi sambil mengamati helikopter yang pergi di langit.


Noy mengangguk setuju, "Ya, mungkin ada ancaman yang harus segera diatasi di wilayah luar."


Kedua sahabat itu saling berpandangan satu sama lain, mengagumi semangat serta dedikasi rekan-rekan mereka yang bertugas di helikopter. Mereka merasa terinspirasi untuk menjadi seperti mereka, dan siap menghadapi semua tantangan dalam misi apapun yang mereka dapat nantinya.


Setibanya di asrama, mereka berdua memutuskan untuk membersihkan diri terlebih dahulu sebelum beristirahat. Meskipun lelah setelah sehari yang penuh antusiasme, Hegi dan Noy menyadari pentingnya menjaga kebersihan dan kesehatan diri, terutama setelah berada di luar asrama.


"Mungkin kita bisa cepat-cepat mandi dan bersiap membersihkan diri, Noy. Setelah itu, kita bisa beristirahat dengan lebih nyaman," ujar Hegi dengan senyum lembut.


Noy mengangguk setuju, "Benar, setelah kita membersihkan diri, rasanya pasti lebih segar untuk tidur."


Mereka berdua pun masuk ke kamar mandi dan dengan cepat membersihkan diri dari keringat dan debu setelah seharian aktif di kelas dan melihat helikopter meninggalkan markas. Setelah mandi, mereka merasa lebih segar dan siap untuk beristirahat dengan nyaman.


Kembali ke kamar asrama, Hegi dan Noy segera berbaring di tempat tidur mereka. Mereka merasa senang dan puas dengan hari ini, karena telah belajar banyak di kelas dan mendapatkan inspirasi dari helikopter yang melakukan misi ofensif.


Noy mengangguk setuju, "Benar. Bersama-sama, kita pasti bisa menghadapi setiap tantangan dengan sukses."


Kedua sahabat itu pun merebahkan diri di tempat tidur dan segera merasa terlelap dalam tidur siang yang nyaman. Mereka menutup mata dengan perasaan damai, menikmati momen istirahat sejenak setelah hari yang penuh dengan rasa semangat dan antusiasme.


Setelah tidur yang cukup, Hegi terbangun dari tidurnya. Ia melihat Noy yang masih terlelap dalam tidurnya, dan kali ini ia tidak berniat untuk membangunkannya.


Hegi menyadari betapa pentingnya tidur yang cukup bagi kesehatan dan kesejahteraan fisik dan mental. Ia memahami bahwa tidur adalah salah satu anugerah yang diberikan Tuhan kepada mereka untuk memulihkan tenaga dan menyegarkan pikiran.


Hegi mengambil waktu sejenak untuk duduk di samping tempat tidur, menatap wajah damai Noy yang sedang tertidur. Ia merasa bahagia memiliki sahabat seperti Noy, yang selalu mendukungnya dengan tulus dan saling menghargai waktu istirahat masing-masing.


"Semoga Noy mendapatkan tidur yang nyenyak dan penuh mimpi indah," gumam Hegi pelan.


Hegi kemudian beranjak dari tempat tidur dan mempersiapkan diri untuk hari yang akan datang. Ia merasa siap menghadapi kelas latihan fisik dan tantangan apa pun yang akan ada.


Dalam hati, Hegi berterima kasih atas anugerah tidur yang memulihkan energi dan mempersiapkannya untuk menghadapi setiap hari dengan semangat dan keceriaan.


Ketika Noy akhirnya bangun dari tidurnya, Hegi menyambutnya dengan senyum dan bertanya dengan penuh perhatian, "Bagaimana tidurmu, Noy?"


Noy tersenyum, "Tidurku sangat nyenyak, Hegi. Terima kasih sudah membiarkanku tidur lebih lama."


Hegi mengangguk dan berkata, "Kita harus saling menghargai waktu istirahat kita. Semoga kita tetap bersemangat dan siap menghadapi apa pun yang akan datang hari ini."


Hegi senang melihat Noy sudah bangun dan merasa ingin mengajaknya jalan-jalan mengelilingi tembok pusat markas. Ia berpikir akan menunjukkan bagunan tertinggi di R&D (Research and Development). Hegi tahu bahwa Noy pasti akan tertarik untuk melihat tempat ini.

__ADS_1


"Hey, Noy, bagaimana kalau kita jalan-jalan sebentar? Aku ingin menunjukkan sesuatu yang menarik di markas ini," ajak Hegi dengan antusias.


Noy tersenyum, "Tentu saja, aku tertarik. Apa yang akan kau tunjukkan padaku?"


Hegi menjelaskan, "Nanti akan aku tujukan padamu."


Keduanya berjalan menuju bangunan R&D dengan semangat, penasaran ingin melihat fasilitas dan teknologi canggih yang ada di dalamnya.


Begitu mereka sampai di bangunan tersebut, mereka langsung menuju lantai paling atas, karena mereka tahu bahwa di sana terdapat tempat yang memberikan pemandangan terbaik dan luas dari atas markas.


Ternyata, bangunan paling atas dari R&D merupakan sebuah observatorium militer yang jarang dikunjungi oleh para kadet. Hegi sengaja mengajak Noy karena ia tahu betapa indahnya pemandangan langit senja dari observatorium pada saat itu, yang sebentar lagi akan berganti malam.


Mereka berdua naik ke lantai observatorium dan melihat langit yang mulai memerah karena senja. Cahaya matahari yang merayap perlahan-lahan menuju cakrawala memberikan nuansa magis yang tak terlupakan. Bintang-bintang pun sudah mulai muncul satu per satu, menambah keindahan langit senja itu.


"Wow, sungguh menakjubkan!" ucap Noy dengan terkagum-kagum, "Aku belum pernah melihat langit senja seindah ini sebelumnya."


Hegi tersenyum, "Senja di sini memang indah sekali. Saat-saat seperti ini membuat kita menyadari keindahan dan keajaiban alam yang mengelilingi kita."


Mereka berdua duduk di dekat jendela observatorium, menikmati pemandangan langit senja yang begitu memesona. Suasana yang tenang dan damai membuat mereka merasa rileks dan bersyukur atas keberuntungan bisa menyaksikan momen berharga ini bersama.


"Aku sangat berterima kasih telah mengajakku ke sini, Hegi. Momennya begitu indah," ucap Noy dengan suara lembut.


Hegi tersenyum, "Sama-sama, Noy. Aku senang bisa berbagi momen ini denganmu. Saat-saat seperti ini membuat persahabatan kita semakin berarti."


Seiring dengan berjalannya waktu, langit semakin gelap dan bintang-bintang semakin bersinar. Mereka menyaksikan pergantian langit dari senja menjadi malam, dan kembali turun dari observatorium dengan hati yang penuh sukacita.


Saat mereka mengamati bintang-bintang, langit malam di wilayah Benteng Selatan begitu jernih dan bebas dari polusi cahaya, memperlihatkan keindahan langit malam yang sebenarnya. Mereka dengan penuh kagum melihat rasi bintang Orion yang tampak gagah dan menakjubkan di langit.


"Bintang Orion selalu menjadi favoritku," ucap Hegi dengan senyum. "Dulu, saat masih kecil, ayahku sering bercerita tentang bintang ini. Katanya, bintang-bintang di langit adalah pemandangan dari masa lalu yang tak tergantikan dan merupakan pemandu bagi para pelaut dan prajurit dalam perjalanan mereka."


Noy mengangguk, "Bintang-bintang selalu menyimpan cerita dan makna yang menarik. Sama seperti persahabatan kita, setiap momen dan pengalaman membentuk ikatan yang semakin kuat di antara kita."


Mereka berdua kembali memandang langit malam yang mempesona, merenungkan arti dari pemandangan yang mereka saksikan.


Bintang-bintang itu membuat mereka terasa seperti bagian dari sesuatu yang lebih besar, sesuatu yang abadi dan menghubungkan mereka dengan dunia yang lebih luas.


"Kita mungkin hanya dua orang kecil di antara bintang-bintang ini, tapi kita juga memiliki peran dan tugas kita di dunia ini, bukan?" ucap Noy dengan serius.


Hegi mengangguk, "Betul, Noy. Mungkin kita tidak sebesar bintang-bintang di langit, tapi dengan semangat, mimpi dan dedikasi kita, kita bisa menjadi cahaya dan inspirasi bagi orang-orang di sekitar kita."


Setelah mengagumi keindahan langit malam dan bintang-bintang yang bersinar terang, Hegi dan Noy memutuskan untuk kembali ke asrama militer. Mereka menyadari bahwa besok pagi mereka harus bersiap-siap untuk mengikuti kelas latihan fisik yang akan diadakan di distrik barat laut.


Mereka berjalan kembali menuju asrama dengan langkah ringan, sambil berbincang- bincang tentang persiapan dan harapan mereka untuk kelas latihan fisik esok hari.


Mereka berdua merasa semakin semangat dan termotivasi untuk menghadapi tantangan dan menguji kemampuan fisik mereka.


Mereka sampai di asrama dengan perasaan lelah setelah seharian beraktivitas dan sesi latihan mental yang menguras energi. Memutuskan untuk istirahat dengan cukup, mereka berdua memilih untuk langsung tidur tanpa banyak bicara.


Dalam kegelapan malam, mereka merasakan kehangatan persahabatan yang mengelilingi mereka seperti pelindung dari dinginnya dunia di luar sana.


Dengan perasaan damai dan penuh keyakinan, mereka tertidur dengan senyuman di wajah mereka, menanti hari esok yang penuh harapan dan semangat untuk melangkah lebih jauh dalam perjalanan mereka menjadi prajurit yang tangguh di Benteng Selatan.

__ADS_1


__ADS_2