Guardian Of The Last Bastion

Guardian Of The Last Bastion
Chapter 60 : Last Drive


__ADS_3

2241


Area Luar Benteng Selatan


Jumlah Populasi 4.044.867


Sebelum Noy berhasil mencapai dada monster itu, monster morsus itu berusaha untuk bergerak dan berusaha untuk bangkit. Dalam upaya putus asa untuk mendapatkan kembali keseimbangannya, monster itu menggunakan kedua tangannya untuk membantunya berdiri. Meskipun terluka parah, naluri bertahan hidup monster itu memotivasi nya untuk tidak menyerah begitu saja.


Situasinya semakin rumit karena monster morsus sedang berusaha untuk berdiri kembali, dan Noy harus berhati-hati agar tidak terjatuh dalam usahanya untuk mencapai bagian dada monster tersebut.


Pertarungan ini semakin sengit, tetapi tekad Noy untuk mengalahkan monster itu tidak pernah kendur. Ia akan terus berjuang untuk melindungi dirinya dan teman-temannya dari ancaman ini.


Saat Noy berada tepat di samping perut monster morsus itu, monster itu tiba-tiba berteriak tepat di depan wajah Noy. Teriakannya sangat kuat dan menggelegar, sehingga membuat pakaian Noy seperti tertiup angin, dan rumput di sekitarnya bergoyang dengan hebatnya.


Teriakan monster morsus itu mencoba untuk membingungkan dan menghentikan Noy dalam serangannya. Meskipun terkena dampak dari teriakan monster yang mengerikan itu, Noy tidak menyerah begitu saja.


Tekadnya tetap kuat, dan ia terus mengupayakan serangan ke arah bagian dada monster morsus yang merupakan titik lemahnya. Dalam momen yang tegang ini, keberanian dan determinasi Noy akan menjadi penentu dalam pertarungan yang sulit ini.


Dengan cepat dan tepat, sebelum monster itu berhasil berdiri kembali, Noy menebas lengan kanan monster itu. Itu adalah bagian yang paling dekat dengannya, dan serangan itu berhasil membuat monster yang sedang berusaha berdiri itu terlentang sekali lagi.


Pondasi yang ia bangun dengan susah payah untuk berdiri seakan-akan ambruk, dan monster itu terjatuh dengan penuh rasa sakit. Serangan cerdik ini membuat monster morsus semakin lemah, dan ia kesulitan untuk mempertahankan dirinya.


Noy telah mengambil inisiatif dalam pertarungan ini, dan hasilnya tampaknya semakin mendekati kemenangan. Namun, ia tak boleh lengah, karena monster morsus itu masih merupakan ancaman yang berbahaya.


Melihat monster morsus yang terlentang kembali, Noy tidak ingin melewatkan kesempatan emas ini untuk mengakhiri pertarungan. Dengan tekad yang kuat, ia menaiki tubuh monster itu dan berusaha mencapai bagian dadanya yang merupakan titik lemahnya.


Namun, tangan kiri monster itu berusaha dengan keras untuk menghalau serangannya. Noy dengan lincah dan tangkas menghindari upaya tangan kiri monster itu yang mencoba menghentikannya.


Di suatu kesempatan yang tepat, saat ia berusaha mencapai bagian dadanya, Noy dengan cepat menebas tangan kiri monster tersebut. Serangan itu mengakibatkan kedua tangannya terluka parah, dan monster morsus itu mengerang kesakitan.


Situasinya semakin mendekati kemenangan bagi Noy, karena ia berhasil melumpuhkan salah satu tangan monster morsus yang merupakan salah satu senjata yang dimilikinya.


Meskipun pertarungan ini telah mencapai puncak ketegangan, Noy tetap fokus pada tujuannya untuk mengalahkan monster morsus tersebut.


Kini, monster morsus itu tak bisa berbuat banyak. Ia hanya mampu menggerakan kepalanya saja sambil mengerang kesakitan. Noy yang melihat kondisi itu tampak tersenyum bahagia, merasa lega bahwa ia telah berhasil mengatasi ancaman monster morsus yang begitu kuat.


Saat ini, Noy sudah mencapai dada monster itu, dan dengan penuh kesenangan, ia mengucapkan kata selamat tinggal kepada monster itu. Setelah, itu dengan gerakan tegas, ia menebas lapisan dada monster itu.


Namun, betapa terkejutnya Noy ketika melihat apa yang ada di dalam monster tersebut. Ternyata, di dalam dada monster itu ada seorang manusia dengan sebuah bola berwarna merah bercahaya yang terletak di jantung manusia itu.


Noy tak pernah diberitahu oleh instruktur selama masa pelatihannya tentang rahasia mengerikan ini. Ini adalah penemuan yang mengguncangkan bagi Noy, karena ia tidak pernah menduga bahwa monster morsus sebenarnya manusia yang telah mengalami transformasi yang mengerikan.


Pertanyaan tentang asal-usul monster morsus dan fenomena ini mulai muncul dalam pikiran Noy. Dalam momen yang penuh kebingungan dan kesedihan, berbagai pikiran berkecamuk dalam benak Noy.


Manusia yang tampak di dalam monster morsus itu terlihat sangat mengerikan, dan Noy mulai berteori bahwa mungkin ini adalah manusia dari ratusan tahun yang lalu yang mengalami nasib tragis ini. Kedua tangan dan kaki manusia itu terentang, menggambarkan penderitaan yang mungkin telah ia alami selama berabad-abad.

__ADS_1


Noy rasa bahwa ia harus mengakhiri penderitaan ini, meskipun ia tidak sepenuhnya memahami apa yang sedang terjadi. Dengan penuh penyesalan dan keprihatinan, Noy mengucapkan selamat tinggal sekali lagi pada orang yang terperangkap dalam monster morsus tersebut.


Tanpa ragu, ia menghancurkan inti bola berwarna merah yang berada di jantung manusia tersebut. Tindakan ini adalah pengorbanan yang pahit, tapi Noy merasa bahwa itu adalah satu-satunya cara untuk mengakhiri siksaan yang dialami manusia yang terperangkap dalam monster morsus.


Dalam ketidakpastian dan kebingungan, Noy telah menjalankan tugasnya sebagai prajurit untuk melindungi dan memastikan keamanan orang lain, bahkan jika itu berarti menghadapi kenyataan yang mengerikan.


Saat batu merah dihancurkan, monster morsus itu berteriak dengan keras, suaranya melengking dan menembus keheningan malam itu. Teriakan itu penuh dengan rasa sakit dan putus asa. Perlahan, matanya mulai tertutup, dan Noy dapat melihat bahwa monster morsus itu mulai meredup dan kehilangan energinya.


Kemudian, dalam sekejap, monster morsus itu mulai memudar, hingga tidak ada yang tersisa kecuali debu hitam yang terbawa angin malam. Noy merasa campuran antara lega dan sedih, karena ia telah mengakhiri penderitaan monster morsus itu, meskipun dengan cara yang pahit.


Keberhasilannya dalam pertarungan ini adalah bukti keberaniannya dan kesiapannya sebagai prajurit. Dalam keheningan malam yang kembali merayap, Noy menyadari bahwa ia harus kembali ke teman-temannya dan melanjutkan misi mereka untuk pulang ke benteng selatan.


Pengalaman mengerikan ini akan tetap menjadi bagian dari kenangan Noy, dan ia tahu bahwa ada banyak misteri dan rahasia yang mungkin belum terungkap dalam dunia yang mereka tinggali.


Dengan hati-hati, Noy mematikan lightblade-nya, sehingga cahayanya perlahan memudar hingga hanya tinggal sebuah gagang pedang saja.


Ia kemudian dengan perlahan memasukkan gagang pedang itu ke dalam wadah yang telah tersedia di sabuknya. Tindakan ini adalah bagian dari protokol keamanan dan perawatan senjata mereka, yang diajarkan selama pelatihan mereka sebagai prajurit.


Noy merasa lega karena ia berhasil mengatasi ancaman monster morsus, tetapi juga tetap merenungkan makna dari penemuan mengerikan yang ia alami.


Dalam hening malam yang sepi, ia merasa bahwa petualangan mereka masih jauh dari berakhir, dan banyak misteri yang masih menunggu untuk dipecahkan di dunia yang mereka tinggali.


Setelah memastikan senjata aman, Noy bergegas kembali ke tempat Hegi dan Canbe. Ia merasa penting untuk memberitahu mereka tentang apa yang terjadi, karena menurut instruktur mereka, ketika seorang morsus mati, ia mengeluarkan feromon yang dapat menarik morsus yang berada dekat denganya menuju tempat tersebut.


Ia tahu bahwa dirinya harus segera melanjutkan perjalanannya, sambil tetap waspada terhadap potensi ancaman morsus lain yang mungkin datang akibat kematian monster morsus tadi.


Ketika Noy melangkahkan kakinya, tiga ekor morsus tiba-tiba muncul dari arah hutan dan menuju ke arahnya. Ekspresi Noy berubah menjadi terkejut dan bingung.


Ia segera menyadari bahwa dirinya telah terdampar dalam situasi yang sangat berbahaya. Pertanyaan menghantui pikirannya: apakah ia harus menghadapi morsus-morsus ini sendirian atau lari dan memberitahu teman-temannya.


Dalam momen ketegangan ini, Noy harus bisa mengambil keputusan cepat. Ia tahu bahwa pertarungan melawan tiga morsus seorang diri adalah tugas yang sulit, dan keberhasilannya sangat meragukan.


Di sisi lain, memberitahu Hegi dan Canbe tentang ancaman ini adalah pilihan yang lebih baik, karena mereka bisa bekerja sama untuk menghadapinya.


Dengan hati yang berdegup kencang, Noy memilih untuk lari dan memberitahu temannya. Ia meyakini bahwa kekuatan tim mereka adalah kunci untuk mengatasi ancaman ini, dan ia berharap mereka dapat bersatu untuk menghadapi tantangan yang makin mendekat.


Morsus-morsus itu mengejar Noy dengan cepat, dan meskipun Noy berusaha untuk menjauh, ia merasa bahwa energinya telah terkuras habis akibat pertarungan sebelumnya dan penggunaan lightblade yang memerlukan banyak energi.


Karena itu, ia tidak bisa berlari secepat biasanya. Keadaan saat ini berbalik kepada morsus itu yang semakin mendekati Noy dengan kecepatan yang meningkat.


Saat morsus semakin mendekat, situasinya menjadi semakin tidak menguntungkan bagi Noy. Energinya terkuras, dan ia merasa semakin terjepit oleh ancaman yang datang dari belakang.


Kini ia harus mencari cara untuk mengatasi situasi ini sebelum morsus benar-benar mendekat dan menghadapinya. Dalam momen keputusan yang sulit, Noy menyadari bahwa ia hanya memiliki dua pilihan yang tersisa.


Pilihan pertama adalah memakai alat komunikasi untuk memanggil bantuan, namun, itu berarti mengakui kegagalan mereka dalam ujian ini, sesuatu yang tidak ingin mereka lakukan.

__ADS_1


Pilihan kedua adalah bertarung habis-habisan dengan morsus itu, yang merupakan pilihan yang penuh risiko tetapi memberi dia peluang untuk melanjutkan misi.


Tanpa ragu, Noy memilih untuk menghadapi morsus-morsus tersebut. Ia tahu bahwa ini adalah saatnya untuk membuktikan kemampuan mereka sebagai prajurit sejati dan bahwa mereka tidak akan menyerah begitu saja di hadapan tantangan.


Dengan hati yang teguh dan pedang yang tersisa di tangannya, ia bersiap untuk menghadapi pertarungan berikutnya yang akan menentukan nasib mereka.


Dengan mantap, Noy memutar tubuh, mengambil kembali lightblade yang telah ia aktifkan. Ia tahu bahwa saat ini adalah saat yang kritis, dan ia tidak punya pilihan lain selain menghadapi morsus itu.


Dengan penuh tekad, ia berteriak ke kerumunan morsus yang mendekat, suaranya memecah keheningan malam itu. "Maju kalian semua!" teriaknya dengan suara yang penuh keyakinan.


Teriakannya itu mencerminkan tekadnya untuk menghadapi ancaman ini tanpa rasa takut. Ia ingin morsus itu tahu bahwa mereka tidak akan menyerah begitu saja dan siap untuk melawan habis-habisan demi kelangsungan hidup mereka.


Dengan kelelahan yang menyelimuti dirinya, Noy tetap maju ke arah morsus-morsus itu dengan pedang di tangan kanannya. Meskipun tubuhnya merasa berat dan lelah setelah pertarungan sebelumnya, tekadnya tidak pernah luntur. Ia terus berlari menuju morsus-morsus yang juga tidak kalah semangatnya.


Situasi ini menjadi semakin tegang dengan setiap langkah yang mereka ambil. Noy tahu bahwa dia harus mengatasi ini untuk bisa melanjutkan ujian komprehensif mereka. Semangatnya yang tak kenal lelah dan tekad untuk melindungi timnya terus memandu langkah-langkahnya dalam pertarungan ini.


Pertarungan yang sengit terus berlangsung di antara Noy dan tiga morsus yang mengejarnya. Perbedaan kekuatan yang sangat terasa membuat Noy semakin terpojok dalam situasi yang semakin sulit.


Ia melawan tiga ekor morsus sekaligus, suatu tugas yang tidak mudah dilakukan. Napas Noy memburu, dan tubuhnya merasakan kelelahan yang mendalam.


Namun, ia tidak boleh menyerah. Ia tahu bahwa ini adalah saat yang menentukan, dan ia harus terus berjuang untuk melindungi dirinya sendiri dan teman-temannya. Semangatnya untuk melawan dan melewati ujian ini terus membara meskipun situasinya semakin sulit.


Ketika Noy sedang berusaha menghindari serangan morsus-morsus itu, tiba-tiba serangan dari salah satu morsus mengenainya dengan tepat di titik butanya.


Noy tersungkur ke tanah, terbatuk-batuk karena dampak serangan tersebut. Tubuhnya terasa semakin lemah, dan kelelahan semakin mendekatinya dengan cepat.


Meskipun dalam keadaan yang sangat sulit, Noy tidak akan menyerah begitu saja. Ia mencoba bangkit kembali, berjuang untuk tetap melindungi dirinya sendiri dan teman-temannya.


Semangat yang kuat terus memandu langkahnya, meskipun ia merasa kelelahan yang mendalam. Tetapi tubuhnya berkata tidak.


Melihat Noy tersungkur di tanah, tiga morsus itu segera mengerubunginya dengan sikap yang semakin agresif. Cahaya dari pedang yang Noy pegang mulai memudar, menandakan bahwa energinya semakin berkurang.


Monster-monster itu menyeringai dengan ganas, menatap Noy dengan mata yang penuh niat jahat, membuat Noy semakin merasa terjepit dan ketakutan. Saat ini, tampaknya Noy sudah pasrah akan nasib hidupnya.


Noy dengan hati yang berat menutup matanya dan pasrah akan nasibnya. Saat matanya tertutup, semua kenangan yang telah ia lalui dalam hidupnya mulai berputar di pikirannya.


Ia teringat akan momen-momen indah bersama kedua orangtuanya yang telah meninggalkannya, kenangan saat pertama kali bertemu dengan Hegi, serta semua momen berharga yang telah mereka bagikan bersama.


Saat ini, dalam keadaan yang sangat genting, semua kenangan itu menghampirinya seperti kumpulan cahaya yang memberinya sedikit ketenangan di tengah keputusasaan yang melanda, seperti kilatan terakhir sebelum ia pasrah sepenuhnya kepada takdirnya.


Saat ia menutup matanya, Noy mulai merasakan rasa sakit yang luar biasa ketika morsus itu mulai mengoyak tubuhnya. Rasa sakit ini adalah yang paling intens dan mengerikan yang pernah ia rasakan sepanjang hidupnya.


Meskipun dalam kondisi yang sangat sulit, ia tetap mencoba untuk mengingat semua kenangan indah yang pernah ia alami, mencari sedikit ketenangan dalam saat-saat terakhirnya.


Dalam tengah-tengah penderitaannya yang tak tertahankan, Noy mendengar suara Hegi yang memanggil namanya.

__ADS_1


__ADS_2