Guardian Of The Last Bastion

Guardian Of The Last Bastion
Chapter 38: Persiapan Kelas Celi


__ADS_3

2240


Tembok Pusat Benteng Selatan


Jumlah Populasi 4.044.675


Setelah beberapa saat menaiki perahu, Hegi akhirnya tiba di pelabuhan distrik utara yang dekat dengan tembok pusat Benteng Selatan. Jaraknya sekitar lima ratus meter dari tempat mereka naik perahu.


Dari pelabuhan, mereka bisa melihat tembok baja yang menjulang tinggi dan kokoh, menjadi simbol kekuatan dan keamanan kota Benteng Selatan.


Mereka berdua turun dari perahu dengan hati yang berbahagia dan mengucapkan terima kasih kepada nahkoda kapal yang telah mengantarkan mereka dengan selamat ke pelabuhan distrik utara. Sinar matahari senja menyinari suasana, menciptakan suasana yang hangat dan damai di sekitar mereka.


"Terima kasih banyak, Pak Nahkoda," ucap Hegi dengan sopan sambil tersenyum.


"Ya, terima kasih atas perjalanan yang menyenangkan," tambah Noy sambil mengangguk penuh penghargaan.


Nahkoda kapal tersenyum dan mengangguk sebagai tanggapan atas ucapan terima kasih mereka. "Tidak masalah, anak muda. Senang bisa mengantarkan kalian dengan selamat."


Hegi dan Noy turun dari perahu dengan hati yang penuh sukacita setelah perjalanan yang menyenangkan di sungai. Mereka berjalan menuju tembok pusat sambil mengamati kehidupan sehari-hari di distrik utara. Tempat ini memiliki atmosfer yang berbeda dari distrik tempat mereka berlatih fisik tadi, dengan pasar-pasar ramai dan pertokoan yang sibuk.


Hegi berjalan menuju tembok pusat dengan langkah mantap. Setiap kali ia berada di dekat tembok tersebut, perasaan bangga dan tanggung jawab sebagai prajurit terpanggil dalam dirinya.


Tembok pusat merupakan lambang pertahanan Benteng Selatan yang tangguh dan menjadi pertanda bahwa mereka berada di wilayah yang aman dari ancaman monster morsus.


Mereka memasuki gerbang tembok itu dengan penuh bangga dan rasa hormat. Penjaga gerbang yang berjaga tampak mengenali mereka sebagai prajurit Benteng Selatan, dan tanpa ragu, memberi mereka izin masuk.


Penjaga tersebut memberi sapaan hangat dan mengangguk menghormati, menunjukkan penghargaan atas tugas dan pengabdian para prajurit.


Hegi dan Noy berterima kasih pada penjaga gerbang dan melangkah maju dengan langkah mantap. Di dalam tembok pusat, mereka disambut oleh kehidupan dan aktivitas yang sibuk.


Prajurit dan orang penting bergerak kesana kemari, menjalankan tugas dan rutinitas masing-masing untuk menjaga kelangsungan kehidupan dan keamanan wilayah.


Saat melewati jalan-jalan di dalam tembok pusat, Hegi dan Noy melihat para prajurit sedang melatih keterampilan pertempuran mereka, sementara yang lain sedang berpatroli di sekitar wilayah untuk menjaga keamanan.


Mereka merasa bangga dan terinspirasi oleh semangat dan dedikasi para prajurit dalam menjalankan tugas mereka.


Hegi dan Noy berjalan sambil berbincang tentang latihan fisik hari ini dan kelas medis yang akan mereka ikuti besok. Namun, setelah beraktivitas seharian, mereka merasa lapar dan memutuskan untuk makan terlebih dahulu sebelum beristirahat.


"Hmm, aku lapar," ucap Hegi sambil menyentuh perutnya yang keroncongan.


Noy tertawa, "Aku juga! Ayo, kita makan dulu sebelum kita beristirahat."


Hegi dan Noy berjalan menuju kantin dengan perasaan lapar setelah seharian melakukan latihan fisik dan menjelajahi wilayah Benteng Selatan.


Mereka sudah mengetahui bahwa makanan di kantin ini selalu lezat dan menyegarkan setelah melewati hari yang sibuk.


Kantin di Benteng Selatan merupakan tempat berkumpul para prajurit untuk makan dan beristirahat. Suasana di sana selalu hangat dan penuh dengan cerita dan tawa dari rekan-rekan seperjuangan.


Mereka duduk di meja yang sudah menjadi tempat favorit mereka dan mulai memesan makanan dari daftar menu. Hegi memesan hidangan yang mengandung banyak protein untuk memulihkan tenaga setelah latihan fisik yang berat. Sementara itu, Noy memilih hidangan yang menyegarkan dengan sayuran segar dan buah-buahan.


Sambil menunggu makanan mereka datang, mereka berdua saling berbagi cerita tentang pengalaman hari ini dan berbicara tentang persiapan untuk menghadapi kelas medis besok.

__ADS_1


Mereka juga berbicara tentang rekan-rekan prajurit lain yang mereka temui hari ini, serta merenungkan kembali momen-momen indah yang mereka nikmati selama perjalanan di perahu.


Setelah hidangan mereka tiba, Hegi dan Noy menikmati makan malam dengan lahap. Makanan tersebut memuaskan lapar mereka dan memberikan energi yang dibutuhkan untuk menghadapi sisa hari ini.


"Benar-benar enak," ujar Noy sambil tersenyum. "Kantin ini selalu memberikan makanan yang lezat dan menyegarkan setelah latihan."


Hegi setuju, "Iya, betul sekali. Menyenangkan sekali makan di sini bersama rekan-rekan kita."


Setelah selesai makan, mereka berdua merasa puas dan kenyang. Mereka memutuskan untuk beristirahat sejenak sebelum menghadapi kelas medis besok.


Sambil berjalan kembali ke asrama, Hegi dan Noy merasa beruntung memiliki tempat seperti Benteng Selatan yang menyediakan makanan yang lezat dan tempat beristirahat yang nyaman bagi para prajurit.


Sesampainya di asrama, Hegi dan Noy langsung mandi dan membersihkan diri dengan hati-hati. Mereka merasa lelah setelah sehari penuh aktivitas, dan mandi adalah cara yang menyegarkan untuk menghilangkan keringat dan kelelahan dari tubuh mereka.


Mereka menyusun barang-barang pribadi mereka dengan rapi di dalam lemari, meletakkan pakain mereka yang telah digunakan hari ini untuk dicuci dan disiapkan untuk digunakan lagi esok hari.


Mereka berdua sangat menghargai fasilitas mandi di asrama. Air yang hangat dan segar membantu melepas ketegangan otot mereka dan memberikan rasa nyaman setelah beraktivitas di lapangan dan mengarungi sungai.


Setelah mandi, mereka mengenakan pakaian mereka dan mempersiapkan tempat tidur. Keduanya menyadari pentingnya tidur yang cukup untuk memulihkan tenaga dan mempersiapkan diri untuk kelas medis yang akan dihadapi besok.


"Sudah lama aku tidak merasa begitu lelah," ujar Hegi sambil meregangkan tubuhnya.


Noy setuju, "Ya, hari ini benar-benar hari yang menguras tenaga. Tapi kita sudah melakukannya dengan baik, Hegi."


Hegi tersenyum, "Iya, Noy. Kita telah melalui banyak hal bersama, dan itu membuat kita semakin kuat dan tangguh."


Mereka berdua berbaring di tempat tidur mereka dan merenungkan hari yang telah berlalu. Pikiran mereka melayang ke latihan fisik, perjalanan di perahu, dan momen-momen di distrik utara.


Mereka merasa bahagia dan bersyukur atas pengalaman yang telah mereka lalui bersama sebagai prajurit di Benteng Selatan. Dalam suasana yang tenang, Hegi dan Noy merasa kantuk mulai datang.


Dalam keheningan malam, Hegi dan Noy akhirnya terlelap dengan keyakinan bahwa mereka telah menjadi prajurit yang kuat dan siap menghadapi apapun demi melindungi keamanan dan kedamaian di Benteng Selatan yang mereka cintai.


...****************...


Pagi pun tiba, saat suara alarm membangunkan Hegi dari tidur. Seperti biasa, ia bangun dengan semangat dan langsung bersiap-siap untuk membangunkan Noy, sahabatnya sekaligus rekan prajuritnya.


Dengan langkah ringan, Hegi mendekati tempat tidur Noy yang masih tertidur lelap. Ia menepuk lembut bahu Noy sambil berkata dengan suara lembut, "Noy, sudah waktunya bangun. Kita harus bersiap-siap untuk kelas medis pagi ini."


Noy menggeliat dan membuka mata perlahan, merespons panggilan Hegi. "Ah, ya, pagi ini ada kelas medis," ucapnya dengan suara yang masih mengantuk.


Hegi tersenyum melihat Noy yang masih mengantuk. Ia tahu betul bahwa Noy sering membutuhkan sedikit lebih banyak waktu untuk benar-benar terjaga di pagi hari.


"Segeralah bangun, Noy. Kita tidak ingin terlambat," pesan Hegi dengan penuh semangat.


Noy akhirnya bangun dan menggeliatkan tubuhnya. Ia berterima kasih kepada Hegi karena telah membangunkannya setiap pagi dan membantu menjaga agar mereka selalu tepat waktu untuk tugas dan kelas.


Dengan semangat yang tumbuh, Hegi dan Noy bersiap-siap untuk menghadapi hari baru di Benteng Selatan. Mereka tahu bahwa kelas medis pagi ini akan memberikan pengetahuan dan keterampilan baru yang akan berguna dalam menjalankan tugas mereka sebagai prajurit.


Sebelum menuju kelas medis, Hegi dan Noy sepakat untuk mandi terlebih dahulu agar segar dan siap menghadapi hari yang penuh pembelajaran.


Mandi menjadi rutinitas penting bagi mereka sebagai prajurit, karena selain membersihkan tubuh dari keringat dan kotoran, mandi juga memberikan kesegaran dan kenyamanan sebelum memulai aktivitas harian.

__ADS_1


Setelah mandi, Hegi dan Noy berpakaian rapi dan memastikan perlengkapan mereka sudah siap untuk kelas. Mereka tahu bahwa kelas medis akan memberikan pengetahuan dan keterampilan yang esensial dalam menjalankan tugas sebagai prajurit, termasuk dalam merawat diri sendiri dan rekan-rekan mereka di medan perang.


"Mau sarapan dulu atau langsung ke kelas?" tanya Noy saat mereka sudah berpakaian.


Hegi berpikir sejenak sebelum menjawab, "Kelas saja, Noy. Aku masih kenyang dengan makanan yang kita nikmati semalam."


Hegi memang memilih untuk langsung ke kelas karena dia masih merasa kenyang setelah makan malam yang lezat di kantin.


Selain itu, kelas medis pagi ini menjadi prioritas baginya karena dia ingin mendapatkan pengetahuan dan keterampilan yang diperlukan untuk menjadi prajurit yang tangguh dan dapat merawat diri sendiri serta rekan-rekannya.


Noy mengangguk setuju, "Baiklah, kita bisa sarapan nanti setelah kelas medis selesai."


Noy mengangguk memahami. Meskipun dia lapar, dia juga bersemangat untuk mengikuti kelas medis dan belajar lebih banyak tentang kesehatan dan pertolongan pertama.


Sebagai prajurit, pengetahuan medis adalah hal penting yang dapat membantu mereka dalam melaksanakan tugas mereka dengan lebih baik dan memberikan pertolongan yang cepat dan tepat saat dibutuhkan.


Dengan keputusan itu, mereka berdua berangkat menuju kelas medis dengan semangat tinggi. Hegi dan Noy menyadari bahwa sarapan adalah hal penting, tetapi karena mereka merasa kenyang dan energi yang cukup dari tidur malam, mereka memilih untuk fokus pada kelas medis tanpa gangguan perut kosong.


Mereka berjalan keluar dari asrama dan dengan langkah cepat menuju gedung berlantai sepuluh, Markas Pusat Benteng Selatan. Gedung ini menjadi pusat aktivitas dan operasi untuk para prajurit, tempat di mana berbagai kelas, pertemuan, dan perencanaan dilakukan untuk menjaga keamanan wilayah.


Mereka memasuki gedung Markas Pusat dan dengan bangga melewati penjaga yang sudah mengenali mereka sebagai prajurit pilihan Benteng Selatan.


Penjaga tersebut dengan sigap memberi salam hormat sebagai tanda penghormatan kepada Hegi dan Noy, menunjukkan pengakuan atas dedikasi dan dedikasi mereka sebagai prajurit.


"Selamat pagi, Prajurit Hegi dan Noy. Semoga harimu menyenangkan," sambut penjaga dengan ramah.


"Pagi yang baik, Pak," balas Hegi dengan sopan, sementara Noy juga memberikan senyuman dan memberi hormat sebagai bentuk penghormatan kepada penjaga.


Para penjaga di Benteng Selatan adalah pilar penting dalam menjaga keamanan dan keberlanjutan operasi di markas. Mereka mengenali dan menghargai setiap prajurit yang berjasa dalam menjaga wilayah dan melindungi masyarakat dari ancaman monster morsus.


Setelah mendapat izin masuk, Hegi dan Noy dengan cepat masuk ke dalam gedung Markas Pusat dan segera menuju lift untuk naik ke lantai dua. Lantai dua adalah tempat di mana kelas medis diadakan, dan mereka ingin segera sampai ke sana agar tidak terlambat.


Saat mereka menunggu lift datang, suasana di sekitar mereka terasa ramai dengan aktivitas prajurit dan staf markas yang sibuk bergerak. Mereka melihat para prajurit lain yang juga menuju ke berbagai lantai untuk mengikuti kelas dan tugas mereka masing-masing.


Lift pun tiba, dan mereka bersama-sama masuk ke dalamnya. Hegi menekan tombol untuk lantai dua, dan lift mulai bergerak naik. Dalam perjalanan ke lantai dua, mereka berdua berbicara tentang apa yang akan dipelajari di kelas medis pagi ini dan bagaimana pengetahuan itu akan membantu mereka dalam menjalankan tugas sebagai prajurit.


Saat telah sampai di lantai dua, Hegi dan Noy langsung masuk ke ruang kelas medis mereka yang ternyata masih kosong. Mereka menyadari bahwa mereka berangkat terlalu pagi, dan kelas medis belum dimulai. Tidak ingin sia-sia, mereka memutuskan untuk menunggu dengan duduk di kursi-kursi di depan kelas.


"Mungkin kita berangkat terlalu pagi," ujar Noy sambil tersenyum.


Hegi mengangguk setuju, "Iya, sepertinya begitu. Tapi setidaknya kita bisa menikmati waktu sejenak untuk bersiap sebelum kelas dimulai."


Mereka memilih duduk di bangku dan menunggu instruktur Celi datang. Meskipun kelas belum dimulai, mereka tetap bersemangat dan siap untuk memulai pembelajaran.


Saat mereka berdua menunggu, para kadet lain mulai berdatangan dan mengisi bangku-bangku yang kosong di ruang kelas medis. Hegi dan Noy menyapa rekan-rekan mereka dengan ramah, dan suasana kelas menjadi semakin hidup dengan kehadiran para prajurit yang energik dan antusias.


Setelah dua jam yang penuh dengan antusiasme dan semangat, para prajurit, termasuk Hegi dan Noy, akhirnya melihat Instruktur Celi datang ke ruang kelas.


Saat kedatangan Instruktur Celi, suasana kelas yang tadinya ramai dan bersemangat langsung berubah menjadi sepi dan hening, menunjukkan penghormatan dan pengakuan terhadap kehadiran seorang ahli medis yang dihormati di Benteng Selatan.


Semua mata tertuju pada Instruktur Celi yang berdiri di depan kelas dengan penuh karisma dan keahlian. Dia memberikan senyuman hangat kepada para prajurit dan memberi salam hormat sebagai tanda penghormatan kepada mereka yang siap belajar dan meningkatkan keterampilan medis mereka.

__ADS_1


"Selamat pagi, prajurit-prajurit pilihan Benteng Selatan," sambut Instruktur Celi dengan suara yang tenang namun penuh wibawa.


Para prajurit, termasuk Hegi dan Noy, memberikan respon dengan salam hormat sebagai bentuk penghormatan kepada instruktur mereka.


__ADS_2