Guardian Of The Last Bastion

Guardian Of The Last Bastion
Chapter 49: Bertemu Zara


__ADS_3

2240


Tembok Pusat Benteng Selatan


Jumlah Populasi 4.044.680


Ketika makanan selesai, Hegi dan Noy berdiri dan merapihkan tempat duduk mereka. Mereka memberikan senyuman ramah kepada penjaga kantin yang sudah melayani mereka dengan baik, dan kemudian melangkah keluar menuju asrama.


Malam telah menyelimuti langit, dan cahaya lampu jalan memberi sentuhan hangat pada jalanan yang mereka lewati.


Perjalanan kembali ke asrama adalah saat-saat tenang di antara kedua sahabat ini. Mereka berjalan beriringan, dengan langkah yang teratur dan suara obrolan ringan. Cahaya lampu jalan yang berkedip-kedip menciptakan suasana yang hening dan penuh rasa damai.


"Sepertinya kelas senjata besok akan cukup menantang," ujar Hegi setelah sejenak mereka berjalan dalam keheningan.


Noy mengangguk sambil menambahkan, "Ya, tapi kita sudah terbiasa dengan tantangan. Selama kita bersama, kita pasti bisa menghadapinya."


Hegi tersenyum. "Betul sekali, kita harus selalu mendukung satu sama lain."


Mereka terus berjalan, meresapi setiap langkah mereka, seakan-akan malam itu adalah kanvas untuk menyusun rencana masa depan mereka. Sesekali, angin malam membawa semilir yang menyejukkan, dan mereka merasakan energi dan semangat tumbuh di dalam diri mereka.


Ketika mereka tiba di depan pintu asrama mereka, Hegi dan Noy berhenti sejenak. Mereka menatap langit malam yang bercahaya bintang-bintang dengan tatapan kagum.


Cahaya bintang-bintang yang berserakan di langit memberikan kedamaian dan keindahan yang tak tergantikan. Suara angin lembut mengusap wajah mereka, menciptakan suasana yang tenang.


"Hegi, lihatlah betapa indahnya langit malam ini," ujar Noy dengan suara pelan, hampir seperti berbicara kepada langit itu sendiri.


Hegi mengangguk setuju, matanya masih tertuju pada gemerlap bintang-bintang di langit. "Iya, memang luar biasa. Terkadang kita begitu sibuk dengan latihan dan aktivitas, sampai kita lupa melihat keindahan yang ada di sekitar kita."


Noy mengambil napas dalam-dalam, seolah-olah menghirup keindahan malam itu. "Sesekali, kita perlu menghentikan langkah dan menghargai keindahan alam. Ini seperti pengingat bahwa ada lebih banyak hal di dunia ini selain latihan dan pertempuran."


Hegi tersenyum. "Kamu benar. Rasanya begitu menenangkan hanya dengan merenung di bawah langit malam yang penuh bintang ini."


Mereka berdua terus menatap langit malam, merenungkan kebesaran alam semesta dan kedamaian yang bisa ditemukan di dalamnya.


Langit malam menjadi saksi bisu dari momen kecil ini, di mana Hegi dan Noy merasa lebih terhubung dengan dunia di sekitar mereka.


Setelah beberapa saat merenungi langit malam, Hegi dan Noy akhirnya memutuskan untuk masuk ke dalam asrama. Mereka merasakan panggilan tidur yang semakin kuat, seolah-olah malam itu memeluk mereka dengan kehangatan dan kenyamanan.


Langkah kecil mereka membawa mereka memasuki ruangan yang akrab bagi mereka berdua, kamar asrama.


Dalam keheningan asrama, mereka merasakan kenyamanan tempat tidur mereka yang menanti. Hegi melempar senyum lembut pada Noy sebelum mereka berpisah menuju tempat tidur masing-masing.


Mereka tahu bahwa setelah hari yang penuh dengan kegiatan dan interaksi, malam ini adalah saat yang tepat untuk merebahkan tubuh dan beristirahat.


Dengan hati yang damai, Hegi dan Noy merasakan panggilan tidur semakin kuat saat mereka merunduk ke tempat tidur masing-masing. Mereka merasa dipeluk oleh kelembutan malam, merasakan kelopak mata mereka semakin berat.


Dalam sekejap, mereka tenggelam dalam dunia mimpi yang penuh dengan petualangan dan kenangan indah. Sebagai mana malam memeluk mereka dengan lembut, Hegi dan Noy pun mendapatkan istirahat yang pantas setelah segala aktivitas mereka.


Dalam tidur mereka, mereka mengalami perjalanan yang tak terduga dalam mimpi, menjelajahi dunia imajinasi mereka yang luas.


Dan dalam pelukan malam yang tenang, ikatan persahabatan mereka semakin dalam dan kokoh, siap menghadapi hari-hari yang akan datang.


Pagi tiba dengan suara yang lembut dari alarm yang berbunyi. Dengan gerakan cepat, Hegi meraih alarm di meja samping tempat tidurnya dan mengengamnya dengan erat, menghentikan bunyi yang mengganggu ketenangan pagi.


Matanya perlahan- lahan terbuka, terbiasa dengan sinar matahari yang perlahan merambat masuk melalui jendela.


Hegi merasa udara pagi yang segar mengisi ruangan, memberikan semangat baru untuk memulai hari. Ia menghela nafas dalam-dalam, merasakan energi pagi yang mulai mengalir ke dalam tubuhnya.

__ADS_1


Dengan perlahan ia mengangkat tubuhnya dari tempat tidur, meregangkan otot-ototnya untuk mengusir kantuk yang masih tersisa.


Sambil bergerak menuju jendela, Hegi terus memandangi pemandangan luar yang mulai terang.


Langit biru yang cerah, pepohonan yang bergerak pelan oleh angin pagi, dan suasana yang tenang, semuanya menghadirkan perasaan hangat di dalam dirinya.


Ia merasa siap untuk menghadapi hari yang baru, penuh dengan aktivitas dan petualangan yang menunggu di depan.


Dengan langkah ringan, Hegi berjalan menuju kamar mandi, membayangkan sensasi air segar yang akan mengalir di wajahnya.


Setibanya di sana, ia menyalakan keran air dengan hati-hati, merasa kicauan air yang segera mengalir menggembirakan telinganya.


Ia membungkukkan wajahnya di bawah aliran air, merasakan dinginnya air yang menyentuh kulitnya dengan lembut.


Hegi merasakan bagaimana air menghilangkan kantuk yang masih tersisa di matanya, dan sensasi segarnya seolah membangunkan seluruh tubuhnya.


Ia meratakan air ke seluruh wajahnya, merasa semangatnya telah pulih. Setelah beberapa saat, ia mengambil sabun dan mulai membersihkan wajahnya dengan gerakan lembut, merasakan pijatan lembut yang menghilangkan ketegangan dari kulitnya.


Air mengalir dengan riang, mengalirkan keceriaan dan kehangatan pada pagi hari Hegi. Setelah merasa puas dengan kebersihan wajahnya, ia mematikan keran air dan mengambil handuk yang tersedia di dekatnya.


Dengan lembut, ia mengeringkan wajahnya, merasa kulitnya yang lembut dan segar setelah pembersihan. Saat ia mengangkat wajahnya dan memandang cermin, ia melihat mata birunya yang penuh semangat dan senyum kecil yang terbentuk di bibirnya.


Pagi ini memberikan energi baru dan semangat untuk menghadapi apa pun yang akan datang. Hegi merasa siap untuk menghadapi hari dengan keyakinan dan tekad, dengan wajah yang cerah dan hati yang penuh harap.


Dengan langkah tenang, Hegi kembali menuju ranjangnya yang nyaman. Ia merasa antusias untuk melanjutkan petualangan di dunia fiksi yang telah ia nikmati sebelumnya.


Setelah duduk di tepi ranjang, ia mengambil bukunya yang sudah terbuka di halaman terakhir yang ia baca. Matahari pagi masuk lewat jendela, menerangi halaman-halaman buku dengan cahaya yang lembut.


Hegi merasa seperti ia sedang menyusup ke dalam alam bawah sadarnya, merasakan dirinya tenggelam dalam cerita yang penuh dengan imajinasi dan petualangan.


Saat ia terus membaca, dunia di sekitarnya seolah memudar dan menghilang, digantikan oleh dunia yang ada dalam halaman bukunya. Hegi benar-benar terhanyut dalam cerita tersebut, melupakan waktu dan tempat di sekitarnya.


Ia mengalami perasaan seolah berada di sana, mengikuti setiap petualangan dan ikatan antar karakter. Walaupun begitu, Hegi tahu bahwa pada suatu saat ia harus menghentikan pembacaannya dan melanjutkan kegiatan lain.


Namun, buku ini memberikan waktu berharga bagi dirinya untuk beristirahat dari rutinitas dan terbang jauh dari kenyataan. Dengan setiap halaman yang dibacakannya, ia merasa lebih kaya dengan imajinasi dan pengetahuan baru.


Sambil tenggelam dalam dunia bukunya, Hegi memutuskan untuk memberikan Noy waktu untuk tidur lebih lama pagi ini. Dia tahu bahwa kelas senjata mereka akan dimulai setelah makan siang, jadi tidak ada alasan untuk terburu-buru membangunkan temannya.


Dengan hati-hati, Hegi membalik halaman demi halaman, terikat dalam alur cerita yang terus berkembang di depan matanya.


Sementara Hegi tenggelam dalam dunia fiksi yang ada di bukunya, Noy terbangun perlahan-lahan di sebelahnya. Matanya perlahan terbuka, dan ia merasakan kehangatan dan ketenangan di sekitarnya.


Ia menggeliat dan meregangkan tubuhnya, merasa segar setelah tidur yang cukup. Noy menarik selimutnya lebih dekat ke tubuhnya dan duduk di ranjang, memandang Hegi yang sedang asyik membaca.


Hegi, yang masih tenggelam dalam alur cerita bukunya, menyadari bahwa temannya telah bangun. Ia melanjutkan membaca beberapa paragraf lagi sebelum akhirnya mengangkat pandangannya dari buku, menyambut Noy dengan senyuman hangat di wajahnya.


"Hei, selamat pagi," ucap Noy dengan suara pelan namun penuh semangat.


Hegi merespons dengan ramah, "Selamat pagi juga. Bagaimana tidurmu?"


Noy tersenyum dan mengangguk puas. "Tidurku cukup nyenyak, rasanya seperti mendapat baterai baru untuk menghadapi aktivitas hari ini."


Hegi mengangguk setuju. "Aku juga merasa lebih bersemangat setelah membaca beberapa halaman tadi. Tapi sekarang, mungkin sudah waktunya kita bersiap-siap untuk kelas."


Mereka berdua berjalan menuju kamar mandi dengan langkah-langkah yang penuh semangat. Kamar mandi yang telah menjadi tempat rutin mereka untuk memulai pagi, memberikan suasana segar yang menyegarkan setelah tidur malam.


Hegi dan Noy saling memberikan ruang untuk mempersiapkan diri, merasa nyaman satu sama lain dalam keheningan pagi yang tenang.

__ADS_1


Air yang mengalir dengan lembut dari keran memberikan sensasi kehangatan pada kulit mereka. Hegi dan Noy merasa kesegaran itu menyapu kantuk dari tubuh mereka, mempersiapkan diri untuk menghadapi aktivitas yang akan datang.


Dalam kamar mandi yang penuh dengan aroma sabun dan kelembutan pagi, mereka berdua saling memberi semangat tanpa perlu kata-kata. Dengan pakaian segar dan semangat yang terpulihkan, Hegi dan Noy melangkah keluar dari asrama menuju kantin.


Langkah mereka penuh dengan keyakinan dan harapan akan makanan lezat yang akan menemani siang mereka, mengarah ke kantin yang menjadi tempat untuk mengisi perut sebelum menghadapi kelas senjata yang menantang.


Mereka tiba di kantin dengan aroma makanan yang lezat mengisi udara. Suasana kantin kali ini agak lebih tenang karena sebagian besar prajurit telah selesai makan siang dan kembali ke kegiatan mereka.


Hegi dan Noy melihat-lihat pilihan makanan yang


tersedia di lini makanan, memilih hidangan yang menggugah selera.


Setelah mengambil makanan mereka, mereka mencari tempat duduk yang nyaman. Sambil menikmati santapan mereka, mereka berbicara tentang rencana kelas senjata setelah ini dan bagaimana mereka bisa mempersiapkan diri dengan baik.


Meskipun aktivitas mereka penuh dengan pelajaran dan latihan, mereka tetap menyempatkan diri untuk bersantap dengan tenang dan mengobrol.


"Hari ini kelas senjata, ya?" tanya Noy sambil mengunyah dengan hati-hati.


Hegi mengangguk sambil tersenyum. "Iya, sepertinya akan menjadi pengalaman yang menarik. Kita akan belajar banyak tentang teknik dan strategi dalam menggunakan senjata."


Noy mengangguk setuju. "Tapi sepertinya cuaca di luar juga cukup baik, mungkin setelah kelas bisa kita habiskan waktu di luar untuk berlatih lebih lanjut."


Hegi mengernyitkan dahi sebentar sebelum menjawab, "Mungkin itu ide yang bagus. Kita bisa mempraktikkan beberapa gerakan yang kita pelajari dalam suasana nyata."


Setelah makan siang, Hegi dan Noy memberikan ucapan terima kasih kepada para penjaga kantin yang telah menyediakan hidangan yang lezat.


Dengan perut kenyang dan semangat yang tinggi, mereka berdua bersiap untuk melanjutkan perjalanan mereka menuju distrik timur laut, tempat kelas senjata akan berlangsung.


Langkah-langkah mereka terus menapaki jalan-jalan di dalam Benteng Selatan, seolah-olah jejak langkah mereka telah menjadi bagian tak terpisahkan dari tempat itu.


Hegi dan Noy saling berjalan berdampingan, mengenang momen-momen berharga yang telah mereka alami sepanjang perjalanan mereka sebagai prajurit.


Sampai akhirnya, mereka tiba di tempat tujuan, sebuah area latihan yang luas di distrik timur laut. Mereka merasakan energi dan antusiasme dari para kadet lain yang sudah berkumpul di sana.


Hegi dan Noy siap untuk mengikuti kelas senjata bersama instruktur Zara, siap untuk menyerap pengetahuan dan keterampilan baru yang akan membantu mereka menjadi prajurit yang lebih baik.


Hegi dan Noy bergabung dengan kelompok tersebut, mengambil tempat di antara kadet-kadet lain. Mereka saling memberi senyuman dan salam kepada teman-teman sekelas mereka yang sudah hadir.


Suasana antusias dan tegang campur aduk di antara para kadet, karena mereka tahu bahwa kelas ini akan membawa banyak pengetahuan dan pengalaman baru.


Instruktur Zara, seorang ahli senjata yang dihormati, akhirnya muncul di tengah-tengah lapangan. Dia dengan tegas memandang para kadet dan akan memberikan pengarahan singkat tentang apa yang akan diajarkan dalam kelas ini.


Matahari mulai menaiki langit, menciptakan bayangan pendek mereka di atas tanah lapangan.


Instruktur Zara mengucapkan sapaan hangat kepada para kadet saat dia di lokasi kelas.


"Selamat siang, para kadet," ucapnya dengan senyuman. "Saya harap kalian semua sudah siap untuk kelas senjata hari ini." Suaranya penuh dengan keyakinan dan energi, memancarkan aura kepemimpinan yang kuat kepada seluruh kadet.


Dengan tatapan tajam, ia melihat wajah-wajah di antara mereka, memastikan bahwa semuanya fokus dan siap untuk pembelajaran mendatang.


Instruktur Zara kemudian memberi isyarat kepada rekan-rekannya dengan gerakan jari untuk meletakkan kotak-kotak yang mereka bawa di lapangan.


Dengan sigap, para rekannya melaksanakan instruksi tersebut dan meletakkan kotak-kotak dengan hati-hati di berbagai lokasi di sekitar lapangan.


Wajah-wajah para kadet penuh dengan rasa


penasaran, mereka bertanya-tanya apa yang ada di dalam kotak-kotak tersebut dan bagaimana itu akan berhubungan dengan kelas senjata hari ini.

__ADS_1


__ADS_2