
Gia membulatkan mata namun sebaliknya, Oh Lian justru tersenyum lebar. “Benar-benar ... manajer bagaimana kalau sampai ketahuan oleh Eichi? Ini memalukan.”
“Tenang saja dia tidak akan tahu asal kau menurut.”
“Semua ini gara-gara kau manajer! Sekarang kau harus menggeser ponsel itu menggunakan kakimu,” geram Gia menggunakan suara tertahan. “Oh tidak, aku harus naik ke closet.” Gia takut Eichi akan melihat kakinya nanti.
Baru naik satu kaki, Oh Lian langsung mengangkat tubuhnya. “Gia, kau sudah gila? Closet ini bisa pecah kalau tidak mampu menahan berat tubuhmu.”
“Memangnya aku segemuk itu, manajer lepas!” Gia meronta, Oh Lian tak kunjung menurunkan dirinya.
Sshhht! “Berhenti mengoceh, Eichi bisa mendengar suaramu.”
“Tapi, manajer!” Gia merona, posisi mereka membuatnya malu. Bahkan dada Gia berada tepat di depan wajah Oh Lian. Jika kedua tangannya tak bertahan di bahu Oh Lian, mungkin bisa jadi dadanya akan menempel ke wajah Oh Lian. “Manajer, aku ingin turun!”
“Manajer, apa kau sedang bersama seseorang?” seru Eichi. “E, maaf ... aku tidak bermaksud mengintip tapi, aku harus mengambil ponselku.”
“Manajer bagaimana ini?” Gia panik. Posisinya lebih tinggi dari Oh Lian karena masih dalam gendongan.
“Kau bisa tenang? Kalau tidak aku akan menciummu untuk membuatmu diam.”
Seketika saja Gia langsung diam, menurut.
“Nah, kalau seperti ini kau lebih terlihat manis.” Oh Lian kemudian duduk di closet tanpa melepaskan Gia.
“Manajer kau mau apa?” Gia panik.
“Tenang saja, percaya padaku. Oke?”
“Tap–“ ucapannya terputus, nyaris Gia menjerit saat Oh Lian memaksanya duduk di atas pangkuan.
Suasana ruang di sekitar berubah panas. Posisi mereka berdua membuat Gia merona. Seorang bawahan dan manajer berada di suasana yang tak lazim.
“Astaga, kenapa aku bisa berada di dalam situasi seperti ini dengan manajer?” batin Gia.
Otot di lengannya besar saat mengangkat tubuh Gia. Wajahnya begitu menggoda, rambut yang biasa rapi kini di biarkan berantakan menutupi mata.
Deg, deg, deg!
Dadanya berdebar merasakan napas panas Oh Lian yang menyapu wajah. Mereka begitu dekat, siapa yang tak berdebar jika berada di posisi Gia.
“Apa yang sedang kau pikirkan?” bisik Oh Lian seketika.
“Kau manajer,” sahut Gia.
Kedua alisnya terangkat, bibirnya tersenyum tipis. “Aku?”
“E, bukan maksudku. Kita baru saja berolah raga dan tubuhmu terasa panas ... ini membuatku berkeringat.” Gia terbata, tak berani menatap balik Oh Lian.
“Panas, berkeringat?” Pertanyaan Oh Lian membuat Gia semakin merona, pikirannya meracau ke mana-mana.
“E, ja–jangan berpikir aneh manajer ... aku tidak– maksudku ....”
Ketika mereka sibuk berucap Eichi ternyata sibuk mengambil ponselnya di bawah sana.
“Pipimu merona, Gia Luciella.”
Deg!
“Gia ... angkat wajahmu,” bisik Oh Lian.
Detak jantungnya semakin tak karuan, Gia tak berani mengangkat wajahnya.
“Gia biarkan aku melihat wajahmu. Aku ingin memastikan sesuatu.”
“He?” Gia akhirnya mengangkat kepalanya, menatap mata Oh Lian yang jaraknya begitu sangat dekat. “A–apa yang ingin kau pastikan, manajer?”
Perhatian Oh Lian tertuju ke bibir Gia. “Aku ingin menciummu?”
__ADS_1
“He?”
Deg! Dadanya berdesir tak karuan seiring dengan darah yang mengalir cepat membuat wajahnya memanas.
Kepalanya sudah miring mengambil posisi yang tepat sebelum mencium bibirnya tapi Oh Lian kemudian berucap,” Kalau kau tidak mau ... kau bisa menolak, aku akan berhenti.”
Glek! Gia menelan salivanya kesusahan.
Bagaimana bisa Gia menolak, belum menjawab saja Oh Lian sudah menyambar bibirnya. Mmmmh~ kedua tangannya berada di dada Oh Lian. “Mm–manaj ngh~ manajer tunggu!” Gia berhasil menghentikan ciumannya tapi Oh Lian lagi-lagi mencium bibirnya, tak memberi kesempatan pada Gia menolak.
Mmmh~
Dua tangannya meremas dada Lian. “Bagaimana ini, pikiranku tiba-tiba terasa penuh. Bibirnya basah, lembut dan panas ... manajer pandai sekali membuat pikiranku kacau.” “Uhm~ ngh~ manajer, stop ....”
Oh Lian melepaskan bibirnya. “Kenapa, kau tidak menyukainya?” Wajahnya begitu dekat, aroma sisa cafein dari mulutnya tercium bebas oleh Gia.
“Bukaan begitu tapi–“
“Jangan pikirkan yang lain. Hanya ada aku di sini.” Tangannya terulur menarik dagu Gia. “Kau sedang memikirkan sesuatu, katakan. Bukan kah aku pernah memperingatkanmu untuk mengeluarkan semua yang ada di otakmu, aku juga ingin mendengarnya?”
“Manajer, aku–“
“Atau ... kau mengingat sesuatu?”
“Maksudmu?”
“Malam itu ... di mobil,” ucapannya menggantung diudara, Oh Lian membuat Gia semakin penasaran.
“Kenapa dengan malam itu, di mobil? Manajer!”
Bola matanya bergerak menurun, menatap intens bibir Gia.
Mata Gia tiba-tiba membulat. “Jadi, itu bukan mimpi?”
“Mimpi?” Kening Oh Lian berkerut.
“Aku senang kau mengingatnya?” Oh Lian tersenyum.
“Tapi, ke–kenapa kau menciumku?”
“Kenapa? Apa mencium seseorang membutuhkan alasan?”
“Tapi ... bagaimana dengan kekasihmu? Jika dia tahu–“
“Asal kau tutup mulut, dia tidak akan tahu.”
Deg!
“Jadi, benar kalau wanita itu kekasihmu?” tanya Gia dalam hati. “Kenapa aku merasa kesal, padahal hubungan di antara kita belum jelas. Meski begitu, kenapa aku tidak bisa menolak saat manajer menciumku?”
“Apa yang sedang kau pikirkan?”
“Manaje–“
Cup!
Ucapan Gia terhenti saat Oh Lian mengecup bibirnya.
“Manaj–“
Cup!
“Jangan pikirkan yang lain.”
“Tapi–“
“Gia, Gia Luciella ... apa yang sedang kau pikirkan sekarang?”
__ADS_1
“Kau, manajer.”
“Aku? Apa yang kau pikirkan tentang aku?” Oh Lian menyandarkan kepada di kening Gia. Menghirup aroma wangi dari tubuh Gia yang telah bercampur keringat. “Aku menyukai aroma tubuhmu,” gumamnya.
“Kau membuatku bingung dengan sikapmu, manajer.”
“Teruskan, teruskan bicaramu .. aku ingin mendengar semuanya.” Oh Lian memejamkan mata. Menempelkan ujung hidung mereka.
“Sejak pertama kita bertemu di rooftop, aku langsung tertarik denganmu. Tapi sikapmu ... terkadang membuatku kesal. Kau tiba-tiba marah tapi kau berubah baik keesokan harinya. Kau kadang menjengkelkan, membuatku bingung.”
Oh Lian menarik kepalanya, memberi jarak agar bisa menatap wajah Gia. “Lalu, apa yang kau rasakan saat ini padaku?”
“Mm, jantungku berdebar saat bertemu denganmu manajer.” Gia menunduk malu.
“Hanya itu?”
“A– sepertinya aku menyukaimu ... manajer.”
Ujung bibirnya tersenyum tipis, tatapan Oh Lian berubah tajam. “Katakan sekali lagi, aku ingin mendengarnya.”
“Aku menyukaimu, manajer.”
“Jangan panggil aku manajer.”
“He? Tapi–“
“Panggil namaku, Oh Lian!” Pintanya.
Gia mengangkat wajahnya, pipinya merah merona menahan malu. “O–oh Lian ... aku menyukaimu.”
“Good job!” Ibu jarinya mengusap lembut bibir Gia.
“Tapi, itu tidak mungkin.”
Ekspresi wajah Oh Lian langsung berubah. “Apa maksudmu?”
“Sara Lee, wanita itu ... kekasihmu bisa marah jika tahu aku menyukaimu.”
“Aku tidak peduli.”
“Maksud manajer?”
“Maksudku, aku bisa mengatur semuanya ... kita bisa berkencan tanpa Sara Lee mengetahui hubungan kita.”
“kencan ... tapi manaj–“
Lagi-lagi Oh Lian menyambar bibirnya tak memberi kesempatan pada Gia untuk mengelak.
Dreet, dreeet!
Ciuman terhenti karena ponsel Gia yang ada di saku bergetar.
“Lupakan,” sahut Oh Lian. “Jangan hiraukan ponselmu ... fokus saja padaku.” Oh Lian tak memberi kesempatan pada Gia untuk membuka ponselnya.
Sementara itu di luar, Eichi sibuk menghubungi nomornya. “Kenapa dengan Gia, lama sekali dia di toilet?”
~♤~
Mmh~ “Man–manajer, stop ... hen– ngh~ hentikan.”
Ciuman terhenti.
“Kenapa?” Matanya tertuju ke bibir Gia yang memerah, akibat ulahnya karena Oh Lian terlalu kuat menyesapnya.
“Ini ... tidak nyaman.” Posisi Gia masih duduk di pangkuan Oh Lian.
“Kau ingin kita melanjutkannya di mobil?”
__ADS_1