
“Juan, lepas. Jangan seperti ini.” Sebisa mungkin Gia mendorong dadanya, tetap saja tak mampu membuat dirinya lepas dari pelukan.
“Aku benar-benar merindukanmu. Gia aku menunggu kabar darimu. Syukurlah aku bisa bertemu denganmu di sini.”
“Sampai kapan kalian akan berpelukan?” seru Lian, berdiri di ujung dek kapal menikmati rokoknya.
Gia menggunakan kesempatan untuk melepaskan diri, tiba-tiba saja perutnya diserang rasa mual setelah mencium bau parfum. Segera dia berlari kembali menuju toilet.
Perhatian Lian tak lepas dari Gia sampai istrinya menghilang di balik pintu.
Tak peduli kedua lelaki di luar sana bertengkar, Gia sibuk memuntahkan seluruh isi di dalam perut.
Huek, hooek!
“Apa yang kau lakukan di sini?” Langkahnya perlahan, mendekati Juan. Saling berhadapan beradu ketampanan di bawah sinar bulan.
Angin seolah tak mau kalah, ikut menerpa jas yang dikenakan dua lelaki hingga membuat rambut mereka berantakan.
“Aku pikir kau tahu kenapa aku ada di sini,” ucap Juan tenang.
Lian terdiam, pesta yang diadakan Frederik sangat tertutup dan hanya orang-orang penting yang bisa masuk. “Setahuku hanya aku dan pamanku yang mendapat undangan darinya.”
“Menurutmu?” Juan tersenyum.
Matanya meruncing, Lian menatap mata Juan penuh intimidasi.
“Aku datang mewakili Tuan Lee Dae Hyun,” ucap Juan merujuk pada paman Lian.
Lagi-lagi Lian terdiam, menatap tajam penuh waspada. “Baguslah, jadi ... aku tidak perlu khawatir karena pamanku sebetulnya tidak mampu mengurus pekerjaan tapi bersikeras tetap ingin bergabung ke perusahaan. Yaah, meski hanya tiga puluh satu persen saham yang dia miliki. Setidaknya bonus dari perusahaan untuknya sangat cukup untuk membayarmu tiap bulan.”
Kini giliran Park Juan yang terdiam.
“Lusa aku dan Gia akan kembali Korea. Aku akan meminta Tuan Lee untuk menyiapkan penyambutan kedatanganmu ... tapi ingat,” ucapnya terputus, Lian melangkah lebih mendekat. Lalu berucap lirih tepat di samping telinga Juan. “Menjauh darinya!” ucap Lian merujuk pada Gia. “Aku tidak suka milikku disentuh orang lain.” Lian menepuk bahu Juan sebelum pergi menyusul Gia ke toilet.
Juan hanya diam, membiarkan Lian pergi.
~♤~
Gia sampai lemas, seluruh isi perutnya terkuras habis.
Ceklek!
Pintu terbuka, Gia melangkah keluar. “Astaga!” Terkejut melihat suaminya berdiri di depan pintu dengan ekspresi wajah muram. “Maaf, perutku tidak nyaman dan merasa sangat mual.”
Tatapannya seperti hewan buas yang siap menguliti mangsa. Ingin rasanya memaksa Gia melepas gaunnya lalu membawa terjun bersama dari kapal. Dengan begitu aroma Park Juan yang menempel di tubuh Gia akan menghilang.
Meski emosi menggebu, Lian berusaha tenang. Namun di dalam pikiran banyak sekali rencana yang akan dia lakukan kepada Gia untuk menghapus aroma dari Juan.
Gia tertunduk, merasa bersalah karena Lian melihat dirinya dipeluk lelaki lain. “Maaf, aku kurang hati-hati. Aku tidak tahu Juan tiba-tiba muncul saat aku keluar dari toilet.”
“Bisakah kau bersabar sedikit lagi?” ucap Lian seketika.
Kepalanya terangkat, Gia menatap penuh tanda tanya. “M–maksudmu?”
“Sebentar lagi sampai bayi itu lahir, setelahnya ... kau bebas menemui mantanmu itu.”
Deg!
Gia mengira Lian akan marah mengetahui istrinya dipeluk lelaki lain, tapi nyatanya yang diperlihatkan Lian justru berbeda saat Lian berhadapan dengan Juan hanya berdua saja.
“P–presdir kenapa kau berkata seperti itu?” Matanya merah, Gia menahan tangis.
“Aku sudah bicara pada Juan untuk menjaga jarak darimu, tapi aku tidak mengatakan kalau kau sedang mengandung anakku. Dan tentang pernikahan kita ... aku rasa, cukup hanya kita dan keluarga saja yang tahu.”
__ADS_1
Hening, hanya ada suara angin dan deru ombak menghantam pesisir.
~♤~
Perjalanan kembali menuju hotel sangat hening. Tak terjadi percakapan di antara mereka.
Meski berusaha kuat fokus ke jalan, Lian sangat merasa terganggu dengan aroma parfum Juan yang masih menempel di tubuh Gia.
Ciiiittt!
Mobil berhenti mendadak di tepi jalanan sepi.
Gia terkejut, perhatiannya teralihkan ke Lian, lelaki itu turun dari mobil. Berjalan ke sisi lain, membuka pintu memaksa Gia keluar. “Presdir, tunggu! Apa yang ingin kau lakukan?” Gia panik, takut Lian akan menurunkannya di tepi jalan.
Namun ternyata, Lian membuka pintu belakang dan mendorong Gia masuk ke dalam.
“Presdir?” Suaranya bergetar, ketakutan.
Tanpa berucap sepatah kata pun, Lian merobek pakaian yang dikenakan istrinya. Tak peduli seberapa mahal gaun itu, meski baru saja dikenakan beberapa jam, Lian merusak, merobek hingga tak berbentuk.
“Presdir, hentikan!” Gia tak bisa menolak.
Tubuh kekar sang suami membungkuk di atasnya, merobek mulai dari bagian termudah tepat di belahan kaki. Hingga ke atas sampai ke dada.
Gia menangis, meringkuk ketakutan. Gaun telah terlepas dari tubuhnya. Dibuang sembarangan teronggok tepi jalan. “Kenapa kau melakukan ini?” Suara isakan tangisnya sampai terdengar.
“Jangan menangis, kau membuatku semakin buruk. Padahal aku sedang membantu membersihkan tubuhmu dari aroma busuk yang mengganggu!” Telapak tangannya yang besar menarik wajah Gia. “Aku benci milikku disentuh lelaki lain! Aku benci aroma tubuhmu dipenuhi bau busuk dari lelaki lain.”
Huek! Perutnya telah kosong tapi Gia merasa mual saat mencium aroma wangi yang bukan dari tubuh suaminya.
Kening Lian berkerut. Seketika saja sadar bahwa apa yang telah dia lakukan pada Gia sangat kasar dan menyakiti perasaannya. Ekspresi yang semula geram langsung berubah muram penuh khawatir dalam sepersekian detik. “Sial! Apa yang terjadi sebenarnya padaku?” gumamnya. Mencoba tenang, duduk di samping Gia.
Setelah melepas jas, Lian melepas juga kemeja putih yang dia kenakan. “Pakailah.” Memberikan kemejanya kepada Gia.
Hick! Isakan tangis memenuhi kabin mobil. “Aku tidak bermaksud menemui Juan di belakangmu, hiks ... aku tidak jika dia juga datang ke pesta. Jika aku tahu hal itu akan terjadi aku pasti ... hiks, tidak akan pergi ke toilet sendirian.”
Setelah hampir kewarasannya hilang, Lian akhirnya mulai tenang. “Kemarilah.” Meminta Gia mendekat, tapi Lian terkejut melihat luka merah di lengan, dada serta bahu sang istri.
Tubuhnya bergetar ketakutan, Gia ragu saat Lian memintanya mendekat.
“Apa yang sudah aku lakukan?” Lian baru sadar bahwa saat memaksa Gia melepas gaun secara paksa, tanpa sengaja justru melukai permukaan kulitnya karena goresan. Kemudian, Lian mengangkat tubuh istrinya membawa ke pangkuan.
Saling berhadapan, tanpa mengenakan pakaian.
Kepalanya tertunduk, Gia menyembunyikan wajah di balik rambutnya yang tergerai berantakan.
Lian membantu Gia mengenakan kemeja miliknya. “Sementara pakailah ini agar kau tidak kedinginan.”
Huck! Beberapa kali Gia hampir muntah di mobil.
“Angkat wajahmu.” Suaranya mulai lembut, bahkan perlakuan Lian lebih hangat ketimbang beberapa detik yang lalu. Merapikan rambut Gia yang berantakan ke belakang telinga. Menatap kedua mata Gia mulai bengkak. “Maaf.” Lian akhirnya sadar telah menyakiti Gia berkali-kali. “Kau masih merasa mual?”
“Sedikit,” jawabnya singkat. Suaranya sengau karena tangis.
Huek! Berkali-kali Gia menutup mulut saat ingin muntah.
“Ingin makan sesuatu yang segar?”
Mmm! Gia menggeleng pelan.
“Lalu, kau ingin sesuatu agar perutmu tidak mual lagi?”
“Tidak ada, tidak ada yang aku inginkan. Aku mual karena ... aroma parfum Juan yang menempel di gaunku.”
__ADS_1
Ujung matanya melirik gaun yang sudah koyak di tepi jalan. Perhatian Lian kembali mengarah ke Gia yang duduk di pangkuan dengan kedua paha dipaksa membuka. “Aku sudah membuang gaunnya.”
“Tapi aku masih bisa mencium baunya.” Suaranya mendayu manja, membuat Lian tak kuasa menahan diri.
Tatapan Lian sendu, penuh kehangatan dan kasih sayang. “Katakan padaku, bagaimana caranya menghilangkan baunya? Kau bahkan sudah mengenakan kemejaku.”
“Aku tidak tahu, aku berharap ... mobil ini penuh dengan aroma wangi tubuhmu.”
Deg!
Lian terdiam sesaat, begitu mudah dirinya langsung bereaksi menegang meskipun hanya mendengar ucapan Gia. “Sial!” umpatnya dalam hati. Setelah kemeja, dia mengambil jas untuk menutupi tubuh istrinya. Sedangkan dirinya masih telanj–jang dada.
“Jangan,” ucap Gia menolak saat jasnya hendak digunakan menyelimuti tubuhnya. “Kau juga pasti kedinginan, Presdir.”
“Aku bisa menahannya.” Perhatian Lian tertuju ke bekas merah panjang di bagian dada. Luka akibat ulahnya saat menarik gaun secara paksa.
Perlahan Lian melepas kancing ke dua bagian atas.
Cup!
Lian menghadiahi kecupan di permukaan kulitnya yang merah. “Sakit?” Kepalanya terangkat menatap mata Gia.
Uhm .... Gia mengangguk pelan.
“Aku tidak punya obat di mobil, aku akan menyembuhkannya dengan cara lain. Apa kau keberatan?”
Gia tertunduk, menatap wajah Lian yang berada tepat di depan dada. Mmm ... menggelengkan kepala.
Saat kepalanya tertunduk, wajah Lian dihadapkan langsung dengan kedua dada istrinya.
Cup!
Setelah mengecup beberapa kali, Lian menggunakan lidahnya. Menjulur, menji–lat di sepanjang bagian yang terluka.
Mmmh~
Cup!
Mengakhirinya dengan kecupan, beberapa kali dan berulang.
Apa yang dilakukan Lian menimbulkan sensasi geli tak tertahan.
Uhm– Rintihan Gia tertahan. “Apakah ini yang disebut mengobati?” batin Gia. “Presdir tunggu!” Kedua tangannya meraih pipi,, memaksa Lian mengangkat wajahnya. Ekspresi penuh gairrah sang suami membuat Gia merona.
“Why?” Meraih kedua tangan Gia, menjauhkan dari pipi.
Cup!
Lian melanjutkan lagi mengecupi luka merah di permukaan kulit bagian dada sang istri.
Mmmh~
“M~menge ngh~ hah ... nai ucapanmu s~saat di depan ngh~ toilet.”
Kecupan terhenti, kepalanya terangkat menatap mata Gia. “Apa yang aku katakan saat itu?” Tangannya bergerak menarik cup b-ra sebelah kanan. Tanpa peringatan Lian menyesap ujung dadanya.
“Kau~ .... Aaaah!” Diserang rasa geli bertubi-tubi, kepalanya sampai terangkat memejamkan mata. Rasa panas, lembut menyerang syaraf titik sensitifnya. Pikiran Gia langsung buyar.
Bibirnya tersenyum meski lidahnya masih sibuk menyesap ujung dada. Lian menyukai suara desa-han sang istri akibat ulahnya. “Katakan apa yang aku ucapkan saat di depan toilet?”
Ngh~
“i–ini mengenai mmh~ hah ... Juan.” Suaranya di akhir kalimat semakin lirih, ragu.
__ADS_1
Lian menghentikan kegiatannya, menjauh dari dada. Kepalanya terangkat, menatap mata Gia. “Kenapa dengan lelaki itu?”