Hamil Anak Presdir

Hamil Anak Presdir
28. Keinginan Aneh


__ADS_3

Brugh!


Tubuhnya membentur pintu.


Secepat kilat, Lian mengambil kuasa atas tubuh Gia. Menahan pinggangnya, mencengkeram tengkuknya, Lian menyambar bibir Gia tanpa permisi.


Nggh~


Seperti kehilangan tenaga, Gia merasa tak mampu mendorong Lian agar menjauh. “Hah, kenapa tubuhku rasanya berat sekali?” racaunya dalam hati. Matanya terbuka, menatap mata Lian yang terpejam saat menikmati bibirnya. “Tidak, tubuhku lemas ... apa lagi Lian tak memberiku kesempatan untuk bernapas. Bagaimana ini?”


Gelap, mendadak Gia merasa semua menggelap. Bahkan permainan bibir Lian tak lagi sia rasakan.


Ugh!


Tubuhnya merosot, Gia tak sadarkan diri.


Ciuman terhenti, Lian terkejut setengah mati mendapati Gia lunglai. Nyaris terjatuh jika dia tak refleks menangkap tubuh Gia.


“Gia, Gia?” Lian mengangkat tubuhnya, menggendong Gia dalam dekapan. Keluar dari kamar mandi menuju parkiran melewati pintu belakang.


“Tuan?” sahut Lee, terkejut melihat Lian meninggalkan gedung padahal acara belum juga selesai.


“Buka mobilnya!” perintah Lian.


Sementara di dalam gedung, Juan baru saja selesai berdansa dengan Sara. “Ke mama perginya Gia?” Mengambil ponsel untuk menghubungi Gia.


Tuuuuuttt!


Namun ternyata nomornya tidak aktif.


Juan tersadar, ingat bahwa Lian juga ternyata menghilang dari pesta. Huuuft! Juan menghela napas panjang, tersenyum tipis. Meyakini jika Gia dan Lian pasti sekarang sedang bersama.


~♤~


Melihat kondisi Gia belum juga sadar, Lian meminta pelayan menyiapkan kompres.


Sebelumnya, dia membersihkan wajah Gia lalu kedua tangan dan kaki. Tak lupa lehernya, karena Gia kebetulan mengenakan gaun tanpa lengan.


Ngh~


Suara rintihan terdengar lirih, tangan Lian terpaku diudara masih dengan handuk basah yang baru saja dia gunakan.


Perhatiannya tertuju ke wajah Gia. Bibirnya tersenyum menatap raut kelelahan yang membuat ekspresi wajahnya polos.


Tangannya terulur merapikan rambut yang berantakan, Lian kemudian mendaratkan sebuah kecupan di kening Gia.


~♤~


“Halo?” Lian berdiri di samping jendela kaca, menjawab panggilan dari Sara.


“Lian, kau sudah mendengar kabar terbaru tentang ayahku?” ucap Sara dari seberang sana.


Ghm! “Uhm, aku sudah dengar.” Lian melirik, memastikan kalau Gia tak terganggu dengan suaranya.


“Aku akan coba bicara dengannya, aku harap dia tidak membuat keributan di perusahaanmu.”


“Kenapa, biarkan saja ... lagi pula ayahmu juga memiliki saham di sana. Tapi aku tahu bagaimana cara menangani ayahmu.”


“Aku khawatir dia akan mengganggumu.”


“Tenang saja, kau tidak perlu memikirkan aku ... fokuslah pada bayi di kandunganmu. Oke.”


“Uhm!”


Lian mematikan ponselnya, menatap sekilas layar sebelum teralihkan ke Gia yang mulai sadar.

__ADS_1


Ugh! “Astaga, kepalaku pusing sekali.” Gia duduk di ranjang, memijat pelan keningnya.


“Kau sudah sadar?” Suara berat Lian mengalihkan perhatian Gia. Lelaki itu duduk di kursi samping ranjang tepat di depan Gia.


“Di mana ini?” Gia terkejut, memastikan keadaan sekitar. Ruangan yang sangat asing. “Kau? Ini di mana?”


“Ini di rumahku,” ucap Lian lembut.


“Eh, rumah?” Gia terpaku. “Sara? Bagaimana jika Sara mengetahui aku berada di kamar Lian,” batinnya.


“Gia, kau baik-baik saja.” Tangannya terulur, mengusap lembut pipi Gia.


“Aku harus segera pergi.” Menarik tangan Lian, mencoba menghindar.


“Wait!” sahut Lian, menahan lengan Gia. “Aku tidak akan membiarkanmu meninggalkan tempat ini.”


“Tapi aku harus pergi!” Saat hendak beranjak berdiri, kepalanya terasa seperti berputar. Gia nyaris jatuh tapi Lian menarik pinggangnya hingga jatuh duduk di pangkuan.


“Maaf!” Gia hendak beranjak berdiri, tapi Lian menahannya.


“Gia ....”


Hening, Gia tak berani menoleh karena bisa dipastikan kalau wajahnya akan berpapasan dengan Lian. Ghm! Dehemnya menetralkan rasa gugup. Belum lagi berada di pangkuan Lian membuat suasana canggung semakin kental.


Siapnya tangan Lian melingkar di pinggang, sehingga Gia tak bisa berdiri.


“Katakan, kenapa denganmu?” ucapnya lembut tepat di telinga.


Gia dibuat geli, tubuhnya menggeliat namun tertahan karena malu. “Memangnya, aku kenapa?”


“Kau pingsan. Wajahmu juga pucat ... Gia apa kau sedang sakit?”


“Tidak,” jawabnya cepat. “Lian lepaskan tanganmu, aku harus pergi.”


“E, Juan pasti mencariku ... dia pasti khawatir karena aku menghilang begitu saja.”


Lian terdiam, ekspresi wajahnya datar. Tapi sorot matanya jelas memperlihatkan kemarahan. “Jadi kau lebih memilih mengkhawatirkan lelaki itu ketimbang dirimu sendiri? Untuk berdiri pun bahkan kau tidak mampu.”


“Tapi–“


“Atau jangan-jangan ... sekarang kau kencan dengannya?”


Gia menoleh cepat mendengar pertanyaan mengejutkan dari Lian. Tak peduli seberapa dekatnya wajah mereka hingga ujung hidung saling menempel, Gia kesal karena tuduhan Lian.


“Memangnya kenapa kalau aku kencan dengannya?” Hah .... Desah Gia ketika Lian merangkup pipinya. Panas tangan Lian membuat Gia memejamkan mata.


“Tentu saja itu urusanku,” ucap Lian semakin lembut. Menyandarkan kepala di kening Gia saat melihat perempuan itu memejamkan mata seolah menikmati sentuhan tangannya.


Lian bahkan sengaja sampai memainkan ujung hidung.


Deg!


Dadanya berdebar, terkejut melihat Gia menyentuh tangannya yang masih bertahan di pipi. “Gia ....” Suara lembut Lian seolah menghipnotis Gia.


Entah mengapa tiba-tiba saja Gia bisa sangat menyukai sentuhan itu. Beberapa waktu yang lalu, Gia bahkan sangat kesal, benci dan tidak mau lagi berhubungan dengan Lian tapi malam itu seketika berubah.


Aneh, ingin rasanya Lian terus menyentuh dirinya.


“Aneh, kenapa denganku?” batin Gia. Matanya terpejam, menikmati rasa hangat yang berasal dari telapak tangan Lian menyentuh pipi. Menyebar ke seluruh tubuh hingga menciptakan efek yang tak terduga.


Gia merasa sangat senang, bahagia yang tak mampu dia jabarkan.


Kedekatan wajah mereka membuat Lian tak bisa lagi menahan diri. Pertahanannya rapuh, kepalanya bergerak semakin dekat mengecup bibir Gia.


Cup!

__ADS_1


Napas Gia mulai tak beraturan, sentuhan di bibir membuatnya perlahan membuka mata.


Pandangan mereka bertemu, jarak yang hanya tiga jari di antara mata mereka membuat penglihatan tak begitu jelas.


Tatapan Lian berbayang saking dekatnya, tapi dia yakin jika saat itu mata Gia terbuka. Merasa tak ada penolakan, Lian kemudian mencium bibirnya lembut.


Basah dan hangat, itulah yang Hia rasakan. Anehnya, hal itu membuatnya candu. “Kenapa dengan tubuhku? Kenapa aku justru menyukai sentuhannya, ciumannya ... dan aroma kafein dari napas.”


Pikiran Gia meracau, seharusnya dia marah dan mendorong dada Lian. Tapi ada sesuatu di tubuhnya yang menahan dan membuat sentuhan Lian seperti sebuah energi yang mampu membuat tubuhnya semakin bersemangat.


“Ada apa denganku sebenarnya?” batin Gia.


Ciuman terhenti, Lian ingin memastikan sesuatu. Kedua tangannya menyelusup ke sela rambut serta rahang Gia yang kecil. “Gia ....”


Hm?


“Jawab pertanyaanku,” Suara Lian semakin dalam, napasnya tak beraturan. Membiarkan bibir mereka menempel saling bergesekan saat berucap.


Hah, hah .... Napas Gia mulai kasar.


“Kau berkencan dengannya?” tanya Lian.


“S–siapa?” Matanya terpejam, Gia menikmati aroma wangi Lian serta napas panasnya yang membuat mabuk kepayang.


“Juan, Park Juan ... kau berkencan dengannya?”


“Uhm!” Gia menggelengkan kepala, rambutnya semula rapi, mulai berantakan karena Lian. “Tidak.”


“Lalu?”


“Aku tidak memiliki hubungan apa pun dengannya.”


Cup!


Lian mengecup keningnya, perlahan kecupan bergerak turun menuju ke mata. Secara bergantian sebelah kiri dan kanan, tak sampai di situ Lian melanjutkan kecupan sampai ke ujung hidung.


Anehnya, hal yang membuat Lian semakin tak karuan adalah reaksi Gia. Setiap kali sentuhan yang di berikan kepada Gia selalu direspons dengan senang hati. Hal itu tentu membuat Lian semakin bersemangat.


Cup!


Terakhir kecupan terhenti di bibir.


“Kau ingin berhenti?” bidiknya lembut.


Uhm~


Gia menggeleng pelan.


Tangannya menarik dagu Gia mengangkat wajahnya. Lian terkejut dengan reaksi Gia yang tak terduga, apa yang membuat perempuan itu menyukai setiap apa yang dia berikan.


Sentuhan, kecupan bahkan bisikan mampu membuat Gia luluh. Tak seperti sebelumnya saat dia pingsan di toilet.


“Tidak, ini tidak boleh terjadi. Kenapa aku menjadi sangat senang setiap kali Lian menyentuhku? Ada apa denganku tubuhku ... aku yakin kalau sebelumnya tak seperti ini. Seingatku, aku juga tidak minum Wine saat di pesta?” batin Gia.


“Lagi?” bisik Lian lembut. “Kau mulai sibuk dengan pikiranmu lagi. Bukankah dulu aku sempat memperingatkanmu?”


“Maaf ....” Suara Gia lirih.


Cup!


Lian mengecup pipinya, tepat di ujung bibir. “Buka mulutmu,” perintahnya lembut.


Gia menurut, membuka mulutnya.


“Buka lebih lebar lagi ... aku ingin memghisap dan masuk ke dalam tubuhmu.” Lian mencubit dagunya. “Keluarkan liddahmu.”

__ADS_1


__ADS_2