Hamil Anak Presdir

Hamil Anak Presdir
6. Mencuri Ciuman


__ADS_3

“Kau butuh napas buatan?” sahut Oh Lian, ekspresi terpesona terlihat jelas di wajah Gia.


Ghm! “Tidak!” Cepat-cepat Gia menarik tangannya. Lalu sibuk menjahit kancingnya.


Oh Lian tersenyum tipis, menangkap basah Gia yang tengah melamun karena dirinya.


~♡~


Meski tangannya sibuk menjahit kancing kemeja, pikiran Gia tak bisa tenang. Oh Lian duduk di depannya bahkan kedua pahanya terbuka mengarah ke Gia. Jarak mereka sangat dekat membuat Gia tak bisa konsentrasi.


“Tapi ... kalau diingat-ingat sejak datang kemari manajer seperti sudah mengenal baik tempat ini. Mulai dari menunda meeting, lalu membawaku kemari dan ... dia bisa tahu jelas di mana letak jarum serta benang ini.” Pikiran Gia penuh dengan pertanyaan membuat keningnya berkerut.


“Aku sebelumnya bekerja di sini, jadi aku tahu di mana letak semua peralatan berada.” Oh Lian tiba-tiba berucap membuat Gia terkejut hingga tanpa sengaja jarumnya menusuk jari. “Itu ‘kan yang ingin kau tanyakan?”


Ah! Au .... Tanpa sengaja Gia justru melukai jarinya sendiri karena terlalu fokus dengan Oh Lian.


“Ceroboh!” sahut Ih Lian. Meraih tangan Gia, memasukkan jarinya yang berdarah ke dalam mulut.


“Ma–manajer!” Gia terkejut. Matanya membulat saat melihat lelaki itu dengan tenang mengulum jarinya.


Tak lama, hanya sebentar setelah itu Oh lian mengambil plester untuk menutup jari Gia yang terluka. “Tinggalkan itu aku bisa mengurusnya.”


Hening, Gia memilih diam ketika Oh Lian sibuk menjahit kemejanya sendiri.


“Oh, apakah sudah selesai?” Gia tidak menyangka Oh Lian bisa menjahit kemejanya sendiri secepat itu.


“Hmm, kita harus segera ke ruang meeting. Waktu kita tidak banyak.”


Gia justru melamun melihat Oh Lian mengenakan kemejanya.


“Kenapa melihatku seperti itu?” Pertanyaan Oh Lian membuat Gia terkejut dan langsung mengalihkan pandangan.


Memang sangat sayang melewatkan pemandangan tubuh Oh Lian begitu saja. Bagi Gia kesempatan seperti itu tak akan datang dua kali.


“Tidak manajer, kau pasti salah sangka. Aku sedang memikirkan hal lain.”


“Memikirkan tubuhku misalnya?” sahut Oh Lian, ucapannya benar-benar membuat Gia merona.


“Tidak!” Gia membantah.


“Tidak salah maksudmu? Aku bahkan bisa melihat jelas di keningmu.”


“Hah sial, berapa lama aku bisa bertahan menghadapi manajer baru ini?” batin Gia.


“Ayo!” Oh Lian mengambil berkas dari meja.


“Manajer tunggu!” sahut Gia.


“Kenapa?” Oh Lian menoleh.


“Uhm, i–itu ... kerah kemejamu.” Gia malu kalau harus langsung membantunya. Padahal dalam hati dia ingin sekali merapikan kerah kemejanya bahkan kedua tangannya telah terangkat dan sempat terpaku di udara.


Satu tangan Oh Lian memegang berkas dan satunya lagi telah meraih hendel pintu. “Kau ingin membantuku?” ucap Oh Lian seketika.


“He?” Gia terkejut. Kakinya perlahan melangkah mendekat. “Manajer ... kau bisa menunduk sedikit? Kau terlalu tinggi bagiku.”


Haha .... Oh Lian terkekeh, lalu mengikuti perintah Gia. Punggungnya merendah, sedikit membungkuk agar Gia dengan mudah merapikan kerahnya.


“Sudah manajer,” ucap Gia setelah selesai.


Oh Lian mengangkat kepalanya tanpa menegakkan punggung sehingga dengan posisi seperti itu wajah mereka sangat berdekatan dan lebih seperti hendak berciuman.


Gia terkejut membulatkan mata.


“Terima kasih.” Oh Lian tersenyum, melihat ekspresi canggung bercampur panik di wajah Gia. “Ayo, semua orang sudah menunggu.”


~♤~

__ADS_1


Seharian Gia tidak bisa fokus dengan materi meeting, karena pikiran dan perhatiannya selalu tertuju pada Oh Lian yang sejak tadi berdiri di depan menjelaskan semua tentang rencana pekerjaan untuk ke delannya.


“Di mana aku pernah melihat manajer?” batin Gia. “Kenapa aku merasa tidak asing dengannya?” lanjutnya dalam hati


Prok, prok, prok!


Suara tepuk tangan menyadarkan Gia dari lamunan. Meski terlambat akhirnya dia ikut bertepuk tangan.


“Manajer, senang sekali bisa bertemu Anda lagi.”


“Benar, kemarin mutasi Anda terlalu cepat sehingga kita belum sempat menyiapkan pesta makan-makan untuk Anda.”


“Jadi, bagaimana kalau kita adakan pestanya malam ini? Manajer, Anda tidak sibuk ‘kan?”


Semua orang tampak senang dengan kedatangan Oh Lian. Entah karena kinerjanya atau kebaikannya yang pasti saat ini Gia dibuat kesal karena merasa sikap mereka terlalu berlebihan. “Apa-apaan ini ... bahkan pertama kali dia pindah ke kantor pusat saja sudah membuatku kesal. Bagaimana mereka semua bisa merasa senang dengan sikap manajer?” gumam Gia dalam hati.


“Aku akan memikirkannya tapi ... aku harus meminta ijin dulu kepada asistenku.” Oh Lian menarik kursi yang di duduki oleh Gia.


Ah! Gia tersentak takut jatuh hingga akhirnya memilih pegangan pada lengan Oh Lian. “Manajer!” geram Gia dengan suara rendah.


“Sepertinya aku harus sering memperhatikan dirimu ... karena kalu tidak kau akan terus melamun dan sibuk dengan isi pikiranmu sendiri.” Oh Lian berucap lirih kemudian tersenyum. “Asisten Gia, bagaimana menurutmu kalau kita ikut mereka ke pesta makan malam?” Oh Lian sengaja berbisik, bahkan wajahnya sangat dekat hingga nyaris menempel ke pipi Gia.


“Asisten Gia, aku mohon padamu!”


“Iya, Asisten Gia ... ini makan malam sebagai pesta perpisahan kami dengan manajer, bagaimana?”


Semua orang berharap dengan kedua tangan memohon membuat Gia merasa tak enak hati. Huuuft!


~♤~


Pesta makan malam akhirnya diadakan di dekat kantor tempat kerja.


Gia sebenarnya sangat tidak nyaman dengan keramaian tapi mau bagaimana lagi karena semua orang di sana sangat senang dan menikmati.


“Makanlah sepuas kalian dan pesan apa saja yang kalian inginkan, aku akan membayar semua tagihannya.”


“Panjang umur manajer, semoga kelas kau menjadi pemimpin yang sukses.”


“Aku berharap manajer mendapatkan jodoh yang baik hati agar ke depannya bisa mengurus manajer dengan sangat baik.”


“Jodoh adalah cermin diri, maka aku yakin manajer akan mendapatkan jodoh yang baik pula!”


Hanya Gia sepertinya yang memasang wajah muram di sana.


Ceerrrsss!!


Semua orang mengangkat gelas mereka yang telah penuh dengan bir.


Begitu juga dengan Oh Lian tapi senyumnya seketika hilang saat Gia mengambil alih gelas dari tangannya.


“Permisi manajer, tapi Anda harus menyetir ... jadi Anda dilarang minum.” Senyum jahat langsung menghiasi bibir Gia, merasa puas telah membuat Oh Lian tak bisa menikmati birnya.


“Yaaahh, benar. Manajer tidak bisa ikut minum dengan kita.”


“Tidak apa-apa, sekali-sekali ini biarkan manajer minum bersama kami. Lagi pula besok hari libur ... kalian bisa menginap di hotel bukan?”


Deg!


“Ha? Me–menginap?” Gia tak akan membiarkan hal itu terjadi. “Maaf tapi manajer dan aku besok masih harus lembur di kantor karena masih banyak pekerjaan yang belum selesai.” Gia berusaha mencari alasan.


“Benarkah, manajer?”


“Uhm ... ya, semua yang dikatakan oleh asisten Gia benar. Kalau kita masih harus ada rapat penting besok siang.” Oh Lian membenarkan ucapannya.


“Baiklah, karena asisten Gia tidak perlu menyetir jadi kalau begitu bagaimana jika kau yang menggantikannya?”


“Iya benar!”

__ADS_1


“Maksud kalian, menggantikan apa?” Gia kebingungan, melirik Oh Lian yang sejak tadi hanya diam menahan senyum.


“Menggantikan manajer untuk minum dengan kita.”


“Eh, tapi ... aku tidak kuat minum banyak.”


“Jangan banyak alasan asisten Gia, kau pasti pandai karena sering menemani bos-bos besar untuk pergi minum.”


Gia melirik kearah Oh Lian, jelas terlihat dari wajahnya kalau dia benar-benar meminta pertolongan dari manajernya itu.


Tetapi nyatanya Gia justru mendapat penolakan. Oh Lian mengangkat kedua bahunya bersamaan.


“Manajer! Kau menyebalkan!” gumam Gia.


Oh Lian tersenyum senang.


~♤~


Sudah setengah main, Gia telah menghabiskan beberapa gelas hingga membuat wajahnya merona karena mabuk.


“Ayo lanjutkan! Aku masih bisa menghabiskan beberapa gelas lagi!” Gia telah mengangkat gelasnya.


“Cukup!” sahut Oh Lian meraih tangannya.


“Heeii, kenapa manajer ... kenapa kau menghentikanku?” Gia berucap mendayu karena pengaruh alkohol dalam tubuhnya.


Semuanya sibuk dengan masing-masing, sementara yang masih waras di tempat itu hanya Oh Lian.


“Kau lupa besok kau masih harus menemaniku rapat dengan dewan direksi.”


Hick! Hick! Gia mulai cegukan.


“Ka–kapan aku pernah bil–bilang akan pergi denganmu hehe ....”


“Kau sendiri yang mengatakannya tadi!” Matanya beralih ke gelas yang hampir disambar oleh Gia tapi Oh Lian mengambilnya terlebih dulu lalu menjauhkan dari jangkauan Gia.


“Cukup Gia!” geram Oh Lian, kemudian mengeluarkan dompet dan mengambil kartu untuk membayar tagihan.


“Tunggu, hick! Manajer ... da–dari mana kau mendapat kartu hitam ini. Aaah, hayooo ... kau pasti memiliki kekasih seorang presdir kan? Hick a–atau jangan ... kau hick, kau menjadi simpanan tante-tante untuk mendapatkan kartu hitam ini?” Gia meracau, pikirannya dibuat tambah kacau setelah melihat kartu hitam milik Oh Lian.


“Hei, memangnya kau tidak tahu siapa manajermu ini?”


“Kenapa dengan manajerku hick memangnya?”


“Dia–“


“Gia!” sahut Oh Lian. “Kita harus kembali sekarang.” Berusaha membantu Gia bangkit dari tempat duduknya.


“Tidak mauuu hick! Aku masih mau minum!” Gia sudah tak tertolong lagi. Dia benar-benar mabuk berat.


Oh Lian akhirnya menggendong Gia dan membawanya ke mobil.


Saat hendak menyalakan mesin mobilnya, Oh Lian justru terdiam karena menyadari Gia ternyata belum mengenakan sabuk pengamannya.


“Gia?”


“Hmmm ....” Gia nyaris pingsan, meski matanya sudah tak mampu terbuka tapi anehnya dia masih menyahut panggilan dari Oh Lian.


“Kenakan sabuk pengamanmu!”


“Satu gelas lagi, berikan aku satu gelas lagi ayooo.” Gia meracau, penampilannya berantakan begitu juga rambutnya.


Huuuft! Setelah menghela napas panjang, Oh Lian membantu Gia mengenakan sabuk pengamannya. Tetapi ketika dihadapkan dengan wajah polos Gia, Oh Lian justru kehilangan fokus.


Kedua tangannya yang sempat sibuk menarik sabuk pengaman langsung terpaku. Matanya tertuju ke wajah Gia, tak lama kemudian kedua bola matanya bergerak turun menuju ke bibir.


Entah apa yang membuat Oh Lian hilang akal, tiba-tiba saja kepalanya bergerak mendekat lalu mencium bibir Gia.

__ADS_1


__ADS_2