
“Tidak mungkin, jangan bilang kau hanya bisa tidur nyenyak jika mencium aroma tubuhku?” gumam Lian tak percaya.
Lian terkejut melihat Gia tiba-tiba meringkuk, tidur di atas pangkuan memeluk pinggangnya.
Melihat raut wajahnya yang begitu nyaman membuat Lian tak tega dan membiarkan Gia tidur di pangkuan.
Lumayan lama Lian menunggu sampai Gia benar-benar terlelap. Selama itu dia gunakan kesempatan untuk memandangi wajah Gia yang hanya terlihat sebagian. Posisi wajahnya kebetulan menghadap ke perut, sehingga Lian bisa merasakan panas napas Gia meraba permukaan kulitnya.
Ugh! Rintih Gia ketika tetesan air dari rambut Lian sisa mandi jatuh mengenai pipi.
Tangannya bergerak, Lian mengusap lembut air di pipinya. Tak berhenti di situ, Lian merapikan rambut yang menghalangi wajah Gia lalu menyimpannya di balik telinga.
“Aku menunggu momen seperti ini sejak lama, tapi kenapa kau mengecewakanku, Gia. Meski begitu ... apa yang kau lakukan sama sekali tidak mengurangi perasaanku padamu. Hanya saja, aku tidak akan membuat semuanya mudah bagimu. Kau harus bekerja keras untuk meyakinkan aku bahwa kau benar-benar menyukaiku.”
Bagaimana Lian tidak ragu, baginya Gia adalah cinta pertama dan satu-satunya sejak duduk di bangku sekolah hingga kini, Lian tak pernah berhubungan dengan perempuan mana pun. Karena dia yakin suatu saat nanti akan bertemu dengan Gia.
Meski Lian pernah dibuat kecewa dan disakiti, namun perasaannya tak pernah berubah sedikit pun.
Di saat kesempatan itu datang, Lian tidak akan melewatkannya begitu saja.
Sepulangnya dari Luar Negeri, posisi Lian saat itu masih bekerja di anak perusahaan. Tanpa sengaja melihat CV milik Gia yang ternyata telah bekerja di perusahaan milik ayahnya selama 5 tahun.
Sejak saat itu, Lian merencanakan kepindahan dirinya agar menjadi satu perusahaan dengan Gia. Namun mendengar bahwa Gia pernah berkencan dengan lelaki lain, perasaan yang tumbuh di hatinya semakin membesar dan membuatnya terobsesi.
Lian sangat manipulatif, sengaja membuat Gia bergantung padanya.
Cinta dan obsesinya kepada Gia semakin besar, sedikit saja Gia lepas dari pengawasan membuat Lian takut Gia akan berpaling.
Lian menginginkan hal yang sama, cinta dan perasaan Gia yang besar terhadap dirinya. Meski dia sadar itu hubungan yang tidak sehat, tapi ambisi Lian untuk memiliki Gia tak goyah.
Kemarahannya beberapa jam yang lalu adalah bentuk dari rasa takut akan kehilangan Gia.
__ADS_1
“Bagaimana caranya mengendalikan kegilaanku padamu, Gia?” gumam Lian. “Apakah salah jika aku menginginkan dirimu, aku tidak butuh yang lain selain dirimu. Rasa ingin memiliki dirimu semakin besar setiap kali melihatmu tak bisa aku kendalikan. Hanya dengan mengurungmu dan mengikat kedua tangan serta kakimu di sebuah ruangan akan membuat hatiku lebih nyaman. Apakah aku egois?”
Pikiran Lian dipenuhi dengan rencana aneh untuk bisa membuat Gia tetap berada di sisinya. Menurut dan patuh dengan semua perintahnya. Tetapi, kejadian malam saat Gia memilih pergi dengan Juan membuat dirinya sadar.
Semakin kau menggenggam erat seseorang yang kau cintai, maka jalan untuk kehilangan cintanya semakin terbuka lebar.
Perlahan Lian memberanikan diri, membiarkan Gia menemui Juan meski amarah membakar dada. Apa lagi setelah mendengar bahwa Gia berencana mengguggurkan kandungannya membuat Lian sulit untuk percaya.
Cup!
Lian menghadiahi kecupan di kening. “Apa yang sudah dilakukan Juan sampai kau mau berkencan dengannya? Apa hebatnya Juan ketimbang diriku?”
Mmh! Rintih Gia, kepalanya bergerak mencari kenyamanan. Wajahnya sampai menempel ke perut Lian. Dan jelas, ketika kepalanya terus bergerak bisa dipastikan hal itu membuat Lian menegang. Apa lagi pembatas antara wajah dan milik Lian hanya setipis handuk.
Glek!
Sial! Sorot matanya semakin dalam, napas Lian mulai berat. “Kita sudah menikah ... seharusnya tidak masalah jika kita melakukannya, bukan?” gumam Lian. Menahan gejolak semakin membara, Lian hanya bisa meremas rambut panjang milik Gia yang tergerai.
“Aku tidak bisa menahannya lagi!” Tetapi Lian enggan membangunkan Gia yang sudah terlelap. Sebisa mungkin Lian mengangkat kepalanya dari pangkuan, meletakkan di atas bantal perlahan.
Baru saja beberapa detik ketika hendak beranjak berdiri, Gia terbangun karena kehilangan aroma Lian.
Matanya sedikit terbuka, Gia melihat bayangan Lian berdiri di depan mata. “Presdir ... kapan kau pulang? Maaf ... aku ketiduran.” Gia beranjak duduk, mengusap matanya agar penglihatan semakin jelas.
Deg!
Dadanya berdesir, seolah tertangkap basah, Lian terpaku tak bisa bergerak. Niat hati ingin ke kamar mandi dan menuntaskan hasratnya tapi Gia terlanjut melihat semua.
Pipinya merona panas, terbangun di tengah malam dan langsung disuguhi dada bidang serta perut Lian yang keras. Seluruh otot di bawah permukaan kulit terlihat menguat.
Namun di samping itu, hal yang paling menarik adalah Mr.P milik Lian. Menegang hingga menyembul membuat handuk yang dia kenakan ikut terangkat.
__ADS_1
“Astaga! Sebesar itu ... malam saat di penginapan sebesar itu masuk ke dalam tubuhku?” racau Gia dalam hati. Matanya membulat melihat ukuran milik Lian yang tak masuk akal. “Tidak! Apa yang sedang aku pikirkan?” Bergidik menyadarkan diri dari pikiran kotor. Menunduk menyembunyikan wajah dari Lian.
Bukan hanya Gia, Lian juga merona karena malu. “Sial! Ini memalukan!” batinnya. Meski begitu tak mungkin baginya secara terang-terangan meminta kepada Gia untuk berhubungan dengannya. “Siapa yang menyuruhmu tidur di sofa? Kau merepotkan, aku harus mengangkatmu sampai ke ranjang. Ingatlah untuk selalu tidur di ranjang ... aku tidak ingin sesuatu membuat anakku tidak nyaman.”
“Hmm, aku tahu ... ini semua hanya untuk anak di dalam perutku,” batin Gia.
“Tidurlah!” Lian hendak melangkah ke kamar mandi tapi terhenti karena Gia meraih tangannya.
“Tunggu, Presdir.”
Lian tak menoleh. “Kenapa?”
“Aku tahu kau masih marah padaku ... tapi kita sudah menikah. Tidak ada larangan bagimu untuk menyentuhku, kan?”
Cih! “Kau sedang memohon atau merayu agar aku memaafkan dirimu?”
“Tidak, aku tidak merayu ... aku tahu kau marah dan kecewa padaku. Aku akan menemukan cara lain untuk membuatmu percaya, tapi ... saat ini ada hal yang lebih penting dari itu.” Gia duduk di atas kedua kaki yang bersimpuh. Tangannya masih menahan tangan Lian yang tak kunjung menoleh. “Sebesar apa rasa marahmu padaku, aku tetap istrimu sekarang. Kau bisa menggunakan tubuhku jika kau tidak keberatan.”
Lian menoleh, keningnya berkerut. Aura gelap akan rasa ingin melahap Gia hidup-hidup seperti hewan buas semakin menguat. “Apa maksudmu, katakan dengan jelas.”
“Kau bisa gunakan tubuhku untuk memuaskan dirimu, meski kau marah padaku ... bukankah tidak ada larangan untuk menyentuh tubuhku?”
“Kau sadar dengan apa yang kau ucapkan?”
“Iya.”
Lian bergerak maju, mendorong bahu Gia hingga terbaring di ranjang. Sorot matanya tajam, bak elang yang tengah kelaparan. “Kau sendiri yang mengatakan bahwa aku boleh menggunakan tubuhmu, tapi ingat ... aku tidak akan melepaskanmu ketika kau menangis memohon untuk berhenti.”
“Lakukan semaumu, jika ini bisa menebus rasa bersalahku padamu. Tapi asal kau tahu ... aku sama sekali tidak meminum obat itu.”
Tak ingin mendengar lagi ucapannya, Lian langsung membungkam bibir Gia dengan ciuman.
__ADS_1