Hamil Anak Presdir

Hamil Anak Presdir
55. Seoul


__ADS_3

“Ikutlah denganku ke Seoul.”


Lea terdiam setelah mendengar ajakan dari Lian. Tetapi entah mengapa rasanya hati teramat senang ketimbang saat Juan mengajaknya pergi keluar dari Jeju. “Aneh, sebenarnya dengan siapa aku menjalani hubungan saat ini,” batin Lea.


Ghm! “Itu pun kalau kau tidak keberatan, aku juga tidak akan memaksamu ikut deng–“


“Aku mau!” sahut Lea memotong pembicaraan.


Sesaat Lian terdiam, masih berdiri di tempat semula. Kakinya bergerak melangkah mendekat lalu duduk di bibir ranjang. “Katakan sekali lagi ... aku ingin mendengarnya.”


“Aku, aku mau ikut bersamamu ke Seou–,” ucapnya terputus saat ponselnya bergetar, perhatian Lea tertuju ke ponsel yang ada di tangan.


Juan memanggil. Nama kekasihnya itu terpampang di layar.


Belum sempat Lian memastikan siapa yang menghubungi, Lea cepat-cepat membalikkan ponsel dan menghindari tatapan matanya.


“Kenapa tidak diangkat?” tanya Lian lembut. Merapikan anak rambut Lea yang menghalangi mata ke balik telinga.


“Mmm, ini ....”


“Dari kekasihmu?” sahut Lian, bibirnya tersenyum tipis.


Lea hanya diam, tak berani menjawab pertanyaannya.


“Mmm, kenapa tidak kau angkat?”


“Dia pasti ingin aku kembali. Aku tidak mau pindah ke luar negeri.”


“Kenapa kau tidak mencoba bernegosiasi dengannya?”


“Sudah aku lakukan ... dan dia marah. Itu pertama kalinya aku melihat dia marah sampai membentak kearahku.”


Lian mencoba untuk mengerti. “Tapi ... apakah tidak apa-apa jika aku mengajakmu ke Seoul?”


Lea terdiam, kali ini ucapan Lian membuatnya berpikir keras. “Bagaimana jika keluarganya tahu, Lian pulang membawa seorang perempuan yang mirip dengan istrinya? Apa penilaian keluarga dari mendiang istrinya nanti terhadap diriku? Apa kata teman-temannya dengan kehadiran diriku yang secara tiba-tiba? Mereka pasti menganggap kalau aku akan merebut posisi istrinya, dilihat dari sikap Lian yang begitu lembut dan perhatian ... aku yakin Gia memiliki tempat tersendiri di hatinya. Apa yang harus aku lakukan?” pikiran Lea penuh dengan pertanyaan.


“Lea ... apa yang sedang kau pikirkan? Kau mau berbagi denganku?” Tangannya mengusap lembut kepala Lea.


“Maaf, Lian ... sepertinya aku tidak akan ikut denganmu besok ke Seoul.”


Entah mengapa rasanya sangat sakit saat mendengar ucapan Lea. Perlahan tangannya bergerak turun. Ekspresi Lian berubah muram, menundukkan kepala.


“Lian?” gumam Lea.


“Kau pasti sangat mencintai kekasihmu ... tidak masalah bagiku jika kau tidak bisa ikut denganku ke Seoul. Lalu apa yang akan kau lakukan?” Lian menoleh, menatap lekat matanya. “Kau akan kembali pada kekasihmu?”


“Bagaimana aku harus menjawab, sementara aku sebenarnya sangat ingin pergi bersama dirimu,” batin Lea.


Melihat keraguan di wajahnya, Lian yakin jika sebenarnya Lea sangat ingin sekali ikut pergi ke Seoul. “Lea, bolehkah aku tahu alasan kenapa kau tidak ingin ikut bersamaku ke Seoul?”


“Mmm, aku merasa ... aku terlalu merepotkan dirimu. Aku takut keluarga dan teman-temanmu membenci karena kehadiranku.”


“Serius, Lea? Kenapa kau berpikir seperti itu? Dengar ... aku tidak peduli dengan apa yang mereka pikirkan tentang dirimu. Asal kau tahu, aku justru sangat senang jika kau mau ikut denganku.”


“Tapi, aku takut menjadi beban karena selal–“


“Kalau begitu kau bisa bekerja,” sahut Lian. “Aku tahu apa yang kau cemaskan. Kalau memang kau takut karena kau pikir merepotkanku ... kau bisa bekerja padaku? Bukankah itu yang aku tawarkan tadi?”

__ADS_1


Lea masih diam, memikirkan semuanya.


“Kau bisa memasak, kan?” tanya Lian.


“Eh, uhm.” Lea menganggukkan kepala.


“Lalu apa yang kau bingungkan? Kau bisa memasak untukku. Kau bisa bersih-bersih rumah kan? Kau bisa membersihkan rumahku nanti. Banyak yang bisa kau lakukan ... kenapa kau bingung.”


“Tapi–“


“Tempat tinggal?” sahutnya lagi. “Kau bisa tinggal di rumahku, atau kau tidak nyaman tinggal serumah denganku? Aku ada apartemen kosong ... kau bisa tinggal di sana. Jadi, Lea ... apa lagi yang kau khawatirkan?”


“Kau bahkan sudah memikirkan semuanya untukku ... bagaimana bisa aku tidak merasa khawatir dengan semuanya.”


“Kau bebas melakukan apa pun Lea, kau bahkan bisa menemui kekasihmu nanti saat di Seoul.”


“Aku tidak berpikir sampai sejauh itu.”


“Lalu, setelah semuanya ... apa kau masih ragu ikut denganku?”


Uhm! Lea menggelengkan kepala.


“Apa kau ragu karena kau pikir aku akan berubah menjadi orang jahat nantinya?”


“Tidak! Bukan seperti itu,” sahut Lea.


Ppffffttt!! Lian terkekeh melihat ekspresi khawatir di wajahnya. “Kalau begitu .. ikutlah denganku, oke? Karena aku pastinya tidak bisa tenang jika meninggalkanmu sendirian di sini.”


Uhm .... Lea mengangguk patuh.


~♤~


“Tuan–“ Lee terkejut, setengah mati. Tak menyangka melihat sosok perempuan mirip dengan Gia. “Nona? Tidak ... maksud saya–“


“Perkenalkan Tuan Lee, dia Lea. Perempuan yang aku temui di Jeju.”


Lee masih tak percaya, matanya selalu tertuju ke wajah Lea yang sejak tadi tersenyum tipis kearahnya. “Salam kenal, Nona ... Lea. Saya Lee.”


“Tuan Lee, senang bertemu dengan Anda.”


“Tidak mungkin, bahkan suaranya pun sangat mirip,” batin Lee.


Ghm! Dehem Lian menarik perhatian Lee.


“E ... maaf, Tuan.” Lee menundukkan kepala, membawa koper milik Lian tapi berisi pakaian milik Lea.


“Tuan Lee, kita langsung saja ke rumahku,” perintah Lian.


“Baik, Tuan.”


Tak membutuhkan waktu lama untuk menuju ke rumah Lian. Sepanjang jalan, perhatiannya tertuju pada Lea yang selalu mengarah ke luar mobil.


“Apa ini benar-benar pertama kalinya kau ke Seoul?” tanya Lian penasaran.


“Uhm, kau pasti risih karena sikapku.”


Haha .... Lian tertawa.

__ADS_1


Suaranya menarik perhatian Lee yang duduk di depan. Melewati sepion di depannya, Lee memperhatikan senyum Tuannya yang tak pernah dia lihat setelah kepergian istrinya. Lee merasa senang, akhirnya Tuannya itu bisa menikmati hidupnya lagi.


“Kenapa kau selalu berpikir buruk tentangku? Aku sama sekali tidak risih. Aku justru terhibur melihat tingkahmu. Lea ... ingat, lakukan apa pun yang kau inginkan. Sekalipun di depanku, jangan pernah menahan diri, oke?” Lian mengusap ujung kepalanya.


“Bagaimana bisa aku bersikap biasa saja?” batin Lea.


~♤~


“Kita sudah sampai, Tuan, Nona.” Lee beranjak turun, membantu mereka menurunkan koper.


“Ini rumahku, ayo masuk.” Lian membuka pintu, mempersilakan Lea masuk ke dalam.


“Wooh, ini rumah atau apa? Sangat luas sekali ... suasananya juga tenang,” gumam Lea.


“Lea, kemarilah.” Lian mengulurkan tangannya, menggandeng tangan Lea dan mengajaknya keliling rumah. “Di belakang ada taman, kau bisa menghabiskan waktumu di sana. Ini pantry, kau bebas memasak dan membuat apa pun di sini. Ada beberapa kamar di sini ... kau bebas memakai kamar mana pun.”


“Oh, aku akan memakai kamar ini saja.” Lea menunjuk ke salah satu kamar paling ujung.


Lian terdiam, menahan senyum. Ghm! “Boleh-boleh saja ... aku sama sekali tidak keberatan sekamar denganmu.”


Ha? Lea terkejut, dia tak tahu jika kamar itu kamar utama. “Oh, maaf. Sungguh aku minta maaf. Aku tidak tahu jika itu kamarmu. Pipinya merona.


Ssshhttt! “Tenang, Lea. Kau tidak perlu meminta maaf.” Haha ....


“Uhm, kalau begitu aku akan menggunakan kamar ini.”


Uhm! Haha .... Lian mengangguk, masih tak bisa menahan geli.


“Tuan?” sahut Lee.


Lian mengetahui jelas jika sudah saatnya dia harus pergi. “Baiklah, beri aku waktu sepuluh menit.”


“Baik.” Lee melangkah keluar.


“Kau akan pergi?” Refleks Lea meraih lengannya.


Lian tersenyum, menatap tangan Lea. Merasa senang karena Lea mulai bergantung padanya. “Hanya sebentar.” Tangannya terangkat mengusap rambut Lea. “Aku janji akan kembali sebelum pukul 8 malam. Kau tidak keberatan, kan?”


Meski sebenarnya keberatan, Lea juga sadar karena dia bukanlah siapa-siapa yang bisa mengatur kehidupan Lian.


Melihat Lea hanya diam, Lian pun berucap, “Jika kau keberatan aku bisa bilang pada Tuan Lee untuk membatalkan jadwalku sekarang.”


“Tidak! Tidak perlu ... pergilah, aku akan menjaga rumah dengan baik. Aku pastikan saat kau kembali rumah sudah bersih dan juga ... aku akan menyiapkan makan malam untukmu.”


Lian tersenyum lebar, hendak menghadiahi kecupan di kening tapi terhenti ketika sadar hubungan di antara mereka. “E, mmm ... maaf. Kalau begitu aku akan ke kamar untuk bersiap-siap. Kau bisa ke kamarmu dan istirahat.”


Tak hanya Lian, Lea pun juga merasa kecewa. “ Astaga, kenapa aku harus merasa seperti ini?” batinnya.


“Oh, ya ... Lea?”


“Iya?” Lea menoleh.


Lian mengambil sesuatu dari dompetnya. “Kau bisa pegang ini.”


“Kenapa kau memberikan kartu ini padaku?”


“Mulai sekarang, kau yang akan mengurus semua pengeluaran. Kau bisa gunakan kartuku untuk membeli kebutuhan dapur dan ... kau bisa menggunakannya untuk membeli barang yang kau inginkan. XXXXX, itu pasword pintu rumahnya. Mulai sekarang kau tidak boleh bingung lagi, aku akan bertanggung jawab untuk semua kebutuhanmu."

__ADS_1


Deg!


Dada Lea berdebar, entah mengapa dia merasa diperlakukan layaknya seperti seorang istri oleh Lian.


__ADS_2