
Awal Desember, dimulainya musim dingin di Korea. Tepat satu tahun setelah kejadian mengenaskan yang membuat Lian kehilangan istri tercinta.
Kandasnya semua mimpi yang sudah dia rencanakan dengan Gia hanya tinggal mimpi.
Selama empat bulan Lian dirawat di rumah sakit. Ayahnya sakit-sakitan setelah mendengar Lian dan menantunya mengalami kecelakaan, terbaring di ranjang seperti mayat hidup. Hanya bisa mendengar tanpa bisa merespons
Selama empat bulan, Lian rutin melakukan pemeriksaan. Baik fisik maupun psikis. Dokter Cha tak pernah berhenti memberi semangat dan wejangan agar Lian mau melanjutkan hidupnya.
Dan untuk sementara waktu sampai yang ditentukan, perusahaan diambil alih oleh Lee Dae Hyun.
Lian berdiri menatap pemandangan kota di bawah sana dari balik kaca. Hari itu, dokter mengizinkan Lian pulang. Telah siap, mengenakan setelan Jas menunggu Lee menjemput.
Tok, tok, tok!
Pintu terbuka dari luar. Lee melangkah masuk menundukkan kepala. “Tuan, silakan. Mobil sudah siap.”
“Hmm, aku akan segera turun.”
Lian tak langsung kembali ke rumah, dia meminta Lee mengantarnya ke tempat lain.
“Tuan, kita sudah sampai.” Setelah membuka pintu, Lee mempersilakan Lian turun.
Segenggam karangan bunga berada di tangan, wajahnya muram tak bersemangat. Setiap langkah dipenuhi keraguan, dalam hati berharap bahwa semua itu adalah mimpi.
Langkahnya terhenti di sebuah makam bertuliskan Gia Luciella. Meletakkan karangan bunga yang dibawa tepat di bawah foto Gia terpajang.
Belum sempat berucap, genangan di mata seketika menetes.
“Maaf ....” Suaranya bergetar. “Aku sudah berusaha menahan diri tapi aku ternyata tidak bisa melakukannya.” Lian membungkuk, memberikan penghormatan terakhir untuk istrinya.
Hari itu, pertama kalinya Lian mengunjungi makam Gia. Tepat setelah memberi penghormatan terakhir, salju untuk pertama kalinya jatuh dari langit.
Perlahan kepalanya terangkat, menatap langit membiarkan salju mengenai wajah. “Gia, melihat salju untuk pertama kalinya turun di awal Desember bersamamu adalah salah satu dari keinginanku. Tapi ... aku tidak menyangka jika keinginanku benar-benar tercapai meski kita sudah berada di dunia yang berbeda.”
Matanya terpejam, air mengalir dari ujung mata. “Ini semua salahku ... jika saja aku tidak membawamu kembali ke kota, mungkin aku tidak akan kehilangan kelian berdua. Kenapa hidup ini sangat kejam, Gia? Kenapa bukan aku ... kenapa harus kalian berdua?”
“Jika kita dipertemukan lagi di kehidupan yang akan datang ... aku akan memperlakukanmu dengan baik. Aku janji akan memperlakukanmu dengan manis.” Janjinya pada Gia kembali melintas.
“Gia ... kembalilah padaku. Bagaimana aku melanjutkan hidup sementara duniaku telah menghilang. Banyak yang belum aku ceritakan padamu ... banyak kata maaf yang belum sempat terucap. Kenapa harus kalian berdua?” Lian mengambil napas panjang, melegakan dadanya yang teramat sesak. “Aku bahkan sudah menyiapkan rumah untuk kita bertiga ... lalu, dengan siapa aku harus menempati rumah itu? Apa yang harus aku lakukan saat ini tanpa dirimu.” Lian tak bisa menahan tangis, matanya semakin merah.
Dari kejauhan, Lee datang membawa mantel yang digunakan untuk menutupi tubuh Lian, melindungi dari hujan salju. “Mari, Tuan. Cuaca semakin dingin.”
Setelah mengunjungi makam istrinya, Lian pergi ke rumah Gia yang berada di desa.
Kepergian Gia meninggalkan banyak luka, bagi Luciella sang ibu dan juga Demian.
“Lanjutkan hidupmu, Lian. Relakan Gia ... dia pasti juga sedih jika melihatmu seperti ini,” ucap Luciella.
Lian hanya diam, duduk merenung di sofa ruang tamu. “Aku akan mengirim Demian sekolah ke luar negeri,” ucapnya seketika.
__ADS_1
“Lian?” Luciella terkejut.
“Aku yakin, Gia pasti juga ingin yang terbaik untuk Demian. Bu, ini demi kebaikannya. Biarkan aku mengurus Demian sampai dia menyelesaikan pendidikannya.”
~♤~
“Tuan Lee Dae Hyun mengirim Nona Sara ke rumah sakit jiwa,” ucap Lee saat mereka dalam perjalanan kembali dari desa.
Lian terpaku, terkejut mendengar kabar dari Lee mengenai keadaan Sara saat ini. “Kenapa?”
“Nona Sara menyerang Tuan Lee Dae Hyun dengan pisau.”
Matanya membulat, Lian semakin terkejut setengah mati. “Apa yang terjadi selama empat bulan saat aku di rumah sakit?”
“Dari hasil pemeriksaan, Nona Sara sangat terobsesi dengan Anda. Dia takut kehilangan perhatian Anda, dia sangat menginginkan suami seperti Anda.”
Jika dilihat dari sikap suami Sara yang toxic, maka memang benar adanya jika Sara sangat menginginkan sikap suami seperti Lian.
“Dokter mengatakan, Sara memiliki keinginan besar untuk menguasai Anda dalam segala hal. Mendengar kabar bahwa Nona Gia hamil, dia lalu merencanakan menghabisi bayi yang sedang dikandung Nona Gia. Mengetahui rencana itu gagal, Nona Sara menyewa seseorang untuk membunuh ... istri Anda. Tapi sepertinya, sasaran Nona Sara salah, orang suruhannya itu justru menabrak mobil Anda.”
“Sara ....” Lian masih belum bisa menerima alasan dibalik semua itu. “Tuan Lee, antar aku menemui Sara.”
“Tuan, tapi Tuan Lee Dae Hyun meminta perawat agar melarang siapa pun untuk menjenguk Nona Sara.”
“Antarkan saja, aku akan mengurus sisanya.”
~♤~
Di ruangan sendirian, kedua tangan diikat menggunakan pakaian khusus untuk pasien rumah sakit jiwa, Sara menangis, teriak sesuka hati benar-benar seperti kehilangan akal.
“Sara?”
Mendengar suara Lian memanggil namanya, Gia langsung histeris. “Li–lian ... LIAAAAN. KAU MASIH HIDUP ... HAHAHA TERNYATA KAU BELUM MATI. KELUARKAN AKU DARI SINI. AKU TIDAK GILA, AKU TIDAK MELAKUKAN APA PUN ... LIAN PERCAYA PADAKU. HAHAHAH ... LIHATLAH KALIAN SEMUA! LIAN DATANG UNTUK MENJEMPUTKU, DIA DATANG KARENA PERCAYA BAHWA AKU TIDAK GILA.”
Lian terdiam melihat tingkah Sara, benar-benar bukan seperti Sara yang dia kenal.
“LIAN! KATAKAN PADA MEREKA AKU TIDAK GILA HAHAHA ... AKU TIDAK GILA. AKU TIDAK GILAAA! LIAN, LIAAAAANNN DI MAMA PEREMPUAN ITU, AKU INGIN MELIHAT ISTRIMU. DIA MASIH HIDUP, KAN! AKU YAKIN DIA MASIH HIDUP! HAHAHAH ... AKU YAKIN DIA MASIH HIDUP!”
Dug, dug, dug!
Beberapa perawat berari masuk setelah Sara membenturkan kepalanya ke tembok hingga berdarah.
Tak ada yang bisa dilakukan oleh Lian, bahkan dia sendiri tidak menyangka Sara Lee akan berubah mengerikan seperti itu.
~♤~
“Senang bisa melihatmu kembali.” Lee Dae Hyun menyambut kembalinya Lian ke perusahaan. “Paman dengar kau menemui Sara. Paman tahu apa yang dilakukan Sara sangat kejam, maka dari itu ... sebagai ayahnya, Paman akan bertanggung jawab menerima konsekuensi yang akan kau berikan. Paman siap menggantikan posisi Sara untuk masuk penjara jika–“
“Apa setelah Paman masuk penjara, Gia bisa hidup kembali?” sahut Lian. “Pergilah Paman, aku ingin sendiri, aku tidak ingin memikirkan masalah ini untuk sementara. Jika ada sesuatu kau bisa menghubungi Tuan Lee.” Lian melangkah menuju ke ruang kerjanya.
__ADS_1
Lian masih syok dengan apa yang terjadi dalam beberapa bulan belakangan. Dalam sekejap hidupnya berubah, kehilangan Gia. Kehilangan sosok keponakan yang paling dia sayangi.
Tok, tok, tok!
“Masuk,” sahut Lian.
“Tuan, mobil sudah siap. Kita bisa berangkat ke pulau Jeju sekarang.”
Untuk menghilangkan kepenatan dan pikirannya yang hampir meledak, Lian lebih memilih menyibukkan diri dengan pekerjaan.
Sesampainya di Jeju, Lian langsung menemui para investor yang telah menunggu. Mereka berbondong-bondong mengikuti langkah Lian menuju ke pesisir pantai.
Lian sangat sibuk, menjelaskan pada para pemegang saham bahwa dia akan membuat resort semakin besar.
Setelahnya dia memeriksa para pegawai yang sedang melakukan tahap akhir di salah satu gedung.
“Lea, terima kasih atas makan siangnya. Masakanmu selalu yang terenak,” seru salah satu pekerja.
Mereka berkumpul menikmati makan siang bersama.
“Benar, masakanmu selalu menjadi yang terbaik,” sahut lainnya.
“Benarkah, haha ... terima kasih. Untuk menu besok aku pastikan akan membuat makanan yang jauh lebih enak dari ini.” Seorang perempuan yang kerap disapa Lea itu melambaikan tangan. “Aku permisi dulu, kalian silakan lanjut kerjanya, oke.”
OKE!
Mereka semua berseru, sangat kompak.
“Semangat!” lanjut Lea.
“Semangat, kita selalu semangat jika melihatmu setiap hari Lea.”
Hahahaha .... Semua tertawa.
Di sisi lain, Lian tengah berjalan menuju ke gedung utama yang hampir rampung. Namun kakinya seketika saja terpaku, seolah waktu terhenti begitu saja ketika matanya melihat sosok perempuan yang sangat mirip dengan Gia.
“Gia?” gumam Lian. Matanya berbinar, tak menyangka bisa bertemu dengan sosok yang sangat mirip dengan istrinya. “Tidak, benarkah perempuan itu Gia?” Mencoba meyakinkan diri.
Namun Lian tak menyangka saat perempuan yang bernama Lea itu berjalan melewati dirinya begitu saja.
Deg!
Dadanya berdebar setelah sepersekian detik seakan berhenti berdetak. Matanya tak bisa lepas dari Lea.
“Gia!” serunya, refleks Lian memanggil namanya. Tetapi perempuan itu tak menoleh. “Tunggu!” Dadanya semakin berdebar kencang kala perempuan pemilik wajah mirip seperti istrinya itu berhenti, lalu menoleh.
Senyumnya bahkan sangat mirip, jika Gia masih hidup mungkin mereka bisa dibilang kembar. Bagai pinang dibelah dua, tak ada bedanya sama sekali.
“Iya, Tuan. Apa Anda bicara dengan saya?”
__ADS_1