
Gia membawa Lian ke rumah sakit. Dokter telah menyuntikkan obat agar infeksi di perutnya tidak menyebar.
“Infeksi?” Gia penasaran.
“Iya, melihat kondisi pasien, sepertinya dia memiliki riwayat penyakit pada organ dalam terutama ususnya. Pasien tidak bisa mengonsumsi makanan pedas. Tolong lebih di perhatikan.” Dokter melangkah pergi.
Mendengar penjelasan Dokter, Gia merasa bersalah. “Infeksi, peradangan usus ... makanan pedas?” Gia terdiam, mengingat semalam bahwa dirinya yang telah memasukkan bubuk cabai ke sup yang dia berikan kepada Lian. Hah .... “Bodoh, sudah tahu supnya pedas ... kenapa malah sengaja menghabiskan supnya semalam?” gumamnya.
Gia duduk di kursi samping ranjang di mana Lian dirawat.
Satu jam lebih Lian tak kunjung sadar.
Dreet!
Ponsel Lian bergetar, Gia hanya melirik sekilas.
Sara Lee memanggil.
Huuuft! Menghela napas panjang, tak mungkin bagi Gia mengangkat panggilan itu. Sementara Lian masih juga belum sadar.
Dreeet!
Untuk ke sekian kalinya Sara Lee menghubungi nomor Lian.
Ragu, Gia akhirnya mengambil ponsel milik Lian. Menatap layarnya sekilas, sampai akhirnya lagi-lagi panggilan tersebut terhenti. “Apa yang harus aku katakan jika aku mengangkat panggilannya?”
Dreeet!
Lagi-lagi panggilan itu dari Sara Lee.
Gia pun memberanikan diri mengangkat panggilan itu. “H–halo?”
“Halo?” sahut Sara Lee dari seberang. “Siapa ini, di mana Lian?” lanjutnya.
“E, i–ini aku–“
“Oh, kau gadis itu?” sahut sara Lee. “Gia Luciella, betul, ‘kan itu namamu?”
Ghm! “Iya.”
“Kenapa kau yang mengangkat, di mana Lian?”
“Dia ....” Gia melirik ke Lian yang masih terlelap. “Lian, dia ada di rumah sakit.”
Hening, lumayan lama Sara Lee terdiam. “Rumah sakit, jangan bilang penyakitnya kambuh?”
Mendengar ucapan Sara, Gia merasa kecil hati. Meski tak berharap hubungannya dengan Lian kembali tapi mengetahui bahwa Sara tahu segalanya tentang Lian itu sangat membuatnya kesal. “Kau benar, dokter bilang ... peradangan usus.”
“Hah ... ya ampun, sudah berapa kali aku mengingatkan agar tidak makan makanan pedas. Merepotkan. Kirim alamat rumah sakitnya ke nomor, aku menjemput Lian ke sana.”
“Bai–“
Tut, tut, tut ....
Belum selesai menjawab, Sara Lee terlebih dulu mematikan panggilannya.
“Bagaimana jika di marah setelah tahu Lian datang kemari untuk menemuiku? Bagaimana jika Sara mengamuk setelah tahu aku yang menyebabkan Lian sakit?” Gia terus sibuk dengan pikirannya sendiri.
Tanpa dia sadari saat itu Lian telah sadar, tangannya terulur meraih tangan Gia menggenggamnya erat.
“Astaga!” Gia terkejut. “Lian, kau sudah sadar? Bagaimana ... perutmu masih sakit, apa perlu aku menghubungi dokter?”
Sssshhhhht. “Tenanglah, aku baik-baik saja.” Lian masih lemas. Menatap Gia, mengusap matanya yang merah dan berkaca. “Kenapa kau menangis?”
Ghm! Gia langsung membuang muka, mengalihkan perhatian kearah lain. “Ponselmu.” Memberikan ponsel kepada pemiliknya. “Baru saja kekasihmu itu menghubungi. Aku yang mengangkat panggilan darinya.”
“Sara?” tanya Lian heran.
“Iyalah, memangnya siapa lagi kekasihmu kalau bukan sara?” batin Gia kesal. “Dia akan menjemputmu, kau bisa langsung pulang nanti jika dia sudah datang. Aku sudah bilang pada ibu dan Demian kalau kau sudah kembali ke kota.”
Lian hanya diam ketika Gia terus berucap, menatap lekat matanya.
“Kau butuh sesuatu? Aku akan siapkan sebelum aku pergi.”
“Apa maksudmu?” Lian tak rela, seolah merasa Gia akan meninggalkan dirinya sendirian di sana.
“Kenapa? Memangnya aku harus menunggumu di sini?”
“Gia, bukankah aku sudah meminta maaf?” Lian masih terbaring lemas.
Bola matanya memutar malas. “Lalu setelah kau bilang maaf ... apakah itu akan mengubah semuanya? Oke, anggap saja aku memaafkanmu. Jadi semuanya sudah selesai, kan?”
“Tidak,” ucapnya santai. “Bagiku ini belum selesai ... aku ingin kau kembali padaku.”
Haha .... Gia refleks tertawa. “Kau pasti sudah gila. Kau sengaja mendekatiku ... membuatku jatuh cinta padamu. Lalu kau mengatakan bahwa semuanya hanya permainan untuk balas dendam. Setelah itu kau bilang maaf dan memintaku untuk kembali ... coba kau pikir saja jadi diriku. Kira-kira apa yang akan kau lakukan?”
Lian hanya diam.
“Dulu saat bangku sekolah aku pernah menolakmu, oke katakanlah caraku memang salah ... dan kau juga tidak terima diperlakukan seperti itu. Hingga kini saat kita bertemu kembali kau membalas perbuatanku. Lalu kau pikir, bagaimana aku harus menyikapi hal ini? Haruskah aku juga membalasmu? Tapi semua ini tidak akan pernah berhenti jika aku melakukan hal yang sama padamu.”
“Jadi, apa yang kau inginkan agar kita bisa kembali bersama?”
“Aku memang bodoh karena mau berhubungan dengan lelaki yang sudah memiliki kekasih, aku akui itu adalah keputusanku yang paling ceroboh. Tapi sekarang aku sadar, apa lagi saat ini Sara Lee tengah mengandung anakmu!” batin Gia.
“Gia katakan jangan diam saja.”
“Tidak ada!” sahutnya. “Tidak ada yang perlu kau lakukan, mengenai denda karena kontrak kerjaku sebesar 250juta itu ... aku akan memikirkannya nanti.”
Tak lama setelah itu Sara Lee datang bersama Lee menjemput Lian.
Tok, tok, tok.
__ADS_1
Sara membuka pintu, menerobos masuk dan langsung menghampiri Lian. “Kenapa kau ceroboh sekali, bagaimana denganku jika kau sakit dan tidak bangun lagi?”
“Bodoh, jaga bicaramu. Aku tidak akan mati semudah itu!” sahut Lian.
Melihat interaksi keduanya membuat Gia merasa tak enak hati. “Maaf, aku permisi dulu. Kalian lanjutkan saja bicaranya.”
“Gia?” Lian tak rela perempuan itu meninggalkan ruangan.
“Hai, aku sedang bicara denganmu kenapa kau malah fokus dengan perempuan itu!”
“Karena kau berisik! Keluarlah aku ingin istirahat.”
Keduanya terus beradu mulut, Lee kemudian memilih keluar menemui Gia.
“Terima kasih karena sudah menjaga Tuan Lian, Saya meminta maaf untuk beliau jika Anda merasa kesulitan akhir-akhir.”
“Tidak, tidak perlu meminta maaf. Dia sama sekali tidak menyulitkanku.” Canggung, Gia berbohong.
Mereka berdua berbincang di kantin rumah sakit.
“Tapi kalau boleh jujur, saya sangat senang karena Tuan Lian akhir-akhir ini lebih terlihat cerah wajahnya. Dia bahkan sering tersenyum sejak bertemu dengan Anda.”
Gia terdiam. “Apa-apaan ini, jangan bilang Tuan Lee mengetahui hubunganku dengan Lian? Lalu ... jika kabar ini terdengar sampai Sara Lee, bagaimana?” batinnya. “Uhm, Tuan Lee. Bolehkah aku bertanya sesuatu?”
“Iya, silakan.”
“Kau mengetahui hubungan kami? Apakah Lian yang bilang itu padamu?”
Lee tersenyum. “Apa pun yang dilakukan oleh Tuan Lian, saya mengetahui semuanya.”
“Hal sekecil apa pun?” Gia memastikan.
“Iya.”
“Mengenai orang yang masuk ke dalam kontrakanku dulu, kau juga mengetahui?”
Uhuk! Lee nyaris tersedak minuman. Ghm! Dehemnya menetralkan rasa gugup. “Maaf, sekali lagi saya minta maaf. Mengenai hal itu ... saya sudah peringatkan Tuan Lian sebelumnya.
“Jadi, benar kalau Lian menyuruh orang untuk masuk ke kontrakanku. Kenapa dia melakukan itu?”
“Uhm, maaf Nona. Mengenai hal itu sepertinya Anda harus bertanya sendiri kepada Tuan Lian. Saya tidak berwenang untuk menjawab.”
“Baiklah aku mengerti. Terima kasih Tuan Lee. Sepertinya aku harus kembali. Berhubung kau dan Sara sudah ada di sini. Permisi.”
“Tunggu, Nona.”
“Iya?”
“Anda tidak ingin menemani Tuan Lian?”
“Kenapa aku harus menemaninya? Bukankah sudah ada Sara di sana? Permisi.” Gia kemudian beranjak pergi.
Lee masih terdiam mencerna ucapan Gia. “Memangnya kenapa kalau ada Nona Sara, bukankah Tuan Lian justru senang jika Nona Gia yang menemani dirinya?” batin Lee.
~♤~
“Aku baik-baik saja, jangan memasang wajah sedih seperti itu. Kau terlihat jelek,” ucap Lian.
“Kau menyebalkan.”
Suara Sara sangat manja, Gia yang mendengar dadanya langsung berdesir.
“Jangan sedih, calon ibu yang sedang hamil di larang bersedih.”
Lian bahkan berucap dengan lembut, menambah deretan panjang rasa sakit di hati Gia. “Aneh, bahkan aku tidak memiliki hak untuk sakit hati dengan hubungan mereka.”
“Kemarilah duduk di sini.” Lian menepuk lembut bibir ranjang.
Sara Lee kemudian duduk di sana.
Sementara itu di balik pintu Gia bisa melihat keadaan di dalam melalui kaca bening kecil yang terpasang di pertengahan pintu. Melihat Sara Duduk di tepi ranjang, tersenyum kearah Lian menimbulkan rasa cemburu di hatinya.
“Kenapa?” tanya Sara.
Lian mengulurkan tangan, menyentuh perut Sara yang masih kecil. Bahkan belum terlihat sedikit pun mengembang.
Deg!
Dadanya bergemuruh, Gia merasa tak rela melihat pemandangan itu. Ingin rasanya masuk lalu menarik tangan Lian, tapi sadar bahwa dia bukanlah siapa-siapa.
“Jagoan, baik-baik di dalam perut oke,” ucap Lian.
Hahaha .... Sara tertawa senang. “Bodoh, memangnya dia sudah bisa mendengar suaramu? Bentuknya saja belum sempurna.”
“Kapan lagi kau periksa ke dokter?”
“Mungkin minggu depan, kenapa?” Sara penasaran.
“Aku ingin melihat bentuknya, apakah sudah terlihat bentuk wajahnya minggu depan?”
“Yang pasti wajahnya akan sangat mirip denganku!” Haha ....
“Dasar, lalu bagaimana dengan ayahmu?”
“Dia sudah mengetahui semuanya, dia tahu saat ini aku sedang hamil.”
Tak kuasa lagi rasanya menahan kecemburuan, Gia kemudian masuk ke dalam.
Tok, tok, tok!
“Gia?” Lian menoleh, menarik tangan yang sebelumnya dia gunakan untuk mengusap perut Sara.
__ADS_1
“Maaf, aku datang untuk mengambil ponselku.” Seolah tak peduli dengan situasi di sana, Gia mengambil ponsel lalu pergi begitu saja. “Maaf sudah mengganggu, silakan lanjutkan pembicaraan kalian.
Haning, perhatian Sara teralihkan ke Lian. “Hei, kenapa dengannya? Kau pasti membuatnya marah lagi.”
Lian hanya diam, menatap ke pintu.
~♤~
Sepanjang malam Gia tak bisa memejamkan mata, pikirannya selalu tertuju ke Lian. Apa lagi saat kejadian di rumah sakit.
Perhatian Lian pada Sara membuatnya tidak bisa tidur.
Gia mengambil berkas yang dibawa oleh Lian lalu membaca sekilas. “Hah ... bagaimana aku bisa membayar denda sebesar 250juta ini?”
Brugh!
Gia menjatuhkan tubuhnya ke ranjang, menatap langit-langit. Setelah berpikir panjang, akhirnya dia memutuskan untuk mengirim pesan kepada Lian.
“Kau menang, aku akan kembali kerja sampai masa kontrakku habis.” Isi pesan tersebut.
Di sisi lain sana, Lian tengah berada di kamar. Kembali dari rumah sakit dokter memberinya ijin untuk kembali bekerja besok.
Bibirnya tersenyum, Lian tidak menyangka bahwa Gia akan mengirim pesan meski isi pesannya tidak jauh dari pekerjaan.
“Kebetulan sekali kau mengirim pesan padaku, aku sedang memikirkanmu saat ini.” Pesan balasan dari Lian.
Dih! Gia tersenyum sinis. Tangannya sibuk mengetik pesan.
“Aku akan mulai bekerja besok. Tapi aku harap kau akan bersikap biasa. Anggap kita tidak pernah saling mengenal sebelumnya.”
Mengetahui balasan pesan dari Gia terkesan sangat mengabaikan dirinya, Lian malah semakin menjadi.
“Kau tidak ingin tahu bagaimana kabarku?”
Dreeet!
Gia membaca pesannya. “Selamat malam, selamat istirahat Presdir.” Gia justru membalas di luar nalar.
Haha .... Lian tertawa, membalas pesannya.
“Aku merindukanmu, Gia.”
Dreeet!
Gia membuka pesannya.
Deg!
Meski pesan dari lian membuat dadanya berdebar, Gia berusaha tenang dan memilih mengabaikannya.
“Apa ini, dia membaca pesanku tapi tidak mau membalasnya?” Lian tersenyum senang. Tak peduli Gia tidak membalas pesannya, dia justru sengaja menulis banyak pesan kepada Gia.
“Aku merindukan sup pedas yang kau siapkan untukku.”
“Gia, aku rindu ingin melihat wajahmu. Bagaimana ini, padahal baru tadi pagi kita berpisah.”
“Aku tidak sabar ingin segera bertemu denganmu besok.”
Gia menghela napas panjang membaca pesannya. “Apa dia sudah gila, pagi tadi dia bahkan sangat mesra dengan Sara. Bisa-bisanya sekarang dia mengirim pesan seperti ini padaku.” Gia menggerutu kesal.
Dreeet!
Pesan tak berhenti sampai di sana, Lian terus mengirim pesan singkat sampai membuat Gia kadang tertawa geli.
“Aku sangat menikmati waktu seharian kemarin saat bersamamu.”
“Kau terlihat sangat cantik saat menggunakan gaun malam.”
“Mesum!” batin Gia.
“Aku merindukan aroma sampo dari rambutmu.”
“Malam itu aku tidak bisa tidur karena memikirkan kau berada di kamar sebelah.”
“Kau tahu, semalam aku sempat menghampirimu ke kamar.”
Gia membulatkan mata.
“Mungkin selama dua jam aku berdiri bersandar sembari menatap wajahmu yang terlelap.”
“Astaga apa dia sudah gila?” gumam Gia.
“Ingin rasanya melompat ke ranjang dan menerkam tubuhmu.”
Deg!
Gia semakin berdebar membaca pesannya.
“Satu yang aku yakini, Gia. Perempuan yang tidur denganku malam itu di penginapan adalah dirimu.”
“Mimpi!” Gia membalas pesannya.
Pffft! Lian terkekeh, senang akhirnya Gia bereaksi.
“Aku punya bukti yang cukup kuat. Aku yakin kau tidak akan bisa mengelak.”
Kening Gia berkerut membaca pesannya.
“Kau ingin tahu apa bukti yang aku punya?”
“Aku sudah memastikan sendiri semalam, yang aku ingat jelas di penginapan malam itu adalah dua satu tahi lalat dan satu tanda lahir.”
__ADS_1
“Di mana kedua tanda itu ada di tubuhmu. Kau memilikinya di pahamu bagian dalam dan tahi lalat di samping put-ingmu.”
Ha!!! Gia syok sampai setengah mati. “Jangan bilang kalau semalam dia membuka ....” Gia terpaku.