
Aaaaaaa!
Lea histeris saat lampu tiba-tiba padam.
“Hei, it’s oke. Kau tidak perlu takut.” Lian mencoba menenangkan.
“Ini sangat gelap.” Lea ketakutan, tak berani membuka mata.
“Lea, tenang.” Lian merangkup pipinya dengan kedua tangan. Meski lampu padam tapi di dalam sebenarnya lumayan terang karena api dari perapian menyala besar.
Memang hanya beberapa sisi yang terang meski sisi lainnya sangat gelap. Tetapi lumayan membantu untuk jarak pandang secara normal.
“Buka matamu, kau tidak perlu takut. Di sini aku.”
Perlahan Lea membuka mata, pandangannya langsung dihadapkan dengan wajah Lian. Saling diam menatap satu sama lain. Lea merasa sangat tenang dengan keberadaan Lian di sana.
Kepalanya tertunduk menatap wajah Lea, kedua tangannya masih bertahan di pipi sisi kanan dan kiri. “Masih takut?” tanyanya lembut.
“E, t–tidak.” Lea gugup.
“Sekarang tetaplah di sini, di mana kau menaruh lilin dan korek. Biar aku yang mengambilnya untukmu.”
“Di dekat tungku, di laci nomor dua.”
Lian melangkah pelan, meraba setiap sisi saat mengambil lilin dan korek. Setelah mendapat keduanya, dia gunakan untuk menerangi sisi yang gelap.
“Kau baik-baik saja?” Lian bisa melihat kepanikan di wajah Lea. Duduknya gelisah tak bisa tenang.
“Uhm, ini sedikit membuatku tidak nyaman.”
“Kau takut gelap?” Sengaja menarik kursi agar duduknya bisa lebih dekat dengan Lea.
“Tidak begitu ... hanya saja, aku sering tidak bisa tidur karena mimpi buruk.”
Lian terdiam sesaat, perhatiannya tak pernah lepas dari Lea. “Lalu ... bagaimana kau mengatasi mimpi burukmu setiap malam?”
“Tidak ada, aku tetap memaksa untuk tidur meski setelah terbangun tengah malam aku selalu terjaga.”
Mendengar cerita Lea membuat Lian termenung sesaat. “Kau mengingatkanku pada istriku ... saat hamil, dia juga tak bisa tidur nyenyak jika tidak aku di sampingnya.”
“Dia cantik atau tampan?” tanya Lea merujuk pada jenis kelamin anak Lian.
“Entah, aku bahkan belum mengetahui jenis kelaminnya.” Suaranya mulai rendah, terdengar penuh kepiluan.
Lagi-lagi Lea merasa bersalah. “M–maaf ... aku tidak tahu jika–“
“Mereka berdua meninggal saat kecelakaan, aku yang menyebabkan mereka berdua pergi dari dunia ini.”
“Bagaimana ini, bodoh! Kenapa kau malah mengingatkan hal menyedihkan itu!” batin Lea mengumpat pada diri sendiri.
Mereka terdiam, lumayan lama menunggu badai salju berhenti, sampai Lea akhirnya mengantuk dan tak bisa menahan kedua mata.
Namun melihat Lian kedinginan menarik perhatian. “Kau pasti kedinginan.” Melepas mantel milik Lian yang dia kenakan.
“Apa yang sedang kau lakukan?”
“Kau pakai saja mantelmu.” Lea mengembalikan mantel pada pemiliknya.
“Tidak, kau lebih membutuhkan itu.” Lian terus menolak.
__ADS_1
“Lihatlah, kau sendiri kedinginan.”
“Kalau begitu kita pakai berdua saja, kemarilah.” Lian menepuk kecil kursi tepat di sampingnya. Melihat keraguan di wajah Lea, seketika saja Lian langsung menarik tangannya.
Brugh!
Pada akhirnya Lea jatuh dalam pangkuan karena memang dia tak siap sebelumnya.
Nyaris bibir mereka bersentuhan jika kedua tangan Lea tak menjadi perisai sebagai pembatas di antara dada mereka.
Meski begitu, wajah mereka sangat dekat. Ujung hidung saling menempel.
Kepulan asap putih dari napas karena dinginnya sampai menguar diudara.
Lea bisa mencium sisa aroma kofein dari mulut Lian.
Jika yang berada di pangkuannya saat itu adalah Gia, maka Lian tak perlu lagi menahan diri. “Maaf, kau baik-baik saja.” Suara Lian sangat lembut saat masuk ke rongga telinga.
Uhm! Lea mengangguk pelan. Segera beranjak dari pangkuan lalu duduk di samping Lian.
“Jika memakainya bersama ini akan semakin hangat.” Lian menggunakan mantelnya untuk menutupi tubuh mereka berdua.
Sangat canggung hingga akhirnya mereka saling diam dan tak ada lagi pembicaraan.
Kedekatan mereka membuat Lea bisa mencium aroma tubuh Lian. Entah kenapa tiba-tiba rasa kantuk kembali menyerang.
Plug!
Lea terlelap, kepalanya jatuh bersandar di bahu Lian.
Pada akhirnya mereka tertidur sampai badai salju berhenti.
~♤~
Sesuai janjinya, Lian membantu Lea memasak pagi itu.
“Terima kasih untuk semalam,” ucap Lea. Tangannya putih penuh dengan tepung.
“Memang apa yang aku lakukan?” Lian fokus mencuci sayur sesuai arahan dari Lea.
“Kau menjagaku semalam, aku yakin itu sebabnya aku bisa tidur dengan nyenyak dan tidak mimpi buruk.”
Tangan Lian terpaku, membiarkan air keran mengguyur lobak di tangan. “Itu berarti aku adalah jimat bagimu.”
“Maksudmu?”
“Karena semalam kau tidur sambil menggenggam tanganku ... jadi aku yakin mimpi buruk itu tidak akan menghantuimu lagi.”
“E, semalam aku tidur sambil menggenggam tanganmu?” Lea tak percaya.
“Uhm, kau menggenggam tanganku erat. Bahkan saat aku membangunkanmu ... kau justru malah pindah tidur ke pangkuanku. Dan lagi, kau memeluk pinggangku seperti ini.” Lian memperagakan bagaimana Lea memeluk pinggangnya.
Ha??? Ekspresi Lea sangat lucu, mulutnya terbuka dan matanya membulat. Pipinya juga merona. “B–benarkah aku melakukan itu?”
Pfffttt! Hahahahahaha .... Lian tertawa puas sampai punggungnya terdorong ke belakang. “Lihatlah wajahmu, kau percaya dengan ucapanku?” Hahaha ....
“Kenapa tertawa, kau pasti bohong ‘kan?” Tangannya yang penuh tepung terangkat, Lea telah mengambil ancang-ancang hendak melempari Lian dengan tepung.
“Wait!” sahut Lian penuh waspada. “Turunkan tanganmu. Kau tidak mungkin melempariku dengan tepung, ‘kan?”
__ADS_1
“Kenapa tidak? Anggap saja ini balasan karena kau sudah membohongiku!” Uh! Lea melempar segenggam tepung kearah Lian.
Sangat gesit, Lian mampu menghindar. Kini malah justru membalas Lea dengan menyiram air yang diambil dari keran.
Aah! “Jadi basah, ‘kan?”
“Bukankah kau dulu yang mulai?” Hahaha .... Lian tertawa lepas, entah mengapa rasanya hati yang sempat kosong kembali terisi.
Plug!
Hahahaha .... Lea tertawa puas, kini giliran dia yang berhasil membuat wajah Lian putih karena tepung.
Uhuk! Uhuk! Lian sampai terbatuk. Wajahnya sangat lucu seperti badut.
Hahahaha .... “Ya ampun, sudah lama sekali rasanya aku tidak tertawa seperti ini.” Hahaha .... Lea tak bisa menahan tawanya lagi.
Saat Lea lengah, Lian menggunakan kesempatan untuk membalas.
Byur!
“Astaga! Ini sangat dingin! Liaaaaaan, aku akan membalasmu!” Lea telah mengambil tepung dengan kedua tangan, berlari mengejar Lian yang terlebih dulu menghindar.
Mereka berlari mengitari meja, tanpa peduli lantai basah dan licin.
“Gia perhatikan langkahmu!” Belum selesai berucap Lian memperingatkan, Lea terlanjur jatuh.
Terpelanting karena licin, tubuhnya nyaris jatuh ke belakang.
Refleks Lian menarik lengannya, membiarkan Lea jatuh ke atas tubuhnya.
Brugh!
Alhasil tepung berhamburan ke udara.
Beruntung Lian menggunakan kedua siku menjaga tubuhnya agar kepala tak membentur lantai. Namun dia yakin Lea kesakitan karena membentur dada.
Dug!
Hah, hah, hah. Napas mereka memburu.
“Kau baik-baik saja?” Lian khawatir. Satu tangannya mengusap kening Lea.
“Iya, aku baik-baik saja.” Lea terpaku saat Lian menyentuh keningnya lembut. “Gia?” batinnya. “Aku yakin aku tidak salah dengar. Dia menyebut nama itu lagi ... kenapa, apakah aku mengingatkan pada istrinya?” lanjutnya dalam hati.
Lian terpaku, menatap Lea yang tengah melamun menatap dirinya. Tangannya perlahan menurun, ibu jarinya sibuk mengusap noda putih di wajah, lalu pipi dan berakhir di bibir.
Rasa rindu yang semakin membesar seakan menggerakkan hatinya, baginya sosok perempuan yang ada di depan mata bukan lagi Lea, melainkan Gia.
Meski beberapa kali menepis bahwa mereka orang yang berbeda, tapi Lagi-lagi Lian tak mampu mengelak bahwa Lea bukanlah Gia. Pesona mereka begitu kuat, Lian tak mampu menolak.
Kepalanya mendekat, mengikis jarak di antara wajah mereka hingga menipis dan akhirnya bibir mereka menempel.
Hanya kecupan, tak ada gerakan bibir sama sekali. Pertahanannya roboh, Lian melewati batas yang telah dibuat sendiri.
Mata Lian masih terbuka, menatap mata Lea yang perlahan mulai menutup. Seolah mendapat ijin, Lian kemudian menutup mata, menarik dagu Lea agar bibirnya terbuka.
Kini tak lagi kecupan, Lian mulai memainkan bibirnya.
Ceklek! Suara pintu terbuka.
__ADS_1
“Lea?” Suara lelaki terdengar jelas menggema di telinga.