Hamil Anak Presdir

Hamil Anak Presdir
50. Latar Belakang Keluarga Lea


__ADS_3

“Halo, siapa ini?”


Dadanya berdesir mendengar suara lelaki menyahut panggilan darinya. Lian yakin bahwa dia menghubungi nomor Lea. “Kenapa suara lelaki?” batinnya. Tanpa menjawab, Lian memilih menutup panggilan. “Apa itu kekasihnya?”


Sementara di sisi lain, tepatnya di Seoul. Juan menatap aneh layar ponsel setelah menjawab telepon dari seseorang di ponsel Lea.


~♤~


“Dari siapa?” tanya Lea.


“Entah, tidak ada suaranya sejak tadi.” Juan meletakkan ponsel ke meja. “Aku sudah melaporkan kejadian ini ke polisi, jadi kau bisa tenang.” Juan mengusap lembut ujung kepalanya.


“Terima kasih. Oh ya ... kapan kau kembali ke Seoul?”


“Maaf, Lea ... aku harus kembali sore ini karena banyak pekerjaan yang menunggu.”


“Kenapa kau tidak mengizinkanku pindah ke Seoul bersamamu? Aku bisa sewa rumah di sana dan aku bisa bekerja ... kita tidak perlu berjauhan seperti ini.” Lea penuh harap.


“Lea ... mengertilah, harus berapa kali aku bilang kalau Seoul sangat berbahaya untukmu?”


“seberapa bahaya untukku sampai kau takut aku pergi ke Seoul? Aku sudah besar dan bisa jaga diri!”


“KAU TIDAK AKAN TAHU BAHAYA APA YANG MENUNGGUMU DI SANA! DENGAN SUSAH PAYAH AKU BERUSAHA MENJAGAMU SAMPAI DETIK INI ... jadi aku mohon, bertahanlah sampai aku menemukan jalan untuk kita bisa bersama.”


Lea terkejut, itu kali pertama Juan berteriak kearahnya.


“Maaf, aku tidak bermaksud–“ Juan merasa bersalah, menghela napas panjang menetralkan suasana.


“Aku hanya ingin bebas, ingin keluar dari Jeju tapi kau selalu bilang Seoul adalah tempat berbahaya untukku. Maaf kalau itu membuatmu marah.” Lea memilih pergi meninggalkan Juan.


“Lea berhenti! Lea ....” Perhatiannya teralihkan ke Hae Su. “Apa akhir-akhir ini terjadi sesuatu ... kenapa aku merasa Lea menjadi susah diatur?”


“Tidak, Tuan. Mungkin ini karena kejadian kemarin ... dia takut berjauhan dengan Anda.”


“Istirahatlah, Hae Su. Aku akan pergi bicara dengan Lea.”


~♤~


“Bagaimana keadaan ayah?” tanya Lian kepada Lee.


“Masih sama, beliau belum memperlihatkan kemajuan sedikit pun,” jelas Lee.


“Ada kabar lagi mengenai perusahaan?”


“Tuan Lee Dae Hyun akan mengadakan rapat dengan pendiri Grup Wang.”


“Aku tidak yakin kerja sama itu akan berjalan lancar, sial! Kenapa paman berani mengambil risiko yang jelas-jelas sudah terlihat akan merugikan perusahaan. Tuan Lee, awasi gerakan mereka dan laporkan apa pun yang mereka lakukan padaku.”


“Baik Tuan.” Lee melangkah pergi.


Setelah pintu tertutup, Lian mengambil ponselnya. Wajahnya frustasi menatap pesan terakhir dari Lea beberapa hari lalu.


Beberapa kali dia mengetik pesan tapi pada akhirnya Lian menghapusnya lagi. Ragu jika Lea masih berduaan dengan kekasihnya.


“Sial, ini sangat mengganggu pikiranku! Kenapa aku tidak bisa tenang dan selalu memikirkan wajahnya!” gumam Lian. Memejamkan mata saat senyum Lea melintas kembali di benak.


Tak peduli, akhirnya Lian mengirim pesan singkat ke nomor Lea.


“Lea, bagaimana kabarmu hari ini?” Isi pesan itu.


Pesan terkirim, lumayan lama Lian menunggu balasan. Bahkan hampir sepuluh menit kemudian pesan juga belum dibaca.


“Apa aku sudah gila? Aku yakin masih sangat mencintai Gia ... tapi, kenapa Lea selalu mengganggu pikiranku?” Meremas rambutnya frustasi.


Tak kunjung mendapat balasan, Lian akhirnya pergi mengunjungi makam Gia.


“Gia ... aku takut perasaanku akan berubah, tapi aku bersyukur ternyata masih tetap sama.” Lian berdiri di depan makam mendiang istrinya. Meletakkan bunga mawar merah di sana, bunga terakhir yang dia berikan kepada Gia sebelum maut memisahkan mereka.


“Kau pasti bisa melihat apa yang telah aku lakukan dari atas sana, kan?” Lian kembali terdiam. “Maaf, aku melakukan kesalahan karena telah menganggap perempuan itu adalah dirimu. Katakan padaku, Gia. Aku berharap itu menjadi pertemuan terakhirku dengannya. Beri aku petunjuk jika memang kau marah karena aku telah melakukan kesalahan, Gia.”


Tanpa terasa mata yang semula merah kini telah basah. Air mengalir begitu saja melewati pipi.


Dreeeeett!


Lian mengambil ponsel dari saku jas. Ekspresi wajahnya terpaku melihat nama Lea terpampang di layar. Sebelum mengangkat panggilan itu, Lian sempat melirik nama istrinya yang terukir di batu nisan.

__ADS_1


“Apa ini jawaban darimu, Gia?” batin Lian, sesaat kemudian perhatiannya kembali ke ponsel.


“Halo, Lea?” Wajahnya terpaku mendengar suara napas Lea sesak tak beraturan. “Lea, apa yang terjadi?”


“Hiks, maaf aku tidak bermaksud mengganggumu.”


“Lea kau menangis?”


“Tidak, uhm ... lupakan. Maaf, aku tutup teleponnya.”


Tut!


“Halo! LEA!” Lian menjauh ponsel dari telinga, menatap tajam layarnya. “Apa yang terjadi?” Dalam sekejap perasaan Lian berubah gelisah setelah mendengar suara tangisnya.


Langkahnya cepat kembali ke mobil sementara tangannya sibuk menghubungi Lee. “Halo, Tuan Lee. Siapkan tiket untukku ke Jeju.”


“Tuan?” Lee terkejut karena masih banyak jadwal pekerjaan untuk Lian yang harus segera dilaksanakan.


“Lee, lakukan apa yang aku minta. Sekarang!” ucap Lian penuh tekanan, tak terbantahkan.


“Baik, Tuan.”


~♤~


Butuh sekitar satu jam lebih untuk Lian menuju ke Jeju menggunakan pesawat. Sesampainya di bandara, Lian langsung masuk ke dalam mobil hitam yang sudah menunggu sejak tadi.


Mobil itu membawanya ke pesisir pantai.


Brak!


Setelah menutup mobil, Lian berlari menuju ke rumah Lea.


Tok, tok, tok!


Tok, tok, tok!


“Lea?”


Lumayan lama Lian menunggu tapi tak ada jawaban. Sampai akhirnya, memutuskan untuk menghubungi nomor Lea.


Tuuuuuttt!


“Kenapa kau tidak mengangkat panggilanku?” gumam Lian, sibuk dengan ponsel sampai langkahnya terhenti ketika melihat bayangan Lea di depan sana.


“Lian?” gumam Lea.


Keduanya terpaku, saling menatap melempar pandang satu sama lain. Sampai akhirnya Lian berlari mendekat.


Hah, hah, hah ....


“Kau baik-baik saja?” Lian berusaha mengatur napasnya yang memburu. Rasa ingin memeluk tubuh mungil Lea hanya bisa tergambar di benaknya.


Lea masih terdiam, menatap wajah Lian tak percaya. “K–kau ... kapan kau datang?”


“Baru saja, aku baru saja tiba di bandara dan langsung kemari.”


“Astaga, apa karena aku menghubunginya tadi? Bagaimana ini, Lian sampai datang jauh-jauh setelah mendengar suara tangisku ... tapi, kenapa?” batin Lea. “Ah, bodoh. Ini sudah pasti karena aku mirip dengan istrinya.”


“Lea ... jawab aku, kau baik-baik saja, kan?”


“Uhm, aku baik-baik saja.”


Huuft! “Syukurlah.”


~♤~


“Minumlah.” Lea memberikan secangkir teh hangat kepada Lian.


“Terima kasih. Lea ... ada apa sebenarnya denganmu?”


“Sebelumnya aku minta maaf, aku tidak bermaksud membuatmu khawatir.” Lea terdiam sesaat sebelum melanjutkan ucapannya. “Uhm ... ini, mengenai–“,


“Kekasihmu?” sahut Lian lembut.


Lea kemudian menceritakan apa yang terjadi pada Lian.

__ADS_1


“Kau sudah cukup dewasa untuk menjaga diri, tapi mungkin ada benarnya juga kekasihmu tetap menginginkanmu tinggal di sini.


“Tapi aku sudah lelah, aku merasa asing dengan tempat ini. Tak ada yang aku ketahui selain Hae Su.”


Lian terpaku mendengar ucapan Lea. “Apa maksudmu, bukankah kau tinggal di sini sejak kecil?”


“Entah, mereka bilang seperti itu ... tapi aku sama sekali tidak tahu apa pun tentang tempat ini. Aku merasa terkurung tinggal di sini. Aku ingin bebas, aku ingin pergi dari Jeju.”


Melihat Lea meremas rambutnya frustasi, Lian meletakkan gelasnya. Mendekat, mencoba menenangkan.


“Boleh aku memelukmu?” tanya Lian lembut.


Mereka saling menatap lekat sebelum akhirnya Lea mengangguk memberi ijin.


Tentu saja Lian menggunakan kesempatan untuk memeluk erat tubuhnya.


“Aku bisa saja membawamu pergi jauh dari tempat ini.”


“Kalau begitu tunggu apa lagi?” sahut Lea.


Deg!


Perlahan Lian melepas pelukannya, menatap lekat mata Lea. “Lea kau sedang bingung saat ini, pikiranmu sedang kacau. Tenangkan dirimu.” Tangannya terangkat, mengusap pipi Lea. “Aku tidak mungkin melakukan itu ...aku sadar, aku tidak memiliki hak atas dirimu, meski rasanya ingin sekali membawamu pergi ke suatu tempat yang tak diketahui oleh seorang pun,” lanjutnya dalam hati.


Hening, emosi Lea mulai mereda. Berada dalam pelukan Lian membuat perasaannya kembali tenang.


Di saat itu, Lian yang sejak tadi berusaha keras mencerna ucapan Lea mulai sadar bahwa sampai detik ini dia tak menemukan satu foto pun di rumah itu. “Kenapa ini mengganggu pikiranku?”


~♤~


“Yang aku tahu perempuan di foto itu adalah pendatang di daerah ini. Mungkin sekitar beberapa bulan yang lalu dia pindah kemari.”


Lian mendatangi beberapa rumah dan toko kelontong di sekitar pesisir pantai. Merasa penasaran setelah mendengar cerita Lea semalam.


“Pendatang, kau yakin? Bukankah dia tinggal di sini sejak kecil?” Lian memancing pembicaraan untuk menggali informasi tentang Lea lebih dalam.


“Aku tinggal di sini sudah 50 tahun lebih, mana mungkin aku salah info.” Pemilik toko lalu memanggil istrinya “Hei, Bu. Kemarilah.”


“Ada apa?”


“Katakan pada lelaki ini, jika Lea memang pendatang baru di desa kita.”


Sang istri lalu menjelaskan panjang lebar kepada Lian.


Ekspresi wajahnya mulai tegang, semua penjelasan dari perempuan itu sangat berkaitan dengan cerita Lea.


“Apa yang dikatakan suamiku semuanya benar, Lea pendatang di tempat ini. Itu pun belum lama, mungkin sekitar tiga atau empat bulan yang laku. Tapi kalau kau ingin tahu lebih jelas, kau bisa bertanya pada Hae Su.”


Lian terdiam, sepanjang jalan hanya memikirkan tentang latar belakang keluarga Lea. “Hah, sial!”


~♤~


“Aku dengar kau dihajar preman, bagaimana keadaanmu?” tanya seorang lelaki kepada Hae Su.


“Kau tidak lihat apa wajahku babak belur seperti ini? Cepat buatkan kopi untukku.”


“Hei, kau sudah dengar kalau ada seorang lelaki datang kemari mencari Lea?” ucap lelaki itu.


“Kapan?” Hae Su terkejut.


“Kemarin, aku rasa dia mendatangi beberapa rumah dan bertanya tentang Lea. Aku tidak tahu pasti ... tapi aku yakin kalau lelaki itu bertanya tentang Lea dan keluarganya.”


Tak ingin buang waktu, Hae Sung langsung menghubungi Juan.


“Halo, Tuan?”


“Ada apa, preman itu masih mengganggu kalian?” sahut Juan dari seberang.


“Bukan, ini mengenai hal lain. Tuan, aku mendapat info kalau ada seorang lelaki mencari informasi tentang Lea dan keluarganya.”


Tak ada sahutan setelah mendengar penjelasan Hae Su.


“Hae Su!”


“Iya, Tuan.”

__ADS_1


“Awasi Lea, sampai aku tiba di sana. Siapa pun yang datang ke rumahnya kau harus segera hubungi aku. Besok pagi ... aku akan membawa Lea pergi dari Jeju.”


“Baik, Tuan.”


__ADS_2