
Sekuat mungkin Gia menahan diri, mencoba tenang meski sadar dia cemburu tapi tak berhak marah.
Sikap yang berbeda justru diperlihatkan oleh Lian. Lelaki itu tersenyum kemudian berucap dengan santai. “Kalian tidak masuk?”
“Oh iya, permisi manajer.” Eichi menarik Gia dan membawanya masuk.
Tak hanya mereka, tiba-tiba saja segerombolan orang datang dan memenuhi lift.
Oh Lian menarik Gia yang sengaja menjauh. Kini dia tak bisa bergerak karena sempit, belum lagi Oh Lian mencengkeram lengannya.
Detak jantungnya semakin tak beraturan. “Manajer pasti sudah gila, Sara Lee ada di sampingnya tapi sikapnya secara terang-terangan saat menarikku ... ah aku tidak bisa berkata lagi. Bagai mana jika Sara Lee mengetahui kedekatanku dengan manajer?”
Karena satu tangannya dipeluk oleh Sara Lee, maka satu tangannya lagi digunakan untuk mendekap perut Gia dari belakang.
Posisinya yang berdesakan membuat semua orang di sana tak menyadari jika Oh Lian dengan sengaja memeluk Gia.
Bahunya merendah kepalanya menunduk. Dari balik sela rambut, Oh Lian berbisik, “Rambutmu sangat wangi, rasanya aku ingin mengurungmu di sebuah ruangan ... agar wangimu tak bisa tercium bebas oleh lelaki lain.”
Merinding, itulah yang sedang dirasakan oleh Gia. Wajahnya sangat merah, merasa geli di bagian leher karena hawa panas saat Oh Lian berucap. Ingin rasanya berulah dan menghentikan kegilaan Oh Lian tapi Gia takut menarik perhatian semua orang. Pada akhirnya Gia memilih diam, menahan segala sesuatu yang akan terjadi selanjutnya.
“Aku memang menyukai manajer tapi tidak dengan kegilaan ini. Ada apa sebenarnya dengan otaknya. Dia bahkan berani berulah di depan Sara Lee?” gumam Gia dalam hati. “Sial, kenapa pintu lift tidak kunjung terbuka?”
“Gia, kau baik-baik saja?” Eichi melihat wajahnya yang merah.
“E, tentu ... aku–aku baik-baik saja.”
Eichi merasa mendapat ancaman, jelas saja saat perhatiannya teralihkan ke Oh Lian yang berada di belakang Gia, dia melihat tatapan tajam Oh Lian tertuju padanya. Hehe .... Eichi justru tersenyum meringis memamerkan giginya. Cepat-cepat dia mengalihkan perhatiannya ke depan.
Deg!
Dada Gia semakin tak terkendali ketika merasakan Oh Lian beberapa kali mengecup kepala bagian belakang.
Meski tak mengeluarkan suara khas bunyi kecupan tapi Gia yakin lelaki itu mengecupnya beberapa kali. “Gila, gila! Manajer sengaja ingin membuatku bunuh diri. Astaga ayolah ... kenapa pintunya tak juga terbuka?” Gia semakin panik.
Sementara di belakang sana, Oh Lian tersenyum menikmati tingkah Gia akibat ulahnya.
Ting!
Pintu lift terbuka, hendak berlari keluar tapi nyatanya Oh Lian justru mempertahankan Gia tetap berada di sana. Tangannya masih melingkar di perut menahan Gia.
“Bagaimana ini, bagaimana jika Sara Lee melihat?” pikirannya kacau. Tanpa berpikir panjang, Gia menginjak sepatu Oh Lian menggunakan hillsnya
Au! Oh Lian refleks melepaskan tangannya, merintih kesakitan.
Gia menggunakan kesempatan untuk melarikan diri.
“Lian, kau baik-baik saja?” tanya Sara Lee.
Wuueekk! Gia menjulurkan lidah, mengejek sembari berlari.
Pfftttt, hahaha .... rasa sakit di kaki seketika hilang setelah melihat tingkah lucunya.
“Hei, kau ini kenapa?” Sara Lee dibuat bingung.
“Tidak ada, ayo.”
~♤~
Mereka bertiga sudah sampai di bioskop, Eichi sibuk membeli popcorn dan Jenni sedang memesan tiket.
“Gia?” seru seorang lelaki dari kejauhan.
“Suara ini?” Gia terpaku mendengar suara yang tak asing di telinga. Menoleh memastikan siapa pemilik suara itu dan sesuai dugaannya, lelaki itu adalah Park Juan mantan kekasih Gia.
“Sudah aku duga ... aku tidak salah lagi mengenalimu.”
Eichi dan Jenni terdiam melihat kemunculan Park Juan di sana.
“Siapa dia?” bisik Eichi penasaran.
“Mantan kekasihnya Gia.”
“Waaah ... saingan manajer akhirnya muncul juga.”
“Kau bilang apa?” sahut Jenni.
“Haha ... tidak ada. Aku tidak bilang apa-apa. Mmm tapi ngomong-ngomong kenapa mereka putus?”
“Entahlah ... yang aku tahu orang tua dari pihak lelaki tidak menyetujui hubungan mereka.”
“Apa ini kisah cinta antara si kaya dan miskin?”
“Kau ini bicara apa? Aduh lagi pula kenapa juga aku membicarakan hal ini padamu?”
__ADS_1
Klik! Suara ponsel Eichi ketika mengambil foto mereka berdua.
“Hei, apa yang kau lakukan?” Jenni penasaran.
“Rahasia ... aku sedang menyalakan bom waktu. Sebentar lagi akan ada sesuatu yang meledak saat melihat foto mereka. Hahaha ....”Eichi tertawa puas. Sibuk mengirim foto Gia dan Juan ke nomor Oh Lian.
“Sudahlah kita tinggalkan mereka berdua, ayo. Filmnya sebentar lagi di mulai.” Jenni mendekati Gia. “Hei, kita masuk dulu ya ... kalian lanjutkan saja mengobrolnya.”
~♤~
Park Juan mengajak Gia duduk di restoran yang berada di lantai satu.
“Kebetulan sekali kita bertemu di sini ... bagaimana kabarmu?” Juan memulai pembicaraan.
“Uhm, baik. Kau sendiri?”
“Sangat baik ... senang sekali bisa bertemu lagi denganmu. Kau banyak berubah.” Perhatian Park Juan tak pernah lepas dari Gia. “Kau datang hanya bertiga?”
“Uhm.” Gia mengangguk.
“Kekasihmu?”
Gia terdiam, semenjak mereka putus dia tak pernah lagi menjalin hubungan dengan lelaki lain. “Tidak ada.”
“Oh ....” Park Juan tersenyum tipis.
Dreeeet!
Ponsel Gia bergetar, matanya melirik melihat nama Oh Lian di layar. “Manajer ... kenapa dia menghubungiku. Bukankah dia sedang bersama kekasihnya?” batin Gia.
“Kenapa tidak di angkat?” sahut Juan.
“Oh, ini dari tempat kerjaku. Aku tidak terbiasa menjawab panggilan dari kantor saat jam bebas.”
~♤~
Panggilannya tak mendapat jawaban dari Gia, Oh Lian yang tengah duduk di sofa pun mematikan ponselnya.
Pfffft! “Sial, dia tidak menjawab panggilanku.” Kepalanya mendongak, bersandar di sofa mencari kenyamanan. Tangannya terangkat membuka foto yang di kirim oleh Eichi. “Park Juan ... apa yang dia lakukan dengan gadis itu?” gumamnya.
Tok, tok, tok!
“Tuan?” Lee melangkah masuk, membawa beberapa dokumen. “Silakan.”
Sekitar empat dokumen yang dibawa Tuan Lee dan Oh Lian mengambil salah satunya. “Kenapa kau membawa dokumen ini?” tanya Lian setelah melihat dokumen yang sebelumnya tak diminta.
“Tapi aku belum ingin menandatanganinya.” Oh Lian menyingkirkan dokumen berisi berkas penting itu. Lalu mengambil dokumen lainnya. “Kau sudah membereskan kekacauan itu?” ucapnya merujuk pada kontrakan lama milik Gia.
“Sudah Tuan.”
“Pastikan tidak ada yang melihatmu berkeliaran di sana.”
“Tenang Tuan, saya sudah memusnahkan semua barang bukti.”
Fokus Oh Lian kembali ke map. “Dia sudah mendapatkan tempat tinggal yang baru?”
“Iya Tuan. Nona Gia sudah pindah sore ini.”
Oh Lian menghela napas kasar. Ambisinya sangat besar untuk memiliki sesuatu. Sampai dia belum mendapatkannya maka Oh Lian tidak akan berhenti. “Pergilah ... aku akan mengurus sisanya.”
“Baik Tuan, saya permisi.” Tuan Lee menundukkan kepala lalu melangkah pergi.
Oh Lian mengalihkan perhatiannya ke ponsel di meja ketika layarnya menyala. Dia mendapat pesan singkat dari Gia.
“Maaf manajer, aku tadi sedang sibuk jadi tidak bisa mengangkat panggilan darimu.” Isi pesan itu.
Oh Lian kembali menyandarkan punggungnya ke sofa. Bibirnya tersenyum, tangannya sibuk membalas pesan. “Kau masih di bioskop?”
“Iya.”
“Apa kau bersenang-senang?”
“Iya, kami sangat senang.”
“Film apa yang kau tonton?”
Lumayan lama Oh Lian menunggu pesan balasan, sepertinya Gia sedang kebingungan karena kemunculan Park Juan membuatnya hilang fokus sehingga Gia tak tahu film apa yang dipilih oleh sahabatnya.
“Love.” Balasan dari Gia.
“Apakah bagus?” Oh Lian semakin bersemangat membalas pesannya.
Sementara di seberang sana Gia kebingungan karena posisinya saat ini sedang bersama Park Juan. Entah seperti apa film Love itu karena dia memilih judul film secara random. Bahkan dia sendiri belum pernah menonton film itu.
__ADS_1
“Filmnya sangat bagus.” Gia membalas pesannya.
“Kau menikmati filmnya?”
“Tentu.”
“Gia?”
“Kenapa manajer?”
“Aku ingin melihat wajahmu.”
Deg!
Dada Gia memanas saat darahnya berdesir membuat detak jantungnya tak terkendali. Tangannya sibuk membalas pesan.
“Besok kita juga akan bertemu di tempat kerja.”
“Tapi aku ingin melihatmu sekarang ... aku merindukanmu.”
Membaca pesan dari Oh Lian semakin membuat dada Gia tak karuan. Wajahnya merah memanas.
“Gia?” sahut Park Juan.
“Iya?” Perhatian Gia teralihkan dari ponsel. “Oh, maaf ... manajer tiba-tiba mengirim pesan padaku.”
“Manajer?”
“Uhm, manajer baru di tempat kerjaku.”
“Oh, sepertinya kalian sangat dekat.” Park Juan tersenyum. “Gia ... apa kau sedang menyukai seseorang?”
Pertanyaan Park Juan membuat Gia terkejut. “Ha?”
“Uhm, aku hanya ingin tahu ... aku sangat penasaran. Karena jujur saja sampai ini aku pun belum pernah menjalin hubungan dengan wanita lain sejak pisah denganmu.”
“Kenapa kau tiba-tiba membahas hal ini sekarang?” batin Gia. “Iya, aku menyukai seseorang. Tapi ... aku belum tahu pasti bagaimana perasan dia padaku.”
“Gia ....” Park Juan menggenggam tangannya. “Aku ingin kita kembali seperti dulu.”
“Juan–“
“Aku tahu saat ini kau sedang mencintai orang lain, tapi ... biarkan aku juga memperjuangkanmu. Aku akan berusaha merebut kembali perasaanmu.”
Gia terdiam, terpaku tak dapat berucap. Setelah bertahun-tahun kenapa baru sekarang Juan memperjuangkan dirinya. Di saat orang tuanya meminta mengakhiri hubungan mereka, Juan justru menurut dan memilih meninggalkan Gia.
“Jangan menolakku Gia. Kita lakukan pelan-pelan saja ... aku akan melakukan apa pun untuk bisa merebut kembali perhatianmu tapi aku mohon ... jangan menolakku.”
Tak ada yang bisa Gia ucapkan, sampai akhirnya mereka telah berdiri di halaman lobi. Sementara Eichi dan Jenni sudah pulang terlebih dulu setelah filmnya habis.
“Aku akan mengantarmu pulang,” ucap Park Juan.
“Tidak perlu, aku bisa naik taxi.”
“Tapi ini sudah malam Gia, aku mengkhawatirkanmu.”
“Terima kasih tapi ... Juan, kau tidak perlu mengantarku.”
“Baiklah kalau itu maumu ... aku tidak bisa memaksa. Tapi, bolehkah aku memelukmu.”
Gia terdiam, menatap lekat mata Juan.
“Kita lama tidak bertemu Gia, hanya sekali ... please,” pintanya, Juan memohon.
Setelah berpikir sesaat, Gia tersenyum ragu kemudian menganggukkan kepala.
“Terima kasih.” Juan tak bisa menahan rasa gembira. Senyumnya semakin lebar. Menarik tubuh Gia merengkuh tubuh kecilnya dalam dekapan. Melampiaskan rasa rindu yang selama ini tertahan. “Aku sangat merindukanmu,” bisiknya.
Di sisi lain tak jauh dari posisi mereka, ternyata sejak tadi Oh Lian berdiri mengamati sambil bersandar di mobil.
Ssssssshhh, fiiiiuuuuhhhh ....
Dengan santainya Oh Lian menyesap rokoknya. Matanya memicing menyaksikan Gia sedang membalas pelukan Park Juan dengan ekspresi wajah datar.
Setelah membuang lalu menginjak sisa puntung rokoknya, Oh Lian mengambil ponsel dari saku jas. Lian sengaja menghubungi Gia.
Park Juan masih belum melepaskan pelukannya.
Dreeet! Ponsel yang ada di tangan bergetar. Gia hendak melepaskan diri tapi Park Juan menolak.
“Tunggu, sebentar lagi Gia. Biarkan aku memelukmu sebentar lagi.”
Gia tak bisa menolak. Tangannya terangkat menatap nama Oh Lian di layar. “Bagaimana ini?” batinnya. Tetapi tanpa sengaja perhatian Gia mengarah ke bayangan lelaki yang berdiri di ujung sana.
__ADS_1
Deg!
Jantungnya serasa mau meledak melihat Oh Lian sedang berdiri menatap kearahnya masih dengan ponsel yang menempel di telinga. “M–manajer?” gumamnya.