
“Tuan Lee akan mengantarmu ke mana pun kau pergi.”
Lian teringat ucapannya pada Lea sebelum pergi meninggalkan perempuan itu sendirian di rumahnya. “Bodoh! Aku bahkan belum memberikan nomor Tuan Lee, bagaimana nanti dia akan menghubunginya?” batin Lian.
Mobil yang dia kendarai berhenti di sebuah rumah sakit. Lian hendak menemui dokter yang selama ini menangani Sara.
“Tuan Lian, Anda sudah datang?” sapa dokter Choi.
“Halo, Dokter. Mungkin aku tidak lama berada di sini. Aku hanya ingin mendengar bagaimana Sara bisa kabur, setidaknya ... itu yang aku dengar dari Tuan Lee.”
Dokter Choi terdiam sejenak sebelum menjawab pertanyaan Lian. “Tuan Lee Dae Hyun selalu memberikan perintah untuk memberi obat penenang dosis tinggi karena Nona Sara Lee sudah tidak bisa dikendalikan jika kondisinya mengamuk parah.”
“Sebelumnya ... aku ingin bertanya, bagaimana Sara Lee bisa berakhir di sini? Dia tidak mungkin menjadi gila hanya karena aku memilih bersama perempuan lain. Toh selama ini dia sangat mendukung hubunganku dengan Gia.”
Glek! Dokter Choi menelan saliva. “Tuan, bagaimana aku harus menjelaskan kepada Anda, bahwa Nona Sara sangat manipulatif. Dia akan membuat Anda percaya jika dia mendukung hubungan Anda dengan Nona Gia tapi padahal itu hanya alibi agar dia bisa menyingkirkan Nona Gia tanpa Anda curiga nantinya.”
Penjelasan dokter Choi sangat masuk akal, hal itu juga Lian alami selama mendekati Gia. Dia akan menjadi manipulatif agar Gia bisa menjadi miliknya. “Lalu ... ke mana kemungkinan Sara pergi melarikan diri?”
“Mengenai hal itu ... maaf jika saya lancang harus mengatakan ini. Nona Sara Lee, pasti akan mencari keberadaan Anda. Untuk memuaskan keinginannya ... dia pasti akan berusaha menemui Anda. Entah di rumah atau di tempat kerja ... jadi saya sarankan untuk Anda berhati-hati.”
Lian terpaku mendengar ucapannya, teringat jika Lea berada di rumah sendiri. Bagaimana jika tiba-tiba Sara Lee pergi menemuinya dan bertemu dengan Lea. Sara pasti akan mengira jika Lea adalah Gia. Lian ketakutan setengah mati jika Sara mencelakai perempuan itu. “Maaf, Dokter ... sepertinya aku harus pergi.” Ucap Lian tergesa-gesa, segera mengambil langkah seribu karena takut sesuatu akan terjadi pada Lea.
~♤~
“Aneh ... kenapa aku bahkan tak menemukan satu pun foto pernikahan mereka yang terpajang? Padahal sejak tadi aku bersih-bersih di rumah ini ... bagaimana mungkin pernikahan mereka tak memiliki satu foto pun?” Lea terus bergumam, membawa kemoceng di tangan berjalan menuju pantry.
Dreeettt!
“Halo?” Lea mengangkat panggilan dari Lian.
Ghm! Di seberang sana, Lian berusaha setenang mungkin saat berucap karena pastinya tak ingin membuat Lea panik. “Lea ... apa yang sedang kau lakukan?”
“Uhm, aku sedang beres-beres ... kenapa?”
“Kau sudah pastikan mengunci pintu rumahnya?”
Kepalanya menoleh. “Uhm ... sepertinya aku belum menutup pintu depan.”
“Lebih baik sekarang kau tutup pintunya dan jangan buka pintu jika seseorang membunyikan belnya. Aku sebentar lagi sampai di rumah.”
Lea terdiam, kebingungan. “Kenapa? Kau tiba-tiba membuatku jadi khawatir.”
“Tidak, tidak ada apa-apa ... aku hanya takut ada seseorang masuk. Sementara kau baru di rumah itu. Segera kunci pintunya, oke?”
Hening, Lea masih terdiam.
“Lea, please,” sahut Lian lembut.
__ADS_1
“Iya, aku akan mengunci pintunya.”
“Oh ya, Lea ... kau sudah memasak sesuatu untukku. Aku sangat lapar.” Lian sangat pandai mengalihkan perhatian.
“Eh, apa aku boleh memasak semua yang ada di kulkas?” Seketika, Lea lupa dengan pembicaraan sebelumnya.
“Apa pun, kau bisa memakai apa pun yang ada di rumah itu. Semuanya tanpa terkecuali ... lakukan apa pun yang mau, oke?”
Pipinya merona, Lea sangat tersanjung. Tetapi dia sadar jika Lian melakukan itu semata karena menganggap dirinya adalah Gia. “Baiklah,” ucapnya lalu mematikan telepon.
Sekitar setengah jam lebih akhirnya Lian sampai di rumah.
Ting-tong!
Lea berlari menuju pintu masuk, menyambut kedatangan Lian.
Ceklek! Pintu terbuka.
“Selamat datang,” sapa Lea.
Waktu seakan terhenti, Lian merasa dejavu dengan peristiwa yang sangat mirip dengan masa lalu. Ketika Gia menyambut kepulangannya dengan penampilan berantakan setelah selesai memasak.
Waktu itu, Lian mencuumbu bibirnya sesuka hati tapi kali ini matanya berkaca mengingat kejadian itu.
“Kau menangis?” Lea mengusap pipi Lian ketika air mata menetes begitu saja.
“Oh, maaf!” Lian memalingkan wajahnya.
“Tidak apa-apa Lea, itu bukan salahmu. Ini semua salahku karena aku terlalu berharap lebih sehingga aku harus merasakan sakit karena tak bisa menerima kenyataan bahwa Gia telah pergi.”
“Apa karena keberadaanku kau jadi terganggu?” Lea merasa semakin bersalah.
“Tidak, Lea.” Lian menghela napas panjang. “Bukankah kita sudah pernah membahas ini?”
“Kalau begitu kau tidak perlu menahan diri ... lakukan apa pun yang ingin kau lakukan padaku, karena jika seperti ini, kau justru membuatku merasa bersal–“ ucapan Lea terputus karena Lian tiba-tiba menyambar bibirnya.
Mmh! Ngh! Lea memukul dadanya berkali-kali.
Ciuman terlepas, Lian menatap lekat matanya.
Hah, hah, hah .... Napas Lea memburu, terkejut bukan main. “Kenapa tiba-tiba?”
“Karena kau bilang aku bisa melakukan apa pun yang aku inginkan padamu ... inilah yang aku lakukan pada Gia saat dia menyambut kedatanganku.”
Ha? Belum sempat membalas ucapannya, Lea dibuat bungkam lagi karena Lian lagi-lagi mencium bibirnya.
Sekuat mungkin Lian menghisap bibirnya, memenuhi dada dengan kepuasan. Memainkan lidahnya sesuka hati tak lagi menahan diri.
__ADS_1
Ngh~ Rintihan suara Lea akhirnya membuat Lian sadar.
Ciuman terhenti, wajah mereka masih berdekatan. Kening saling bersentuhan saat berebut oksigen.
“Cukup,” ucap Lian. Matanya menatap mata Lea yang berada persis di depannya. “Jika aku melanjutkan ini ... aku takut tidak bisa berhenti.”
Dada Lea berdebar kencang, darahnya berdesir tak karuan.
“Ingat Lea, ada kalanya kau harus menamparku untuk membuatku sadar.” Ibu jarinya mengusap bibir Lea yang basah dan merah.
“Bagaimana aku bisa membuatmu sadar jika aku juga menikmati apa yang kau lakukan?” batin Lea.
Perlahan Lian menjauhkan kepala. “Baiklah, aku lapar. Kita lihat apa yang kau masak untukku. Ayo.” Lian menggandeng tangannya, membawa Lea melangkah menuju pantri.
“Kau menyiapkan ini semua?” Lian terdiam, mungkin ini pertama kalinya dia mencicipi masakan Lea karena selama di Jeju dia tak pernah makan makanan yang disiapkan oleh Lea untuk para pekerjanya.
“Maaf jika tak ada yang sesuai dengan seleramu.”
“Apa maksudmu?” Lian menarik kursi, kemudian duduk. “Aku menyukai semuanya, boleh aku makan sekarang?”
“Ah, aku akan mengambilkannya untukmu.” Lea menyiapkan piring, mengambil sedikit-sedikit dari semua masakan yang tersaji. “Silakan.” Ekspresinya tegang menunggu reaksi Lian atas masakannya.
Suapan pertama mampu membuat jantung Lian berdebar. “A–apa-apaan ini?” batinnya. “Tidak mungkin! Bagaimana bisa ... tidak, aku pasti salah!” lanjutnya dalam hati. Lian melahap makannya lagi. Satu suap, dua suap hingga mulutnya penuh makanan.
“Pelan-pelan kau bisa tersedak,” ucap Lea.
Matanya memerah, berkaca setelah merasakan masakan Lea sangat mirip dengan masakan Gia. “Sial! Ini tidak mungkin ... mereka terlalu mirip.” Kepalanya tertunduk, Lian menitikkan air matanya sengaja agar Lea tak melihat.
“Lian?” Lea khawatir.
“Air, leherku ....” Pura-pura seolah makanannya tak bisa ditelan padahal sedang mengalihkan perhatian Lea.
“I–iya tunggu sebentar aku ambilkan minum.” Setelah menuangkan air putih ke gelas, Lea memberikannya ke Lian. “Minumlah, pelan-pelan.”
“Terima kasih.” Lian tersenyum lebar, menutupi kesedihannya.
“Apa masakanku kurang cocok untukmu?”
“Kenapa kau bisa bilang seperti itu?”
“Kau sampai kesakitan saat menelan makannya.”
Pfffttt! Lian terkekeh. “Ini justru sangat lezat, Lea. Masakanmu terlalu lezat sampai-sampai aku hampir menangis karena ini ... benar-benar cocok dilidahku.
Lea tersenyum senang. “Syukurlah.”
Mengingat kalau Lea memintanya melakukan apa pun pada dirinya tanpa menahan diri, Lian pun berucap, “Tapi apa kau tahu jika ada satu hal yang kurang?”
__ADS_1
Lea terdiam sesaat, ekspresinya langsung berubah khawatir. “A–apa itu?”
Lian menatap matanya lekat. Bibirnya tersenyum tipis. “Kau harus duduk di pangkuanku.”