
“Tentang Juan~”
Saat kepalanya terangkat, Lian menatap mata Gia. “Kenapa dengan lelaki itu?”
“Aku tidak memiliki hubungan apa pun dengan Juan. Aku juga tidak bermaksud dekat lagi dengannya.”
“Lalu?”
“Kenapa kau mengatakan hal yang menyebalkan, Presdir?”
“Lian, panggil namaku. Lian.” Lian bersandar ke kursi di belakangnya. Menciptakan jarak yang lumayan jauh dengan Gia. “Apa yang aku katakan saat itu?”
“Kau bilang ... aku harus menahan diri berhubungan dengan Juan setelah bayi ini lahir. Padahal, aku sama sekali tidak berniat kembali padanya.” Gia menundukkan kepala.
“Kau tidak berniat kembali dengannya?”
Uhm! Gia mengangguk pelan.
“Lalu ... kenapa malam itu kau melepaskan tanganku? Dan memilih pergi dengan Juan?”
“I–itu ... itu karena, karena kau sangat menyebalkan!”
“Aku?”
“Iya! Aku kesal karena kau mempermainkanku. Kau mendekatiku, membuatku bergantung padamu tapi ternyata kau menyebalkan!” Gia memukul dadanya.
Au! Rintih Lian meraih tangan Gia, membawa sang istri ke dalam pelukan. “Mengenai hal itu ... apa kau masih marah?”
Uhm! Gai menggelengkan kepala. Membenamkan wajahnya ke leher Lian.
“Tapi aku masih padamu.” Ucapan Lian membuat Gia terdiam, melepaskan diri dari pelukan menjauh.
“Marah denganku, kenapa?”
“Mengenai obat yang aku temukan di kamarmu?”
“Presd– Lian, aku berani bersumpah ... aku benar-benar tidak meminum obat itu. Aku memang membelinya, tapi aku meminum satu pil pun!”
Lian hanya diam, mencoba percaya. Tatapannya tak setajam saat pertama kali mengetahui kandungan obat itu. Tapi dia masih bingung mencari bukti untuk mempercayai istrinya.
“Aku menyukaimu!” sahut Gia. Menatap lekat mata Lian.
“Kau bilang apa?” tanyanya lembut.
“Aku menyukaimu, sejak awal saat kita bertemu di rooftop. Bahkan sampai saat ini, aku sangat mencintaimu.” Terbawa suasana, Gia sampai menitikkan air mata.
“Hei, kenapa kau menangis?” Tangan Lian menyentuh pipi, mengusap air mata.
“Rasanya kesal saat kau bilang aku boleh kembali ke Juan setelah melahirkan bayi ini. Kenapa kau jahat sekali, kenapa kau berkata seperti itu padahal tahu aku menyukaimu.”
Ssshhhh .... “Aku minta maaf, aku bicara seperti itu karena cemburu. Aku tidak melihat Juan mendekatimu.” Lian masih berusaha keras mengendalikan rasa cemburu yang berimbas menyakiti Gia.
“Lalu apa kau masih marah karena obat itu?”
Lian terdiam sesaat. “Aku kecewa.” Perhatiannya beralih menatap mata Gia. “Aku berharap bisa mencari apa yang sebenarnya terjadi hingga hasil pemeriksaan dari dokter berbeda dengan pengakuanmu.”
“Tidak apa jika kau kecewa, tapi jangan marah dan membenci diriku. Aku benar-benar tidak bisa jika kau marah ... hiks!” Gia menangis seperti anak kecil di depan Lian.
Pfffttt! “Lucunya, kenapa kau jadi menggemaskan seperti ini? Seingatku saat pertama bertemu di rooftop kau keras kepala. Haha ....”
__ADS_1
“Entah, hanya saja aku benar-benar tidak bisa jauh darimu. Aku juga tidak tahu kenapa. Hiks”
“Iya, iya ... aku tidak marah.” Mengusal mata Gia. “Aku akan mencari tahu kenapa hasil tesnya bisa salah, tenang oke?”
Layaknya anaknya kecil yang mudah dibujuk, Gia mengangguk patuh. “Hu.um ....”
“Kemarilah.” Menarik Gia dalam pelukan. Menghadiahi kecupan di kening. “Perasaanmu sudah mendingan?” Setelah mendapat anggukan kepala, Lian melanjutkan kalimatnya. “Kita pulang.”
“Tapi bagaimana bajumu? Kau bisa demam jika kembali ke hotel tanpa mengenakan pakaian.”
“Aku masih memakai celana, hanya telan-jang dada tidak akan membuatku demam. Percayalah.” Lian mendaratkan kecupan di ujung bibir. “Lalu, sampai kapan kau akan duduk di pangkuanku?”
“Maaf.” Pipinya merona, Gia hendak turun dari pangkuan tapi Lian menahannya.
“Tunggu!”
“Ya?”
“Karena sudah seperti ini ... sayang sekali kalau tidak lanjutkan.”
“E, maksudmu?”
“Aku ingin melakukannya di sini ... apa kau keberatan jika kita melakukannya di mobil?” bisik Lian tepat di telinga. Membuat Gia merinding.
“Terserah ....” Suaranya candu, malu-malu.
“Biasanya arti dari jawaban kata terserah adalah jawaban paling membingungkan, tapi untuk kali ini sepertinya ... aku menyukai jawaban itu.”
Lian mencium bibirnya, menyesap kuat penuh ga1rah. Melepas kancing kemeja satu persatu. Membawa Gia dalam dekapan, belaian penuh kasih sayang.
Berbeda dengan sebelumnya, Lian berusaha memperlakukan Gia dengan sangat lembut.
Suara decit mobil terdengar akibat ulah dua manusia di dalam sana.
Hah .... “Kau menyukainya?” Suara Lian sangat berat.
Permukaan kulitnya basah, aroma feromon miliknya menguar memenuhi kabin mobil.
Wangi inilah yang disukai oleh Gia. Meski tak berdaya mendapat serangan dari Lian, Gia masih tetap bisa mengikuti permainannya.
Punggungnya membungkuk di atas tubuh istrinya, berbisik lembut kemudian. “Lagi ... atau cukup?”
Gia masih mengatur napasnya. Bahkan milik Lian belum dicabut, masih tersimpan di dalam tubuh Gia. “A~ ah~ aku lelah.”
“Uhmm, sekali lagi ya?”
“Liaaan!” sahut Gia dengan suara mendayu lemas. Namun itu justru membuat Lian bersemangat.
Tak bisa menolak, Gia membiarkan Lian menguasai tubuhnya.
Dua jam setelah bermain di mobil, Lian membawa istrinya kembali ke hotel. Dalam keadaan telan-jang dada dia menyetir sementara Gia tertidur pulas di kursi samping.
Bibirnya tersenyum melihat tanda merah di leher dan paha sang istri. Lian meraih tangannya, menggenggam erat lalu menghadiahi kecupan di punggung tangannya beberapa kali.
~♤~
“Gia, kita sudah sampai,” ucap Lian lembut. Berdiri di sisi mobil tepat di samping istrinya.
“Aku lelah, Lian ....” Gia tak mampu membuka mata.
__ADS_1
Lian hanya tersenyum, mengambil jas untuk menutupi tubuh istrinya. Tak tega, Lian akhirnya menggendong tubuhnya menuju ke kamar.
Sempat menjadi pusat perhatian banyak orang di lobi karena Lian tidak mengenakan baju sementara Gia hanya mengenakan kemeja.
Meski kemeja milik Lian sangat kebesaran saat dikenakan Gia, namun tetap saja terlihat jelas jika Gia hanya mengenakan ****** *****.
Sesampainya di kamar, Lian meletakkan tubuhnya di atas ranjang.
“Hai, kita sudah sampai.”
“Biarkan aku tidur sebentar, aku akan mandi setelah bangun nanti.”
“Tidak bisa ... ayo bangunlah, aku akan mandikanmu.” Lian melepas kemejanya.
“Liaaan, ini dingin.” Berontak, hendak menarik selimut tapi Lian menahannya.
“Tidak, kau harus mandi ... aku akan menyiapkan air hangat untukmu.”
“Tapi aku lelaaah, ini juga karena dirimu.”
Lian terdiam, melihat tingkah Gia semakin manja. “Kenapa sikapnya jadi semakin menggemaskan?” batinnya. “Apa kepalanya terbentur di kapal tanpa sepengetahuanku?”
“Kau mandi saja dulu, aku masih lelah.” Menarik selimut hendak berbaring tapi Lian menahannya.
“Tidak bisa! Ayolah ... aku akan menggendongmu lagi sampai ke kamar mandi.”
“Aku mau mandi air hangat,” sahut Gia.
“Iya-iya.” Lian menggendong tubuh Gua, membawanya ke kamar mandi.
“Aku mau berendam di bathup,” pintanya seperti anak kecil.
“Demi Tuhan, Gia. Kenapa jadi manja seperti ini?” Lian tak bisa menahan tawanya.
“Aku mau mandi di bathup!”
“Iya-iya, kau boleh berendam. Aku akan membantu menggosok tubuhmu.”
Secara tak terduga, saat sedang menikmati air hangat di bathup, Gia terkejut karena Lian tiba-tiba ikut masuk dan berendam.
“Apa yang kau lakukan?” Masih dalam keadaan sedikit lelah, Gia menoleh.
Lian duduk di belakangnya, berendam satu bathup dengan Gia. “Kau tidak lihat? Aku ingin berendam sepertimu ... kemarilah jangan jauh-jauh.”
“E, tidak. Sepertinya aku lebih baik membilas tubuhku saja.” Hendak beranjak berdiri, tapi tiba-tiba Lian menarik pinggangnya. Membawa Gia dalam dekapan di atas pangkuan.
“Apa aku mengizinkanmu pergi?” bisik Lian. Dadanya kekar, merengkuh tubuh Gia yang mungil.
“Tiba-tiba saja perasaanku jadi tidak enak,” batin Gia. Eh! Terkejut karena sesuatu menyembul dari bawah paha. “Lian!” Gia menoleh.
Pffftttt! “Jangan harap bisa lepas sebelum aku mendapat upah karena sudah menggendongmu dari mobil.”
Gia merinding, tubuhnya belum pulih. Efek permainan mereka di mobil belum juga hilang. Namun lagi-lagi Gia harus menghadapi kebuasan Lian.
Dreeeet!
Suara desa-han lumayan keras dan sering memenuhi kamar mandi, mengalahkan suara getaran ponsel milik Lian.
Tuan Lee, memanggil. Namanya terpampang di layar ponsel.
__ADS_1