
“Iya, Tuan. Apa Anda bicara dengan saya?” Semula senyumnya lebar, namun perlahan menghilang melihat lelaki asing di depan mata bergerak mendekat lalu memeluk tubuhnya begitu saja tanpa permisi.
Deg, deg, deg!
Pelukannya sangat kuat, tubuh Lea sangat kecil kesulitan melepaskan diri meski sekuat tenaga dia berusaha mendorong dada Lian.
“Gia ... aku merindukanmu, senang bisa melihatmu kembali.”
“T–tuan, Tuan maaf. Kau bisa melepaskan aku ... dan lagi pula siapa Gia, namaku Lea. Park Lea.”
Akhirnya Lian tersadar bahwa perempuan yang berada dalam pelukannya bukanlah Gia, istrinya. Perlahan Lian melepaskan pelukannya.
Menjauh tapi sorot matanya tak pernah lepas dari Lea. “S–siapa namamu?” tanyanya terbata.
“Lea, Park Lea.” Bibirnya tersenyum, tangannya terulur kearah Lian.
Perhatian Lian beralih ke tangan Lea. Meski ragu, Lian akhirnya membalas uluran tangannya. “Bagaimana bisa kau sangat mirip dengannya.”
“Maaf, Anda bilang apa?”
“Kau–“ ucapan Lian terhenti karena seseorang memanggil perempuan itu.
“Lea!”
Perempuan itu menoleh. “Iya, tunggu sebentar.” Perhatiannya kembali ke Lian. “Maaf, Tuan. Jika tidak ada hal penting yang ingin Anda bicarakan ... sepertinya aku harus pergi.”
Tak sepatah kata pun keluar dari bibirnya, pikiran Lian penuh dengan nama Gia. Bahkan ketika perempuan bernama Lea itu melangkah pergi, Lian tak bisa berbuat apa pun.
Masih berdiri di tempat semula, tatapan Lian bahkan tak pernah beralih dari Lea hingga perempuan itu menghilang dari pandangan.
“Siapa lelaki itu?” tanya Hae Su, lelaki yang sempat memanggil Lea. Mereka berjalan keluar dari area gedung resort, kembali ke kedai yang letaknya tak begitu jauh.
“Entah, aku juga tidak tahu.” Sesekali Lea menoleh, menatap Lian. “Aku juga baru kali ini bertemu dengannya.”
“Hmm, sepertinya dia tertarik denganmu.”
“Apa-apaan kau ini,” sahut Gia.
“Aku perhatikan sejak tadi dia melihat kearahmu, mana wajahnya sangat tampan lagi.” Hae Su terus berucap sepanjang jalan.
“Ah, kau ini. Sudah lupakan ... kita masih banyak pekerjaan setelah ini.” Meski begitu, Lea mengakui memang benar jika lelaki yang tadi sempat memeluknya memang tampan. “Astaga, apa yang aku pikirkan?” Lea bergidik menyadarkan diri.
~♤~
“Tuan, Anda baik-baik saja?” Lee baru saja tiba di Jeju, dia harus mengurus pekerjaan lain sebelum menyusul Tuannya.
“Tuan Lee, apakah di dunia ini ... ada orang yang benar-benar mirip dengan wajah kita?” Sepanjang hari Lian melamun, memikirkan Gia dan Lea secara bersamaan.
“Maksud Tuan?” Lee kebingungan kenapa tiba-tiba saja Tuannya membicarakan hal aneh.
“Gia ... aku melihat Gia tadi, Tuan Lee ... Gia masih hidup.”
“Tuan!” sahut Lee. “Maaf, saya tidak bermaksud lancang ... tapi tolong tenangkan diri Anda.”
Lian terdiam, perasaannya terbawa emosi sampai-sampai lupa bahwa istrinya telah pergi untuk selama-lamanya.
~♤~
Cuaca semakin dingin, salju kembali turun meski tak deras.
Lea duduk di tepi pantai, di atas salju menikmati dinginnya angin laut yang menerpa tubuhnya.
Sekilas bayangan saat Lian memeluk dirinya melintas, mengganggu pikiran.
“Gia.”
Suara berat Lian saat memanggil nama itu menggema di telinga. “Gia? Siapa Gia ... mungkinkah itu kekasihnya? Tapi, kenapa memelukku sambil menyebut nama itu? Kenapa dia bisa mengira bahwa aku adalah Gia? Hah, entah ... siapa pun dia tidak ada hubungannya denganku.”
__ADS_1
Brugh!
Lea membiarkan tubuhnya jatuh berbaring di atas salju. Menatap langit gelap, membiarkan salju jatuh menyentuh wajahnya.
Dreeet!
Lea mengambil ponsel dari saku mantel, menatap layar sekilas saat mendapat panggilan dari seseorang. “Halo?”
Suara lelaki dari ujung ponsel menyahut pembicaraan. “Halo, Lea ... bagaimana kabarmu hari ini?”
“Aku baik, Hae Su banyak membantu setiap hari. Uhmmm, kapan kau akan datang menjenguk?”
“Mungkin bulan depan, aku banyak pekerjaan yang harus diurus. Kau sedang di luar?”
“Uhm, dari mana kau tahu?” Lea beranjak duduk, tubuhnya mulai menggigil.
“Aku bisa mendengar suara angin, ingat cuaca di luar sangat dingin selalu kenakan mantel setiap keluar dari rumah.”
“Iya, aku mengingatnya.”
“Bulan depan saat mengunjungimu aku akan membawa mantel baru, jadi aku tidak takut kau akan kedinginan.”
“Aku akan menunggu kedatanganmu.” Pipi Lea merona.
Dari arah lain, Lian tengah berjalan menyusuri pesisir pantai. Langkahnya ragu, menikmati dinginnya malam. Berharap bisa sedikit mengobati rasa perih dan hatinya yang kosong.
Langkahnya terhenti tepat saat melihat sosok Lea sedang berbicara dengan seseorang melalui ponsel. Melihat ekspresi wajahnya merona, entah mengapa Lian yakin jika Lea sedang berbicara dengan seseorang yang sangat spesial.
Seketika saja perasaan Lian berubah kalud, gelisah tak menentu. “Ingat, Gia sudah meninggal ... dan yang berada di depanmu adalah orang lain,” batin Lian meyakinkan diri sendiri.
Sengaja tak langsung pergi, Lian masih berdiri di tempat semula, mengamati setiap perubahan ekspresi Lea.
“Lea ...,” sahut lelaki di seberang ponsel.
“Hmm?”
Lea tersenyum. “Kalau begitu cepatlah kembali, aku akan menunggumu. Oh ya ... ngomong-ngomong kapan kau akan mengajakku ke Seoul?”
Hening sesaat, lelaki di seberang sana tak langsung menyahut. “Lea, Seoul sangat berbeda dengan Jeju. Di sini tidak aman untukmu, tapi ... aku janji suatu saat akan mengajakmu untuk mengunjungi Jeju.”
Srak!
Tanpa sengaja Lian menginjak sesuatu di pasir, menimbulkan suara yang menarik perhatian Lea.
Kepalanya menoleh, terkejut melihat lelaki yang berdiri di sana adalah lelaki yang memeluknya tadi siang.
“Lea, apa terjadi sesuatu?” sahut lelaki di seberang sana.
“Tidak, aku tutup dulu teleponnya. Aku akan menghubungimu nanti.”
Tut!
Lea beranjak berdiri. “Kau? Ucapnya kepada Lian.
“Uhm, maaf ... aku tidak bermaksud mengganggu. Aku hanya kebetulan lewat.”
“Santai saja, kau sama sekali tidak mengganggu.”
“Mengenai tadi siang ... maaf. Aku pasti membuatmu terkejut.” Lian sangat gugup, terasa jelas dari nada bicaranya yang terbata.
“Oh, tenang saja ... kau tidak perlu minta maaf.”
Suasana sangat canggung, masing-masing sibuk mencari topik pembicaraan. Terlihat jelas dari sikap tubuh mereka yang tak bisa tenang.
“Kau baru di sini?” Lea memulai pembicaraan lagi.
“Kebetulan aku datang kemari untuk melihat perkembangan resort.”
__ADS_1
“Oh, jadi kau pemilik resort yang baru dibangun itu? Waaah daebak! Aku tidak menyangka bisa bertemu dengan orang penting sepertimu. Aku juga ingin mengucapkan terima kasih karena berkat dirimu aku jadi memiliki kesibukan.”
“Kesibukan?” Lian bingung.
“Uhm, iya. Aku selalu menyiapkan makan siang untuk para pegawai bangunan yang membuat resortmu. Lumayan, hitung-hitung untuk menambah pemasukan.”
Wuuuuuuzzzhhhh ....
Dalam sekejap angin besar menerjang pesisir pantai, salju semakin lebat.
“Astaga, aku sampai lupa kalau akan ada badai salju malam ini. Ayo, kita harus berlindung.” Lea refleks menarik tangan Lian.
Berlomba dengan angin dan salju, mereka berdua berlari beriringan, bergandengan tangan mencari tempat aman.
Lian tak peduli jika badai salju datang menerjang, saat ini fokusnya hanya tertuju pada perempuan yang tengah berlari dan menggenggam tangannya.
“Entah perasaan apa ini, tapi aku yakin aku pernah merasakan sentuhan ini. Tapi ... kenapa mereka harus orang yang berbeda?” batin Lian.
Setelah berlari lumayan jauh, Lea mengajak Lian masuk ke dalam rumahnya.
Hah, hah, hah!
“Beruntung kita belum tertimbun salju, kau baik-baik saja?”
Lian terdiam, terpaku menatap tangannya.
“Maaf!” ucap Lea sembari melepaskan tangan Lian.
“Tidak apa-apa, kau tidak perlu minta maaf.” Perhatiannya teralihkan ke sekitar.
“Ini rumahku, untuk sementara kau bisa singgah di sini sampai badai salju berhenti.” Lea mengambil segelas air hangat. “Duduklah, ini akan membuat tubuhmu hangat.” Mendorong gelas kearah Lian.
“Terima kasih.” Lian duduk di seberang meja, perhatiannya tak pernah lepas dari Lea yang sejak tadi mondar-mandir sibuk dengan sendirinya.
“Jangan sungkan, maaf kalau tempat ini membuatmu tidak nyaman. Orang kaya sepertimu biasanya sulit beradaptasi. Tapi bersabarlah sampai badai salju berhenti.”
Lian masih diam, mengamati Lea sibuk mengambil kayu untuk menyalakan perapian.
Uhuk, uhuk!
Asap menyebar membuat Lea terbatuk, bekas hitam dari sisa api pembakaran sampai mengenai wajah.
“Tuan, kemarilah duduk di sini. Hangatkan tubuhmu.” Lea menyiapkan kursi pendek tepat di sampingnya.
Lian masih diam, menuruti ucapan Lea. Duduk bersebelahan menghadap ke perapian. “Kau bisa memanggilku Lian.”
“Eh, nama kita ternyata hampir sama.” Refleks Lea tertawa.
Deg!
Dadanya berdesir, Lian tak menyangka jika bukan hanya wajah tapi senyum dan juga tawa sangat mirip dengan mendiang istrinya.
Tatapan Lian semakin dalam dan lekat, menciptakan suasana canggung hingga senyum akhirnya menghilang dari bibirnya.
Ghm! “Apa ada sesuatu di wajahku ... kenapa kau menatapku seperti itu?” Lea terkejut setengah mati saat Lian tiba-tiba menyentuh pipinya. Ingin menghindar tapi seperti ada sesuatu yang menahan membuat tubuhnya kaku tak bisa bergerak.
Mata Lian berbinar, terpancar kebahagiaan tak bertepi, seolah bisa melihat wajah istrinya lagi, bahkan menyentuh pipinya. Tanpa sadar air mengalir dari ujung mata, menetes membasahi pipi.
Hal itu pasti membuat Lea terkejut, bertanya-tanya. “Tuan?”
Suara Lea memecah keheningan, Lian tersadar dari lamunan. “Maaf, ada sesuatu di wajahmu.” Lian mengusap noda hitam dari wajahnya.
“Oh, itu pasti karena arang.” Lea gugup, tingkahnya serba salah. “Tuan–“
“Panggil saja aku Lian,” sahutnya. “Maaf kalau aku membuatmu tidak nyaman.”
“Uhm, apa wajahku mengingatkanmu pada seseorang?”
__ADS_1