
Oh Lian keluar dari kamar mandi, langkahnya terhenti di tengah pintu.
Pikirannya kembali teringat ucapan Gia saat marah dengannya. “Kenapa aku melakukan itu? Tidak ... aku tidak boleh lengah, dia pantas mendapatkan itu.”
Dreeet!
Oh Lian mendapat panggilan dari Tuan Lee. “Halo, Tuan Lee ... kau sudah mendapatkannya?”
“Iya Tuan, lusa saya akan datang ke perusahaan mengantar dokumennya.”
“Baik.”
~♤~
“Untukmu.” Eichi mengulurkan sebotol minuman kepada Gia.
Mereka baru saja joging pagi di hari minggu.
“Terima kasih.”
“Hmm, bagaimana dengan manajer ... apa dia menyulitkanmu lagi?”
Ekspresi Gia langsung berubah kesal.
“Maaf? Sepertinya aku salah mencari topik pembicaraan.” Eichi merasa tidak enak hati.
“Tidak, tenang saja ... semuanya baik.”
“Jadi, bagaimana menurutmu?”
“Apa”
“Tentang manajer? Oh maaf aku akan mencari topik lain.”
“Aku benci manajer, sejak dia datang dia selalu mengerjaiku. Aku merasa aku tidak punya salah dengannya tapi kenapa selalu aku?”
“Uhm, mungkin itu hanya perasaanmu saja. Tapi kalau dilihat-lihat ... manajer sepertinya memang tertarik denganmu.”
“Omong kosong apa lagi kau ini? Ayo, kita harus pulang sebentar lagi jam makan siang.”
Eichi kemudian mengantar Gia pulang, mereka jalan kaki menyusuri taman kota.
“Eh, itu bukannya manajer?” ucap Eichi ketika melihat Oh Lian berada di depan pusat gym bersama seorang wanita.
Gia terdiam, melihat penampilan wanita itu sungguh menggoda. **** dan sangat dewasa. Semua bagian yang sangat diunggulkan oleh kebanyakan wanita sangat menonjol.
Mulai dari panggul, pinggang dan dada yang montok menambah nilai plus untuk penampilannya.
“Hah, benar saja kalau dia selalu bilang aku bukan kriterianya. Ternyata penampilan kekasihnya memang sangat ****,” gumam Gia, “Aneh, kenapa aku merasa kesal seperti ini? Bodohnya lagi kenapa aku harus memikirkannya?”
“Kau bilang apa?” Eichi membuyarkan lamunannya.
“Tidak, lupakan! Ayo kita harus segera pulang.”
“GIA AWAS!” Eichi menarik lengannya ketika melihat sebuah motor melintas begitu saja.
Nyaris Gia tertabrak jika Eichi tak menariknya ke dalam dekapan.
Mendengar suara ribut, Oh Lian menoleh mencari sumber suara itu berasal. Dia melihat Gia tengah berada di dalam dekapan Eichi.
Kreak!
Botol kaleng minuman yang telah kosong seketika remuk di saat Oh Lian menggenggamnya erat.
“Oh Lian, kau mengenalnya?” sahut Sara Lee melihat Oh Lian melangkah menghampiri mereka berdua.
“Gia, kau baik-baik saja?” Eichi khawatir.
“Terima kasih, aku baik-baik saja.”
“Kau terluka?” tanya Oh Lian kepada Gia.
Eichi melepaskan dekapannya. “Oh, Manajer ... halo. Sepertinya Gia hanya syok. Untunglah dia baik-baik saja.”
Gia menunduk menghindari kontak mata dengan Oh Lian.
“Oh Lian, siapa mereka?” Sara Lee memeluk lengan Oh Lian, sengaja melekat sampai dadanya menempel dan Gia bisa melihat itu dengan jelas.
“Dia anak buahku di perusahaan yang baru.”
__ADS_1
“Ooh ....”
“Eichi, kita harus segera pulang,” ucap Gia kesal, tak ingin lagi berurusan dengan Oh Lian.
“Tunggu!” Eichi tiba-tiba saja meraih tangan Gia lalu menggenggamnya erat.
“Kenapa?” Gia menahan kesal.
“Berhubung kita sudah ada di sini dan ini hari minggu pas sekali ada manajer juga bagaimana kalau kita double date?”
Gia menatap tajam Eichi, sementara Oh Lian tengah menatap Gia dengan pandangan penuh arti namun ekspresi wajahnya datar.
“A–apa kau bilang?” Gia terkejut. “Eic–“
“Sssst, tenang saja ... kau ingin memastikan sesuatu bukan? Ikuti saja aku,” bisik Eichi.
“Tapi kenapa–“
“Sudah kau tenang saja.”
Ghm! Dehem Oh Lian kesal setelah melihat interaksi antara Eichi dan Gia begitu intim. “Baiklah, aku terima tawaranmu ... kebetulan aku sangat lapar.”
“Yeee, Oh Lian. Benarkah kau menerima tawaran double date mereka?” Sara Lee penasaran.
“Hmm!” gumam Oh Lian.
Mereka akhirnya berjalan menuju ke sebuah caffe yang paling dekat.
Sepanjang jalan, Oh Lian yang berjalan di belakang selalu memperhatikan gerak-gerik Gia. Keningnya langsung berkerut saat melihat Eichi menggandeng tangan Gia.
“Kau bisa melepaskan tanganku? Kenapa sejak tadi kau menggandeng tanganku terus ... tanganku basah karena berkeringat Eichi!” Gia menggerutu.
“Sudah diam, tenang saja. Aku ingin melihat seperti apa reaksi manajer saat melihatnya.”
“Kau ini apa-apaan sih, jelas-jelas dia sekarang sedang bersama kekasihnya ... lalu untuk apa kau memastikan tentang sesuatu yang mustahil?”
“Karena feelingku selalu tepat.”
Mereka beradu mulut sepanjang jalan tapi dari cara penglihatan Oh Lian mereka berdua terlihat sangat dekat dan akrab.
“Hei, kenapa denganmu?” Sara Lee kebingungan ketika melihat ekspresi Oh Lian justru terlihat muram.
~♤~
Semua makanan sudah tersedia di meja. Mereka duduk berseberangan.
Sara Lee sibuk dengan dirinya sendiri, sementara Eichi sibuk mencerna gerak-gerik dan situasi yang terjadi di meja itu.
Sementara perhatian Oh Lian sejak tadi tak pernah beralih dari Gia yang selalu menghindari tatapan matanya.
“Menyebalkan, kenapa dia selalu menatapku?” batin Gia. Meski tak sekalipun menatap kearah Oh Lian, Gia bisa merasakan kalau lelaki itu sejak tadi menatap dirinya. “Padahal kekasihnya duduk di sana, tapi dia tak takut ketahuan kekasihnya kalau terus menatapku sejak tadi,” batin Gia.
Dugh!
Gia membulatkan mata ketika Oh Lian menendang kakinya di bawah meja.
“Apa yang sedang kau pikirkan? Keningmu terlihat berkerut,” ucap Oh Lian.
Gia melirik sekilas Sara Lee, takut wanita itu akan berpikir aneh tentang dirinya tapi ternyata dia tengah asyik sendiri dengan ponselnya. “Manajer, kenapa kau menendang kakiku?” bisik Gia dengan keras sembari menggertakkan gigi.
“Kau terlihat tidak nyaman duduk di sini?” Oh Lian semakin menjadi.
Ghm! “Eichi, aku ke toilet sebentar.” Gia beranjak dari kursi melangkah pergi.
“Uhm baiklah.” Eichi melirik Oh Lian yang ternyata ikut beranjak pergi mengejar Gia.
“Ke mana perginya Oh Lian?” Sara Lee baru menyadari kalau Oh Lian tak ada di kursinya.
“Dia ke toilet.”
~♤~
“Manajer!” Gia terkejut bukan main ketika Oh Lian menariknya masuk ke dalam toilet laki-laki. “Apa yang sedang kau lakukan, menyingkir aku harus segera keluar!” Gia sampai harus berbisik ketika berucap, takut suaranya terdengar sampai keluar. Beruntung di toilet tersebut tak ada seorang pun.
“Apa kau menghindariku?” Oh Lian berdiri di depan pintu, agar Gia tak bisa keluar.
“Aku, tidak. Kenapa aku harus menghindarimu. Sekarang biarkan aku keluar manajer!” Gia mulai panik
“Lalu kenapa wajahmu di tekuk seperti itu sejak tadi?” Oh Lian melangkah, mendekat. Membuat Gia semakin tidak nyaman dan menghindar.
__ADS_1
“Manajer aku harus segera keluar dari sini sebelum ada orang lain masuk.”
“Biarkan saja, aku tidak peduli.”
“Manajer, kenapa kau jadi seperti ini. Menyebalkan, manajer ... sebenarnya ada apa denganmu. Di luar ada kekasihmu tapi kau masih berani menggangguku?”
“Kekasih?”
“Iya!” sahut Gia. “Kalau saja wanita itu tahu kekasihnya membawa masuk perempuan lain ke toilet laki-laki apa yang akan dia pikirkan tentangmu?“
“Aku tidak peduli, tapi bagaimana denganmu?” sahut Oh Lian memotong pembicaraan.
“Aku? Kenapa denganku memangnya?” Gia kebingungan.
“Kau kencan dengan Eichi tapi di otakmu kau sedang memikirkan lelaki lain.”
“A–apa yang sedang kau bicarakan manajer? Aku tidak mengerti maksudmu. Menyingkir dari hadapanku aku harus pergi.”
“Aku tidak akan pergi sebelum kau bilang kalau kau tidak marah lagi.” Tangannya mencengkeram lengan Gia.
Gia terdiam. “Marah?”
“Hmm, mengenai ucapanku kemarin, kau masih marah, kan?”
Ceklek!
Mendengar suara pintu dibuka dari luar, Gia membulatkan mata. “Ada orang manajer!” guamnya panik.
Oh Lian menarik lengannya, membawa Gia masuk ke salah satu toilet dan menutup pintunya.
“Aneh, perasaan aku tadi sempat mendengar orang berbicara ... kenapa tidak ada orang di sini.” Eichi mencuci tangan di wastafel. Ghm! “Manajer ... apa kau di dalam?”
Gia dibuat jantungan, matanya membulat nyaris keluar mengetahui yang datang ke toilet saat itu adalah Eichi. “Bagaimana ini jika Eichi melihat aku berada di dalam toilet bersama manajer?”
Bukan karena apa, tapi Gia tak bisa menahan malu pastinya.
“Manajer apa kau mendengar suaraku?”
“Be–“ ucapan Oh Lian terhenti karena Gia tiba-tiba menutup bibir menggunakan tangan.
Ssht! Gia meminta Oh lian diam.
Punggungnya merendah, Oh Lian tersenyum tipis lalu berbisik di telinga. “Kalau aku diam, Eichi akan curiga karena dia tahu aku sedang berada di toilet.”
Gia merona, pipinya merah padam karena posisi mereka benar-benar sangat dekat seperti sedang berpelukan hingga saling menempel tak ada jarak.
“Manajer?” Eichi berseru lagi.
“Berisik, kau bisa diam. Membuat konsentrasiku buyar!” seru Oh Lian.
“Oh, aku sampai lupa. Kekasihmu itu bilang dia harus pergi karena ada keperluan.”
“Biarkan saja dia pergi. Aku tidak peduli.”
Gia yang mendengar hanya tersenyum sinis. Dih! “Pura-pura sok tidak peduli, padahal sejak tadi nempel teroosss!” batin Gia.
“Kau cemburu?” bisik Oh Lian.
Gia merinding karena bibir Oh Lian menyentuh daun telinganya. “Manajer!” Gia menghadiahi pukulan di perutny.
Ugh! “Perutku.”
“Mnajaer kau baik-baik saja?”
Tok tok tok!
“Manajer aku mendengar kau kesakitan.”
“Jangan hiraukan aku, pergilah.”
Klotak!
Tanpa sengaja Eichi menjatuhkan ponselnya tepat persis di bawah pintu toilet di mana Oh Lian dan Gia berada.
Perhatian mereka berdua langsung tertuju ke ponsel milik Eichi.
Wajah Gia pucat, jika sampai Eichi mengambil ponselnya dia pasti akan ketahuan karena melihat kakinya. “Manajer, bagaimana ini?”
Sialnya Oh Lian malah tersenyum senang.
__ADS_1