Hamil Anak Presdir

Hamil Anak Presdir
34. Perdebatan


__ADS_3

“Sebenarnya tidak perlu ada yang dikhawatirkan. Beruntung Anda segera membawa Istri Anda kemari. Saya sudah menyuntikkan antibiotik. Saya juga sudah menyesuaikan obatnya sesuai kebutuhan ibu hamil. Saya juga tidak menyangka jika kandungannya sangat kuat. Anda sangat beruntung karena janin di dalam perut Istri Anda selamat.”


“Tunggu!” sahut Lian. “Dokter, biarkan aku berpikir sebentar.” Lian terkejut setengah mati mendengar penjelasan dari dokter. “Hamil? Janin? Kandungan ... apa maksud semua ini?”


“Tuan, Anda baik-baik saja?” Dokter kebingungan melihat wajah Lian pucat.


Setelah menghela napas panjang, Lian melanjutkan lagi kalimat yang masih mengganggu pikiran. “Maaf, Dokter. Tapi bolehkah aku mengetahui penyebab pendarahan yang terjadi pada Istriku?” Tak mungkin bagi Lian mengatakan kepada dokter jika dia bukanlah Suami dari Gia.


“Mungkin Istri Anda salah mengonsumsi obat, atau kelelahan. Saya sedang menyuruh perawat untuk melakukan pemeriksaan pada sampel darahnya. Mungkin beberapa jam lagi hasilnya akan keluar.”


“Salah minum obat?”


“Saya belum berani berspekulasi ... tapi pada kebanyakan kasus seperti ini, pendarahan saat hamil muda biasanya dipicu oleh karena sang pasien meminum obat dengan dosis tinggi.”


~♤~


“Ada yang ingin aku bicarakan denganmu, Presdir.”


Ucapan Gia semalam melintas di benaknya. Lian berdiri di sudut ruangan, menatap tajam tubuh Gia yang tergeletak di ranjang.


Selang infus masih terhubung ke tangan kanannya. Sampai saat ini, Gia juga belum sadar.


Bibirnya menipis, tangannya memijat kening. Lian berpikir keras apa yang sebenarnya terjadi pada Gia. “Hamil?” gumamnya.


Kejadian malam panas di penginapan membuat Lian yakin jika Gia hamil karena perbuatannya. Apa lagi pada saat dia terbangun di pagi hari, melihat bercak di seprei membuat Lian semakin yakin jika malam itu adalah pertama kalinya bagi Gia berhubungan dengan seorang lelaki.


“Umur kandungan Istri Anda memasuki minggu kedua.”


Ucapan dokter semakin membuat Lian yakin jika Gia mengandung anaknya.


“Dua minggu? Kenapa selama itu dia tidak mencoba memberitahu padaku tentang kehamilannya?” Lian teringat akan hubungan Gia dengan Juan, terlebih lagi malam pesta saat Gia memilih pergi dengan Juan membuat Lian yakin jika Gia ingin menyembunyikan kehamilannya.


Lian bergerak mendekat, berdiri di tepi ranjang menatap wajah pucat Gia. “Why?” ucapnya lirih. “Dua minggu bukankah waktu yang cukup untuk mengatakan padaku jika kau sedang hamil? Apa yang sedang kau rencanakan, Gia?”


Tok, tok, tok!


Perhatian Lian teralihkan ke pintu.


Seorang perawat masuk membawa sebuah amplop di tangan. “Permisi, Tuan. Saya membawa hasil tes darah dari Istri Anda.”


“Terima kasih.” Lian mengambil alih amplop tersebut.


“Kalau begitu saya permisi.”


Secara tak sabar Lian membuka amplop tersebut, membaca tulisan di sana sedetail mungkin tanpa ada yang terlewat.


Perhatiannya tertuju pada sebuah nama asing yang terkandung dalam obat yang di minum oleh Gia. Setelah mengambil ponsel, Lian kemudian menghubungi Lee.


“Halo, Tuan?” sahut Lee dari seberang.


“Aku mengirim email padamu. Cari tahu tentang xXx dan segera hubungi aku.” Lian mematikan panggilan. Sorot matanya tajam tertuju ke Gia.


~♤~

__ADS_1


Lian meninggalkan Gia di rumah sakit, sementara dirinya kembali ke hotel untuk memastikan sesuatu.


“Di mana kau menyimpannya?” gumam Lian setelah berhasil masuk ke dalam kamar Gia. Tak peduli semuanya menjadi berantakan, Lian hanya ingin mencari keberadaan obat yang dimaksud oleh dokter.


Dreeet!


Pesan masuk dari Lee.


Cepat-cepat Lian membuka dan membaca tentang artikel yang dikirim oleh Lee. Matanya menajam, merah sampai berkaca.


Di sana tertulis jelas jika kandungan obat yang diminum Gia sangat berbahaya untuk janin. Lebih tepatnya obat untuk menghancurkan janin atau obat untuk mengguugurkan kandungan.


Sil! Umpat Lian. Langkahnya tepaku melihat nakas di samping ranjang. Segera dia membuka dan memeriksa isinya.


Ada beberapa obat di sana, tapi ada satu botol yang menarik perhatiannya.


Deg!


Brugh! Lian jatuh duduk di atas karpet, bersandar ke ranjang.


Setelah membaca tulisan di botol tersebut, Lian yakin jika itu adalah obat yang dimaksud.


“Gia ... kenapa?” Lian meremas botol obat di tangan. Mencoba tenang, berpikir positif bahwa apa yang ada di pikirannya saat itu tidak benar. “Tidak, itu tidak mungkin. Tidak mungkin kau melakukan ini ... kenapa, kenapa kau ingin menghilangkan janin di dalam perutmu?”


Lian tertunduk lesu, memejamkan mata menenangkan diri. “Sebenci inikah ... sampai-sampai kau ingin menghilangkan nyawa anakku?”


Lumayan lama Lian tertunduk di sana, setelah merasa tenang dia mengembalikan obat ke tempat semula. Tak lupa menghubungi pihak hotel untuk membereskan kekacauan serta mengganti seprei yang terdapat bercak darah.


~♤~


Ngh–


Suara lenguhan terdengar, Gia akhirnya sadar.


“Kau sudah sadar?” Suara berat Lian menarik perhatian Gia. Sejak kembali dari hotel dia duduk di kursi, menatap tajam wajah Gia dengan kedua tangan bersedekap. Tak bergerak sesikitpun, sengaja menunggu Gia sadar dari pingsan.


“P–presdir ... ini di mana?”


“Rumah sakit.”


“Ha? Apa yang terjadi padaku?” Perlahan beranjak duduk.


“Kau bertanya padaku?” ucap Lian, tenang. Tak sedikit pun amarah yang tertahan di dada nampak di wajahnya. “Seharusnya aku yang bertanya padamu. Kenapa kau bisa sampai pingsan saat tidur.”


“Aku ... pingsan?” Gia kebingungan. “Seingatku semalam aku menunggumu untuk melanjutkan pembicaraan tapi, sepertinya aku tertidur di sofa.” Menatap tangannya yang dipasang infus. “Kenapa aku bisa pingsan?” batinnya. “Oh iya, Presdir. Pertemuannya?


“Aku sudah menyuruh Tuan Lee untuk menunda.”


“Maaf, gara-gara aku ... acaramu jadi kacau seperti ini.”


“Gia! Tidak adakah yang ingin kau sampaikan padaku? Tentang semalam, apa yang ingin kau bicarakan?” Tatapan Lian tajam penuh mengintimidasi.


“E, tentang semalam ... itu, sebenarnya,” ucapnya terhenti. Gugup untuk memulai pembicaraan yang lebih intim.

__ADS_1


“Katakan, aku menunggu.” Lian sangat tegas, benar-benar menahan marah.


“Aku, aku hamil ... Lian.”


Hening, tak ada yang berubah dari ekspresi Lian. Diam, tenang tapi sangat mengintimidasi.


“Aneh, kenapa ekspresinya seperti itu? Atau jangan-jangan–“


“Bagaimana caranya agar aku yakin jika bayi yang kau kandung itu anakku?”


Deg!


“Karena aku tidak melakukan itu dengan lelaki lain selain dirimu, malam itu di penginapan ... itu yang pertama untukku.”


Lian tahu itu, tanpa Gia menjelaskan pun dia sangat yakin jika Gia mengandung anaknya. Hanya saja, dia ingin sekali mendengar tentang kehamilan itu dari mulutnya.


Mungkin jika tak ada kejadian Gia pingsan dan Lian harus menemukan kebenaran tentang obat itu, maka ini adalah momen bahagia untuknya.


Sayangnya, Lian merasa sangat kecewa dengan tindakan Gia.


“Berapa minggu?” tanya Lian, merujuk pada umur kandungannya.


“Mungkin dua minggu lebih.”


“Selama itu kau menyembunyikan kehamilan dariku?”


“Karena aku pikir ... Sara–“


“Kekasihku?” sahut Lian. “Kenapa dari dulu kau tidak pernah berubah, seharusnya kau cari tahu sebelum meyakini apa yang ada di pikiranmu.”


“Karena kau juga tidak menjelaskan jika Sara bukan kekasihmu!”


“Itulah sebabnya kenapa aku selalu mengatakan padamu, jangan pernah sibuk sendiri dengan pikiranmu. Katakan semua apa yang ada di dalam otakmu saat itu!” geram Lian.


“Kenapa marah!” sahut Gia.


“Karena–“ ucapnya terhenti. Lian menghela napas panjang. Melanjutkan perdebatan setelah merasa sedikit lega. “Seperti halnya aku yang selalu bertanya apa hubunganmu dengan Park Juan! Meski jawabanmu menyakitkan tapi setidaknya aku mengetahui jelas apa yang harus aku lakukan selanjutnya.”


Gia hanya diam.


“Lalu bagaimana jika pagi ini aku tidak menemukanmu pingsan di ranjang? Apa yang akan terjadi selanjutnya? Aku curiga karena memang sejak awal kau ingin menyembunyikan kehamilanmu.”


“Iya, awalnya memang seperti itu!” Gia kesal. “Tapi, setelah semalam mendengar penjelasanmu tentang siapa Sara ... aku berniat memberitahu tentang kehamilanku.”


“Lalu, jika sampai akhir aku tidak memberitahu siapa Sara ... akankah kau tetap diam? Atau jangan-jangan, kau ingin mengguugurkan kandunganmu?”


Deg!


Gia terkejut setengah mati. “A, aku ....” Membiarkan kalimat yang belum selesai menggantung diudara.


“Tidak, Gia. Kali ini kau tidak akan bisa lagi mencelakai calon anakku. Selama bayi itu belum lahir ... kau akan berada di bawah pengawasanmu!” batin Lian.


Mengambil ponsel menghubungi Lee. “Halo, Tuan Lee. Segera temui Nyonya Luciella. Katakan padanya untuk melengkapi berkas yang aku minta. Sampaikan juga padanya, aku akan menikahi putrinya di Milan. Malam ini!”

__ADS_1


__ADS_2