Hamil Anak Presdir

Hamil Anak Presdir
22. Menjemput Gia


__ADS_3

Kepalanya masih pusing, efek alkohol masih menguasai tubuhnya.


Setelah membersihkan diri, Gia melangkah keluar. Mengendap-endap penuh waspada. Meraih pakaiannya yang berserakan di lantai.


Ngh~


Mendengar lenguhan Oh Lian, Gia terpaku menatap tubuh lelaki yang tengah tidur tengkurap di atas ranjang.


Dadanya berdebar, takut kalau-kalau Lian akan terbangun. Sembari sesekali mengusap matanya yang basah, Gia cepat-cepat mengenakan pakaian.


Melangkah menuju nakas di samping ranjang, mengambil ponselnya. Terdiam sesaat ketika menatap punggung Lian penuh tanda merah panjang seperti bekas cakaran.


“Ahh~ hah, hah ... lian ....”


Suara rintihan menggelikan itu melintas di benaknya, Gia sadar bahwa tanda merah akibat bekas cakaran kuku itu akibat ulahnya.


“Lian, bodoh!” umpatnya dengan suara tertahan. Gia lantas pergi meninggalkan tempat itu.


~♤~


Pagi menjelang, Lian akhirnya terbangun.


Ugh!


Kepalanya terasa berat, perlahan membuka mata lalu beranjak duduk di atas ranjang. “Apa yang aku lakukan di sini?” gumamnya ketika sadar mendapati dirinya tak berada di kamar tapi di ruangan asing.


Tubuhnya terpaku saat hendak turun dari ranjang, menyadari dirinya telah telanjang bulat tanpa mengenakan apa pun. “Di mana pakaianku?” Perhatiannya tertuju ke lantai. “Apa yang terjadi semalam?”


Huuuft! Kedua tangannya meremas rambut, berusaha mengembalikan kewarasan dan mengingat apa yang terjadi semalam.


Mmh~ hah, hah....


“Your so tight, aku menyukainya ugh~”


Ingatan di mana dirinya men¡duri seorang gadis melintas, tapi Lian tak begitu jelas mengingat wajahnya.


“Sial! Apa yang aku lakukan?”


Dreeet!


Perhatiannya tertuju ke ponsel miliknya yang tergeletak di lantai.


Sara Lee memanggil.


Lian tak mengangkatnya, hanya melirik sekilas lalu beranjak dari ranjang menuju ke kamar mandi.


Suara gemercik air yang menghujani tubuhnya membawa ingatan Lian kembali mengingat kejadian semalam.


Aah~ ngh~


Dirinya tengah menikmati tubuh Gia dengan meninggalkan jejal merah serta basah, membuat hasratnya semakin bergejolak tinggi. Dalam ingatan, bayangan wajah Gia sangat berbayang tak terlihat jelas.


Lian tak memberinya jeda untuk istirahat, dia membolak balik tubuh Gia bahkan menekuk lalu mengangkatnya.


Dalam keadaan mabuk saja Lian menjadi seliar itu, bagaimana jika posisinya tadi malam dia sadar? Bisa dipastikan Gia tak mampu berjalan pagi harinya.


Namun sialnya, Lian masih berusaha keras mengingat jelas wajah perempuan yang semalam dia tiduri.


“Gia, Gia ... tidak salah lagi itu pasti Gia!” Cepat-cepat Lian mematikan keran shower.


~♤~


“Ke mana saja kau semalam? Aku menghubungimu tapi kau tidak menjawab panggilanku?” Sara Lee mengikuti ke mana pun Lian melangkah.


“Aku ada acara makan malam dengan karyawan.” Lian duduk santai di kursi, memeriksa dokumen pekerjaan.


“Kau sudah janji akan menemaniku menemui dokter, pembohong!” Sara kesal, duduk di meja menghadap ke Lian.

__ADS_1


“Lalu, apa kata dokter?” Lian menutup map, mengalihkan perhatian ke Sara.


“Dokter bilang, aku sedang hamil. Usia kandunganku sudah masuk tiga minggu.”


Huuuft! Lian menghela napas panjang. Memejamkan mata berpikir keras. “Lalu apa sekarang rencanamu?”


“Aku tidak tahu, aku takut ayahku marah jika mengetahui hal ini ... Lian, kita harus membicarakan hal ini bersama dengan ayahku.”


“Baiklah, aku akan mengurus semuanya. Sekarang kau pulanglah ... aku masih pekerjaan yang harus di urus.”


Setelah Sara meninggalkan ruangan itu, Lian mengambil rokok lalu menyalakannya.


Ssshhhh, huuuuuuft ....


Dia berdiri di sisi kaca yang membentang luas, di mana di sana Lian bisa melihat pemandangan kota dari atas.


Mengambil ponsel dari saku jas untuk menghubungi Tuan Lee.


“Halo?” sahut Lian saat panggilan tersambung. “Kau sudah menyiapkan dokumen yang aku minta?” tambahnya. “Kita bertemu di persimpangan jalan, aku akan mengurus sisanya.”


Lian pergi mengendarai mobil menuju ke tempat tinggal Gia yang baru, tapi nyatanya gadis itu tak ada di sana.


“Permisi, Tuan. Apa kau mencari penyewa baru yang belum lama pindah kemari?” tanya seorang ibu-ibu, pemilik kontrakan.


“Iya.”


“Oh, kebetulan tadi pagi sebelum meninggalkan tempat ini dia sempat berpamitan padaku. Dia tidak tinggal di sini lagi, dia juga sudah mengembalikan kunci rumahnya padaku.”


Lian terdiam sejenak. “Apa dia bilang akan pindah ke mana?”


“Tidak, dia hanya bilang kalau dia akan pulang ke kampung halamannya.”


“Terima kasih, kalau begitu aku permisi.”


Tanpa berpikir panjang, Lian mengendarai mobilnya menuju ke desa tempat kelahiran Gia Luciella.


Tak begitu buruk, tak seperti desa-desa pada umunya karena di sana lumayan modern.


Banyak mini market dan juga gedung tinggi meski tak setinggi di kota.


Mobilnya berhenti tepat di lampu merah, Lian melirik CV milik Gia yang berada di kursi samping. Namun tanpa sengaja dia justru melihat pemandangan yang tak pernah diduga sebelumnya.


Di seberang jalan sana, Lian melihat Gia tengah menikmati waktunya di sebuah kedai kopi bersama lelaki yang tak asing di mata.


Ya, dia adalah Pak Juan.


Ekspresi wajahnya tak terbaca, datar namun kedua tangannya menguat saat meremas setir mobil.


Akhirnya, Lian memutuskan untuk tetap menuju ke rumah Gia.


Di sisi lain, Gia dan Juan tengah asyik mengobrol.


“Terima kasih karena sudah mengizinkan aku mengantarmu pulang.” Juan menyesap kopinya.


“Seharusnya aku yang berterima kasih.” Pikiran Gia masih dipenuhi dengan Lian, belum lagi tentang kejadian semalam.


“Serius Gia, aku benar-benar senang bisa dekat denganmu lagi. Aku sudah membicarakan hal ini pada kedua orang tuaku ... dan mereka setuju untuk bertemu denganmu.”


“Juan ...,” sahut Gia kebingungan, tak menyangka Juan akan secepat itu bergerak untuk mendapatkan kembali dirinya. “Maaf ....”


“Tidak Gia, jangan minta maaf. Apa pun yang terjadi ... saat ini aku siap memperjuangkanmu.”


Miris, Gia merasa sedih atas semua apa yang terjadi akhir-akhir ini.


“Besok malam aku akan datang mengunjungimu, ayah dan ibu ingin bertemu denganmu. Bagaimana ... apa kau keberatan?” Park Juan penuh harap.


Sesaat Gia diam, memikirkan ucapannya. “Aku akan menghubungimu besok ... aku akan memberimu kabar.”

__ADS_1


Park Juan mengantar Gia pulang ke rumahnya.


“Kita sudah sampai ... oh, sepertinya di rumahmu sedang kedatangan tamu.”


Perhatian Gia teralihkan ke mobil yang terparkir di depan rumah. “Lian?” gumamnya dalam hati setelah mengetahui siapa pemilik mobil tersebut. “Apa yang sedang dia lakukan di sini?” tambahnya dalam hati.


“Gia, aku akan mengantarmu ke dalam.” Juan telah melepas sabuk pengaman.


“Tidak, uhm ... tidak perlu. Sampai di sini saja, lagi pula kau juga harus segera kembali ke kota. Ini sudah sore dan sebentar lagi gelap.”


“Begitukah? Oke, baiklah aku pulang. Jangan lupa hubungi aku.”


Gia turun dari mobil. “Hati-hati di jalan.” Langkahnya ragu saat ingin masuk ke dalam rumah.


Hahaha ....


Mendengar tawa riang adik laki-lakinya, Gia terdiam sesaat. “Apa yang sedang mereka lakukan?”


“Gia?” sapa ibunya, melihat putrinya berdiri pintu. Nyonya Luciella beranjak dari sofa menghampiri Gia. “Kenapa kau tidak menghubungi Ibu kalau kau ingin pulang?”


Perhatian Lian tertuju ke Gia yang tengah berjalan masuk ke ruang tamu. Hening, suasana di antara mereka sangat canggung.


“Lihatlah, atasanmu sampai datang kemari. Memangnya kau tidak meminta ijin sebelum pulang? Kasihan Tuan Oh Lian sampai datang jauh-jauh karena khawatir denganmu.” Nyonya Luciella memaksa Gia duduk di sofa yang berseberangan dengan Lian. “Sayang, Demian ... bisa ikut Ibu sebentar ke belakang?”


“Baik, Bu.” Demian dan ibunya pergi meninggalkan mereka berdua di ruang tamu.


~♡~


Lian masih diam, duduk santai bersedekap menatap mata Gia yang sejak tadi terus menghindar.


Ghm! “Katakan apa tujuanmu datang kemari?” Gia memulai pembicaraan. Duduknya tak nyaman karena Lian terus menatap dirinya dengan tatapan liar.


“Apa kau berencana menetap di sini?”


“Itu bukan urusanmu!” sahut Gia.


“Itu jelas menjadi urusanku karena kau masih terikat kontrak kerja dengan perusahaanku!” Lian tak mau kalah. Suaranya rendah karena tak didengar oleh Nyonya Luciella.


“Jelas-jelas aku sudah mengundurkan diri, kau sendiri yang menerima surat pengunduran diriku.”


Lian mengambil berkas yang dia letakkan di sisi kursi lain kemudian memberikannya kepada Gia.


“Buka dan baca sendiri tentang perjanjian kontrak kerjamu.”


Tanpa basa-basi, Gia mengambil map dari meja dan membacanya. “Dua ratus lima puluh juta? Bukankah ini keterlaluan?”


“Tentu saja perusahaan tidak ingin rugi. Kau tidak perlu bersusah payah membayar dendanya asal kau kembali bekerja besok.”


“Aku tidak bisa!” sahut Gia.


“Lalu bayar dendanya sekarang!” Itu hanya akal-akalan Lian untuk mengikat Gia agar tak bisa lepas dari dirinya. Dia sangat tahu kalau Gia tak mungkin sanggup membayar denda yang dia tetapkan.


Napasnya memburu, Gia menahan diri agar tak lepas kendali. Dari mana dia bisa mendapat uang sebesar itu dalam semalam?


Bisa saja dia meminta tolong kepada Park Juan, tapi itu tidak mungkin Gia lakukan.


“Gia?” Suara Lian mengejutkan, membuat Gia tersadar dari lamunan.


“Ha?”


“Semalam ... apakah itu kau?” Pertanyaan Lian mengacu pada malam panas di penginapan.


Kedua tangannya meremas kuat, kesal. Bagaimana bisa Lian tidak mengenali dirinya malam itu. Menahan diri agar tidak mengumpat, Gia sampai menggertakkan gigi. “Maaf, apa yang sedang kau bicarakan?”


Deg!


Lian terkejut bukan main mendengar jawabannya. “Tidak mungkin, aku tidak mungkin salah! Aku yakin ... semalam perempuan yang ada di penginapan itu adalah dirimu!” batin Lian, menatap tajam mata Gia.

__ADS_1


__ADS_2