
“Tenangkan dirimu.” Setelah membuka tutupnya, Oh Lian memberikan sebotol minuman kepada Gia. “Aku akan meminta Tuan Lee untuk memeriksa apakah barang-barangmu ada yang hilang atau tidak.”
“Sebelumnya terima kasih, manajer.” Gia masih bergetar ketakutan. “Ini tidak pernah terjadi sebelumnya.”
Anehnya, melihat Gia ketakutan ekspresi Oh Lian justru berbeda. Raut wajahnya datar bibirnya senyum tipis. Tak ada sedikit pun rasa khawatir. “Mengenai tawaranku sebelumnya, aku serius. Kau bisa pindah ke apartemenku sementara waktu.”
“Aku tidak mungkin merepotkanmu manajer.”
“Tenang saja, aku sama sekali tidak repot. Aku tinggal di rumah orang tuaku jadi apartemen itu kosong. Kau tidak perlu khawatir.”
“Aku akan pikirkan nanti manajer, tapi untuk sementara waktu sepertinya aku akan menginap di rumah Jenni.”
“Jenni?” Oh Lian terdiam.
“Iya, kebetulan akses menuju ke kantor dari rumah Jenni juga dekat.”
Ekspresi wajah Lian langsung berubah, seolah tak suka mendapat penolakan dari Gia. Tapi Oh Lian mampu mengendalikan diri. “Kemarikan ponselmu,” pintanya.
Tanpa berpikir Gia memberikan ponselnya.
Oh Lian menyimpan nomornya di sana. “Aku akan mengantarmu ke rumah Jenni, jika sesuatu terjadi kau bisa menghubungiku. Aku sudah menyimpan nomorku.”
Oh Lian kemudian menyalakan mobilnya. Mengantar Gia ke tempat Jenni.
~♤~
Dreeet!
Ponsel Gia bergetar, dia harus bersembunyi ketika membuka ponsel karena posisinya sekarang dia berada di ruang rapat. Membaca notif masuk dari E Banking membuat Gia terkejut. “Astaga!!”
“Kenapa?” Jenni yang duduk di sampingnya pun penasaran.
“Tidak apa-apa.” Fokus Gia kembali ke ponsel, memastikan siapa pengirim uang itu ke rekeningnya. “Oh Lian?” gumamnya dalam hati. Perhatian Gia langsung tertuju pada Lian yang duduk di ujung meja.
Mata mereka bertemu, Oh Lian tersenyum tipis mengerlingkan satu matanya.
Dreeeet!
Kini giliran Oh Lian membaca pesan masuk dari Gia.
“Kenapa manajer?” Isi pesan itu.
Oh Lian membalas pesannya. “Kenapa apanya?”
Mereka pun berbalas pesan di tengah rapat.
“Apakah itu kurang?”
“Manajer apa kau sudah kehilangan akal sehatmu?”
“Mungkin.”
“Untuk apa mengirim uang sebanyak itu?”
“Menurutku tidak ada yang salah.”
“Tapi setidaknya kau jelaskan padaku kenapa kau mengirim uang itu padaku?”
“Kalau kau ingin tahu, temui aku setelah rapat selesai di ruanganku.” Oh Lian kemudian melempar senyum ke Gia.
~♤~
Tok, tok, tok!
Setelah mengetuk, Gia membuka pintunya. “Manajer?”
Oh Lian tersenyum, menutup map yang baru saja di baca. “Kau benar-benar penasaran sepertinya.”
“Manajer, kau mengirim uang itu apa karena kasihan padaku? Jika benar ... maka terpaksa aku akan mengembalikan uangnya padamu.”
“Tenang Gia, uang itu sebagai ganti biaya yang kau gunakan untuk membayar kemejaku kemarin.”
__ADS_1
“Tapi itu terlalu banyak manajer!”
“Akhir bulan masih lama ... kau juga belum gajian, kau bilang ingin mencari kontrakan baru, kan? Lebih cepat keluar dari rumah Jenni itu lebih bagus.”
“Tapi–“
“Aku tidak suka penolakan!”
Benar ucapan Lian, Gia belum gajian dan dia harus mengirim uang ke ibunya belum lagi harus mencari tempat tinggal baru. “ Baiklah, tapi aku akan mengembalikan uangmu nanti setelah aku gajian.”
Oh Lian terpaku, tak menyangka dengan jalan pikiran Gia. Dia beranjak dari kursi melangkah mendekat, bersandar di meja tepat di depan Gia. “Tak ada yang berubah darimu sedikit pun, kau masih saja keras kepala.”
Gia terdiam mencerna ucapan Oh Lian. “Apa maksud ucapan manajer?” batinnya.
“Mendekatlah,” ucap Oh Lian mengulurkan tangan.
Gia tampak ragu, sementara pikirannya meracau ke mana-mana setelah Lian memintanya mendekat sementara dia sadar saat ini mereka berada di tempat kerja.
Tak sabar, Oh Lian menarik lengan Gia. “Apa sulitnya menurut?” Tangannya menarik dagu Gia. Bahu Oh Lian membungkuk mendekatkan wajahnya.
“Manajer?” Kedua tangan Gia berada di dada, sebagai jarak di antara tubuh mereka yang saling menempel.
“Apa kau tahu ... seberapa besarnya aku menahan diri sejak pertama bertemu denganmu?” Suaranya berat, membuat suasana berubah seketika. Ekspresi Oh Lian seperti binatang buas yang ingin segera melahap mangsanya.
Glek!
Jakunnya bergerak naik turun saat menelan saliva, Oh Lian tak tahan melihat bibir mungil Gia yang menggoda.
“Manajer ... aku harus kembali kerja.” Gia mencoba melepaskan diri tapi Oh Lian justru menguatkan pelukannya.
“Masih ada waktu dua menit.”
“He?” Gia dibuat terkejut saat Oh Lian menyambar bibirnya.
Tak seperti ciuman sebelumnya, Gia merasa Oh Lian semakin buas. Tubuhnya sampai terdorong, Gia tak mampu melawan, kedua tangannya mencengkeram jas yang dikenakan Oh Lian.
Kakinya perlahan bergerak tertatih ke belakang karena dorongan tubuh Lian, terus ke belakang menjauhi meja hingga membentur pintu membuat Gia tak bisa bergerak.
Oh Lian tak memberinya kesempatan untuk bernapas. Bahkan dirinya merasa tak mampu mengendalikan diri ketika berhubungan dengan Gia.
Seharusnya Oh Lian tidak mencium bibirnya malam itu ketika di mobil, seharusnya Oh Lian bisa menahan diri sampai sejauh ini tapi kali ini dia tak mampu lagi. Nalurinya sebagai lelaki terkalahkan oleh ego yang selama ini dia tahan.
Matanya terbuka, menatap mata Gia yang tertutup rapat. Napas panas dan terdengar kasar menguar di sekitar wajah. Tanpa sadar, tangannya bergerak turun perlahan menuju ke dada. Membuka satu kancing kemeja yang Gia kenakan.
Refleks Gia menunduk hingga bibirnya yang sedang di cercap oleh Oh Lian terlepas. Hah, hah, hah! Napasnya memburu. “Manajer!” Gia meraih tangannya.
Oh Lian tersenyum.
Tok, tok, tok!
Gia panik, posisinya kini berada tepat di balik pintu. Tak bisa beranjak pergi karena Oh Lian mengurung tubuhnya.
Melihat kepanikan di wajahnya, Oh Lian justru sengaja membuka pintu.
“Tuan–“ ucap Tuan Lee terhenti ketika Oh Lian memberi syarat dengan menggelengkan sedikit kepalanya.
Perhatian Tuan Lee beralih ke Gia yang tengah tertunduk di balik pintu.
Tuan Lee menundukkan kepala sebagai tanda bahwa dia paham, mengurungkan niatnya masuk ke dalam dan memilih berdiri di depan pintu.
Oh Lian menutup pintunya kembali. “Malam ini kau ada waktu?” ucapnya kepada Gia.
“He, oh ... aku malam ini dan Jenni ada janji.”
Oh Lian terdiam, ekspresi wajahnya tak terbaca. “Janji ....”
“Tidak mungkin ‘kan aku mengatakan pada manajer kalau kita akan pergi nonton? Lagi pula hubungan di antara kita saja belum jelas. Tapi, anehnya kenapa aku bisa lemah seperti ini, kewaspadaanku tiba-tiba menghilang setiap kali dia menciumku. Harusnya aku tidak boleh membiarkan ini!” gumam Gia dalam hati.
“Oke, kembalilah bekerja. Aku akan menghubungimu nanti.” Tangannya terulur mengusap rambut Gia lembut.
Gia melangkah keluar, tubuhnya terpaku saat berpapasan dengan Tuan Lee di sana. Gia menundukkan kepala. “Permisi.”
__ADS_1
“Tunggu Nona,” sahut Tuan Lee ketika Gia hendak melangkah pergi.
“Ya?”
Tuan Lee mengeluarkan sapu tangan dari jas lalu memberikannya kepada Gia. “Maaf, Anda bisa menggunakannya untuk membersihkan lipstik Anda yang berantakan.”
Gia ternganga, pipinya langsung merona. “Sial, aku sampai lupa. Manajer ... kenapa dia tidak memberitahuku kalau lipstikku berantakan! Dia pasti sengaja melakukan ini,” geramnya dalam hati. “E, terima kasih.” Gia mengambil alih sapu tangannya.
“Dan kancing kemejamu Nona,” lanjut Tuan Lee.
Gia semakin dibuat malu. “Terima kasih.” Segera dia berlari mengambil langkah seribu.
Pfffttt! Tuan Lee terkekeh melihatnya.
~♤~
“Hah ... ini memalukan!” Gia sibuk membersihkan bibirnya di rooftop. “Apa yang sebenarnya yang aku lakukan? Aku tidak seharusnya lengah dan membiarkan manajer menciumku. Dia bilang aku bukan tipenya ... tapi kenapa selalu dia duluan yang menciumku?” gumam Gia. “Haaaa! Ini membuatku frustasi ... kenapa aku menyukai lelaki yang sudah memiliki kekasih? Tapi, aku tidak tahu bagaimana perasaan manajer padaku.” Ya, karena saat itu hanya Gia yang mengungkapkan perasaannya pada Oh Lian.
“Hei aku mencarimu, dari mana saja kau?” ucap Jenni memecah lamunannya.
“Dari ruangan manajer, kenapa kau mencariku?”
“Gi, manajer memarahimu lagi?” Jenni khawatir.
“Tidak.”
“Mana mungkin manajer memarahinya, yang ada kini justru di belai dan manja,” sahut Eichi.
“ Eichi!!” Gia kesal.
“Dibelai dan dimanja? Apa aku tidak salah dengar?” Jenni kebingungan.
“Haha ... aku bercanda.” Eichi melirik lalu mengerlingkan matanya ke Gia. “Aku dengar kalian mau pergi nonton? Ikut ya ....”
“Tidak, kau pasti merusak suasana!” sahut Jenni.
“Giaaaa, ayolaaaah aku ikut ya?” rengek Eichi.
“Iya-iya, tapi aku harus pergi mencari tempat tinggal baru dulu.”
“Oh iya, bagaimana ... apa pencuri itu sudah tertangkap?”
“Aku tidak tahu ... tapi anehnya tidak ada satu barangku yang hilang. Cctv juga tiba-tiba rusak jadi pemilik kontrakan tidak bisa memastikan pelakunya. Lima tahun aku tinggal di sana dan tempat itu aman-aman saja, kenapa sekarang jadi menyeramkan?”
“Itu pasti akan sulit,” sahut Jenni.
“Yang penting kau tidak kenapa-kenapa. Ayo kembali kerja sebelum manajer berubah menjadi reog!”
~♤~
“Kita jadi nonton, kan?” Eichi menyahut pembicaraan.
Mereka berdiri di depan lift menunggu pintu terbuka.
“Kau tidak diajak,” sahut Jenni.
Dih! “Gia ... kita nonton film apa?”
“Entah, aku juga tidak tahu jadwal penayangan film hari ini.”
“Kita nonton film horor,” ucap Jenni.
“Kenapa harus horor?”
Mereka berdua ribut mempermasalahkan akan nonton film apa, sementara Gia tengah fokus dengan pintu lift yang baru saja terbuka.
Deg!
Dadanya seketika nyeri, rasa panas menjalar ke seluruh tubuhnya saat melihat Sara Lee memeluk lengan Oh Lian di dalam sana.
Sekuat mungkin Gia menahan diri, mencoba tenang meski sadar dia cemburu tapi tak berhak marah.
__ADS_1