
Oh Lian bisa melihat mata Gia yang sembab namun enggan mempertanyakan keadaannya.
“Baiklah kalau begitu aku pergi dulu Lian.” Sara merapikan kerah jas yang dikenakan Lian sebelum melangkah pergi melewati Gia meninggalkan ruangan itu.
“Anda memanggil saya manaj–, ghm ... Presdir?” Gia masih menunduk, enggan mengangkat wajahnya.
Meski masih memikirkan kejadian kemarin, Oh Lian tetap berusaha keras profesional. Setelah mengambil map dan meletakkannya di meja, Oh Lian mendorongnya kearah Gia.
“Apa ini?” tanya Gia.
“Bukalah kau bisa membacanya.”
“Tunggu, promosi ini ... tapi ini bukan tugasku!” Gia terkejut saat melihat isi proposal tersebut.
“Mulai hari ini, ini menjadi tugasmu.”
“Tap–“ ucapnya terhenti, Gia memilih diam setelah melihat ekspresi wajah Lian yang menyebalkan.
“Kenapa, kau keberatan?” Salah satu alisnya terangkat.
Gia menyahut map dari atas meja. Menarik napas panjang lalu berucap, “Terima kasih ... aku akan segera menyelesaikan tugas ini sebelum jam makan siang!” Gia lalu melangkah keluar.
“Kita lihat, sampai mana kau bisa bertahan?” batin Lian.
~♤~
“Aku mohon Tuan, tidak ada salahnya untuk mempertimbangkan lagi.” Gia tengah berusaha keras melobi para petinggi untuk menerima kerja sama mereka.
“Nona ... aku rasa kau buang-buang waktu, apa kau tidak tahu kalau dari perusahaanmu sendiri yang telah memutuskan untuk tidak bekerja sama dengan kami dan menghentikan proyek iklan ini?”
Gia terpaku. “Apa maksud kalian?”
“Dengar, pagi ini Presdir dari perusahaanmu telah menghubungi tim kami untuk menghentikan proyek ini ... jadi untuk apa kau menjabarkan tentang semuanya?”
“Iya, lagi pula kau datang untuk melakukan promosi agar kami tertarik dengan proyek kalian? Apakah itu masuk akal ... sementara di sini Presdir kalian telah membatalkan proyek ini?” sahut lainnya.
“Benar, aku justru merasa kasihan padamu. Aku yakin kau bukan pegawai baru tapi kau diperlakukan seperti ini, apa kau tidak sadar kau sedang dipermainkan?”
“Presdirmu benar-benar gila! Kalau pun dia mau dia bisa menghubungiku tanpa harus mengirim kau seperti ini. Aku benar-benar tidak habis pikir dengan atasanmu. Dia mengerjaimu sampai seperti ini.”
~♤~
Hah!
Gia mendengus kesal, duduk di halte bus meremas proposal di tangan.
Kesal, sedih dan sakit hati. Itulah yang sedang dirasakan oleh Gia. Merasa rendah hingga tak berpikir panjang saat mendapat tugas dari Lian yang ternyata itu hanya permainan.
“Jadi, dia mengerjaiku lagi? Hah ... dia membuatku sampai memohon-mohon di depan semua orang untuk membodohiku. Sial, sepertinya kali ini tidak bisa di maafkan ... tapi aku tidak punya kekuatan untuk melawan.” Tanpa terasa Gia menitikkan air mata. “Aku tidak tahan lagi ... aku akan mengakhiri semua ini.”
Sesampainya di tempat kerja, Gia melangkah cepat melewati lobi dan langsung menemui Oh Lian di ruangannya. Sementara di dalam sana ternyata ada Sara yang tengah duduk di meja dan sedang bercanda gurau dengan Lian.
“Kau sudah gila Lian, aku tidak percaya kau sampai senekat itu. Kau menyuruh orang masuk ke tempat tinggal gadis itu demi membuat dia pindah dan pada akhirnya gadis itu malah memilih tinggal di rumah sahabatnya?” Hahaha .... Sara tertawa puas.
“Pelankan suaramu, Sara.”
Sementara di luar, Gia terpaku di depan pintu. Lagi-lagi dia mendengar percakapan yang tak seharusnya dia dengar. “Tidak, ini tidak mungkin.” Gia terdiam melamun, mencerna ucapan Sara. Bahwasanya yang sedang mereka bicarakan adalah dirinya. “Jadi, orang yang masuk ke dalam kontrakanku dulu ... adalah–“ Ya, orang itu adalah suruhan Lian. Karena niatnya ingin membuat Gia kehilangan tempat tinggal tapi nyatanya saat itu Gia lebih memilih tinggal di tempat Jenni.
“Lian!” geram Gia, meremas hendel pintu.
Gia menerobos masuk tanpa mengetuk pintu. Meletakkan map di atas meja secara kasar. Napasnya memburu menahan kesal, bagaimana bisa lelaki itu melakukan hal yang sebelumnya tak pernah dia bayangkan.
__ADS_1
“Apa kau tidak bisa mengetuk pintu?” sahut Lian.
“Lian, tenang.” Sara mencoba menenangkan.
“Kenapa kau melakukan itu padaku?” Gia tak bisa lagi menahan emosi.
“Apa maksudmu?”
“Aku tidak tuli, aku mendengar semuanya!” Hening sesaat. “Kau yang menyuruh orang untuk masuk ke kontrakanku dulu ... kenapa kau melakukan itu?”
Sara mengalihkan perhatiannya ke Lian. Mereka hanya diam tak sepatah kata pun keluar dari mulut Lian.
“Kenapa kau diam?” sahut Gia.
“Kau menguping pembicaraan?” Suaranya tenang, meski terkejut tapi Lian masih bisa mengendalikan diri.
“Aku tidak menyangka kau akan sampai sejauh itu.”
Lian terdiam, menatap ekspresi marah di wajah Gia.
“Aku berusaha bertahan untuk tetap bekerja di tempat ini sampai masa kontrakku habis. Tapi sepertinya aku tidak bisa lagi bertahan lebih lama.”
“Apa maksudmu?” Lian masih berusaha mencerna ucapan Gia.
Setelah mengambil surat pengunduran diri, Gia meletakkannya di meja. “Aku berhenti, ini surat pengunduran diri dariku.” Tanpa menunggu lama Gia kemudian melangkah keluar meninggalkan ruangan.
“Gia, berhenti!” seru Lian. “Gia aku bilang berhenti!”
Tak mengindahkan seruan Lian, Gia tetap melanjutkan langkahnya.
~♤~
“Aku tidak menyangka kau akan benar-benar keluar dari pekerjaan ini, Gi?” Jenni menuangkan soju ke gelas Gia yang telah kosong.
“Hmm, anggap saja ini sebagai pesta terakhir kita bertiga berkumpul. Karena setelah ini aku akan kembali ke kampung.” Gia meneguk segelas soju untuk ke sekian kalinya.
“Jahat, padahal kita baru saja mulai akrab,” sahut Eichi.
“Kita masih bertemu di luar, kan?”
“Baiklah ... kalau begitu kita habiskan malam ini dengan minum soju sampai mabuk. Tenang perusahaan telah menyiapkan penginapan di sini untuk kita. Jadi mari malam ini kita minum sampai puas!” Jenni mengangkat gelasnya.
Gia sebenarnya enggan datang ke acara kantor yang diadakan di Resort. Tapi setelah mendengar bahwa Oh Lian tidak akan datang ke pesta itu maka Gia memutuskan untuk ikut.
“Maaf ...apa aku datang terlambat?” suara Oh Lian diujung sana menarik perhatian semua orang.
Terutama Gia, terkejut dengan kedatangan lelaki itu. “Sial, kenapa dia harus muncul?” Matanya sudah merah, Gia mulai mabuk.
“Oh Presdir. Aku kira kau tidak akan datang. Silakan duduk Presdir.”
“Hai Presdir!” seru Jenni. “Kau bisa duduk di sini, dekat Gia ... kebetulan ada kursi kosong satu.”
Gia terpaku, menundukkan kepala acuh.
“Oh, baiklah terima kasih.”
Deg!
“Sial, kenapa dadaku malah berdebar?” batin Gia.
“Silakan di minum Presdir.” Eichi menuangkan soju ke gelas lalu memberikannya pada Oh Lian.
__ADS_1
“Aku pikir Presdir benar-benar tidak akan datang, Gia sejak tadi tidak bisa tenang karena mencarimu.” Eichi mulai dipengaruhi alkohol, bicaranya mulai ngelantur.
“Ck!” Gia berdecak kesal. “Kau ini bicara apa?” menendang kaki Eichi di bawah meja.
“Au! Kenapa kau menendang kakiku?” rintih Eichi.
Gia lantas membuang muka tak sudi bertatap mata dengan Oh Lian yang duduk di sampingnya.
Malam semakin larut, semua karyawan mulai mabuk.
“Ayo tuangan lagi minumannya.” Gia bahkan tak mampu lagi mengangkat gelasnya.
“Gia berhenti kau sudah mabuk.” Lian mengambil alih gelas dari tangannya.
“Menyingkir! Lagi pula apa urusanmu kalau aku mabuk?” Gia sudah dikuasai oleh alkohol. “Kau laki-laki jahat ... paling jahat yang pernah aku temui ... aku menyesal kenapa aku harus bertemu lagi denganmu. Hick!” Gia mulai cegukan. Kepalanya terasa berat dan memilih bersandar di meja.
Meski Oh Lian juga sudah mulai mabuk tapi dia masih bisa mengendalikan diri dengan baik. “Aku menyesal tapi aku sudah puas setelah melihatmu seperti ini.”
“Jahat ... kau benar-benar jahat!” Gia mulai meracau.
Dreeet!
Lian melirik ke ponsel Gia yang menyala. Matanya memicing melihat nama Park Juan tertera di layar.
Ting!
Pesan masuk dari Park Juan.
Melihat Gia terlelap karena mabuk, Oh Lian mengambil ponsel milik Gia lalu membuka pesan tersebut.
“Gia kau di mana, aku akan menjemputmu.” Isi pesan tersebut.
Tanpa berpikir panjang, Oh Lian membalas pesannya.
“Jangan pedulikan aku, aku sedang makan malam bersama karyawan lain.”
“Apa Oh Lian juga datang?”
Kening Lian langsung berkerut, ujung matanya melirik ke Gia yang terlelap di atas meja. Tangannya mulai sibuk mengetik pesan.
“Iya, dia duduk di sampingku.”
“Oh, bukankah hubungan kalian kurang baik saat ini? Bagaimana bisa kalian berakhir duduk berdampingan.”
“Berisik, ini bukan urusanmu.”
Jelas terlihat ekspresi wajahnya yang muram saat membalas pesannya.
“Gia, apa kau sedang mabuk? Kenapa kalimatmu jadi kasar? Ini benar-benar kau yang membalas pesanku, bukan”
Deg!
Oh Lian terpaku, merasa tertangkap basah karena pesan dari Park Juan. Belum sempat membalas pesan untuk ke sekian kalinya, Park Juan mengirim pesan lagi.
“Aku yakin kau pasti mabuk, kirim lokasimu aku akan segera menjemputmu.”
“Menyebalkan, kenapa dia keras kepala sekali?” gumam Oh Lian. Semakin kesal saat membalas pesan dari Park Juan.
“Aku bisa mengurus diriku sendiri.”
Sedang semangat-semangatnya membalas pesan dari Park Juan yang penuh dengan kalimat menyebalkan, Oh Lian justru dikejutkan dengan Gia yang tersadar dari pingsannya.
__ADS_1
“Pre–dir ... hick, apa yang kau lakukan dengan ponselku?”