Hamil Anak Presdir

Hamil Anak Presdir
46. Janji


__ADS_3

“Apa wajahku mengingatkanmu pada seseorang?”


Pertanyaan Lea membuat Lian terpaku, menarik tangannya yang sempat terpaku diudara. Mengalihkan perhatian ke bara api yang menyala.


“Ups, maaf ... aku tidak bermaksud–“


“Tidak perlu minta maaf,” sahut Lian. “Kau tinggal di sini sendiri?” Pandangannya menyapu sekitar. Rumah dari kayu, ukurannya sangat kecil tapi semuanya tertata dengan rapi.


“Iya, kedua orang tuaku sudah meninggal saat aku masih kecil. Maaf kalau membuatmu tidak nyaman. Mesku kecil tapi aman untuk kita berlindung sampai badai salju berhenti.”


“Apa itu kebiasaanmu selalu meminta maaf?” Saat menoleh menatap wajah Lea, dadanya langsung berdebar kencang. Kalimat yang baru saja terucap mengingatkan dirinya pada Gia.


“E, tidak juga. Aku hany–“


Brak!


Wwhoooooooossshhee!


Blak, klak, klak, klak!


Suara pintu terbuka karena angin bercampur salju mengalihkan perhatian.


“Astaga!” Lea berlari cepat, menarik pintu agar tertutup kembali. Sebisa mungkin menahan agar pintu tak terbawa angin, tapi sepertinya badai salju lebih besar dari perkiraan.


Sebelum membantu Lea, Lian mencari sesuatu untuk menahan pintu. Melihat sebilah kayu, Lian mengambilnya lalu segera dia gunakan untuk menolong Lea.


Lian berdiri di belakang Lea, mereka menarik pintunya secara bersamaan. Setelah berhasil tertutup, Lian menggunakan kayunya untuk menahan pintu agar tidak terbawa angin.


Blam!


Akhirnya pintu tertutup rapat.


Hah, hah, hah ....


Napas mereka memburu, hampir mati kedinginan jika pintu patah dan terbawa angin sementara badai salju masih berlangsung.


“Syukurlah, hampir saja.” Perhatian Lea beralih ke tangan Lian yang masih berada di pintu. Jika dilihat sisi lain, maka orang mengira Lian sedang memeluknya dari belakang.


Ghm! Dehem Lea menetralkan suasana gugup.


Dug!


Lea terpaku, terkejut ketika melangkah ke belakang namun menabrak tubuh Lian.


Sedekat itu jarak di antara mereka, sementara Lea merasa aneh karena Lian tak kunjung pergi dan masih berdiri di belakangnya.


Lian terdiam, tertunduk menatap Lea yang berdiri memaku. “Kalian memiliki aroma yang sama,” gumam Lian.


“Kau bilang apa?” Lea memutar tubuhnya, namun yang ada dia justru terkejut karena kedekatannya dengan Lian. Wajahnya terangkat, menatap mata Lian yang jauh lebih tinggi.


“Tidak ... aku tidak bilang apa-apa.”


Keduanya terdiam, saling menatap satu sama lain.


“Aku yakin dia mengatakan sesuatu tadi,” batin Lea.


“Kau baik-baik saja?” Suaranya lembut dan berat, Lea terpesona.


Hanya bisa diam, bibirnya kelu. Apa lagi saat wajahnya terasa hangat karena Lian menyentuh pipinya.


Deg, deg, deg!


“Apa ini ... kenapa aku jadi berdebar?” batin Lea.


“Sama sekali tak ada yang berbeda.” Pikirannya penuh dengan kenangan Gia. Lian akhirnya sadar dari lamunan setelah jarinya menyentuh bibir Lea.

__ADS_1


Deg!


“Wajahmu penuh dengan salju, kau pasti kedinginan.” Mencoba mengalihkan perhatian, Lian melepas mantel yang dia kenakan lalu memakainya untuk menutupi tubuh Lea.


“Tidak usah, aku baik-baik saja.” Berusaha menolak tapi Lian tetap memberikan mantelnya.


“Tubuhmu harus tetap hangat, jangan sampai sakit. Bukankah kau besok harus menyiapkan makan siang untuk para pekerjaku?”


Lea hanya bisa diam, menerima mantel dari Lian. “Kalau begitu duduklah, aku akan membuat minuman hangat untukmu.”


“Itu?” Lian menunjuk ke gelas yang ada di meja.


“Itu pasti sudah dingin.” Lea melangkah cepat menuju dapur, membuat minuman hangat untuk Lian.


Pipinya merona, senyum tipis terlihat menghiasi bibir. “Wanginya,” ucap Lea merujuk pada mantel milik Lian. “Ini pasti sangat mahal, benar-benar membuat tubuhku jadi hangat.”


~♤~


“Terima kasih untuk kopinya.” Lian mengambil alih secangkir kopi dari tangan Lea.


“Jangan sungkan, anggap saja ini sebagai ganti mantelmu.”


Mereka kembali duduk di depan perapian, sementara badai salju di luar sana tak kunjung berhenti.


Tak tahu lagi apa yang harus mereka bicarakan, seakan bingung kehabisan stok pembicaraan.


“Kau–“ Keduanya berucap bersamaan, menimbulkan rasa canggung yang semakin mengental.


“Silakan, apa yang ingin kau tanyakan padaku?” sahut Lian.


“Uhm ... rencananya berapa hari kau akan tinggal di Jeju?”


“Seharusnya besok pagi aku sudah harus kembali.”


“E, secepat itu?” sahut Lea, tapi ekspresi wajahnya terpaku saat sadar tak seharusnya berucap demikian.


“Tidak, tidak apa-apa.” Lea mulai gugup. “Sial, kenapa aku jadi gugup seperti ini?”


“Tapi sepertinya aku ingin lebih lama lagi di sini.” Lian menatap lekat wajah Lea saat berucap. Mencermati setiap perubahan ekspresi wajah Lea.


“Oh, apa yang membuatmu berubah pikiran?”


“Sesuatu yang tak bisa aku temukan di mana pun, aku menemukan sesuatu yang tak bisa kutemukan di Seoul. Hal itu yang membuatku berubah pikiran untuk tetap tinggal di Jeju lebih lama.”


“Seandainya kau datang saat musim semi, kau pasti bisa melihat lautan bunga di Jeju. Banyak sekali tempat yang bisa kau kunjungi saat itu. Tapi karena sekarang musim dingin ... semua bunga pun mati.”


Lian tak peduli dengan apa yang diucapkan oleh Lea, dia lebih tertarik menatap wajahnya. Menikmati setiap perubahan ekspresi Lea yang menarik hati.


“Uhm, maaf kalau aku banyak bicara. Kau paati kesal karena mendengar mulutku yang cerewet.”


“Tidak apa-apa, lanjutkan saja ... aku suka mendengarnya.” Mata Lian tak pernah lepas darinya, menatap Lea dari dekat seakan-akan membuat hatinya nyaman karena bisa melihat Gia ada pada perempuan itu.


Setelah mendengar ucapan Lian, otak Lea justru kosong. Semua kalimat yang sudah tertata rapi seolah hilang begitu saja.


“Kenapa kau berhenti bicara?” Lian menyangga dagu, melamun menatap Lea.


Pipinya merona malu. “Karena ... sejak tadi ada seseorang yang terus menatapku tanpa berkedip, aku jadi kehilangan semua kata-kataku “


Ppfftttt! Pertama kalinya setelah kehilangan Gia, Lian akhirnya bisa tersenyum kembali.


“Oh, bukankah ini cincin pernikahan?” Lea baru sadar jika Lian mengenakan cincin di jari manis.


Lian menatap cincin di jarinya. “Uhm, iya.”


“Lalu di mana dia, apa dia tidak ikut datang ke Jeju?”

__ADS_1


“Dia selalu ikut ke mana pun aku pergi.”


“Sekarang dia di mana, apa dia menunggu di hotel? Istrimu tidak khawatir karena kau tak segera kembali? “


“Di ada di sini.” Lian menunjuk ke dada.


Lea terpaku, berusaha mencerna ucapan Lian.


“Ke mana pun aku pergi, dia selalu ada di dalam hatiku.”


“Ooh ....” Lea masih tak mengerti.


“Dia sudah meninggal ... empat bulan yang lalu. Tapi, dia tetap berada di dalam hatiku.”


“Astaga!” Lea merasa bersalah karena telah mengungkit tentang istrinya. “Maaf, aku tidak bermaksud mengingatkanmu tentang–“


“Tidak apa-apa ... semuanya akan membaik.” Tatapan Lian semakin dalam, melihat jelas rasa penyesalan di wajah Lea karena telah mengingatkan dirinya pada Gia. “Lea?”


“Hmm?”


“Bolehkah aku bertanya satu hal lagi?”


“Silakan.”


“Tadi ... saat di tepi pantai, aku melihat kau sedang berbicara dengan seseorang melalui ponsel. Apa itu kekasihmu?”


“Uhm!” Lea mengangguk ragu.


“Di mana dia?”


“Dia bekerja di Seoul.”


“Kapan dia kembali?” Lian semakin penasaran.


“Dia bilang akan berkunjung akhir bulan ini.”


“Akhir bulan?” Keningnya Lian berkerut.


“Iya, kenapa?” Lea penasaran.


“Jadi ... masih lumayan lama sebelum kekasihmu datang. Kau mau pergi menemanimu besok?”


“Pergi?” Lea kebingungan.


“Hmm, kau bilang ada tempat yang bisa dikunjungi selama musim dingin. Kebetulan besok aku banyak waktu luang, jadi ... bagaimana? Kau mau menamaniku jalan-jalan?”


“Tapi, besok aku harus menyiapkan makanan untuk pegawai yang bekerja di resort.”


“Bagaimana kalau aku membantumu memasak, menyiapkan makanan untuk mereka setelah itu kau temani pergi ke suatu tempat?”


Lea masih diam, menatap mata Lian penuh kebingungan.


“Kau takut kekasihmu marah?” sahut Lian.


“E, tidak. Bukan begitu tapi–“


“Aku bisa jaga rahasia, aku tidak akan bilang pada siapa pun tentang hal ini. Janji?” Lian menggunakan kelingking untuk membuat janji dengan Lea.


Meski ragu, Lea akhirnya membalas janji kelingkingnya.


Zzztzzzzttt!


Clap!


Aaaaaaaa!

__ADS_1


Lea berteriak saat lampu tiba-tiba padam.


__ADS_2