Hamil Anak Presdir

Hamil Anak Presdir
21. Dan Terjadi


__ADS_3

“Pres–dir ... hick, apa yang kau lakukan dengan ponselku?”


Oh Lian terpaku, ponsel milik Gia masih berada di tangan.


Brugh!


Beruntung setelah saling menatap sesaat, Gia kembali jatuh pingsan dan kepalanya tergeletak di meja.


Huuft!


Lian mengambil napas panjang.


“Ngh, kita harus pindah ke kamar. Aku tidak tahan lagi,” gumam Jenni, tersadar dari mabuknya. “Eh, Presdir ... aku hick– aku pikir Anda sudah pergi.” Setengah sadar Jenni lalu membangunkan Gia. “Gi, bangun! Kita harus pergi ke kamar.”


Lian menggunakan kesempatan itu untuk mematikan ponsel milik Gia.


“Gi, bangun!” Jenni meraih bahunya.


“Dia pasti sudah mabuk berat,” sahut Eichi. “Eh, Presdir ... Anda juga menginap di sini, kan? Bagaimana kalau kita sekamar?” Sama saja, Eichi pun sudah mabuk berat.


“Aku, sekamar denganmu?”


“Hmm!”


“Aku lebih baik tidur jalan dari pada sekamar denganmu!” Melirik ke Gia yang tengah di bangunkan oleh Jenni.


“Ah, Presdir kau jahat sekali.”


Sekuat mungkin Jenni akhirnya bisa memaksa Gia bangun lalu memapahnya. Merangkul lalu keduanya beranjak pergi. “Ayo bangun kita pindah ke kamar!”


“Wait, aah~ aku masih ingin minum.” Gia mulai meracau, hendak mengambil sebotol soju tapi Lian menyahutnya.


“Hmm, Manajer ... ups, maksudku Presdir, kami permisi terlebih dulu.”


“Bawalah Gia bersamamu.” Lian meletakkan soju ke tempat semula. Perhatiannya mengikuti ke mana arah perginya Gia saat keluar dari restoran itu.


Hingga akhirnya Lian mengalihkan perhatian ke ponsel milik Gia yang tertinggal. “Gia–,” ucapnya terhenti karena gadis itu telah menghilang dari balik pintu. Rencananya ingin menyusul mereka ke penginapan tapi karyawan lain menahannya agar ikut bergabung. Lian pun akhirnya menuruti keinginan mereka.


Entah berapa botol yang telah dia habiskan, meski raganya berada di tempat keramaian tapi pikirannya melayang tertuju pada Gia.


Oh Lian mabuk, terbangun setelah terlelap di restoran bersama yang lain. Beranjak dari kursi, membawa ponsel milik Gia, Oh Lian melangkah pergi menuju penginapan.


Huek! Huek! Jenni tengah muntah di halaman penginapan sisi lain.

__ADS_1


Lian mendekati dengan langkah kaki gontai. “Di mana Gia?”


Tanpa menoleh karena sibuk dengan sendirinya, Jenni menjawab, “Dia kamar, huek!”


“Ka–kamar ... kamar yang mana?”


“Satu, huek! Satu kosong tujuh.”


Tanpa berpikir panjang, Lian melanjutkan langkahnya menuju kamar yang dimaksud.


Sekilas langkahnya terhenti di depan pintu, menatap nomor yang melekat di sana.


Ceklek!


Oh Lian membuka pintu, perhatiannya tertuju ke ranjang di mana Gia tergeletak di sana. Ruangan yang lumayan gelap karena lampu tak semuanya menyala.


Klik, Lian mengunci pintu sebelum melangkah mendekat lalu duduk di tepi ranjang.


Perhatiannya tertuju ke Gia yang tertidur pulas, masih lengkap mengenakan pakaian semula.


Tangannya terulur menyentuh pipi, mengusap lembut. “Akhirnya aku bisa melihatmu lagi ... aku merindukanmu,” gumam Lian. Mengambil ponsel milik Gia lalu meletakkannya di nakas.


Huuuffttt! Rasanya sangat berat harus beranjak pergi meninggalkan Gia sendirian, Oh Lian kemudian berbaring di sampingnya. Menatap wajah polos Gia yang berada di depan mata. “Sebentar saja, biarkan aku di sini sebentar saja. Setelah puas melihatmu ... aku janji akan pergi.”


Tak pernah sedikit pun perasaan Lian terhadap Gia berubah, sejak duduk di bangku sekolah Lian masih menyimpan rapat Gia dalam hati.


Ugh~ lenguh Gia ketika mengubah posisinya tidur miring menghadap ke Lian. Dengan begitu Lian bisa menatap jelas wajah Gia dalam kegelapan.


Sangat dekat hingga Lian bisa mencium aroma wangi dari tubuh Gia. “Sihir apa yang kau gunakan, Gia? Sampai-sampai aku tidak bisa melupakanmu hingga detik ini?”


Perlahan Lian mendekat, mengecup keningnya. Kecupan bergerak menurun ke hidung lalu berakhir di ujung bibir.


Lian sengaja tak menjauh, dia justru melekatkan kening serta ujung hidungnya. Membiarkan napas panas mereka bercampur dan menguar diudara.


Sisa alkohol masih kuat mempengaruhi tubuh dan pikiran, matanya terpejam perlahan terbuka. Lian menatap lekat mata Gia yang berada tepat di depan.


Napasnya mulai kasar, Lian berusaha kuat menahan diri. “Apa yang harus aku lakukan? Gia ... kau membuat pikiranku semakin kacau,” gumamnya.


Ngh– Gia melenguh pelan. Tanpa terduga kedua matanya terbuka perlahan menatap sosok wajah lelaki yang dia cintai di depan mata.


Masih dalam pengaruh alkohol, Gia tertawa lirih. “Lian?” ucapnya lirih. Pfffft! “Bodoh, aku tidak percaya kau masuk ke dalam mimpiku.” Tangannya bergerak menyentuh pipi, ibu jarinya mengusap lembut mata Lian. “Aneh, jika ini mimpi ... kenapa ini terasa sangat nyata?”


Lian hanya diam, membiarkan Gia menyentuh setiap inci wajahnya. Saat jari Gia mengusap bibir, Lian justru dengan sengaja membuka mulut lalu melummat jarinya lembut.

__ADS_1


Ungh~ rintih Gia. Pelan tapi terdengar jelas di telinga. “Lian ... katakan, aku pasti sedang bermimpi, kan?”


Lian masih diam, tangannya perlahan menyusuri leher. Menurun membuka kemeja yang dikenakan Gia. Dua, tiga kancing berhasil di lepas. Lian menarik kerahnya ke samping hingga terlihat jelas bahu Gia di mana sebuah tali berwarna hitam melekat di sana.


Cup!


Lian menghadiahi kecupan di ujung bahunya. Kecupan yang tak seperti biasa. Lian sengaja membuka mulut sebelum melahap kulit putih Gia hingga meninggalkan jejas basah di sana. “Ya, terasa seperti mimpi ... tapi ini sangat nyata,” bisiknya.


Keduanya masih dalam pengaruh alkohol, hingga apa yang ada di depan mata terasa seperti mimpi yang tak mampu mereka kendalikan dengan akal sehat.


Setelahnya, Lian menarik tangan Gia. Mengulu–um jari manisnya, menghisap lembut menimbulkan rasa geli membuat Gia melenguh sampai memejamkan mata.


Hah– ngh~


“Li~lian ungh~ hah .... Aku pasti sedang bermimpi, hah ... siapa yang mengizinkanmu datang dan muncul dalam mimpiku?”


Cup!


Lian mengecup bibirnya. “Aku bahkan tidak perlu ijin untuk muncul dalam mimpimu.” Ucapnya dalam keadaan bibir masih saling menempel. “Gia~ ngh~ hah ... aku ingin menyentuhmu, menelan jangimu, membuatmu menangis, meronta penuh kenik matan di bawah tubuhku.” Matanya sayu, namun tajam saat menatap wajah Gia.


Gia hanya diam lalu mengecup bibir Lian.


Bibirnya tersenyum, Lian berucap lembut penuh tanda tanya. “Apa ini, kau menciumku ... apa artinya kau juga menginginkanku?”


“Manajer ... ini mimpi, kan? Meski aku sangat membencimu ... tapi aku tidak ingin ini segera berlalu. Jangan biarkan aku terbangun, aku masih ingin menikmati waktu berdua denganmu.”


Lian tersenyum, tanpa berpikir panjang dia kemudian mengambil alih kuasa atas tubuh Gia.


~♤~


Byuuurr!!!


Hah, hah, hah!


Gia terbangun, tengah menatap bayangan basah wajahnya di cermin kamar mandi. “Apa yang terjadi?”


Tubuhnya terbungkus selimut putih, menatap cermin dengan pandangan tak percaya saat mendapati dirinya penuh dengan tanda merah di setiap sudut tubuhnya.


“Oh Lian dan aku ... tidak, ini tidak mungkin terjadi, kan?” Membiarkan selimut bergerak turun, jatuh terlepas dari tubuhnya hingga teronggok di lantai.


Kepalanya tertunduk, Gia terkejut melihat tanda merah dan bekas gigitan tak hanya memenuhi dada dan leher. Namun kedua kaki dan pangkal pahanya juga penuh dengan tanda itu.


Aah! Rintihnya saat rasa perih bersarang di pertengahan paha. Perlahan tangannya menurun, menyentuh ke sana. Bengkak, ngilu dan sedikit membesar. Itulah yang dirasakan oleh Gia.

__ADS_1


Entah berapa kali Lian melakukannya hingga Gia merasa miliknya seperti lecet. “Bodoh! Bagaimana ini bisa terjadi? Oh ... a–apa ini?” Gia terkejut kala mendapati sesuatu hangat keluar dari sana, pekat dan berwarna sedikit kekuningan.


Lumayan banyak, ada bagian berwarna coklat hingga kemerahan. Sampai akhirnya Gia sadar bahwa itu adalah darah.


__ADS_2