Hamil Anak Presdir

Hamil Anak Presdir
42. Titik Terang


__ADS_3

“Halo, Tuan Lee. Kau menghubungiku tadi?”


Lian berbicara melewati ponselnya setelah beberapa panggilan tak terjawab. Dia berdiri menatap pemandangan kota dari balik jendela. Sesekali menoleh, mengawasi istrinya yang terlelap di ranjang.


“Tuan, maaf. Tuan besar ingin segera bertemu dengan setelah Anda kembali dari Milan.”


Keningnya berkerut mendengar ucapan Lee dari ujung ponselnya. “Dia mengetahui hubungan denganku Gia?” tebaknya dengan benar karena tak ada sahutan dari seberang.


“Maaf, Tuan.”


“Baiklah, setelah bertemu dengan ayahku ... jadwalkan pertemuanku dengan dokter.”


Tut!


Lian mengakhiri panggilan. Meletakkan ponsel ke meja menghampiri istrinya saat tidurnya mulai tak tenang.


Gelisah karena tak menemukan sesuatu yang dia cari dan membuatnya nyaman.


“Aku di sini,” bisiknya, menarik pinggang Gia lalu membawanya ke dalam dekapan.


Cup!


Mendaratkan sebuah kecupan di kening sebelum menyusul Gia menuju alam mimpi.


~♤~


Dalam perjalanan kembali ke Korea, Gia selalu menempel sang suami. Senyum bahagia tak pernah lepas dari bibirnya.


“Kenapa?” tanya Lian, melihat Gia seperti kucing kecil saat mengusap wajah ke lengannya.


“Tidak apa-apa ... ini membuatku nyaman.”


Kepalanya menunduk saat menatap wajah istrinya. Lian menarik dagu, meminta Gia mengangkat wajahnya. “Tubuhmu baik-baik saja? Sepertinya semalam aku terlalu keras melakukannya.”


Pipinya merona, malu. Cepat-cepat Gia menundukkan kepala.


Sesampainya di bandara, mereka berdua disambut gembira oleh Luciella dan Demian. Tak lupa kedua sahabatnya Jenni dan Eichi.


“Gia!!” seru mereka dari kejauhan, melambaikan tangan.


Gia tersenyum lebar. “Kau memberi tahu pada mereka tentang pernikahan kita?” Gia penasaran.


“Hmm, hanya pada mereka. Kau senang?” Lian mencubit hidungnya.


“Apa kau masih marah padaku?” Wajahnya mulai cemberut.


“Tidak, ada sesuatu yang harus aku pastikan. Maka dari itu ... aku meminta pada mereka untuk menyembunyikan kabar pernikahan dari karyawan di kantor?”


“Kenapa? Apa yang ingin kau pastikan?”


Lian terdiam sesaat. “Kau akan tahu nanti. Pergilah keluarga dan sahabatmu sudah menunggu.”


“Bagaimana denganmu?” Gia mulai panik.


“Aku akan menemui ayah dan mengurus beberapa pekerjaan dulu. Kau membawa beberapa kemeja, kan?”


Uhm! Gia menganggukkan kepala. “Jangan lama-lama ...,” ucapnya memohon dengan gayanya yang lucu dan menggemaskan.


Sudah dipastikan itu tak mampu membuat Lian bertahan.


“Gia, apa kau tahu jika aku sudah menahan diri sejak kita di pesawat? Tapi ... sepertinya kali ini tidak ada toleransi lagi.”


Eh! Gia terkejut saat Lian menarik tangannya.


“Ke mana perginya mereka berdua?” tanya Luciella setelah kehilangan putrinya di keramaian.


“Entah, Bi. Aku juga sedang mencarinya. Perasaan tadi dia berjalan menuju kemari tapi kenapa sekarang tidak terlihat batang hidungnya?” sahut Jenni.


“Hmmm, mereka pasti di toilet,” ucap Eichi dengan santai. Tim sukses dari hubungan Gia dan Lian sudah sangat hafal dengan kelakuan atasannya itu.


“Toilet?” Demian penasaran. “Memangnya kakakku tidak berani pergi ke toilet sendirian?”


“Hei anak kecil, ini lebih dari sekedar buang air kecil. Kau mana paham, tumbuhlah dewasa terlebih dulu baru kau akan mengerti gunanya toilet untuk orang dewasa.”

__ADS_1


“Bahkan sejak aku sekolah aku juga tahu apa gunanya kamar mandi, kenapa harus menunggu dewasa?”


“Hei, bodoh!” Jenni memukul kepalanya.


Au! Rintih Eichi.


“Kau ini bicara apa pada anak kecil, kalau bicara yang benar. Memangnya apa gunanya toilet selain untuk buang air kecil?”


“Hah, kau sama saja ternyata. Entah kau ini polos atau pura-pura polos?”


“Kenapa kalian jadi bertengkar karena toilet?” sahut Luciella.


~♤~


Mmmh~


Gia tak bisa bernapas, mendorong dada Lian hingga ciuman terlepas. “Biarkan aku bernapas sebentar.”


Ssshhhh! “Jangan keras-keras ... di luar banyak orang,” bisik Lian tepat di telinga.


“Kenapa kau tiba-tiba menarikku kemari dan mencium bibirku?”


“Kalau kau tidak ingin aku melakukan itu, maka jangan sekali-kali memamerkan wajah imut di depanku.”


“Aku tidak melakukannya,” sahut Gia.


“Sadar atau tidak, kau melakukannya di depanku beberapa kali.”


“Sebelumnya kau tidak seperti ini. Saat melihatku malam itu di kamar ketika aku mengenakan gaun malam ... kau tidak mudah tergoda.”


Lian tersenyum tipis. Tangannya merangkup pipi. “Kau tidak tahu sebesar apa aku saat itu aku menahan diri. Setiap kali bertemu denganmu di tempat kerja ... apa kau kalau aku selalu tegang? Seperti saat ini?”


Matanya bergerak turun, Gia melihat celana suaminya mengetat karena sesuatu dibaliknya mulai membesar. “Kau!” Gia kesal, tak menyangka Lian bisa menegang di situasi seperti ini.”


~♡~


“Aku dengar kau mulai membaik.” Lee Dae Hyun menjenguk Tuan Oh, ayah dari Oh Lian.


“Hmm, seperti yang kau lihat.” Tuan Oh duduk di sofa ruang tamu. “Aku dengar kau bekerja sama dengan putra Tuan Park untuk mengambil alih jabatanmu di perusahaan?”


“Terserah, lakukan apa pun yang kau inginkan selama tidak merugikan perusahaan. Lagi pula aku yang sudah semakin tua ini tak bisa lagi menangani permasalahan di sana. Aku ingin menghabiskan masa tuaku tanpa memikirkan pekerjaan.”


“Kau ingin pensiun dari jabatanmu?” Lee Dae Hyun terkejut.


“Rencananya seperti itu. Tapi ... nanti setelah cucuku lahir.”


“Cucu?”


“Iya, apa kau belum dengar kalau Lian menikah di Milan? Hmmm, dasar ... anak berandalan itu ternyata sudah dewasa. Aku tidak menyangka, ternyata dia pandai membuat anak. Aku berharap cucuku nanti jauh lebih pandai dari ayahnya.”


Hahaha ....


~♤~


Dreeet!


Gia tak sabar, mendengar ponselnya bergetar langsung membuka pesan dari suaminya.


“Sudah sampai di rumah?” Isi pesan dari Lian.


“Iya, kami sedang berkumpul di taman belakang. Lian, kapan kau akan menyusul?” Kebetulan Gia berada di desa, tempat tinggal ibunya.


“Aku sedang dalam perjalanan menemui dokter, kenapa ... kau sudah merindukanku?”


“Apa hal itu perlu ditanyakan?”


Membawa balasan pesan dari Gia, Lian hanya tertawa.


“Tuan, kita sudah sampai,” sahut Lee menepikan mobilnya.


Tanpa membalas pesan dari Gia, Lian segera turun dari mobil.


“Tuan, Anda yakin?” Lee tidak menyangka sebelumnya karena Lian memintanya untuk bertemu dengan dokter kejiwaan. Lebih tepatnya psikiater.

__ADS_1


“Tenang Tuan Lee. Aku hanya ingin memastikan kewarasanku.” Lian tersenyum penuh impulsif sebelum masuk ke dalam menemui dokter.


“Selamat datang Tuan Lian, saya sudah menunggu kedatangan Anda sejak tadi,” sapa seorang lelaki, duduk di sofa tunggal.


“Maaf, apa aku sudah membuatmu menunggu lama ... Dokter Cha?” Lian duduk di sofa tunggal, berseberangan dengan dokter Cha.


Dokter Cha hanya tersenyum. “Aku senang karena beberapa tahun ini kau jarang menemuiku, itu arti kau sudah mendapatkan kembali kewarasanmu.”


Hahaha .... “Sial, aku merasa telah menjadi mantan penghuni sel orang gila.”


Dokter Cha tertawa lirih. “Lalu ... apa yang membawamu kembali kemari menemuiku?”


“Jadi, bisa kita mulai sekarang pemeriksaannya?” tanya Lian.


Hmm, Dokter mengangguk pelan.


“Ini .m. mengenai apa yang aku rasakan belakangan ini ....” Lian panjang lebar menceritakan tentang apa yang dia hadapi saat bersama dengan Gia.


“Jadi sekarang kau sudah menikahi perempuan itu?” tanya Dokter Cha.


“Iya.”


“Obsesimu sejak dulu kepada perempuan yang bernama Gia tidak pernah berubah. Kau menggunakan cara apa pun untuk bisa membuat Gia menjadi milikmu. Meski kau sadar bahwa cara yang kau gunakan itu salah dan menyakiti perasaan Gia.” Dokter Cha menghela napas sesaat. “Kau harus bisa mengendalikan dirimu, Lian. Karena cintamu yang terlalu besar justru bisa menyakiti Gia. Ketakutanmu kehilangan Gia membuatmu semakin berani untuk lebih menyakiti.”


Lian terdiam, mendengar penjelasan dari dokter Cha. Tak menyangka jika rasa cintanya pada Gia, tanpa sadar justru membuatnya semakin berani melukai perasaannya. “Apa yang harus aku lakukan?”


Hmmm .... “Ini akan sulit, tapi ... kau akan berhasil jika bisa mengendalikan diri dengan baik.”


Dalam perjalanan pulang ke rumah menemui ayahnya, Lian terus melamun di dalam mobil.


“Aku tidak memintamu menghindar, tapi ... kau harus bisa mengendalikan diri setiap kali bertemu dengannya. Mulai memaafkan kesalahan kecil yang dia lakukan. Mempercayai apa yang Gia ucapkan. Karena rasa tidak percayamu itu adalah benteng dari rasa takut kehilangan yang berimbas menyakiti Gia dan beranggapan bahwa itu hal yang harus kau lakukan. Ingat untuk selalu menumbuhkan rasa percaya terhadap pasanganmu. Menghindar untuk menenangkan diri lebih baik saat emosimu mulai meluap dan kau sendiri tak bisa mengendalikannya. Namun setelah itu, kau harus menjelaskan tentang semuanya.”


Ucapan Dokter Cha selalu melintas di otak.


“Tuan, kita sudah sampai. Tuan Oh menunggu Anda di dalam.”


Langkah Lian terhenti di tengah pintu masuk. “Tuan Lee!”


“Iya, Tuan?”


“Bisakah aku minta tolong padamu?”


“Apa pun, Tuan. Katakan.”


~♤~


Hari sudah gelap, Gia mulai panik karena Lian belum memberinya kabar.


Mendengar suara mobil datang dan berhenti di depan rumah, Gia berlari cepat tak sabar. Bibirnya tersenyum melihat Lee keluar dari mobil.


Namun perlahan senyumnya menghilang, ketika tak melihat Lian turun dari mobil. Perhatiannya tertuju pada buket bunga yang dibawa oleh Lee.


“Selamat malam, Nyonya. Anda pasti kecewa setelah melihat hanya saya yang turun dari mobil.”


“Di mana Lian?”


“Beliau masih ada urusan penting yang belum selesai. Sebagai permintaan maaf ... Tuan Lian mengirim bunga ini untuk Anda.”


Ekspresinya tak berubah, Gia kecewa. “Kau akan langsung kembali ke kota?” tanya Gia, nada bicaranya ketus.


Lee tersenyum, menahan tawa karena melihat ekspresi lucu di wajah Gia. “Iya, Nyonya ... maaf karena saya harus membantu Tuan Lian mengurus pekerjaannya.”


Gia hanya bisa menghela napas kasar. “Katakan padanya, aku tidak butuh bunga. Akan membuang bunga ini nanti ke tong sampah! Katakan juga padanya nanti kalau aku tidak akan makan dan minum sampai dia datang menemuiku! Masa bodoh dengan janin yang ada di dalam perutku, kalau dia takut terjadi sesuatu pada bayinya ... dia harus segera menemuiku!”


Brak!


Lee terkejut saat Gia menutup pintunya kasar.


Tak bisa menahan kesal, Gia membuang begitu saja bunganya ke sofa. Langkahnya cepat menuju kamar, matanya basah, terlalu emosi tak bisa menahan rindu pada Lian.


Dreeet!


Mendapat panggilan masuk dari suaminya, Gia hanya melirik. Tak peduli berapa panggilan dia lewatkan, Gia sengaja melakukannya.

__ADS_1


“Bodo! Aku tidak akan mengangkat panggilan darimu. Kau pikir enak apa menahan diri seperti ini. Jelas-jelas aku ingin melihatmu tapi kenapa Tuan Lee yang datang membawa bunganya.” Gia menangis, menutup wajah dengan bantal karena malu jika ibunya mendengar suara tangisnya.


__ADS_2