Hamil Anak Presdir

Hamil Anak Presdir
53. Tipu Muslihat


__ADS_3

Lian keluar dari kamar mandi dalam keadaan basah, hanya mengenakan celana panjang dan handuk kecil yang digunakan untuk mengeringkan rambut tanpa mengenakan kaos.


Melihat Lea tengah sibuk menikmati makan malam, bibirnya mengembang. Lian tersenyum lebar melihat pemandangan yang selama ini belum pernah dia lihat semenjak menikahi Gia.


Deg!


Tetapi, jantungnya nyaris berhenti berdetak sebelum akhirnya detakan semakin cepat lebih cepat dari sebelumnya setelah melihat Lea memilah kacang polong dari makanannya.


Biji kacang polong berwarna hijau itu terlihat mengumpul di bagian tepi piring.


Hal itu jelas mengingatkan Lian pada mendiang istrinya yang juga alergi terhadap kacang polong. “Lea ... kenapa kau menyingkirkan kacang polongnya?” Kakinya bergerak, Lian melangkah mendekat.


“Eh, uhm ... karena aku tidak begitu terlalu menyukainya.” Perhatian Lea menurun, mengarah ke dada dan perut Lian yang terekspos di depan mata. Segera memalingkan wajah karena malu.


“Apa hanya karena itu?” Lian pasti berharap lebih, Lea memiliki alergi terhadap kacang polong, setidaknya itulah yang ada di pikiran Lian saat itu.


“Mmm, tidak ... aku hanya tidak suka saja. Lian kau baik-baik saja?”


Lian sejak tadi masih berusaha berpikir jernih karena semenjak pertemuannya dengan Lea, apa pun yang berhubungan dengannya selalu mengingatkan pada Gia.


Jika dipikir-pikir lagi, banyak sekali persamaan dia antara mereka berdua. Mulai dari wajah, suara, aroma tubuhnya dan kini kacang polong.


“Sial!” gumam Lian, mengusap wajahnya gusar. “Ini benar-benar sangat mengganggu pikiranku.”


“Lian?”


Sentuhan hangat tangan Lea menyadarkan Lian dari lamunan. “E, habiskan makananmu aku akan memakai baju dulu. Setelah ini kita pergi beli pakaian untukmu.”


~♤~


Malamnya Lian mengajak Lea pergi untuk membeli pakaian.


“Lea, kenapa?” Lian menoleh setelah sadar Lea tak menyusul langkahnya.


“Bagaimana aku mengatakannya? Aku hanya takut jika nanti Juan menyuruh Hae Su dan yang lain untuk mencari keberadaanku.”


Melihat ekspresi wajahnya saja, Lian langsung mengetahui apa yang sedang dipikirkan oleh Lea. Lian melangkah mendekat, menarik penutup kepala yang kemudian digunakan untuk menutupi kepala Lea.


Sengaja menarik penutupnya hingga setengah wajahnya tak terlihat. “Sudah, dengan begini tidak akan ada yang mengenalimu. Ayo!” Lian mengulurkan tangannya.


Sesaat terdiam, menatap tangan Lian. Lea akhirnya membalas uluran tangannya.


Lian sengaja mengunjungi toko terdekat, karena niatnya hanya mencari pakaian dan mantel untuk sementara.


“Kau kedinginan?” ucap Lian setelah melihat Lea menggigil. Menarik tangan Lea membawanya masuk ke dalam saku mantel.


Lea terkejut sampai pipinya merona. “Ini sangat hangat,” batin Lea.


Mereka masuk ke dalam butik terdekat.


“E, Lian ... kenapa harus di sini?” Lea sangat canggung karena tahu jelas butik itu semua serba mahal.


“Kenapa memangnya? Sekilas aku melihat pakaian di sini bagus-bagus. Ayo.” Lian menarik tangannya, membawa Lea masuk ke dalam butik.


“Silakan, Tuan, Nona ... ada yang bisa saya bantu.” Seorang pegawai lelaki menghampiri mereka.


“Aku ingin mencari pakaian untuknya dan mungkin beberapa mantel?” ucap Lian.


“Oh, baiklah Tuan. Mari ikut dengan saya.”

__ADS_1


“Ayo!”


“Lian, tunggu!” sahut Lea.


“Kenapa?” Lian bisa melihat raut khawatir di wajah Lea.


“Apa tidak sebaiknya kita pindah tempat saja ... di sini, uhm ... sepertinya terlalu mahal untukku.”


Lian terdiam menatap wajah Lea. Ucapannya mengingatkan akan kenangan ketika dirinya bersama dengan Gia berada di butik waktu itu. Membeli kemeja putih seharga 3 juta lebih membuat Gia mengomel sepanjang hari.


“Lagi-lagi dia melamun, pasti saat ini Lian sedang teringat dengan mendiang istrinya,” batin Lea. “Maaf,” ucap Lea seketika menyadarkan Lian dari lamunan.


“Kenapa kau meminta maaf?” Lian bergidik.


“Terlepas dari benar atau tidak ... aku minta maaf jika mungkin ucapan atau sikapku mengingatkanmu pada mendiang istrimu.”


Pfffttt! Lian terkekeh. “Ini bukan salahmu, kenapa kau harus meminta maaf? Ayo, aku akan membayar semua untuk pakaian yang kau beli.”


Hampir satu jam lebih Lea memilih pakaian tapi tak ada satu pun yang dia pilih. Kalau boleh jujur mungkin Lea akan mengangkut semua pakaian dan mantel itu tapi dia lebih memikirkan harganya yang terlalu fantastis untuk dirinya.


“Apa maksudmu dari sekian banyak pakaian tidak ada yang kau suka?” Lian tak percaya.


“Semuanya bagus tapi ... maaf, tidak ada satu pun yang aku suka.”


Lian bisa yakin jika ucapan Lea berbanding terbalik dengan pikirannya. “Jangan bilang dia khawatir karena harganya?” batin Lian, menahan senyum karena geli dengan sikap Lea. “Baiklah kalau begitu, tolong bungkus semuanya dan kirim ke kamar hotelku, aku akan memberikan akses masuk untuk kalian.”


“Baik, Tuan.’


“Lian!” sahut Lea. “Kenapa kau membayar semua pakaiannya? Mungkin aku benar-benar tidak akan memakai semua pakaian itu.”


“Kalau begitu biarkan saja semuanya tersimpan di almari.”


“Tapi–“


“Tetap saja–“


“Apa kau merasa bersalah? Atau kau merasa tidak enak hati padaku karena semua pakaian itu mahal?”


E, mmm .... Lea tak mampu berucap.


“Kalau ucapanku benar, mmm ... bagaimana kalau kau menemaniku jalan-jalan malam ini sebagai gantinya?”


“Jalan-jalan? Tapi ... apa itu sepadan?”


“Sangat sepadan, menghabiskan waktu berdua denganmu seperti ini sangat berarti bagiku. Jadi, ini impas. Aku tidak keberatan mengeluarkan banyak uang untuk bisa berdua denganmu.”


Deg!


Dada Lea berdegup kencang, berdesir sampai membuat napasnya tak beraturan.


“Ayo!” Lian mengajak Lea berjalan menyusuri pinggiran kota. Banyak penjual yang berjejer di sana dengan beragam barang yang mereka jual.


Melihat penjual manisan, Lian meminta satu dengan rasa macha lalu memberikannya kepada Lea.


“Ini, untukmu.”


Lea tersenyum setengah terkejut. “Dari mana kau ta–“ ucapnya terhenti, Lea merasa terlalu percaya diri karena mengira bahwa Lian mengetahui semua tentang dirinya. Setelah sadar bahwa semua itu karena mendiang istrinya, senyum Lea perlahan menghilang. “Apa istrimu juga menyukai rasa macha?”


Kini giliran Lian terdiam, sadar selama ini dia selalu menganggap bahwa Lea adalah Gia. Seketika timbul rasa bersalah di dalam hati yang tak mampu dia utarakan. “E, Lea ... maaf kalau–“

__ADS_1


“Tidak apa-apa,” sahut Lea. “Aku tidak masalah jika kau menganggapku dan memperlakukan aku adalah istrimu. Kau selama ini baik padaku, jadi tak ada alasan bagiku marah ... anggap saja ini sebagai rasa terima kasih atas apa yang sudah kau lakukan padaku.”


Lagi-lagi Lian terdiam, sebelum akhirnya mencium bibir Lea tanpa permisi.


Mmmh~


“T~tunggu ....” Lea sangat terkejut, mendorong dada Lian menjauh hingga ciuman terhenti. “K–kenapa kau tiba-tiba menciumku?”


“Eh!” Lian kebingungan. “Bukankah kau yang bilang kalau aku bisa menganggap dan memperlakukanmu seperti istriku?”


Bibir Lea menganga tak percaya, sepertinya Lian telah salah mengartikan ucapannya. “Iya, tapi bukan seperti itu maksudku. Di suatu waktu kau bisa menjadikanku seperti istri, dalam arti sebagai tempat untuk bercerita dan menemanimu menghabiskan waktu dengan jalan-jalan seperti ini.”


“O–ooh ... haha, maaf sepertinya aku telah salah sangka dengan ucapanmu.” Lian benar-benar malu sampai wajahnya merah.


Saling membuang muka, menghindari tatapan mata.


Ghm! “Tunggu sebentar, aku akan membelikanmu minuman hangat tunggu di sini. Lian melangkah pergi.


“Astaga!” Pipi Lea merona panas. Salah tingkah karena Lian.


“LEA!” seru seorang lelaki dari kejauhan.


Tubuhnya terpaku, Lea tak berani menoleh. Tanpa menghiraukan panggilannya, Lea langsung mengambil langkah seribu. “Tidak, itu Hae Su. Bagaimana jika aku tertangkap olehnya?”


“Lea, tunggu!” Tak hanya Hae Su tapi juga beberapa lelaki suruhan Juan mengejar Lea.


Hah, hah, hah ....


“Ke mana aku harus bersembunyi.” Ah! Lea terkejut ketika seseorang menarik tangannya.


“Sebelah sini.”


“Lian?” Lea sudah tak tahu lagi jika Lian tak menyelamatkan dirinya malam itu entah ke berapa kalinya Lian selalu muncul di saat yang tepat.


Mereka berdiri saling berhadapan di kerumunan, Lian sengaja menutupi tubuh mungil Lea dengan tubuhnya.


“Tadi aku melihatnya lari ke sana.”


Lea semakin panik mendengar suara mereka, jaraknya semakin dekat.


“B–bagaimana ini?”


Refleks kedua tangan Lian merangkup pipi Lea. “Lingkarkan kedua tanganmu ke leherku,” pinta Lian.


“Ha?” Lea terkejut. Gugup tak karuan.


“Dengarkan apa kataku. Mereka semakin dekat, Lingkarkan kedua tanganmu ke leherku setidaknya itu akan menutupi wajahmu ... jadi mereka tidak akan bisa melihat wajahmu.”


Meski ragu, Lea akhirnya menuruti perintah Lian. Kedua tangannya terangkat perlahan, melingkar di leher Lian.


Deg, deg, deg!


Detak jantung mereka sampai terdengar ke rongga telinga.


“Aku yakin tadi melihatnya di sini.”


“Periksa satu-satu!”


Lian semakin berdebar, tak mungkin membiarkan mereka memeriksa wajah Lea. Kepanikan tak mampu lagi Lea redam.

__ADS_1


“Bagaimana ini?” ucap Lea lirih.


“Maaf,” sahut Lian. Lalu mencium bibir Lea sampai wajahnya tak bisa dilihat oleh orang sekitar. Dengan begitu, mereka yang mengejar Lea tak berani mengganggu dua sejoli yang sedang bermesraan itu.


__ADS_2