Hamil Anak Presdir

Hamil Anak Presdir
31. Rencana Bodoh


__ADS_3

“Obat apa yang kau minum?”


“P–presdir?”


Lian berdiri santai, kedua tangan bersedekap bersandar di gawang pintu. Matanya menyipit, mengamati gerak-gerik Gia yang mencurigakan.


“E, ini hanya vitamin yang diberikan dokter kemarin padaku.” Sikapnya semakin waspada setelah melihat Lian mendekat.


“Vitamin?”


“Haruskah kau bertanya sedetail itu?” batin Gia. Ghm! “Dokter bilang, menstruasiku kurang lancar ... sehingga dokter memberiku Vitamin.”


“Oh.” Reaksi Lian tak terduga. “Hmm aku mengerti, kebetulan juga bertemu denganmu di sini. Minggu depan kau akan ikut denganku ke Italia. Persiapkan dirimu, kita ada pertemuan di Milan.”


“Aku? Mi–milan?” Gia terkejut, menunjuk diri sendiri tak percaya.


“Hmm, aku dengar kau pandai bahasa Itali.” Lian menoleh, menatap lekat mata Gia. “Kenapa, kau keberatan?”


“Ti–tidak, Presdir. Aku hanya terkejut.”


“Oke, aku akan meminta Tuan Lee untuk menyiapkan paspormu.”


~♤~


“Minggu depan aku akan ke Milan.”


“Haa, serius? Dengan Presdir ... kau akan menemani Presdir memenuhi undangan ke sana?”


“Hm, ini akan memakan waktu beberapa hari. Mungkin dua minggu. Aaaahhh, membayangkannya saja aku sudah tidak kuat.”


“Kenapa, bukankah itu menyenangkan? Kau akan bertemu dengan para direktur dari perusahaan besar di sana. Siapa tahu kau bisa bawa pulang satu untukku. Hahahah ....”


“Hah, kau benar-benar menyebalkan, Jenni!”


~♤~


“Hah, aku sangat lelah.” Gia meletakkan tas di meja. Melangkah mendekati kaca, menatap bayangan diri di cermin.


Setelah melepas kemeja, Gia menatap perutnya yang masih rata. Mengusap lembut.


“Aku tidak percaya di dalam perutku akan tumbuh seorang bayi. Butuh berapa lama melihat perut ini membesar?” Gia terus berkaca, mengusap perutnya yang bahkan belum terlihat mengembang sedikit pun.


Setelah selesai mandi, Gia merebahkan tubuhnya di atas ranjang. Sekitar satu minggu ini, dia tak bisa tidur dengan nyenyak. Di benaknya hanya bayangan Lian yang selalu melintas. Bahkan mengingat setiap sentuhan dari Lian membuat Gia bisa menutup mata meski itu hanya memberikan efek beberapa jam saja.


Karena setelah itu setiap tengah malam Gia pasti akan terbangun dan sulit untuk tidur lagi.


~♤~


“Berikan padaku,” ucap Lian, meminta koper milik Gia setelah mereka tiba di bandara.


“Aku bisa membawanya sendiri, Presdir.”


“Aku bilang berikan padaku.”


Ragu, Gia akhirnya memberinya koper kepada Lian. Koper yang tak terlalu besar sehingga menurut Lian tidak perlu masuk ke bagasi pesawat.


Mereka berjalan beriringan, membiarkan Lian membawa koper miliknya.


Pesawat lepas landas. Lian meminta kepada Tuan Lee untuk menyiapkan kelas VVIP sehingga perjalanan mereka yang memakan waktu kurang lebih 12 akan lebih terasa nyaman.


“Kau baik-baik saja?” tanya Lian, melihat wajah Gia mulai panik.


“Iya, aku baik-baik saja.” Gia duduk di kursi yang berseberangan dengan Lian. Meski di samping Lian ada kursi tapi Gia memilih berjauhan.


“Dengar, perjalanan ini lumayan lama ... jadi jika kau membutuhkan sesuatu katakan saja. Jangan kau simpan di dalam pikiranmu. Mengerti?”


“Uhm, aku mengerti.”


Sebenarnya sangat tidak nyaman karena posisi duduk mereka membuat Lian bisa dengan mudah menatap wajah Gia.

__ADS_1


Meski berkali-kali Gia mengalihkan perhatian, tapi matanya terkadang tak bisa diajak kompromi. Hingga beberapa kali pandangan mereka bertemu, yang akhirnya membuat Gia menghindari tatapan matanya.


“Ini sangat canggung, bolehkah aku pindah ke kursi lain?” batin Gia.


“Apa yang sedang kau pikirkan?” sahut Lian.


“Tidak! Tidak ada, Presdir.”


Empat jam sudah perjalanan mereka lewati. Pant_tat dan kakinya mulai kram. Terlihat dari duduknya yang gelisah.


Beruntung Gia selalu pergi ke kamar mandi karena harus muntah sehingga itu sedikit mengurangi rasa lelah karena harus duduk lama.


“Apa perutmu tidak nyaman?” Meski cuek dan seolah tak peduli, Lian sadar dan tahu berapa kali Gia pergi ke toilet.


Ghm! “Tidak, aku hanya tidak terbiasa berada di situasi seperti ini.”


Lian menekan tombol yang menghubungkan ke bagian kabin di mana para pramugari berada.


Tak lama salah satu dari mereka datang, mendekati Lian.


“Ada yang bisa saya bantu, Tuan?” ucap Pramugari tersebut.


“Tolong kecilkan Ac dan bawakan aku air hangat.”


“Baik, akan segera saya siapkan.”


Gia mendengar percakapan mereka meski tak begitu jelas. “Jika dia bisa bahasa Itali kenapa harus mengajak aku?” batinnya.


“Aku tak begitu lancar berbicara bahasa Itali, meski aku sedikit paham. Tapi aku sama sekali tidak mengerti ketika mereka berbicara terlalu cepat. Apa itu menjawab apa yang ada di kepalamu sekarang?”


Ghm! Gia berdehem karena tertangkap basah sedang sibuk sendiri dengan pikirannya.


Tak lama Pramugari datang membawa pesanan.


“Minumlah, agar perutmu terasa lebih baik.” Lian memberikan air hangatnya kepada Gia.


“E, terima kasih.”


Beberapa kali Gia tertangkap basah oleh Lian saat berusaha memejamkan mata.


Pffttt! “Gia?”


“Hmm?” Gia terkejut.


“Kemarilah, duduk di sini.” Lian menepuk kursi di sampingnya.


Gia ragu, tapi sangat senang saat Lian meminta pindah tempat duduk.


“Kau tidak dengar?”


“I–iya, baiklah.” Gia melepas sabuk pengaman, pindah tempat duduk di samping Lian.


Sangat gugup, hingga saat mengenakan sabuk pengaman yang baru, Gia tak pernah berhasil. “Ah! Bagaimana ini?” gumamnya.


“Biarkan aku yang melakukannya?” Lian mengambil alih, dengan mudah memasang sabuk pengamannya.


Wangi, itulah yang tercium oleh Gia. Aroma feromon dari tubuh Lian tercium bebas olehnya.


Deg!


Dadanya berdebar, anehnya itu membuat Gia merasa sangat nyaman. Entah mengapa beberapa kali dia menyadari, tak hanya sentuhan bahkan aroma tubuh Lian membuat perasaan dan pikirannya semakin nyaman.


Seketika, Gia merasa lelah dan sangat mengantuk. Tak terasa matanya terpejam, memasuki alam bawah sadar.


Saat Lian menoleh, bibirnya tersenyum mendapati Gia tertidur pulas. Tak tega, Lian akhirnya membiarkan Gia menyandarkan kepalanya di bahu.


Sekitar dua jam lagi mereka sampai, Lian terbangun setelah terlelap beberapa saat. Terkejut saat mendapati Gia menggenggam erat jari jemarinya.


Bukannya marah, Lian justru tersenyum senang.

__ADS_1


“Permisi, Tuan. Anda ingin makan sesuatu?” tanya seorang Pramugari.


“Aku akan memanggilmu nanti.”


“Baik, Tuan.”


Lian kemudian membangunkan Gia. “Gia?” Tangannya mengusap lembut pipi Gia. “Bangunlah, kau harus makan sesuatu.”


Ngh– Rintihnya. “Aku tidak lapar, aku masih mengantuk.” Gia tak sadar saat berucap, bahkan salah satu tangannya memeluk lengan Lian seperti bantal guling, sementara satunya lagi masih menggenggam erat jari jemarinya yang kekar dan penuh otot di sana.


Sampai akhirnya mereka tiba di bandara.


“Eh, maaf Presdir. Aku tidak bermaksud membuatmu tidak nyaman.


“Apa aku bisa meminta tarif untuk ini?” ucap Lian merujuk pada lengan dan tangannya yang sejak tadi dipeluk oleh Gia. “Hah, aku hanya bercanda.”


”Sebuah mobil hitam menjemput mereka berdua dan membawa ke sebuah hotel yang telah disiapkan oleh Tuan Lee.


“Ini kunci kamarmu,” ucap Lian memberikan kartu akses masuk ke dalam kamar hotel tersebut.


“Kamarku ada di ujung sana, kalau kau butuh sesuatu kau bisa datang ke kamarku.”


“Uhm, baik Presdir. Terima kasih.”


“Hmm, masuklah dan istirahat. Besok pagi-pagi kita akan bertemu dengan Tuan Vegha.”


~♤~


“Ini sangat aneh, aku merasa segar setelah tertidur di dalam pesawat. Padahal kalau di pikir-pikir ranjang jauh lebih nyaman, tapi kenapa aku bisa terlelap sangat lama.”


Kalau diingat-ingat, Gia tertidur setelah mencium aroma tubuh Lian.


Sama seperti sentuhan yang Lian berikan, membuat dirinya nyaman dan tenang. “Ada apa sebenarnya dengan tubuhku?”


Duk, duk, duk!


“Suara bising apa itu?”


Suara langkah kaki dari luar terdengar sampai ke dalam, kebetulan pintu kamar Gia tak tertutup rapat. Cepat-cepat dia berlari mendekati pintu, memastikan.


“Sara Lee?” Gia melihat perempuan itu berlari sambil menangis mengarah ke kamar Lian. “Jelas dia tahu di mana kamar Lian, karena tidak mungkin juga Lian tidak memberi tahu keberadaannya.”


Ceklek!


Pintu kamar Lian terbuka. Sara masih terisak-isak di depan kamar.


“Apa yang sedang aku lakukan?” Gia mengintip dari sela pintu. Matanya membulat melihat Lian menarik tangan Sara, memaksanya masuk ke dalam kamar.


Deg!


Sakit, itulah yang sedang dirasakan oleh Gia. Tangannya meremas kemeja yang dia kenakan tepat di dada.


“Tidak ada yang bisa kau harapkan, Gia. Mereka saling mencintai. Biarkan mereka berdua bahagia,” ucapnya pada diri sendiri.


~♤~


“Berapa usia kandunganmu?” tanya seorang pegawai di toko obat.


Gia paham betul jika di sana obat keras itu dijual bebas.


“Ini memasuki minggu ke 3.”


Pegawai perempuan itu menyodorkan sebotol berisi obat berbentuk pil. “Kecelakaan?” tanyanya merujuk pada janin yang ada di perut Gia hasil dari sebuah tidak kesengajaan.


“Uhm.” Gia mengangguk.


“Bersyukurlah kandunganmu masih terhitung muda, aku rasa obat ini cukup kuat untuk mengatasi masalahmu.”


Tampak ragu saat Gia hendak mengambil botol di atas meja. Tapi setelah menyentuhnya, pegawai perempuan itu menggenggam tangan Gia erat.

__ADS_1


“Dengar, aku pernah berada di posisimu. Aku hargai keputusanmu untuk menggugurkan janin itu tapi ... aku harap kau bisa berpikir dua kali sebelum meminum pilnya.”


__ADS_2