Hamil Anak Presdir

Hamil Anak Presdir
49. Keraguan


__ADS_3

“Aku bahkan sempat tidak percaya saat melihatmu pertama kali, tapi aku selalu meyakinkan diriku bahwa kalian dua orang yang berbeda.”


Lea terdiam, melamun menatap layar ponsel di tangan.


“Ini pasti sangat sulit bagimu ... menerima kenyataan bahwa orang yang kau cintai telah pergi selama-lamanya. Tapi dalam sekejap kau melihat wajahku yang sangat mirip dengan istrimu. Perhatian Lea beralih menatap wajah Lian. “Dengan secara tidak langsung ... aku selalu mengingatkanmu padanya.”


“Itulah sebabnya aku selalu bersikap melewati batas saat sedang bersamamu. Aku minta maaf, jika membuatmu tidak nyaman.”


“Meski ini sangat menyebalkan tapi aku berusaha mengerti.” Lea mengembalikan ponsel ke pemiliknya. “Empat bulan bukan waktu yang lama, ini pasti sulit bagimu. Mungkin seumur hidup kau bahkan tak mampu melupakannya.”


“Aku sedang berusaha, tapi kini mungkin aku mulai terbiasa dengan keberadaanmu. Ke depannya aku akan lebih hati-hati.”


Dreeet!


Lian mendapat panggilan dari Lee.


“Angkatlah, aku akan masuk melihat keadaan Hae Su.” Lea beranjak berdiri, meninggalkan Lian menjawab panggilannya.


“Halo, Tuan Lee?”


“Tuan ... maaf mengganggu waktu Anda,” sahut Lee dari seberang.


“Katakan ada apa?”


“Tuan Lee Dae Hyun mengadakan pertemuan mendadak antara para Direksi. Saya mendengar kabar itu dari luar ... saya yakin jika Anda pasti juga belum mengetahui hal ini.”


Sejenak Lian terdiam. Berpikir sesaat sebelum berucap. “Tuan Lee, siapkan tiket pesawat untukku.”


“Baik, Tuan.”


“Dan satu lagi, tolong urus sesuatu untukku.”


Di balik pintu, Lea mendengar semua percakapan mereka. “Dia ... akan kembali ke Seoul?” gumamnya.


Lian menghela napas panjang, terdiam sesaat memikirkan sesuatu. Sebelum pergi dia ingin berpamitan pada Lea, tapi langkahnya terhenti saat membuka pintu dan melihat perempuan itu berdiri di sana.


Deg!


Dadanya berdebar, merasa berat hati harus pergi meninggalkan Lea.


“Apa kau sudah harus pergi?” Lea berusaha tenang.


Uhm, Lian mengangguk. “Aku sudah meminta seseorang untuk mengurus biaya rumah sakit jadi kau tidak perlu khawatir.”


“Tapi–


“Aku mohon ... jangan menolak,” sahut Lian.


Lea hanya diam, menunggu kalimat selanjutnya yang akan Lian ucapkan.

__ADS_1


“Mmm, malam ini ... aku akan kembali Seoul.”


Hening, entah bagaimana Lea harus menyikapi kabar itu.


“Secepat itu, aku pikir dia akan pergi besok,” batinnya. “O–ooh ... kalau begitu hati-hati di jalan dan terima kasih karena sudah mengurus biaya rumah sakit untuk Hae Su.”


Dadanya berdesir nyeri tak karuan, rasanya sangat berat meninggalkan Lea. Tetapi tak ada yang bisa dia lakukan. “Lea ....” Ingin rasanya Lian memeluk tubuh mungil di depan mata sebelum pergi, tapi apa daya dia tak ingin membuat Lea kesal karena menganggap telah memanfaatkannya.


“Ya?”


“Jaga dirimu baik-baik ... jika ada kesempatan, aku harap kita bisa bertemu lagi.”


~♤~


“Ini sangat aneh, padahal baru beberapa hari kita bersama ... tapi kenapa aku merasa kehilangan?” Lea duduk di ruang tunggu menunggu Hae Su keluar dari ruang dokter.


Sebuah mobil berhenti di depan halaman lobi rumah sakit, mengenakan setelan jas rapi, dia melangkah masuk menghampiri Lea.


“Lea?” seru lelaki yang hanya tampak bahunya bidang dari belakang.


Lea menoleh, terkejut melihat kekasihnya datang secara tiba-tiba. “Juan ... kapan kau datang, kenapa kau tidak menghubungiku dulu?”


“Itu tidak penting, bagaimana denganmu? Apa ada yang terluka?” Juan sangat panik setelah mendengar rumah Lea dimasuki oleh preman. “Kau membuatku khawatir.” Menarik lengan Lea membawanya ke dekapan. “Bagaimana bisa aku mendengar kejadian itu dari Hae Su? Kenapa kau tidak menghubungiku?”


“Aku tahu kau sibuk ... aku tidak ingin mengganggu pekerjaanmu.” Melepaskan diri dari pelukan.


“Kau bilang akan datang akhir bulan, maka dari itu aku pikir kau sibuk.”


“Itu hanya rencana, Lea. Tapi jika ada masalah seperti ini aku pasti akan datang ke mari untukmu!”


“Maaf ....” Melihat kekhawatiran di wajah Juan, Lea merasa bersalah.


Hah, Juan menghela napas panjang. Mengecup kening Lea, menenangkan. “Dengar, aku tidak marah. Aku hanya khawatir denganmu. Jadi please ... aku tidak ingin terjadi apa-apa lagi denganmu. Jangan membuatku khawatir, oke?”


Uhm, Lea mengangguk patuh.


~♤~


Ceklek!


Lian membuka pintu ruang rapat tepat saat pertemuan sedang berlangsung.


Semua mata langsung tertuju ke Lian dan Lee yang tengah berjalan menuju ke kursi. “Apa aku melewatkan sesuatu?” Ekspresi Lian berubah gelap.


“Maaf, Lian. Tapi kedatanganmu tidak diharapkan di pertemuan kali ini.” Lee Dae Hyun menyahut pembicaraan.


“Sejak kapan Presiden Direktur di suatu perusahaan tidak diharapkan kedatangannya?” Mata Lian menajam.


Semua diam, saling melempar pandang penuh kepanikan.

__ADS_1


“Dengar, mulai besok ... jabatan Presiden Direktur tidak akan lagi menjadi milikmu.”


Meski panik dan penuh kebingungan, Lian tetap berusaha tenang. “Apa sebenarnya yang kau bicarakan, Paman?”


“Ada untungnya juga sebenarnya kau datang kemari. Sehingga aku tidak perlu repot-repot untuk mengantar dokumen ini padamu.”


Lian melirik sekilas dokumen di meja, tak lama kemudian perhatiannya beralih ke Lee Dae Hyun. “Dokumen apa ini?”


“Itu dokumen pengesahan saham semua para direksi di ruangan ini ... yang nantinya akan menjadi milikku.”


Lian terpaku mendengar ucapannya, itu artinya bisa jadi dia tak akan lagi menjadi pemilik saham tertinggi di perusahaannya.


“51% saham perusahaan akan menjadi milikku. Jadi mulai besok aku rasa kau harus meninggalkan ruang kerjamu dan pindah ke lantai bawah. Ruangan CEO, aku rasa itu lebih cocok denganmu.”


~♤~


Brak!


Lian membanting berkas di atas meja hingga berserakan. “Bagaimana bisa aku sampai kecolongan seperti ini?”


“Tuan tenangkan dirimu.” Lee berusaha menenangkan.


“Bagaimana bisa aku tenang, Tuan Lee? Ayahku yang mendirikan perusahaan ini, tapi–“ ucapnya terhenti, Lian duduk di sofa menenangkan diri. “Pergilah, aku ingin sendiri saat ini.”


Lee menundukkan kepala sebelum melangkah pergi.


“Gia ... ayah, lalu sekarang perusahaan. Kenapa semuanya begitu mendadak?” kepalanya menengadah, menatap langit-langit.


Mengingat Gia, Lian kemudian teringat pertemuannya pertama kali dengan Lea. Membayangkannya saja membuat perasaan Lian merasa tenang. “Aku ingin mendengar suaranya.” Setelah mengambil ponsel dari saku jas, Lian menatap layar di mana nama Lea ada di sana.


“Apakah tidak masalah jika aku menghubunginya?” gumam Lian.


Nomor Lea terpampang di layar, hanya sekali tekan maka panggilan akan tersambung. Dengan begitu Lian bisa mendengar suaranya.


Namun karena ragu, Lian akhirnya mengurungkan niat dan meletakkan ponsel di meja.


“Kenapa aku harus menghubunginya?” gumam Lian. Mengambil kembali ponselnya. “Tapi ... apa yang harus aku katakan nanti?”


Lian beranjak dari sofa, menuju ke kursi tunggal kursi kebanggaan. Pada akhirnya, Lian menggunakan telepon kantor untuk menghubungi Nomor Lea.


Tuuut!


Panggilan tersambung, ekspresi Lian langsung bercahaya.


“Halo, siapa ini?”


Deg!


Belum sempat berucap, Lian terkejut setengah mati saat mendengar suara lelaki menjawab panggilan darinya di seberang sana.

__ADS_1


__ADS_2