
Brugh!
Oh Lian menarik lengan Gia hingga terseret dan menabrak dadanya.
“Lian?” Park Juan terkejut dengan kemunculannya yang tiba-tiba.
“Tinggalkan dia.” Tatapannya tajam sebagai sebuah peringatan, berbeda dengan Park Juan yang kebingungan penuh tanda tanya.
“Ma–manajer ... hick! Kau ... hick, menye–ebalkan.” Gia bisa melihat bayangan wajah Oh Lian di depan mata. Kedua tangannya melingkar di leher, memeluk dengan manja.
“Manajer?” batin Juan. Teringat ucapan Gia ketika mengatakan bahwa dia memiliki perasaan pada seseorang secara sepihak. “Jadi ... kau lelaki itu?”
“Aku tidak tahu apa yang sedang kau bicarakan.”
“Gia mengatakan padaku kalau dia menyukai seseorang ... apakah itu kau?” ucap Juan sangat yakin.
Oh Lian terdiam. “Terlepas dari benar atau tidak ... sekarang lebih baik kau pergi. Dan jangan pernah temui Gia lagi.” Oh Lian berucap tenang dengan nada berat tapi penuh ancaman.
Pffft! Juan terkekeh. “Aku sudah janji pada Gia bahwa aku akan membuatnya kembali padaku. Kau tidak bisa melarangku Lian ... Gia perempuan bebas.”
Oh Lian hanya diam, menahan amarah hingga rahangnya menguat.
“Untuk kali ini saja aku mengalah, aku akan membiarkan kau mengurus Gia. Jaga dia baik-baik.”
Oh Lian menghela napas panjang, setelah Juan pergi segera dia membawa Gia masuk ke dalam.
Meletakkan tubuhnya di atas ranjang, menutup dengan selimut kemudian.
“Kenapa kau sangat ceroboh?” gumam Lian, duduk di tepi ranjang menatap wajahnya. Tangannya sibuk merapikan rambutnya yang berantakan menutupi kening. “Apa yang harus aku lakukan padamu?”
Saat hendak beranjak berdiri, Oh Lian terpaku karena Gia meraih tangannya.
“Jangan pergi.” Suaranya lemah, matanya sedikit terbuka. “Aku merindukanmu, manajer.”
Oh Lian hanya diam menatap Gia dengan pandangan kosong. Tangannya terlepas saat Gia kembali terlelap.
Setelahnya Oh Lian melepas Jas, pergi ke kamar mandi mengambil air untuk membersihkan tubuh Gia.
Mulai dari wajah lalu kedua tangan, Oh Lian melepas mantel yang dikenakan Gia. Tak lupa dia juga membersihkan lehernya.
Ngh~ Suara lenguhnya membuat Lian terpaku. Mencoba menetralkan pikiran.
Deg!
Dadanya berdebar ketika Gia menggenggam tangannya.
Matanya sedikit terbuka, menatap Oh Lian lekat. “Manajer ... benarkah ini kau?” Suaranya lirih, Gia belum sepenuhnya sadar.
“Gia, berapa botol yang kau minum?” tanya Lian lembut.
“Ini semua karenamu! Kau menyebalkan. Kau membuatku marah, aku membencimu manajer.” Kedua tangannya melingkar di leher Lian, Gia beranjak duduk di atas ranjang.
Melihat Gia kacau karena dirinya, Oh Lian tersenyum. Menyimpan rambutnya di balik telinga. “Aku senang melihatmu frustasi karena diriku.”
“Kenapa kau melakukan ini padaku?” Gia masih terus meracau. “Aku sangat membencimu karena tidak membalas pesanku tapi rasa rinduku mengalahkan segalanya. Manajer apa yang harus aku lakukan padamu agar kau selalu melihat kearahku, hanya padaku.” Kepalanya tertunduk.
“Gia ....” Oh Lian menarik dagunya, mengangkat wajah Gia. “Sebesar apa pun kau menjelaskan perasaanmu ... itu tidak akan mampu mengalahkan perasaanku padamu,” bisik Lian. “Selama ini aku hanya diam, menunggu momen yang tepat untuk membuatmu memohon padaku ... tapi ini belum cukup bagiku. Aku masih ingin melihatmu menggila karena diriku.”
Mmmhh~
Suara rintihan keluar dari mulut Gia saat Lian mencium bibirnya. Mulutnya dipaksa membuka lebar agar Lian bisa menyelusupkan indra perasanya masuk menyentuh langit-langit bagian dalam.
Seolah tak puas, Oh Lian menyesap seluruh inti sari dari mulutnya. Menghisap indra perasa milik Gia sepuasnya. Membuat area sekitar bibir basah karena saliva.
Mmmh~
Ngh~
Smoch~
__ADS_1
Uhmmmhh~
“Ma–anahel ah~ ihahhu hahit!” (Manajer lidahku sakit!)
Ciuman terhenti. Hah, hah, hah .... Jarinya mengusap bibir basah Gia.
“Jangan pergi, seharian ini kau membuat pikiranku kacau. Ini semua karena dirimu.” Tangan Gia terulur, mencengkeram kemeja yang dikenakan Lian.
“Tidurlah, aku tidak akan pergi.” Oh Lian berbaring di samping Gia, membiarkan lengannya menjadi bantal membawa Gia dalam dekapan.
“Bagaimana caranya membuatmu menjadi milikku seutuhnya?” gumam Gia. Membalas dekapan Lian dengan erat.
“Kau tidak perlu melalukan itu, karena seluruh hidupku telah menjadi milikmu sejak dulu,” batin Lian.
~♤~
Pagi menjelang, Gia terbangun tapi tak mendapat Lian berada di sampingnya.
“Manajer? Apa aku bermimpi?” Gia beranjak duduk. Tangannya menemukan selembar memo yang Lian tinggalkan di atas ranjang. “Apa ini?”
“Selamat pagi, bangun dan segera mandi. Aku sudah menyiapkan sarapan serta minuman untuk membuatmu kembali segar.” Isi memo dari Oh Lian.
Gia tersenyum. “Jadi aku tidak mimpi, kan?” Melompat dari ranjang ke kamar mandi untuk segera bersiap sebelum kerja.
Setelah sampai di tempat kerja, Gia langsung mendapat ceramah dari Tuan Oh.
“Lagi-lagi kau melakukan kesalahan, apa sebenarnya yang ada di otakmu?” Tuan Oh melempar map ke meja. “Semua laporanmu salah, aku mendapat teguran dari Presdir untuk kedua kalinya karena dirimu!”
“Tidak, aku tidak melakukan kesalahan Tuan Oh. Aku sudah melakukan sesuai dengan apa yang kau perintahkan.” Gia membela diri.
“Tapi lihatlah sendiri, ada perbedaan antara harga awal dan total pemasukan di bulan ini.”
Gia memeriksa lagi map berisi laporan keuangan yang dia rekap. “Tidak mungkin, aku tidak mungkin melakukan kesalahan. Aku sudah memeriksa sebelumnya beberapa kali ... tapi kenapa ada yang berubah?” batin Gia.
“Lihat saja jika kau melakukan kesalahan lagi, aku akan mengatakan pada Presdir jika kau yang telah mengerjakan laporan ini! Pergilah, aku masih banyak pekerjaan yang harus diurus.”
Gia melangkah keluar dari ruangan, wajahnya murung memikirkan ucapan Tuan Oh.
“Manajer?” Gia terkejut, panik jika sampai ada yang melihat mereka berdua bergandengan tangan.
Beruntung semua pegawai sibuk di meja kerjanya masing-masing. Di antara semuanya, hanya Eichi yang menatap kearah perginya mereka berdua.
“Aku menangkap kalian berdua!” Kedua jari Eichi mengarah ke mata sebelum menunjuk ke mereka, seolah sudah menangkap basah mereka berdua. Pffttt!
Oh Lian membawanya ke pantry, membuat Gia tersudut di salah satu meja samping alat pemanas air. Lian berdiri tepat di depannya.
“Manajer?” Gia panik.
“Bagaimana keadaanmu?” Lian menanyakan perihal efek mabuknya semalam.
“Uhm, aku baik-baik saja. Manajer?”
“Hmm?” Lian tengah sibuk membuat coklat panas.
“Kau yang semalam mengurusku?” Gia memastikan.
“Kau berharap orang lain yang akan mengurusmu?” sahut Lian.
“Bukan begitu ....”
“Jangan pernah hubungi lelaki lain saat kau mabuk.” Oh Lian menoleh, menatap lekat metanya. “Ini peringatan.”
“Lalu bagaimana manajer menjelaskan tentang pesanku kemarin yang tidak kau balas? Lalu jika aku mabuk ... apakah kau masih berharap aku menghubungimu?”
Oh Lian terdiam, mengambil sendok mengaduk coklatnya. Kesal karena Park Juan, tapi Oh Lian tak mungkin mengatakan itu kepada Gia. “Minumlah.” Lian memberikan coklat panasnya.
“Terima kasih.” Gia mengambil alih cangkir, menyesap coklat panas perlahan.
“Untuk apa Tuan Oh memanggilmu?” Lian mengambil posisi seperti semula, berdiri di depan Gia yang tengah bersandar di meja.
__ADS_1
“Ada kesalahan di laporan keuangan yang aku buat minggu lalu.” Gia merenung.
“Kau melakukan kesalahan?” Kedua tangan Lian bertumpu di meja tepat di sisi kanan dan kiri tubuh Gia. Sementara bahunya merendah menyamakan tingginya dengan Gia.
“Tidak, aku yakin sudah memeriksa laporan itu sebelum memberikannya pada Tuan Oh. Tapi entah kenapa laporan yang aku buat, jumlah nominal uangnya ada terdapat selisih.”
“Jangan pikirkan itu, aku akan mengurus sisanya.” Tangannya terulur, menarik dagu Gia. Ibu jarinya mengusap sisa coklat yang ada di sana. Lian menyentuh bibirnya dengan sedikit tekanan membuat bibir Gia sampai terbuka. Tak sampai di situ, Lian bahkan dengan sengaja mendorong ibu jarinya masuk ke dalam mulutnya.
Deg!
Gia merona, merasakan jari Lian masuk menyentuh lidahnya.
Basah dan hangat, itulah yang dirasakan oleh Lian. Niatnya ingin menggoda tapi keinginan itu justru semakin tak terkendali. Rasanya ingin mendorong jarinya masuk sampai ke dalam menyentuh langit-langit tenggorokannya.
“Sejauh mana hubunganmu kalian?” Pertanyaan Oh Lian membuat Gia kebingungan. Perlahan menarik jarinya keluar.
Alisnya menyatu. “Hubunganku?”
“Ya, hubungan antara kau dan mantan kekasihmu itu.” Bahunya semakin merendah, mengurung tubuh Gia yang mungil dalam kungkungannya.
“Sejauh mana?” gumam Gia. “Kami hanya beberapa kali bertemu, karena dia mengurus pekerjaannya di luar kota.”
“Lalu?” Tatapan Lian menajam, sangat mengintimidasi membuat Gia tak bisa berkutik.
“Lalu ... kami hanya mengobrol, bercerita tentang kegiatan masing-masing selama kita tidak bertemu.” Gia semakin gugup.
“Hanya itu?”
Glek!
Dadanya berdebar tak karuan. Gia menghindari tatapan matanya.
Lian merangkup wajahnya menggunakan telapak tangannya yang besar. Mengangkat wajah Gia. “Mulai saat ini, berhenti menemui dia.”
“Kenapa?”
“Aku tidak suka!” sahut Lian.
“Ha–hanya itu?” Ada raut kecewa di wajahnya, seolah Gia berharap lebih dari itu.
“Aku ada pertemuan penting hari ini, tapi sebenarnya aku masih ingin menghabiskan waktu berdua denganmu.”
“Rapat?” sahut Gia penasaran.
“Bukan, ini mengenai hal lain.”
“Apa ini ada berhubungan dengan Sara Lee?”
Oh Lian terdiam, seolah membenarkan dugaannya.
Ingin rasanya melarang mereka bertemu, tapi Gia tahu dan sadar akan posisinya. “Aku ingin menyerah ... tapi aku tidak mau kehilangan Oh Lian,” gumamnya dalam hati.
“Ada yang ingin kau katakan padaku?” Matanya menyipit, mencerna ekspresi cemburu Gia yang membuatnya senang.
“Tidak.”
“Dengar Gia, pulanglah ke apartemenku ... tunggu aku di sana.”
“Kau pergi bersama Sara Lee dan memintaku menunggu di apartemenmu? Ini sangat menyebalkan!” batin Gia.
“Kau marah?”
“Tidak!” sahut Gia, kesal. Menghindari tatapan matanya.
“Jadilah penurut.” Oh Lian mendekatkan wajahnya hendak mencium bibir Gia tapi seseorang membuka pintu pantry dari arah luar.
Ceklek!
“Oh Lian, apa yang sedang kau lakukan di sini?”
__ADS_1
Deg!
Gia membulatkan mata setelah mendengar suara Sara Lee menggema di telinga.